
Kening Marcel berkerut saat Ivan datang menemuinya di kantor, selembar undangan pernikahan berulang kali Marcel baca, bahkan dengan sangat teliti lagi dan lagi, sudah lebih dari lima kali sepertinya Marcel memastikan nama calon pengantin wanita yang tertulis di undangan sebagai calon pasangan pengantin Ivan pada pernikahan yang akan di laksanakan 2 hari lagi itu.
"Fi-Fitri Handayani? Calon pengantin mu benar-benar bernama Fitri Handayani?" Tanya Marcel masih tidak percaya dengan matanya sendiri yang membaca tulisan yang sangat jelas tertera di sana.
Saat Ivan datang dengan selembar undangan dan menyodorkan ke hadapannya, hampir saja jantungnya berhenti berdetak karena mengira jika pernikahan itu adalah pernikahan Ivan dan Alya yang kembali rujuk, lantas sengaja mengundang dirinya untuk menunjukkan kebersamaan mereka kembali.
Namun berulang kali di baca, nama calon pengantin wanita di undangan itu bukanlah Alya Jelita, melainkan Fitri Handayani, nama yang yang asing dan sama sekali tidak Marcel kenal.
"Iya, Fitri. Aku menikahi pengasuh anak ku, aku sudah tidak mau memikirkan kebahagiaan ku sendiri dengan mencari wanita yang aneh-aneh seperti Hana atau Utari, Fitri menyayangi putri ku dan tulus merawat ibu ku, meski dia hanya seorang pengasuh dan mantan asisten rumah tangga aku dulu, tapi aku bisa merasakan ketulusan dia yang tidak hanya mencintai diriku namun juga segala hal tentang aku, dia juga tahu cerita hidupku, sisi kelam ku, namun dia tetap mau menerima ku." Urai Ivan menceritakan tentang siapa calon istrinya pasa Marcel, yang tiba-tiba kini jantungnya seperti benar-benar terhenti berdetak, rasa sakit di dalam dadanya tiba-tiba saja tak tertahankan, saat dia menyesali kebodohannya yang percaya begitu saja dengan pemikiran bodohnya tanpa meminta konfirmasi apa pun dari pihak Alya.
"La-lantas Alya? Aku pikir kalian kembali bersama setelah kejadian aksi heroik mu itu, beberapa kali aku melihat kalian sungguh intens dan kembali mesra, tidak kah saat itu kalian kembali rujuk?" Tutur Marcel.
"Rujuk? Andai saja Alya mau aku akan sangat berbahagia, aku memang meminta hal itu padanya saat itu, tapi dia menolak ku, rupanya dia sangat mencintai mu, dan sudah menggantikan posisi aku di hatinya dengan mu." Ivan tersenyum getir.
__ADS_1
"A-aku? Tapi, kalian terlihat sangat akrab dan kembali dekat." Cicit Marcel, jutaan penyesalan kini berjejal memenuhi dadanya yang terasa sakit menjadi semakin terasa sakit dan sesak.
"Kami memang kembali dekat, karena kami sama-sama memutuskan untuk saling melepaskan permasalahan kita, dan sepakat untuk menjadi teman yang baik untuk satu sama lain, tidak saling mengungkit masa lalu lagi." Terang Ivan.
"Apa kau benar-benar sudah melepaskan Alya? Tak tersisa lagi perasaan untuk nya?" Tanya Marcel seperti tidak percaya.
"Tuhan tau betapa aku masih sangat mencintainya, namun Tuhan lebih tau jika Fitri adalah wanita terbaik pilihannya untuk ku dan anak ku, lagi pula aku sudah sepakat dan sama-sama berjanji untuk tidak membahas masa lalu kami, justru hubungan seperti ini lah yang terbaik bagi aku dan Alya untuk saat ini ke depan." Kata Ivan mencoba ikhlas.
"Aku pikir kalian kembali rujuk,,," cicit Marcel setengah bergumam namun gumaman nya masih terdengar samar-samar oleh Ivan.
"Jangan katakan kalau kau menghindari Alya karena mengira aku benar-benar rujuk dengan nya?" Tebak Ivan.
Marcel terdiam, sungguh sangat malu untuk mengakui jika tebakan Ivan kali ini sejuta persen benar, pikiran bodohnya malah membautnya berpisah dengan Alya, keegoisan dirinya yang tidak mau menanyakan kebenaran pada Alya membuat dirinya kini menyesal setengah mati.
__ADS_1
"Oh shiiiiit, mengapa kalian berdua sangat bodoh dan konyol, berapa umur kalian sampai hanya saling menebak-nebak apa yang terjadi tanpa ada yang mau berinisiatif untuk mencari kebenaran, mempertaruhkan perasaan kalian sendiri yang harus di kalahkan demi sebuah ego." Sambung Ivan mengata-ngatai Marcel dan Alya yang menurutnya sama-sama bodoh dan kekanak-kanakan.
"Apa kau tau di mana Alya tinggal sekarang?" Semangat Marcel untuk memperbaiki semua kesalahan dan kebodohannya tiba-tiba berkobar kembali, dia merasa dia tidak harus kehilangan Alya hanya karena sebuah kesalah pahaman yang mereka buat sendiri.
"Aku tidak tau di mana Alya tinggal sekarang, hanya saja aku sudah mengirimkan undangan lewat pesan padanya, dan dia berjanji akan datang ke acara pernikahan ku." TErang Ivan, sebenarnya dia tahu di mana Alya tinggal dan di mana dia bekerja sekarang, namun dia tidak mau mengingkari janjinya pada Alya untuk tidak mengatakan kepada siapapun mengenai hal itu.
"Kau masih bisa menghubungi nomornya? Apa masih memakai nomor yang dulu?" Marcel memeriksa nomor Alya yangada di ponselnya, dan saat dirinya mencoba menghubungi Alya untuk pertama kali setelah lama mereka terpisah, nomor Alya kini tidak bisa lagi di akses olehnya.
"Hahaha,,, sepertinya nomor mu di blokir olehnya," ejek Ivan yang menunjukkan pesan terakhir kali yang di kirim Alya mengenai kesediaannya untuk datang ke acara pernikahannya ke hadapan Marcel, sehingga membuat Marcel menekuk wajahnya kesal.
"Jika kau masih mencintainya, cari dan temui dia, raih kembali hatinya, tapi aku kasih tau pada mu sebagai senior yang lebih tau mengenai Alya, dia sangat susah untuk di taklukan jika dia sudah merasa kecewa dan terluka, aku contohnya, dengan cepat di buang dari hatinya dan di gantikan oleh mu, jangan sampai hal itu terjadi pada mu, dan dia sudah membuang mu lalu mengganti posisi mu dengan orang lain." Sepertinya Ivan sangat puas dan bahagia mengejek Marcel habis-habisan sehingga membuat telinga dan wajah Marcel memerah akibat menahan kesal juga marah.
"Aku pasti bisa mendapatkannya kembali, masalah ku dengan Alya hanya sekedar salah paham, bukan perselingkuhan dan penghianatan seperti yang kau lakukan sebelumnya, sehingga menyebabkan kau di buang olehnya, aku yakin aku bisa mendapatkan Alya kembali, aku pasti akan datang ke acara pernikahan mu lusa dan membawa kembali Alya untuk kembali menjadi milik ku, lagi pula di antara kami tidak pernah ada kata putus, setelah itu aku tidak akan melepaskannya lagi." Kata Marcel penuh percaya diri.
__ADS_1
"Hahaha,,, oke aku tunggu kabar baiknya, semoga kau berhasil, selamat berjuang bro!" Ujar Ivan menyemangati tapi setengah mengejeknya.