
"Mas, apa mba Sita belum juga di temukan keberadaannya? Ini sudah mau dua minggu lho!" Tanya Alya pada Marcel dengan khawatir.
"Tadi malam dia mengirim pesan pada ku, katanya dia masih mempunyai urusan yang harus dia tangani terkait perusahaan yang nantinya setelah bercerai akan di ambil alih olehnya." Terang Marcel sambil memperlihatkan layar ponsel yang berisi pesan dari Sita padanya.
"Apa kamu tidak mencoba untuk menghubunginya? Minimal tanyakan bagaimana keadaannya ," ujar Alya.
"Aku tidak terbiasa berbasa basi seperti itu dengan Sita, kami terbiasa hidup dengan urusan kami masing-masing dan tidak saling mencampurinya. Kenapa, apa kamu mulai kewalahan mengurus Daniel?" Tiba-tiba Marcel berpikiran kalau sikap Alya yang kerap kali menayakan keberadaan dan kabar Sita adalah bentuk dari keluhannya secara tidak langsung yang lelah mengurus Daniel.
Terlebih bayi itu sekarang 24 jam tinggal bersama Alya di apartemen, bocah lucu itu sangat nempel pada Alya, terkadang jika Alya harus ke firma karena ada hal yang harus di urusnya pun terpaksa Daniel dia bawa untuk bekerja.
Ikatan batin antara Alya an Danil pun rasa-rasanya sudah terjalin kuat, Alya yang tadinya tidak punya pengalaman sama sekali dalam mengurus bayi karena dia belum pernah punya bayi itu pun semakin luwes mengurus Daniel, bak anak kandungnya sendiri, terkadang Alya memandangi wajah Daniel yang sedang tertidur pulas, ada rasa yang tak bisa dia ungkapkan tentang unconditional love yang dia rasakan pada bayi laki-laki yang sama sekali tidak mempunyai ikatan darah dengannya namun sangat ingin dia lindungi, dan ia sangat menyayanginya.
"Bukan seperti itu mas, aku tak pernah merasa lelah apalagi merasa terbebani dengan kehadiran Daniel di sisi ku, justru dia menjadi penyemangat ku dan membuat aku melupakan masalah-masalah yang aku hadapi sebelumnya, dia sudah seperti sumber kebahagiaan ku saat ini." Jawab Alya.
Namun tanpa di sangka-sangka jawaban Alya itu malah membuat Marcel cemberut dan seperti tidak suka.
"Kenapa mas? Apa ada yang salah dengan ucapan ku?" Alya terlihat agak kebingungan dengan perubahan mimik wajah Marcel.
"Apa aku sebegitu tidak mampunya membuat mu bahagia selama ini? Kenapa hanya Daniel yang mampu membuat mu bahagia?" Protesnya, rupa-rupanya dia cemburu pada bayinya sendiri, padahal dia yang mengijinkan Alya untuk dekat dengan putranya itu.
"Owalah mas, kenapa cemburu sama anak sendiri, tentu saja kamu juga membuat ku bahagia, kamu sama Daniel sumber kebahagiaan ku." Alya meralat ucapannya, karena menyadari jika Marcel merasa iri dan cemburu dengan ucapannya tadi.
__ADS_1
"Bagaimana jika kita menikah saja?" Tanya Marcel yang kini sudah terlihat tersenyum lagi setelah Alya meralat ucapan nya.
Surat cerai antara Marcel dan Sita sudah di antarkan oleh pengacara yang Sita tunjuk seminggu lalu ke kantor nya, jadi kini dirinya sudah bebas dan tidak terikat perkawinan dengan siapapun, meski hal itu masih menjadi rahasia karena Sita meminta kalau biar dirinya saja yang akan memberi tahukan perihal perceraiannya itu pada kedua orang tuanya nanti setelah urusannya selesai.
"Mas, surat cerai mu baru di terima seminggu yang lalu, dan kamu sudah ingin menikah lagi!" Ejek Alya.
"Apa salahnya? Tidak ada larangan, bukan? Yang jelas Status ku sudah duda sekarang, dan kamu juga sudah lama menjanda." Kilahnya.
"Aku mau,,,, hanya saja, kita tunggu waktu yang tepat, kita juga harus menunggu mba Sita pulang dulu, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengannya sebelum kita menikah." Kata Alya teringat kembali surat yang Sita tunjukkan padanya beberapa waktu yang lalu, yang jujur saja sampai saat ini menjadi ganjalan baginya, namun karena dia sudah berjanji pada Sita untuk merahasiakan hal itu, membuatnya dia hanya bisa memendamnya sendirian dan tidak berani mengatakan apapun pada Marcel.
"Baiklah, mendengar kamu bersedia saja aku sudah bahagia, aku akan sabar menunggu saat itu tiba." Ujar Marcel seraya mengusap lembut pucuk kepala Alya.
Mungkin Alya tidak tau jika jauh dalam hati Marcel sedang terjadi peperangan batin yang sangat sengit, di satu sisi dia berharap Sita akan lebih lama pergi atau bahkan tidak kembali lagi sekalipun dia tidak akan mempermasalahkannya, karena jujur saja dia belum siap jika nantinya Sita membawa Daniel dari nya, sungguh dia belum siap untuk berpisah dengan bayi laki-laki yang seakan sudah menjadi bagian dari hidupnya itu, namun ternyata di sisi lain Alya mengatakan kalau pernikahan mereka baru akan terjadi jika Sita sudah kembali, tentu saja hal itu secara tidak langsung seolah akan menggiringnya pada sebuah pilihan sulit antara Alya atau Daniel.
"Hana tunggu!" Teriak Ivan.
Berhari-hari dia mencari keberadaan istrinya itu, akhirnya malam ini tanpa sengaja mereka di pertemukan di sebuah klub malam, Ivan yangs edang suntuk dan memilih untuk mabuk-mabukan di sana samar-samar melihat istrinya yang sedang bergelayut manja di lengan pria tua berbadan tambun dan berkepala botak, namun saat Hana menyadari keberadaan Ivan di sana, dia segera bergegas melarikan diri dari tempat itu.
Tak ingin kehilangan jejak lagi, Ivan buru-buru mengejarnya dan memanggil-manggil Hana saat mereka sudah berada di luar klub.
"Lepas, baj-jingan!" Umpat Hana sambil memberontak saat Ivan menangkap tangannya dan menghalangi langkahnya.
__ADS_1
"Bagus ya, dasar ibu tak tau diri, kau tinggalkan bayi mu dan bersenang-senang menjual diri di tempat ini? Kau lebih dari baj-jingan." Ivan balas mengumpat Hana, matanya menyala seperti harimau yang siap mencabik-cabik dan memakan mangsa yang kini di tangkapnya.
Jujur saja, sebenarnya hal itu membuat nyali Hana ciut, tubuhnya meremang melihat sorot kemarahan Ivan padanya, namun saat dia mengingat kembali video perselingkuhan Ivan dengan kakak sepupunya membuat kemarahannya kembali bergejolak dan meluap-luap.
"Lantas bagaimana dengan mu? Apa kau pikir kau manusia suci, mencaci ku seperti itu? Kau mengatakan aku ibu tak tau diri, lantas kau ayah apa, sialan?" Mata Hana menyalang seakan menatang kemarahan Ivan padanya, peduli setan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya padanya dirinya, yang jelas dia tak ingin di persalahkan sendirian oleh Ivan sementara yang mengakibatkan dirinya seperti ini pun tak lain adalah diri Ivan sendiri.
Namun sayangnya pria yang berada di hadapannya itu seolah melimpahkan semua kesalahan pada dirinya dan tak merasa telah berbuat salah sedikit pun atas rumah tangga mereka yang kini hancur tercerai berai.
"Kakak sepupu mu yang selalu menggoda ku, lagi pula aku meladeninya karena dia menjanjikan proyek besar untuk ku, bukan kah hasilnya nanti kau juga ikut menikmatinya? Aku melakukan semuanya demi keluarga kita, demi kau yang keinginannya tak pernah ada habisnya." Kilah Ivan mencari-cari alasan dan pembenaran atas perselingkuhan yang sudah di lakukannya dengan Utari.
"Omong kosong, kau memang tidak pernah mau mengakui kesalahan mu sendiri, tetap saja ujung-ujungnya kau menyalahkan aku. Aku muak hisup dengan mu, kau pergi jauh-jauh dari ku dan urus saja sendiri anak mu, aku tak akan pernah lagi kembali lagi pada mu sampai kapan pun, suruh si Utari mengurus anak mu!" Kata Hana.
"Kau lebih memilih menjual diri seperti ini dari pada kembali pada ku dan mengurus anak kita?" Pekik Ivan geram.
"Jangan campuri urusan ku, apapun yang aku lakukan tidak ada hubungannya dengan mu, aku bahagia hidup tanpa mu, jadi tolong jauh-jauh dari ku!" Usir Hana.
Baru saja Ivan akan melayangkan tamparannya pada pipi Hana yang di nilainya sangat keterlaluan itu, tiba-tiba tangannya di tangkap oleh tangan seorang pria tua tambun dan botak yang tadi dia lihat bersama hana di dalam.
"Jangan ikut campur, ini urusan rumah tangga ku!" ujar Ivan berusaha menarik lengan yang di cekal pria tadi namun cekalan tangan pria tua itu ternyata sangat kencang sehingga rasanya tulang pergelangan tangan Iva terasa ngilu, dan nyeri bukan main. Pria itu seperti telah meremukan tulangnya hanya dengan remasannya.
"Kau akan berurusan dengan ku dan juga para anak buah ku jika kau mencoba mengusiknya, karena dia kekasih ku!" Ujar pria itu menunjuk beberapa orang pria tinggi besar yang entah dari mana datangnya namun tiba-tiba sudah mengelilingi tubuh Ivan.
__ADS_1
"Jangan coba macam-macam atau mengganggu ku kalau tidak ingin anak mu kehilangan ayahnya setelah dia kehilangan aku sebagai ibunya, dia preman daerah sini, dan dia kekasih ku, dia tak akan melepaskan orang yang telah berani mengganggu kekasihnya." Geram Hana mengingatkan dan setengah mengancam Ivan yang mulai merasa ketakutan dan mulai memutuskan untuk tidak berurusan lagi dengan Hana.
Benar kata Hana, saat ini putrinya sudah kehilangan ibunya jangan sampai anak itu menjadi yatim piatu karena keilangan ayahnya juga, demi putrinya dia mengalah dan merelakan kepergian Hana, namun suatu saat nanti dia pasti akan membalas apa yang Hana perbuat pada dirinya dan juga pada putrinya saat ini.