
Di sinilah Alya berada kini, di rooftop kantornya, sendirian memandang langit yang tanpa bintang, kosong seperti pikirannya saat ini, dia tidak punya tempat lain untuk pergi selain tempat ini, setidaknya untuk malam ini atau beberapa hari ini selama dia belum menemukan tempat untuk di tinggalinya, dia akan tinggal untuk sementara waktu di bangunan ini, lagi pula, kantornya belum beroperasi.
Alya tidak menyangka jika rumah tangganya akan berada di titik sepeti sekarang ini, dimana dia harus angkat kaki dari rumah impian yang sebagian adalah dari hasil kerja kerasnya selama ini, entahlah terserah orang akan menyebutnya bodoh atau apapun, karena meninggalkan rumah begitu saja, biarlah dia kehilangan rumah itu, toh, rezeki masih bisa di cari, yang paling penting saat ini adalah ketenangan hati, karena itu tidak bisa di beli dengan apapun.
Kini dirinya harus benar-benar kuat untuk berjuang sendirian menjlani kerasnya hidup, memikirkan semua itu, tak terasa air mata Alya meleleh dan terasa hangat mengalir di pipinya.
Mejadi kuat dan tegar bukan berarti tidak boleh menangis, bukan?
Alya terperanjat kaget, saat dirinya membuka mata dan sosok Marcel menjadi objek pertama yang dia lihat. Pria itu tetap duduk tenang dengan secangkir kopi di tangannya, sambil memperhatikan gerak gerik Alya yang terlihat salah tingkah.
Beberapa kali bahkan Alya mengerjapkan matanya berharap kalau apa yang di lihatnya saat ini adalah halusinasinya saja, namun pria yang tampak tampan dengan kemeja slimfit putih bergaris abu dan celana kain coklat tua itu sepertinya nyata adanya dan bukan halusinasinya.
'Haruskah aku memuji ketampanan suami orang? Ah ujian apa lagi ini Tuhan, belum saja diri ku menjadi janda, sudah di hadapkan dengan mahluk tampan yang hanya bisa di kagumi namun tidak bisa di miliki ini.' Gerutu Alya dalam hatinya.
"Sudah bangun? Bisa kau jelaskan kenapa kau berakhir tidur di sini?" Tanya Marcel datar.
"Emh,,, anu-- kenapa bapak bisa ada di sini?" Bukannya menjawab, Alya malah balik mengajukan pertanyaan pada Marcel.
"Para tukang yang mengerjakan interior menelpon ku, katanya kantor masih di kunci, padahal mobil mu terparkir di depan, berkali-kali aku hubungi ponsel mu tidak aktiv, jadi aku datang ke sini untuk membukakan kunci, dan ternyata kau ada di sini, apa yang terjadi, bukankah semalam kau pulang?" Urai Marcel.
Alya mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jaketnya, benar saja,ponselnya mati karena kehabisan daya.
"Maaf pak, saya tidak sempat meminta izin anda untuk menginap di sini, tapi saya tidak tau kemana saya harus pergi selain ke sini."
"Kau di usir?" Tanya Marcel.
"Saya memutuskan untuk pergi dari rumah itu." Jawab Alya tanpa menjelaskan apa yang menyebabkan dirinya memutuskan untuk pergi meninggalkan rumahnya.
__ADS_1
"Oh,,, minggat," cicit Marcel dengan santainya.
"Ishh,,, apa tidak ada kata lai yang lebih enak di dengar selain minggat, pak?" Protes Alya.
"Apapun sebutannya, artinya sama, kan? Aku sudah pesan sarapan, lebih baik kita sarapan dulu, karena bersedih pun perlu energi." Seloroh Marcel, sepertinya Marcel mengatakan itu karena melihat kedua mata Alya yang terlihat bengkak, tentu saja sudahbisa di tebak, kalau dia pasti menangis semalaman.
"Kau boleh menginap di sini, tapi jangan tidur di luar seperti ini, aku sudah menginvestasikan banyak uang untuk projek ini, jangan sampai projek ini gagal karena kau mati akibat masuk angin,"
"Ya ampun pak, do'anya apa gak ada yang lebih serem lagi? Pake nyumpahin saya mati segala, mana matinya karena masuk angin, lagi." Cebik Alya setengah kesal.
Hari ini Marcel menggantikan tugas Alya untuk memandori para pekerja di sana, Marcel memilih untuk mengerjakan semua pekerjaan kantornya dari tempat itu, dia tak sampai hati membiarkan Alya yang matanya masih bengkak harus tetap bekerja.
"Pak, apa ini?" Tanya Alya saat beberapa orang pekerja mengangkat sebuah kasur berukuran sedang dan sebuah lemari ke kamar yang berada di lantai tiga gedung itu.
"Kau boleh menginap di sini, tapi jangan sampai menyiksa dirimu sendiri, kalau kau tidak mau menerima ini secara cuma-cuma, anggap saja ini pinjaman, kau bisa membayarnya saat kau punya uang." Ucap Marcel datar seperti biasanya, membuat Alya tidak bisa menolak ataupun berargumen padanya, lagi pula itu memang di butuhkannya sat ini, dan seperti apa yang di katakan Marcel, dia akan menganggap itu semua sebagai pinjaman.
"Berapa semuanya, saya masih punya uang, kok." Kata Alya yang memang dirinya masih memegang uang, bahkan pesangon dari perusahaan Marcel saja belum dia pakai sama sekali, untuk keperluan kantornya dia masih menggunakan uang tabungannya, lagi pula sebagian besar kebutuhan kantor sudah di penuhi Marcel, sementara Alya hanya tinggal menambahi bagian-bagian kecil saja.
"Tapi saya tidak mau berhutang."
"Aku tidak menghutangi mu, hanya menitipkan uangnya untuk kau pegang dulu." Tegas Marcel yang lagi-lagi membuat Alya tidak bisa membantah apa yang di katakan oleh mantan bos besarnya itu.
**
Seminggu berlalu, lantai tiga bangunan itu kini menjadi tempat tinggalnya setelah selama itu Ivan tidak pernah mencari atau bahkan menghubunginya, tiba-tiba Ivan mengirimkan pesan, dan meminta untuk bertemu, kalau Alya tidak salah menebak, pertemuan ini pasti akan membahas masalah surat gugatan cerai yang tiga hari lalu dia ajukan, dan sepertinya Ivan sudah mendapat surat gugatan cerainya itu.
Alya berjalan melewati pintu sebuah kopi shop dengan perasaan yang campur aduk, tempat itu sengaja Alya pilih, selain tidak begitu jauh dari tempatnya kini tinggal, di sana juga cukup nyaman untuk mengobrol dan terbilang ramai pengunjung, jadi kecil kemungkinan bagi Ivan untuk bertindak macam-macam padanya.
__ADS_1
Ivan berdiri dari tempat duduknya saat melihat Alya mendekat ke arah mejanya, sikapnya kini kembali seperti Ivan yang dulu, Ivan sebelum tragedi celana merah jambu itu hadir dan merubah cara pandang Alya terhadap suaminya itu. Senyum hangat Ivan menyambut kedatangan Alya, jika saja kebobrokan Ivan belum terungkap, hati Alya tentu saja akan sangat meleleh dengan sikap manis Ivan padanya itu.
"Apa kabar mu, dimana kamu tinggal, Al?" Ivan membuka percakapannya.
"Baik, aku tinggal di suatu tempat dimana aku bisa tenang menjalani hari ku." Jawab Alya tanpa menyebutkan dimana alamat dia tinggal saat ini, dia tidak ingin Ivan mengganggu ketenangan dan fokusnya.
"Syukurlah, aku ikut senang melihat kamu baik-baik saja seperti ini, bisakah kita berbicara dari hati ke hati?" Ujar Ivan lembut.
"Apa kamu masih punya hati?" Sinis Alya, mengapa seolah-olah dalam hal ini Alya merasa kalau dirinyalah yang bersalah dan tak punya hati karena meninggalkan suaminya tanpa alasan.
"Al, kamu serius dengan ini?" Ivan mengeluarkan amplop coklat berlogo pengadilan agama di depannya.
Tepat seperti dugaan Alya, suaminya memintanya untuk bertemu karena gugatan perceraian itu.
"Tentu saja, jika tidak, mana mungkin aku berani bermain-main dengan memasukan gugatan itu ke lembaga kenegaraan?" Jawab Alya dingin, sambil menyeruput kopi americano kesukaannya.
"Al, mengapa tidak kita pertahankan pernikahan ini? Belum terlambat untuk kita memperbaikinya." Ujar Ivanm mengiba.
"Van, apa kamu ingin aku terus berpura-pura dan terus membohongi hati ku seolah ada hal yang harus aku pertahankan dalam pernikahan ini, padahal semuanya itu palsu? Aku bahkan tidak tau alasan apa yang membuat mu bersikeras untuk mempertahankan pernikahan kita ini, padahal jelas-jelas kau yang merusaknya sampai sedemikian hancur, apalagi yang harus aku pertahankan?" Dengan emosi yang tertahan tatapan mata Alya menyalang tepat ke manik mata Ivan yang meminta belas kasih dan penuh harap padanya.
"Aku mencintai mu Al, masih sangat mencintai mu, tidak kah kamu merasakan hal yang sama?" Ungkapan cinta yang seharusnya menjadi sebuah kata-kata romantis justru terdengar ironis dan tidak tau diri di telinga Alya.
Bagaimana bisa Ivan dengan tidak tahu malunya mengatakan tentang perasaan cintanya sementara dengan sadar dia memasukan perempuan lain di hidupnya dan di kehidupan rumah tangga mereka. Apa dia sedang bercanda?
"Aku memutuskan untuk menikah dengan mu karena aku mencintai mu, dan aku pikir kamu juga mencintai ku, atau jangan-jangan kamu tidak pernah merasakan kalau selama ini aku mencintai mu? Kenapa kamu masih mempetanyakan perasaan ku pada mu?" Rasa-rasanya Alya ingin menyiramkan kopi di cangkirnya itu ke wajah suaminya yang berlagak polos dan tanpa dosa itu.
"Kalau memang saling cinta, aku pikir tidak perlu ada perpisahan." Keukeuh Ivan.
__ADS_1
"Cinta tidak selamanya tentang kepemilikan, terkadang cinta juga tentang keikhlasan untuk melepaskan, dan aku mencoba meng-ikhlaskan mu karena aku tau kamu mungkin akan lebih bahagia bersama wanita selingkuhan mu, dari pada dengan ku, karena jika kamu bahagia dengan mencintai ku, kamu tidak akan berpindah dan berganti arah pada hati yang lain."
Ucapan Alya begitu menohok hati Ivan, benar perkataan Alya jika dirinya lah yang sudah menghancurkan bahtera rumah tangga mereka, tapi dia benar-benar tidak ingin kehilangan Alya, tak peduli jika dirinya di katakan egois, serakah, atau tak tau diri sekali pun, dia hanya ingin Alya tetap menjadi miliknya samapai kapan pun.