
Saat yang di Tunggu-tunggu akhirnya datang juga, malam ini adalah peringatan ulang tahun Salim grup yang ke 30 tahun, acara itu di adakan di aula Salim grup yang tak kalah luas dan mewahnya jika di bandingkan dengan ballroom hotel berbintang.
Dekorasi mewah yang bertemakan gold dan hitam itu membuat kesan mewah namun elegan sangat terasa kental di sana.
"Marcel tunggu," panggil Sita saat Marcel bersiap akan pergi ke acara itu.
"Aku terburu-buru, jika ada yang ingin kau bicarakan dengan ku, sebaiknya nanti saja setelah selesai acara." Ujar Marcel ogah-ogahan saat Sita menghentikan langkahnya dan seperti ingin mengajaknya berbicara.
"Aku hanya ingin kamu menanda tangani ini." Sita menyodorkan selembar kertas ke hadapan Marcel.
Marcel menerimanya, lantas membaca apa yang tertulis di atas kertas itu.
"Kau ingin?" Tanya Marcel mengernyitkan dahinya karena merasa bingung dengan Sita yang tiba-tiba meminta tanda tangannya sebagai tanda bukti kesepakatan untuk bercerai.
"Ya, aku ingin kau menanda tanganinya sekarang, sehingga besok, saat pengacara ku mengurus perceraian kita, akan lebih mudah karena sudah ada surat kesepakatan kita ini," ujar Sita setia menunggu Marcel yang terlihat ragu untuk membubuhkan tanda tangannya di atas kertas itu, entah apa yang menjadi pertimbangan Marcel, hanya saja ini terlalu tiba-tiba, dan terkesan ganjil, namun saat Marcel membacanya ;agi berulang kali, tidak ada satu kalimat pun yang merugikan dirinya kelak jika dirinya menanda tangani kertas itu, benar-benar hanya surat yang menyatakan kalau di antara dirinya dan Sita sudah tidak lagi menemukan kecocokan dan mereka sepakat untuk mengakhiri pernikahan secara baik-baik, kurang lebih seperti itu isi suratnya.
"Apa harus sekarang?" Tanya Marcel lagi, yang merasa Sita terlihat sangat mendesak dan terkesan terburu-buru, padahal mereka sepakat akan mengurus perceraian mereka setelah acara itu, bahkan Marcel tidak keberatan jika perceraian di lakukan satu atau dua hari setelah acara.
"Lebih cepat lebih baik, bukan? Apa kamu tidak mencintai dan menginginkan Alya untuk segera kamu kejar dan dapatkan? Sepertinya kamu kurang usaha untuk mendapatkan hati nya." Sita tersenyum miring dengan mengangkat sebelah alisnya.
__ADS_1
"Ah sudah lah, jangan sangkut pautkan perceraian kita dengan dia, toh dia juga tidak pernah merespon perasaan ku meski aku sudah menunjukkan cinta ku padanya." Keluh Marcel seraya menyambar bolpoin di tangan Sita dan segera membubuhkan tanda tangannya di sana.
Marcel juga tiba-tiba mengungkapkan keluh kesahnya begitu saja pada Sita yang bahkan selama ini untuk berbicara masalah penting saja jarang dia lakukan, namun entah mengapa tiba-tiba dia menyampaikan curhatannya itu pada Sita, justru di sat mereka hendak berpisah.
Mungkin karena Marcel sudah sangat merasa berat dengan beban perasaannya, atau juga mungkin karena Marcel merasa lebih nyaman berbicara dengan Sita saat mengetahui jika hubungan pernikahan di antara mereka akan segera berakhir, dan itu membuatnya lebih merasa lega dari tekanan ikatan pernikahan yang seolah menjeratnya selama ini.
"Cinta hanya bisa di buktikan dengan dua hal, yang pertama Halalkan dia jika kamu merasa yakin, dan yang kedua ikhlaskan dia jika kamu merasa hatinya bukan untuk mu." Sita mengedipkan sebelah matanya sambil membawa kembali kertas yang sudah di tanda tangani Marcel itu dan bergegas pergi.
Mereka memang tidak pergi bersamaan ke acara itu, Sita mengatakan kalau dia akan mengurus beberapa hal dulu dan sepertinya akan terlambat datang ke acara, makanya Marcel pergi sendirian.
Sementara di aula Salim grup tempat di adakannya acara, para tamu sudah terlihat berdatangan, mulai dari para petinggi perusahaan dan beberapa perwakilan dari staf menengah sudah terlihat hadir di sana, tak lupa para kolega Salim dan juga utusan-utusan perusaan besar baik dari dalam maupun luar negeri, begitu pun para wartawan yang memang sengaja di undang untuk meliput acara besar itu.
"Hai Tar, lama gak jumpa, akhirnya ketemu di sini." Sapa Alya yang merasa tidak nyaman berada di acara besar itu, satu-satunya tamu yang familiar untuk dia sapa malam itu hanya Utari yang terlihat sangat bahagia karena selama bekerja di Salim grup, ini kali pertama dia mendapat undangan menghadiri pesta ulang tahun perusahaan, karena biasanya perwakilan divisinya hanya Joko dan Alya yang mendapat undangan, kini setelah menggantikan posisi Alya, akhirnya dia bisa merasakan bagaimana rasanya berkumpul dengan para petinggi perusahaan tempatnya bekerja.
"Tentu saja bisa, sahabat mu ini sekarang kan mengikuti jejak mu, menjadi simpanan, petinggi Salim grup, hanya saja, dia lebih pintar dan lebih beruntung dari mu, karena yang dia jerat orang nomor satu Salim grup, masih muda dan tampan pula, bukan pegawai kelas menengah seperti Joko yang tua dan wajah nya tak enak di pandang mata." Celetuk Hana yang tiba-tiba saja nimbrung di antara perbincangan Utari dan Alya.
Hana yang saat itu datang bersama Ivan dengan bangganya menggelayut mesra di lengan Ivan seolah ingin menunjukkan pada Alya dan Utari kalau kehidupan dirinya kini sangatlah bahagia, seakan akan telah menjadi pelakor paling sukses di seluruh dunia.
"Cih, apa kau tak pernah bercermin? Apa kau amnesia siapa diri mu dulu, kalau kau tak bunting saja, Ivan tak akan pernah sudi untuk menikahi mu!" Cibir Utari, kesal, meskipun Hana adik sepupunya, dia tidak bisa tinggal diam lagi, karena Hana mulai membawa-bawa cerita affairnya dengan Joko, terlebih di acara perusahaan tempatnya bekerja, dimana siapa saja mungkin akan mendengar ocehan Hana itu.
__ADS_1
"Ayolah, tidak perlu meladeni mulut sampah seperti dia, ayo pergi!" Ajak Alya yang sangat malas meladeni Hana yang memang menginginkan dirinya terpancing emosi dan berujung mempermalukan diri sendiri di acara besar itu.
"Siapa yang kau sebut mulut sampah itu, hah? Dasar pelakor-pelakor menyedihkan, kau pikir selingkuhan kalian akan menikahi kalian? Kalian selamanya hanya akan menjadi boneka pemuas napsu mereka, cam kan itu!" Seru Hana yang langsung di tarik Ivan untuk menjauh karena tidak ingin menjadi pusat perhatian para tamu undangan.
Pertunjukkan belum saatnya di mulai, dan Ivan tidak ingin semua rencana yang sudah di susunya dengan rapi bersama wanitanya akan gagal begitu saja karena ulah bodoh Hana.
"Kenapa menghentikan ku? Aku sangat ingin merobek mulut mereka. Apa kamu tidak dengar kalau si Utari dan mantan istri mu itu merendahkan ku?" Rengek Hana.
"Oh ayolah, jangan terburu-buru membuat keributan, kamu tak perlu membuang tenaga mu untuk membalas mereka, terutama Alya. Karena kamu pasti akan senang jika melihat pertunjukkan yang sudah aku rancang sedemikian rupa untuk mempermalukan Alya dan juga Marcelino Salim." Ivan tersenyum iblis.
"Benarkah? Apa yang sudah kamu rencanakan sayang?" Hana menjadi begitu antusias saat Ivan mengatkan kalau dia merencanakan sesuatu untuk mempermalukan Alya yang dia anggapnya sebagai musuh bebuyutannya itu.
"Emhhh, rahasia, tapi aku jamin, kamu akan sangat menyukainya, kita tunggu saja, nikmati pestanya, buat diri mu santai, dan ingat, jangan membuat keributan!" Ujar Ivan mewanti-wanti istrinya sekali lagi.
***
....
Kamar terlihat temaram karena Maya memasang lampu tidur dan mematikan lampu utama, namun begitu, mata Arya masih bisa menyaksikan dengan jelasnya bagaimana Dimas sang sahabat yang sudah di anggapnya sebagai saudara sendiri itu sedang berada di atas tubuh istrinya, memompa pinggangnya naik turun dengan keduanya yang tak lagi mengenakan sehelai benang pun, rasanya kali ini matanya tak akan salah melihat, karena semua begitu jelas dan nyata di hadapannya, sang istri yang sangat di cintainya itu mengerang nikmat di bawah kungkungan Dimas sang sahabat.
__ADS_1
"Kejutan!" Seru Arya dari ambang pintu, menghentikan kegiatan panas dua insan yang sedang berpacu menikmati dosa.
Maaf promo dikit ya, mampir dan ramaikan cerita CINTA DIANTARA BENCI yuk, kakak-kakak semuanya 🥰🙏❤️🙏