
Ivan berjalan di koridor rumah sakit pagi itu, tubuhnya sangat lelah karena semalaman menjaga Hana di sana, untunglah tidak terjadi apa-apa baik dengan bayi mereka maupun dengan Hananya sendiri, namun tetap saja Ivan merasa sangat kesal dan menyayangkan atas tindakan Hana yang berusaha menyakiti bayi yang bahkan belum lahir ke dunia itu.
"Bagaimana keadaan istri mu dan kandungannya?" Tanya seorang wanita yang langsung menyodorkan secangkir kopi ke hadapan Ivan saat pria itu masuk ke kafetaria yang berada di rumah sakit itu. Rupanya Ivan sudah janjian sebelumnya dengan wanita itu.
"Mereka baik-baik saja, aku tak menyangka jika Hana akan berbuat se-nekat itu. Sepertinya kita harus agak mengurangi waktu pertemuan kita, jujur saja aku takut Hana menyakiti anak kami lagi." Wajah lelah Ivan nampak sedikit segar setelah dia menyeruput kopi hitam yang di pesankan oleh wanitanya itu.
"Tak menjadi masalah, kita sudah biasa mencuri-curi waktu, justru itu akan semakin terasa menantang bagi ku." Jawab wanita itu.
"Bagaimana masalah penawaran kerja sama kita, apakah Salim grup menerimanya?" Tanya Ivan.
"Aku belum tau pasti, hanya saja, aku rasa Marcel sudah curiga jika ini semua ada campur tangan mu, jadi aku rasa mending kita urungkan saja rencana ini, karena aku punya rencana lain yang lebih menarik yang akan lebih menghebohkan." Jawabnya dengan tatapan mata dan senyuman liciknya.
"Rencana apa itu?" Ivan mengangkat sebelah alisnya.
"Kita tunggu bulan depan saat perayaan ulang tahun Salim grup, kita akan membunuh semua musuh-musuh kita secara bersamaan." Ujarnya.
"Oke, aku percayakan pada mu." Kata Ivan seraya mencium ringan pipi wanitanya tanpa ragu dan tanpa merasa takut meskipun itu berada di ruang umum.
**
Pagi sekali Marcel sudah membawakan Alya nasi bungkus yang dia beli dari dekat pasar untuk sarapan mereka, pria itu semalam terus bercerita sampai mereka tak memejamkan mata barang sebentar pun. Alhasil saat Marcel sampai di rumah itu, terlihat Alya yang kini sedang tertidur di sofa. Sepertinya dia sangat mengantuk, pantas saja tadi dia menolak saat di ajak Marcel untuk membeli makanan.
__ADS_1
Alya yang tertidur dengan posisi masih duduk itu membuat Marcel merasa kasihan dan ingin membetulkan posisi tidurnya agar lebih nyaman, namun baru saja Marcel duduk di sebelahnya, Alya justru malah menggeliat dan tanpa sadar menyandarkan kepalanya di bahu kanan Marcel, sepertinya Alya benar-benar merasa ngantuk dan juga lelah setelah perjalanan jauh kemarin dan semalaman mendengarkan Marcel bercerita
Membuat Marcel tidak tega untuk membangunkannya, namun sepertinya posisi ini justru membuat Marcel menjadi serba salah, nafas Alya yang teratur dan terasa hangat mengenai kulit lehernya membuat tubuh Marcel merinding, dia pria normal, sehingga hasratnya tiba-tiba naik begitu saja, apalagi wanita yang kini bersandar di bahunya merupakan wanita yang dia sukai, jantungnya terasa berdetak semakin cepat tak terkendali, matanya tidk dapat dia cegah untuk terus menatap wajah tenang Alya yang terpejam.
Tangan kiri Marcel terangkat untuk menyingkirkan beberapa anak rambut Alya yang menutupi wajahnya, lalu mengusap pipi Alya yang mulus, dan membelai rambut wanita itu dengan penuh sayang, hingga otaknya semakin mendorongnya untuk melakukan hal yang lebih, rasanya dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengecup kening Alya.
Sementara Alya yang mulai merasakan ada gerakan aneh dan usapan lembut di kepala dan juga wajahnya mulai sadar dan berusaha untuk membuka matanya untuk memastikan apa yang terjadi.
Namun bersamaan dengan dia membuaka matanya, hal pertama yang dia lihat adalah wajah Marcel yang semakin mendekat ke arahnya, membuat Alya tiba-tiba berubah menjadi patung yang bernafas. Sontak saja mata mereka bertubrukan beberapa saat, Marcel yang menyadari Alya sudah terbangun pun tidak lantas mengurungkan niatnya untuk mengecup kening wanita yang kini jaraknya begitu dekat dengan dirinya, Marcel tidak peduli jika pun nanti Alya akan marah atau bahkan menamparnya, dia tidak ingin menahan gejolaknya ini.
Alya mengais-ngais akal sehatnya yang mulai kabur, dia tau ini tidak benar, namun sialnya ini terlalu nyaman, sehingga membuat dia melupakan akal sehatnya yang hilang entah kemana.
"A-ah, iya. Maaf saya tertidur." Alya mengangkat kepalanya dari bahu Marcel, hal itu sungguh membuatnya merasa kikuk sendiri, bagaimana bisa tubuh mereka menjadi sedekat ini, sementara seingatnya tadi dia sedang melamun sambil menunggu Marcel yang membeli sarapan.
Ingin marah, namun posisinya tadi menunjukkan kalau kepalanya yang bersandar di bahu Marcel, sehingga dia tidak bisa menyalahkan kedekatan mereka ini, dia juga tak sanggup membayangkan bagaimana ekspresi wajahnya saat ini, yang jelas seluruh wajahnya terasa sangat panas.
"S-saya ijin ke toilet dulu, pak." Tak tahan dengan rasa kikuknya Alya lebih memilih untuk melarikan diri ke toilet.
Di dalam toilet dia meruntuki dirinya sendiri yang alih-alih menghindar dari kecupan Marcel, namun justru malah terkesan menikmatinya, ini tidak benar, meskipun semalam beberapa kali Marcel mengatakan kalau dia mempunyai rasa ketertarikan padanya dan juga mengatakan kalau apa yang di katakan nya saat di depan ayahnya itu adalah perasaan yang sebenarnya, namun sejak semalam Alya juga tidak menjawab apapun atas pernyataan cinta Marcel, seperti janjinya, dia hanya ingin menjadi pendengar yang baik saja semalaman.
"Al,,, Alya!" Panggil Marcel dari luar, sambil mengetuk-ngetuk pintu toilet.
__ADS_1
Rupanya Marcel merasa khawatir,karena sudah sepuluh menit lamanya namun Alya tidak kunjung kembali dari toilet.
"I-Iya pak, sebentar lagi saya ke depan, saya hanya mencuci muka saja." Jawabnya gugup, sambil membasuh mukanya kembali yang sepertinya sudah puluhan kali di ulang sejak tadi, untuk mengembalikan kewarasannya.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Marcel saat Alya sudah kembali ke ruang tengah dengan wajah yang terlihat lebih segar, namun anggukannya masih terlihat canggung.
"Kamu marah pada ku?" Tanya Marcel lagi.
"Ti-tidak." Jawab Alya sambil menggeleng, dia kebingungan harus menjawab apa, hanya kata itu yang ada dalam otaknya saat ini, meski tanpa dia sadari jawaban 'tidak' yang dia kemukakan itu berarti dia tidak keberatan dengan apa yang di lakukan Marcel padanya barusan.
'Ah, tidak kah jawaban ku itu akan membuat aku terkesan murahan di mata Marcel?' Batin Alya baru menyadari, sayangnya itu terlambat. Semua terasa begitu kacau, baik di hati maupun pikirannya, keduanya seakan tidak sinkron sehingga membuat Alya mengeluarkan jawaban-jawaban yang dia sendiri tidak mempertimbangkannya apakah itu benar atau salah.
"Kamu boleh marah atau menampar ku jika kamu merasa tidak berkenan atas perlakuan ku tadi, aku tidak bisa menahan diri untuk mengikuti kata hati ku, kamu terlalu menggemaskan dan menggoda saat terlelap di bahu ku." Ujar Marcel, jujur.
"Saya hanya merasa bersalah pada istri anda." Lirih Alya.
"Kami tidak saling mencintai, dan bukan tidak pernah mencobanya, aku bahkan berulang kali mencoba untuk menerima dia yang telah Tuhan takdirkan untuk menjadi istri ku meski dengan cara yang tidak aku kehendaki, namun hati ku selalu menolaknya, aku tidak bisa." Sanggah Marcel.
"Tapi bagaimana pun, anda berdua masih terikat dalam ikatan pernikahan, apapun namanya kedekatan kita tetap sebuah perselingkuhan." Keukeuh Alya yang tidak ingin memposisikan dirinya menjadi orang ke tiga dalam rumah tangga Marcel dan istrinya, meskipun Marcel juga keukeuh mengatakan kalau di antara dia dan istrinya tidak saling mencintai.
"Apapun namanya, aku tetap ingin mengatakan, kalau aku jatuh cinta pada mu, kamu tak perlu menjawabnya terburu-buru, saat ini aku belum ingin mendengar jawaban mu, biarkan aku membuktikan kesungguhan ku pada mu terlebih dahulu, aku janji kalau aku tidak akan membuat mu menjadi orang ketiga, agar kamu tidak perlu merasa bersalah pada siapapun atau di persalahkan oleh siapapun." Ujar Marcel dengan lugasnya mengutarakan janjinya pada Alya.
__ADS_1