
"Hahaha,,, akhirnya kita berhasil membuat si tua bangka Anwar itu menyerah dan memberikan uang pada kita, sepertinya kita akan kaya raya setelah ini!" Ujar Ivan dengan senyum bahagia yang terus menghiasi bibirnya.
Dia baru saja mendapatkan uang dari Anwar setelah Ivan mengancam pria tua itu kalau dia akan merubah kesaksiaannya atas kecurangan yang di perbuat Anwar pada Salim grup dan juga perusahaan-perusahaan yang lainnya pada kepolisian, sehingga akhirnya Anwar mengalah dannmemilih memberikan sejumlah uang yang di minta Ivan, daripada dia harus berurusan dengan polisi dan ujung-ujungnya dia akan kejilangan uang yang lebih banyak lagi.
"Benar, tua bangka itu ternyata bodoh juga, namun sok pintar dan sok kuat, dia belum tahu kekuatan kita, hahaha!" Sahut Utari yang juga terlihat sangat bahagia.
"Kau memang yang terbaik, sayang ku." Ujar Ivan seraya mengecup sekilas pipi Utari yang selama ini menjadi selingkuhannya itu.
"Jangan terlalu puas dulu, karena akan ada yang lebih menyenangkan dari pada hal ini, setelah ini kita akan bersenang-senang dengan Alya, Marcel dan Sita!" Ujar Utari dengan tatapan mata menerawang jauh, sorot matanya menunjukkan kebencian dan kejahatan yang bercampur menjadi satu, menimbulkan kesan mengerikan bagi orang yang melihat kilatan binar matanya.
Sementara Ivan yang merasa kini sudah memiliki uang untuk 'menyogok' Hana, hasil dari memeras Anwar memberanikan diri untuk pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan harapan karena dirinya akan segera bertemu dan menimang buah hatinya yang sampai saat ini belum pernah dia lihat seperti apa rupa anak yang menurut hasil usg terakhir berjenis kelamin perempuan itu.
Namun saat dirinya sampai di sana, rumahnya terlihat sepi, bahkan saat dirinya mengetuk-ngetuk pintu rumahnya tak ada satu orang pun yang menjawab teriakannya yang memanggil satu demi satu penghuni rumah, mulai dari Hana, Yuni sampai Fitri sangasisten rumah tangga tak ada yang menyahutinya.
Sampai akhirnya dia melihat sebuah tempelan di salah satu dinding rumahnya, yang menyatakan kalau rumah ini menjadi sitaan Bank. Ivan baru ingat, kalau semenjak dirinya berpisah dengan Alya, dia sudah tak pernah lagi mencicil angsuran rumahnya karena biaya hidup yang membengkak, di tambah lagi permintaan Hana yang tak ada habisnya dan sifat boros istrinya itu, belum lagi dia juga menanggung cicilan mobil Hendri, dan di tambah lagi dia juga membiayai hidup Utari selingkuhannya, sampai-sampai dia lupa kalau dia tak pernah lagi mencicil angsuran rumahnya.
Baru beberapa bulan saja bercerai dengan Alya, hidup Ivan seolah berantakan, carut marut tak karuan seperti tak punya arah, membuat Ivan semakin terpuruk dan menyadari betapa Alya mempunyai arti penting dalam hidupnya, mempunyai satu Alya bisa membuat hidupnya tenang dan teratur, saat berpisah dengan Alya tadinya Ivan jumawa jika kehilangan satu wanita dalam hidupnya tidak akan berpengaruh apa-apa untuk kehidupannya, namun ternyata pikirannya salah, semenjak berpisah dengan Alya, meski dia mempunyai beberapa wanita dalam hidupnya, hatinya terasa kosong, dan kehidupannya tak tertata lagi, masa depannya terasa suram, tak ada bayangan sama sekali dalam hidupnya akan menjalani kehidupan seperti apa ke depannya, hidupnya hanya sekedar menjalani hari tanpa ada satu pun yang bisa dia nikmati dan sukuri, karena hidupnya benar-benar terasa hampa, namun alih-alih itu semua menjadi pelajaran hidup dan membuatnya sadar lalu berubah ke arah lebih baik, hati Ivan justru semakin menghitam, dia merasa semua ini tak harus terjadi jika Alya tidak memintanya untuk berpisah, setali tiga uang dengan Utari, Ivan berpikiran kalau baginya Alya lah yang paling bersalah atas kekacauan dalam hidupnya.
Ivan bergegas meninggalkan rumah tinggalnya yang kini sudah menjadi sitaan Bank, dia menuju ke rumah ibunya, dia yakin kalau tempat satu-satunya yang memungkinkan untuk mereka tinggal saat ini adalah rumah sanga ibu, meski tidak se-besar dan se-mewah rumahnya, namun hanya itu yang tersisa untuk keluarganya tinggali.
__ADS_1
Benar saja, saat Ivan sampai di pelataran rumah milik orang tuanya, terlihat ibunya sedang menggendong bayi mungil yang usianya belum genap satu bulan itu di teras rumahnya.
"Bu," seru Ivan berhambur mendekati sang ibu dan bayi kecil yang dia yakini kalau itu merupakan bayi mungil miliknya yang sangat rindukannya dan sangat ingin di temuinya.
"Ivan,,," Yuni menoleh kaget ke arah suara, seperti tak percaya jika putra sulungnya kini berada di hadapannya, seketika matanya berkaca-kaca dan setetes demi setetes buliran bening dari wanita paruh baya itu menetes di pipinya, perpaduan rasa haru, senang dan sedih nya, menghasilkan buliran bening yang justru kini menganak sungai di pipi keriputnya.
"Apa ini ini putri ku?" Tanya Ivan menatap lekat wajah putrinya yang kini juga menatap ke arahnya tanpa berkedip seolah dia juga sedang memperhatikan wajah asing pria yang baru saja di temuinya itu.
Bayi mungil yang wajahnya seratus persen mirip Hana seperti hasil foto copian ibunya itu terlihat sangat lucu, apalagi sat tiba-tiba dia melempar senyum pada Ivann yang juga kini berkaca-kaca sambil menggendong putri kecilnya itu, jauh di lubuk hati Ivan dia merasa bersalah karena sebagai seorang ayah bahkan dia tidak menyaksikan saat putri cantiknya itu saat lahir ke dunia karena ke-pengecutannya yang tak berani menghadapi Hana akibat kesalahan besar yang di lakukannya.
Yuni mengajak putra dan cucu pertamanya itu untuk masuk ke dalam rumah, dia tidak ingin ada tetangga lewat dan melihat mereka sedang bertangis-tangisan dan malah akan menjadi pergunjingan di lingkungan sekitar.
"Kenapa sepi sekali kemana semua orang, kemana Hana?" Ivan mengedarkan pandangannya, tak satu pun orang yang dia temui di rumah sederhana ibunya itu, selain Yuni dan bayi mungilnya itu.
'Hanya tinggal kami berdua di sini, Nak." Jawabnya dengan suara agak bergetar menahan tangis.
"Berdua? Maksud ibu? Kemana Hana, Hendri dan Wina?" Tanya Ivan dengan tatapan penuh penasaran.
"Semenjak rumah mu di sita oleh pihak Bank, Hana memutuskan untuk pergi sendiri dan meninggalkan putri kalian begitu saja katanya dia tidak ingin mengurus anak dari pria yang telah menghianatinya, dan menyerahkan bayi mu pada ibu, tentu saja ibu menerimanya, ibu takut Hana gelap mata menjual atau memberikan bayi kalian ke panti asuhan, bayi ini tidak bersalah, dan dia cucu ibu saty-satunya, tadinya ibu pikir jika kamu tidak kembali, bayi ini akan menjadi satu-satunya kenangan ibu tentang kamu, Nak." Tangis Yuni kembali pecah, kali ini terdegar semakin pilu.
__ADS_1
Ivan menaruh Bayinya di atas sofa ruang tamu, tubuhnya tiba-tiba terasa sangat lemas memikirkan bagaimana nasib putrinya yang bahkan usianya belum genap satu bulan namun sudah di tinggal minggat oleh ibunya.
"Lalu Hendri dan Wina?" Tanya Ivan lagi.
"Mereka---mereka--- mereka juga pergi," ucapan Yuni kali ini terhenti begitu saja karena Yuni terus saja menangis dan tak mampu melanjutkan kalimatnya.
"Pergi bagaimana maksudnya, bu?" Desak Ivan sungguh penasaran.
"A-adik mu pergi bersama istrinya karena mereka tidak mau jika nantinya akan di bebani tanggung jawab untuk menanggung biaya bayi mu, mereka meminta ibu untuk memilih, mereka atau cucu ibu, dan ibu memilih bayi mu, ibu tidak tega jika bayi mu harus di titipkan di panti asuhan, sehingga akhirnya adik mu memilih untuk pergi juga meninggalkan kami berdua seperti istri mu." Ucap Yuni di tengah isak tangisnya.
Kedua tangan Ivan mengepal dengan keras, sungguh dia tidak menyangka jika orang-orang yang di berinya makan bahkan tega menggigit tangannya, jika itu Hana mungkin Ivan bisa sedikit memaklumi, selain dia orang lain, sedari awal hubungan mereka pun di landasi karena materi, maka tak heran jika hana memilih untuk pergi saat dirinya sedang terpuruk seperti ini.
Namun jika itu Hendri, yang notabene merupakan saudara sedarah dan sejak dulu dia perjuangkan hidupnya selalu dia bantu segala rupa kebutuhannya, mulai dari biaya kuliah, biaya menikah, bahkan biaya nafkan untuk istrinya, dan terakhir membelikan adik satu-satunya itu mobil untuk usaha, Ivan dengan suka rela dan ikhlas hati memberikan semua itu, namun apa balasannya sekarang ini yang dia terima? Adiknya itu dengan teganya meninggalkan ibu dan juga anaknya hanya karena kini dia sedang terpuruk dan di anggap tak berharga lagi karena di nilai tidak bisa menghasilkan untuk mereka, dan tak ingin di bebani oleh ibu dan anaknya, sehingga mereka akhirnya memilih untuk pergi.
"Aku akan meminta Fitri untuk kembali bekerja, dia akan di sini merawat anak ku dan juga ibu, tidak usah khawatir dan banyak pikiran, aku juga akan sering mengunjungi ibu dan juga---" Ivan melirik ke arah bayinya yang kini terlelap, seolah mengeti jika ayah dan neneknya sedang berbicara serius, dan dia tidak ingin mengganggu nya.
"Siapa nama bayi ku ini, bu?" Tanya Ivan, dia baru ingat kalau dia bahkan tidak tahu nama anaknya sendiri.
Yuni menggeleng lemah, "Hana belum memberinya nama, ibu juga bingung menamai bayi mu dengan nama apa, ibu hanya memanggilnya dengan panggilan adek," Yuni tersenyum perih, menggambarkan betapa wanita tua itu telah mengalami banyak luka dan kepediahan semenjak di tinggal anak-anak dan menantunya, dan dia harus hidup berdua bersama cucunya dalam keadaan ekonomi yang serba pas-pasan bahkan dia harus berhutang kesana-kemari hanya untuk membelikan cucunya susu.
__ADS_1
"Hmmm, Nayla, cucu ibu namanya Nayla Putri Kusuma." Ivan mengusap lembut kepala bayi mungilnya dengan penuh kasih.
'Nak, maafkan ayah mu yang menempatkan mu dalam keluarga yang bermasalah, bahkan sejak kamu lahir ke dunia, percayalah ayah akan menjaga mu dan tidak akan meninggalkan mu seperti yang ibu mu lakukan terhadap mu, apapun yang terjadi.' Janji Ivan terhadap putri kecilnya di ucapkan dalam batinnya.