Celana merah jambu

Celana merah jambu
Salah siapa?


__ADS_3

"Ada masalah apa? Katanya kamu di panggil bos besar, terus muka mu kusut gitu, ada masalah besarkah?" Utari mendekati Alya yang baru saja masuk ke ruang kerjanya, setelah selesai menemui dua bos besarnya yang membuatnya semakin pusing pagi ini.


"Masalah audit JT bocor, di perusahaan kita, selain bos besar hanya kita bertiga dan pak Joko yang tau tentang ini, kalian tidak menceritakan masalah ini pada siapapun juga, kan?" Tanya Alya pada kedua asistennya.


Dinda dan Utari menggeleng secara bersamaan.


"Saya bersumpah tidak menceritakannya pada siapapun, bu," Ujar Dinda ketakutan.


"A-aku juga bersumpah tidak bercerita pada siapapun tentang masalah kerjaan ini," timpal Utari, meski agak gugup.


"Aku percaya, pada kalian," ujar Alya, dia juga tak mungkin mencurigai pak Joko, di matanya Joko adalah atasan yang sangat jujur selama ini, lagi pula bukan wewenangnya menanyai Joko, bukankah akan terkesan kurang ajar jika dirinya menanyakan hal itu pada atasannya.


"Baiklah, kalian kerjakan tugas-tugas seperti biasanya, dan jangan ungkit masalah ini pada siapapun juga, aku akan pergi untuk menyelesaikan masalah ini."


Alya berlalu begitu saja, kali ini dia berniat untuk mendatangi suaminya di JT untuk mencari dan menguak kebenaran, dari siapa Ivan mendapat info tentang audit itu.


**


"Sayang, kenapa datang kesini, kalau sampai Pak Anwar tahu, bisa bahaya!" Ivan terjingkat kaget saat tiba-tiba Alya mendatanginya di ruang kerjanya di JT.


"Kenapa? Apa ada larangan untuk ku datang ke sini, sekarang?" Tanya Alya di buat se-santai mungkin.


"Bukan begitu, tapi,, keadaan di sini sedang---" Ivan terlihat kebingungan menjelaskan pada Alya tentang apa yang sedang terjadi di kantornya itu.


"Sedang kacau karena masalah audit perusahaan kalian bocor? Lantas aku yang di tuduh membocorkan masalah ini pada mu?" Cecar Alya.

__ADS_1


"Sudahlah, lebih baik kita berbicara di tempat lain, jangan di sini, aku tak mau keadaan menjadi semakin kacau." Ajak Ivan.


Seorang wanita seksi dan masih muda memasuki ruangannya ketika Ivan selesai memanggilnya lewat sambungan telepon di meja kerjanya, wanita itu terlihat tidak asing dalam ingatan Alya, rupanya wanita itu, adalah wanita yang sama yang dia temui saat dia mengantar Ivan keluar dari mulut gang kontrakan Utari tempo hari.


"Ah, ini Hana, sekretaris ku." Ujar Ivan seakan mengerti dengan pandangan tak biasa Alya pada sekretarisnya itu.


Alya hanya mengangkat sudut bibirnya, tanpa mengatakan sepatah kata pun, dirinya lelah dengan semua permasalahan yang ada, sehingga rasanya dia kehilangan mood untuk sekedar bertegur sapa dengan wanita yang terlihat canggung saat Ivan memperkenalkan dirinya.


"Aku akan keluar sebentar, jika ada yang mencari ku, katakan saja aku bertemu klien." Titah Ivan pada sekretarisnya yang hanya mengangguk patuh dengan segala ucapan Ivan.


"Kita tak akan kemana-mana Van? Aku akan membawa mu bertemu pak Anwar untuk menyelesaikan masalah ini agar cepat clear." Keukeuh Alya.


"Al, ini gak mungkin, gak bisa, suasana masih dalam keadaan panas, bukan ide yang baik untuk menghadap Pak Anwar!" Tolak Ivan.


Hana terlihat serna salah, dia melirik ke arah Ivan dan meminta persetujuan lewat matanya.


"Kalau kau tak mau menolongku, aku masih bisa bertanya pada karyawan lain, permisi!" Merasa jengah dengan Hana yang sepertinya sangat takut pada Ivan, akhirnya Alya memutuskan untuk berjalan meninggalkan bos dan sekretarisnya itu yang masih saling terdiam kebingungan.


"Al, Alya tunggu!" Ivan mengejar Alya yang melangkah dengan cepat mencari ruangan pimpinan tertinggi JT grup.


Namun Alya tak menghiraukan teriakan Ivan, meski beberapa orang di sana menatap siniske arah mereka.


"Eh si mbak, ketemu lagi, habis bertemu Pak Ivan lagi?" Tanya petugas parkir yang tak sengaja Alya temui di koridor kantor di tengah dirinya kebingungan mencari ruang Pak Anwar, memang pertolongan Tuhan selalu datang tepat waktu.


"Ah kebetulan sekali, apa bisa tolong tunjukan pada saya ruangan Pak Anwar?" Alya menguntai senyumnya.

__ADS_1


"Pak Dirut maksudnya?" Tanya juru parkir itu, yang lantas di angguki Alya.


"Mari saya antar, sebelah sini!" Petugas parkir itu mengantar Alya dengan sopan, sementara Ivan yang mengekor di belakangnya terlihat sangat kacau namun pasrah karena dia sangat kenal bagaimana sifat Alya, dia akan memperjuangkan


Sebuah kebenaran bagaimana pun caranya, Alya cukup keras dalam menindak ketidak adilan.


Alya terlihat sedikit berdebat dengan Sekretaris Anwar yang tak mengizinkan dirinya masuk karena Anwar sedang menerima tamu saat ini di ruangannya, namun beberapa saat kemudian telepon di meja sekretaris Anwar berbunyi, lalu wanita berpenampilan super seksi itu mempersilahkan Alya untuk masuk, sementara Ivan mengikuti langkah Alya di belakangnya dengan gugup.


Alya sedikit terkejut saat mendapati Marcel berada di ruangan itu,


"Pak Marcel?" Cicit Alya, sementara Ivan hanya melirik sekilas ke arah dimana Marcel yang tidak dia kenal sama sekali.


"Nyali anda besar juga untuk datang kemari, apa anda ingin melakukan pengakuan dosa?" Sinis Anwar saat melihat Alya masuk ke ruangannya.


"Tidak ada yang harus saya takuti, dan tidak ada dosa yang harus saya akui, tujuan saya datang ke sini untuk menjelaskan duduk permasalahan yang telah menyeret nama saya seolah saya bersalah dalam hal ini." Jawab Alya dengan lugas, tidak ada yang dia takuti dalam masalah ini, karena dirinya sangat yakin kalau dia tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan.


"Silahkan kalian berdua duduk, dan silahkan anda bicara Bu Alya," Kata Anwar, sementara Marcel hanya diam dan mendengarkan tanpa ingin ikut berkomentar sedikitpun.


"Saya hanya ingin menegaskan pada anda semua, kalau saya tidak pernah membocorkan hasil audit internal perusahaan anda pada siapapun, termasuk pada suami saya sendiri, saya berani bersumpah, adapun jika memang benar suami saya menyebarkan rumor tentang audit itu ke sesama karyawan di JT, maka silahkan langsung tanyakan pada yang bersangkutan, dari siapa beliau mendapatkan info tersebut, karena saya yakin tidak pernah membicarakan hal itu pada suami saya ini." Alya menunjuk Ivan yang terlihat sangat gugup di bawah inmtimidasi pandangan Anwar, Marcel dan juga istrinya sendiri yang menunggu pernyataan darinya.


Agak lama Ivan terdiam seperti sedang memikirkan banyak pertimbangan dalam benaknya, sampai pada akhirnya dia membuka suaranya juga.


"Sebelumnya saya memohon maaf atas kekacauan yang terjadi di perusahaan, sungguh saya tidak menyangka jika obrolan saya dengan rekan-rekan kerja saya akan menjadi bola liar seperti ini, ini salah saya, saya akan menanggung semua punishment atas kecerobohan saya ini, tolong jangan libatkan yang lainnya selain saya." Gugup Ivan, sedikit ketakutan.


"Yang ingin saya tau, siapa yang memberikan anda informasi tentang hasil audit itu, bukan yang lainnya, katakan siapa orangnya!" Bentak Anwar pada Ivan, membuat Ivan semakin ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2