Celana merah jambu

Celana merah jambu
Tenanglah, aku disini


__ADS_3

Sementara Haryanto hanya tersenyum miring saat mendengar semua itu, seakan tidak merasa kaget dengan apa yang di ucapkan menantunya.


"aku tau, tapi bukankah kalian bisa rujuk, dan kau tidak akan menempatkan kekasih mu dalam bahaya besar." Ujar Haryanto dengan senyum smirk nya, seolah dia sedang mengatakan pada Marcel kalau Alya kini berada dalam genggamannya.


"Jangan usik kekasih ku, selama ini aku masih menghormati anda karena bagaimana pun anda mertua ku, tapi aku juga tidak akan tinggal diam jika kau mengganggu kehidupan pribadi ku, cukup sudah kalian merenggut kehidupan ku, menjadikan ku alat untuk kepentingan kalian, sekarang,,, tidak akan ku biarkan siapapun mengendalikan hidup ku lagi, bahkan jika itu ayah ku sekali pun!" Ujar Marcel seraya melirik tajam ke arah Salim yang membelalakan matanya seakan todak percaya jika putranya kini berani menentangnya.


Marcel beranjak dari kursinya, hatinya semakin tidak karuan memikirkan Alya, apalagi setelah mendengar ancaman Haryanto tentang Alya, jujur saja semua itu membuat dirinya kewalahan menenangkan perasaannya sendiri yang kalang kabut memikirkan Alya.


"Bos," panggil Darma saat Marcel baru saja keluar dari ruang rapat dan mengambil ponselnya.


"Ada apa Darma, tak perlu memanggil ku dengan sebutan bos lagi, karena aku bukan lagi bos mu, aku sudah tidak ada hubungannya dengan Salim grup lagi." Kata Marcel.


"Bagi saya anda tetap sahabat sekaligus atasan." Ujar Darma yang terlihat seperti merasa iba dengan nasib yang di alami Marcel.


"Ada berita buruk, nona Alya sekarang berada dinkantor polisi." Sambung Darma sampai lupa hendak menyampaikan berita yang sangat penting pada Marcel sejak tadi.


"Hah, A-Alya? Maksud mu Alya di tangkap polisi? Kok bisa?" Pekik Marcel tersentak, bisa-bisanya Darma tidak langsung mengatakan hal itu langsung pada i9ntinya namun malah berputar-putar.


Sungguh Marcel tidak habis pikir bagaimana bisa Alya tertangkap, padahal jelas-jelas dirinya sudah mewanti-wanti kekasihnya itu untuk tetap berada di kamar, dan jangan keluar apapun yang terjadi.


"Maaf, pikiran saya kacau, sampai lupa apa yang harus di sampaikan pada anda bos." Darma terlihat menggaruk-garuk belakang lehernya dengan perasaan bersalah, sangking gugupnya dia sampai lupa kalau dia harus mengatakan tentang Alya yang kini berada di kantor polisi.


**


Beberapa saat yang lalu di kamar hotel tempat Alya menginap dan berada bersama Daniel.

__ADS_1


Tring!


Sebuah pesan masuk ke ponsel Alya yang kini sudah mulai di hidupkan dan di aktifkan kembali setelah beberapa hari yang lalu sengaja dia matikan.


[Alya cepat pergi dari sana, selamatkan Daniel, orang-orang suruhan ayah ku sedang menuju ke sana, cari tempat persembunyian lain yang aman.]


Sebuah pesan masuk ke ponsel Alya. Alya membacanya berulang kali dan memastikan jika si pengirim pesan adalah benar-benar Marcel.


Namun bukankah tadi kekasihnya itu berpesan jika dia tidak boleh keluar dari kamar? Lantas mengapa tiba-tiba ada pesan seperti itu, apesnya lagi saat Alya berusaha menghubungi nomor Marcel, namun kini nomornya sudah tidak aktif lagi.


Sejenak Alya berpikir dan menimbang-nimbang, namun saat mengingat lagi ada kata-kata 'selamatkan Daniel dari sana' membuat Alya tak lagi ragu untuk mengikuti perintah kekasihnya, dia tidak mau jika bayi itu dalam masalah, sehingga Alya akhirnya bergegas pergi meninggalkan kamarnya, meski pun dalam hal ini dia belum tau akan membawa Daniel kemana.


Sial bagi Alya saat dia baru saja beberapa langkah keluar dari loby hotel beberapa orang polisi yang seperti sudah dalam pengaturan untuk menunggunya keluar langsung merangsek untuk mendekat ke arahnya sampai Alya tidak ada celah lagi untuk melarikan diri, di tambah lagi dirinya yang memang agak di sulitkan dalam pergerakannya karena sedang menggendong Daniel di pangkuannya, sehingga dari pada harus membahayakan bayi itu, Alya memilih untuk pasrah asalkan mereka tidak memisahkan dan membawa Daniel dari tangannya.


"bagus, anda lebih baik kooperatif dengan kami, maka kami tidak harus melakukan hal-hal yang mungkin akan membuat anda semakin malu di depan publik karena kami harus menangkap dan menyeret paksa anda dari sini." Ujar salah satu polisi yang seolah ingin menunjukkan pada Alya kalau keadaan di sekitar hotel itu cukup ramai dan jika dirinya berontak atau melakukan hal-hal bodoh maka itu hanya akan semakin memperburuk citra dirinya yang saat ini sudah di cap buruk oleh warga.


Terlebih tuduhan yang di layangkan padanya adalah penculikan anak di bawah unur, yang tentu saja akan menghadapkan Alya dengan tuntutan hukum yang tidak akan ringan.


"Nona, masih untung kami yang menangkap nona, apa nona tidak tahu jika para warga berlomba ingin menangkap nona karena imbalan yang besar yang di janjikan oleh ayah dari kekasih anda itu?" Celoteh seorang opsir pada Alya yang mencoba meminta untuk membawa Daniel dari dekapannya.


"Tunggu dulu, izinkan aku menghubungi ayah dari bayi ini, karena aku hanya akan menyerahkan bayi ini pada ayah atau ibunya saja." Tolak Alya, sungguh dia tidak ingin gegabah dalam memberikan Daniel pada sembarang orang, meskipun itu seorang polisi, dia tidak percaya pada siapapun untuk mengambil Daniel dari tangannya, kecuali Marcel.


Puluhan kali Alya mencoba menghubungi ponsel Marcel, namun tetap saja tidak bisa di hubungi, sampai akhirnya Alya memutuskan untuk menghubungi Darma dan menceritakan apa yang kini tengah di alaminya, untuk segera menyampaikan hal itu pada Marcel dan cepat menyusulny6a ke kantor polisi.


Melihat bayi yang terlihat anteng dan seperti tidak tertekan sama sekali bersama Alya, akhirnya para polisi itu mengizinkan Alya untuk tetap membiarkan Daniel dalam pelukannya, sampai Marcel sebagai ayahnya datang menjemput.

__ADS_1


**


Hampir sekitar empat puluh menit berlalu, akhirnya Marcel tiba di kantor polisi tempat dimana kini Alya di tahan, langkah lebar dan tergesa Marcel memasuki kantor polisi itu membuat dia tidak menyadari bahwa sudah banyak sekali wartawan berkerumun di sana dan berusaha menghalangi langkahnya untuk masuk, mereka berlomba-lomba mengajukan pertanyaan pada Marcel, bahkan suara para wartawan itu kini lebih terdengar bagai suara dengungan ratusan lebah di telinganya.


"Minggir!" Bentak Marcel mendorong dengan kasar siapapu yang menghalangi langkahnya untuk masuk dan bertemu dengan Alya, membuat para wartawan itu sedikit ketakutan dengan suara kencang dan menggelegar Marcel serta mata yang menyala bagai macan siap menerkam mangsanya, sehingga akhirnya mereka menyingkir ke tepian dan memberi akses jalan untuk Marcel lewat dan masuk ke dalam kantor polisi.


Entah bagaimana cara nya para wartawan itu bisa dengan cepatnya mengetahui berita penangkapan Alya ini, sehingga mereka menyusul dengan cepat ke kantor polisi.


Tanpa basa-basi lagi kini Marcel setengah berlari menuju petugas piket untuk menanyakan keberadaan Alya.


"Oh nona Alya berada di ruang tunggu sebelah sana, beliau baru saja di bebaskan," terang peetugas jaga itu menunjuk ke sebuah ruangan yang letaknya tak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.


"Di bebaskan? T-tapi bagaimana bisa? Siapa yang membebaskannya?" Tanya Marcel kebingungan.


"Untuk masalah itu, silahkan bapak masuk saja ke sana dan meminta keterangan langsung pada atasan kami yang mengurus secara langsung kasusnya." Kata petugas jaga itu lagi seolah tidak ingin salah bicara dalam memberikan jawaban dan penjelasan pada Marcel.


Dengan langkahterburu dan pikiran yang kacau dan dada yang sejak tadi menderu, marcel menuju ruangan yang tadi di tunjukkan oleh petugas jaga itu, yang konon katanya Alya berada di ruangan tersebut.


"Alya, apa yang terjadi?" Tanya Marcel mendekat pada Alya yang langsung berhambur memeluk dirinya, lalu menangis tersedu di dadanya, dapat di bayangkan bagaimana ketakutannya Alya menghadapi semua itu sendirian, sehingga kini dia menumpahkan semua rasa yang bergemuruh di dadanya.


Marcel terdiam sejenak, dia memberikan waktu untuk Alya agar dia menenangkan dirinya terlebih dahulu, karena terkadang menangis menjadi jalan satu-satunya untuk membuat hati tenang saat kata-kata tidak mampu menenangkan hatinya.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Marcel saat Alya sudah berhenti terisak danmengurai pelukan di tubuhnya.


Alya mengangguk pelan, meski bibir nya seperti masih sangat berat untuk berkata-kata.

__ADS_1


Marcel mengelus kepala Alya, mengusap sisa lelahan air mata yang tadi membelah pipinya, lalu merapikan anak rambut kekasihnya yang menutupi wajah cantik Alya, "Tenanglah, aku di sini, aku tidak akan pernah membiarkan mu sendirian lagi, jangan menangis lagi." Ucap Marcel pelan.


Namun beberapa saat kemudian Marcel baru teringat sesuatu, "Daniel, di mana Daniel sekarang Al?" Tanya Marcel yang baru sadar jika Daniel tidak ada bersama Alya saat ini, Marcel mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan, namun di ruangan itu hanya ada mereka berdua saja tidak ada orang lain lagi.


__ADS_2