Celana merah jambu

Celana merah jambu
Kecelakaan manis


__ADS_3

"Dari mana saja kamu? Kenapa Daniel kamu biarkan sendirian hanya bersama suster?" Tanya Marcel.


Siang itu, pulang dari Bandung Marcel langsung menuju rumahnya setelah mengantar Alya ke Firma terlebih dahulu, dia sudah sangat rindu dengan anak laki-lakinya, meski tak ada ikatan darah antara dirinya dan Daniel, namun ikatan batin mereka bisa di katakan cukup erat, mengkin itu yang di sebut kasih sayang tanpa perlu alasan. Namun ternyata Marcel malah mendapati Daniel sedang menangis hanya di temani susternya saja, di tunggu sampai lebih dari satu jam, Sita yang menurut asisten rumah tangganya pergi sejak pagi itu tidak kunjung pulang juga, sehingga membuat Marcel merasa kesal.


Marcel tidak mempermasalahkan kemana perginya Sita, hanya saja dia tidak suka jika anaknya di tinggal hanya bersama suster sekian lamanya, karena Marcel termasuk tipe-tipe orang tua yang tidak begitu percaya jika urusan anak di serahkan sepenuhnya pada orang lain, meskipun itu suster dari yayasan terpercaya, mungkin karena maraknya kasus penganiayayaan bocah di berita-berita, membuat Marcel merasa paranoid sendiri, bukannya Marcel melarang Daniel di urus suster, hanya sejja menurutnya meski di jaga suster, tetap harus dalam pengawasan orang tua, dalam hal ini Sita yang memang hanya berkegiatan di rumah.


"A-aku dari rumah sakit, mas. J-jadi Daniel tidak aku ajak." Gagap Sita, sungguh dia tidak menyangka jika Marcel sudah pulang, dan kini berada di rumah, biasanya Marcel hanya ada di rumah saat malam hari.


"Harusnya kau bilang aku jika kau akan meninggalkan Daniel begini lama." Ujar Marcel masih dengan nada kesalnya.


"Aku pikir kamu masih di luar kota, dan aku tidak mau menganggu kegiatan mu." Kelit Sita.


"Aku bisa pulang, dan kau pergi setelah aku di rumah, aku juga bisa menyuruh Darma untuk mengawasi Daniel, jika kamu memang sangat harus pergi." Kata Marcel tanpa bertanya apa yang di lakukan Sita di rumah sakit, apa dia sakitkah, atau keluarganya yang sakit kah? Sungguh bagi Marcel itu sangat tidak penting, dan Marcel sama sekali tidak ingin tahu akan semua itu, yang jadi permasalahan di sini hanya dia tidak suka jika Daniel di tinggal sendirian.


"Maaf, aku salah." Lirih Sita sambil menunduk, tak berani melawan tatapan tajam mata suaminya.


"Asisten ruumah tangga bilang kau sering keluar seperti ini, aku harap ini yang terakhir kalinya kau meninggalkan Daniel selama ini," Marcel mengultimatum, dan Sita hanya bisa mengangguk pasrah.


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu." Sambung Marcel melanjutkan pembicaraannya.


"Aku rasa sudah saatnya kita berpisah, sudah cukup kita saling membohongi perasaan kita, seatap tapi tanpa cinta. Aku mau kita bercerai." Ujar Marcel mengungkapkan keinginannya.


Sesuai janjinya, dia tidak ingin membuat Alya menjadi orang ke tiga dalam rumah tangganya, sehingga jalan satu-satunya adalah dirinya harus bercerai dengan Sita.


Perpisahannya dengan Sita tentu saja bukan semata karena Alya, meski Alya menjadi salah satu alasannya, namun sejak awal rumah tangga merek memang sudah rusak, pernikahan mereka hanya seperti bom waktu yang kapan saja bisa meledak, dan mungkin ini memang sudah waktunya.


Sita terdiam seperti memikirkan sesuatu, dia tidak serta menjawab keinginan Marcel itu, sepertinya banyak hal yang Sita pertimbangkan saat ini.

__ADS_1


"Aku tidak akan menuntut apapun dari pernikahan ini, untuk masalah perusahaan juga aku akan membicarakannya baik-baik dengan orang tua mu dan juga ayah ku, aku akan menerima apapun keputusan yang mereka berikan pada ku," Marcel melanjutkan pembicaraannya, berusaha membuat Sita mengerti.


"Emhhh, aku setuju, tapi bagaimana jika perceraian kita dilakukan setelah ulang tahun perusahaan bulan depan, aku khawatir akan terjadi gonjang-ganjing di antara para dewan direksi jika tiba-tiba kamu mengundurkan diri, ini moment penting juga untuk ayah mu, Salim grup adalah kebanggaan ayah mu, jangan rusak kebahagiaannya." Ujar Sita.


Kini giliran Marcel yang merenung sejenak, memikirkan apa yang di katakan Sita memang ada benarnya, sebaiknya dia tidak merusak moment perayaan ulang tahun perusahaan hanya karena urusan pribadinya.


"Baiklah, aku juga setuju. Bulan depan setelah ulang tahun perusahaan kita sepakat bercerai." Kata Marcel , dia langsung melengos berbalik badan meninggalkan Sita, karena di rasa apa yang harus di sampaikannya sudah mendapat kesepakatan.


"Emh,,, Mas!" Panggil Sita, membuat Marcel yang hendak menuju kamar Daniel menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menunggu apa yang akan di katakan oleh Sita padanya.


"Tapi aku punya satu syarat jika kamu ingin kita bercerai." Ucapnya ragu-ragu.


"Katakan, apapun syaratnya aku akan berusaha untuk penuhi." Tantang Marcel.


"Ah, itu--- nanti saja saat kita bercerai baru akan aku sampaikan syaratnya. Yang penting kamu sudah menyetujuinya." Kata Sita.


"Aku iri dengan wanita itu, mantan suami dan calon suaminya berlomba lomba mati-matian untuk mendapatkan hatinya. Wanita yang beruntung!" Ujarnya dengan satu sudut bibir yang terangkat sebelah.


"Tak perlu iri dengan kehidupan orang lain, kau hanya perlu mensyukuri hidup mu sendiri, karena aku yakin kau tidak pernah tau kepahitan seperti apa yang pernah dia alami." Ujar Marcel dengan yang kini benar-benar meninggalkan Sita yang terpaku sendirian dengan air matanya yang tiba-tiba meleleh begitu saja membanjiri pipinya.


Tidak ada yang salah dari kata-kata yang di ucapkan Marcel padanya, hanya saja terlalu berat untuk dirinya mensyukuri apa yang selama ini alaminya, hamil di luar nikah oleh pria yang sama sekali tidak bertenggung jawab, terpaksa di nikahi oleh pria yang sama sekali tidak mencintainya, 'Apa yang harus aku sukuri dari kehidupan ku?' Batin nya.


**


Seperti biasa, setiap dua hari sekali Alya datang ke Salim grup untuk menyerahkan laporan keuangan dan pembukuan yang dia periksa kembali karena Marcel tidak percaya pada kinerja Utari, atau mungki memang itu hanya akal-akalan Marcel agar bisa bertemu dengan Alya, tentu saja itu semua hanya Marcel yang tahu.


Semenjak kejadia di Bandung itu, memang tidak ada yang berubah, hubungan mereka kembali profesional, mungkin lebih tepatnya mereka lebih saling menahan diri, meski terkadang ada saja hal-hal yang membuat mereka kikuk dan serba salah, seperti saat ini dimana Alya yang sedang duduk sambil menerangkan laporannya pada Marcel sementara Marcel berdiri agak membungkuk di belakangnya menatap layar laptop yang berada di pangkuan Alya, namun saat Alya akan berbalik dan menoleh ke arah Marcel, dia tidak menyadari ternyata wajah Marcec berada tepat di sampingnya, sehingga tidak sengaja pipinya beradu dengan bibir Marcel.

__ADS_1


Sontak saja hal itu membuat pipi Alya terasa panas dan langsung merona karena malu, sementara Marcel hanya tersenyum manis, seakan baru saja mendapat rezeki nomplok.


"Hmmm!" Suara dehaman seorang perempuan membuat keduanya yang membelakangi pintu masuk ruang kerja Marcel itu berbalik secara bersamaan, seolah anak tertangkap tangan sedang melakukan hal 'aneh' padahal mereka benar-benar hanya sedang membahas pekerjaan, hanya saja, kecelakaan manis baru saja terjadi barusan.


"Maaf, pintunya terbuka, jadi aku langsung masuk." Ujar wanita itu yang ternyata Sita sambil mendorong stroller bayi dimana Daniel terlelap di dalamnya.


Entah apa yang di lakukan Sita saat ini, karena selama pernikahan dengan Marcel bisa di katakan dia sangat jarang bahkan hampir tidak pernah mendatangi Marcel di kantor, ini kali ke dua Sita datang setelah setahun yang lalu dia menemaninya dalam pengangkatan Marcel sebagai direktur Salim grup.


Alya hanya mengangguk sambil memberikan senyuman ramah pada Sita, sungguh dia tidak tahu jika yang berada di hadapannya adalah istri dari Marcel, karena dia memang tidak pernah tau seperti apa rupa istri Marcel, dan dia juga tidak ingin kepo mencari tahu.


"Ini pasti Alya, perkenalkan, aku Sita. Istri dari Marcel." Sita mengulurkan tangannya ke arah Alya yang mematung.


Tangan Alya mengambang canggung menerima uluran tangan perempuan yang memperkenalkan diri sebagai istri dari Marcel itu. Pikirannya tiba-tiba teringat kecelakaan manis beberapa menit yang lalu, dia berpikir apakah Sita melihatnya juga? Dari sudut pandang tertentu, kejadian tadi pasti akan terlihat seolah dirinya dan Marcel sedang berciuman, ah,,, betapa saat ini Alya merasa sangat takut dan merasa bersalah, padahal dia tidak melakukan apapun dengan suami wanita yang masih menunggu dirinya menyambut uluran tangannya.


"Ah, emh, iya, saya Alya, mba, eh--Bu." Gugup Alya, dia bahkan bingung harus memanggil Sita yang ternyata mengetahui namanya dengan panggilan apa.


"Panggl Sita saja, sepertinya usia kita tidak jauh. Usia ku hanya terpaut dua atau tiga tahun lebih tua dari mu." Jawab Sita santai, sama halnya dengan Marcel yang terlihat santai seperti tidak terjadi apapun, dia hanya sesekali melirik bayi laki-laki montok yang terlelap seperti tak merasa terganggu dengan obrolan orang dewasa di sekitarnya.


'Sial, apa hanya aku satu-satunya yang merasa gugup di ruangan ini?' runtuk Alya memaki dirinya yang beberapa kali gagal dalam mencoba menenangkan dirinya.


"Bailah kalau begitu saya permisi dulu," pamit Alya karena tidak ingin terlihat bodoh berada di antara Marcel dan istrinya saat ini, lagi pula dia juga tidak ingin mengganggu urusan mereka.


"Tunggu!" Seru Sita, membuat Alya yang sudah berdiri dari duduknya dn bersiap pergi kembali terdiam.


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu." Lanjut Sita.


Deg!

__ADS_1


Jantung Alya kini seperti baru saja berlari maraton, berdetak sangat kencang, dia menebak-nebak perihal apa yang ingin di bicarakan Sita dengannya saat ini.


__ADS_2