
"Dia sakit apa, Dok?" Tanya Marcel penasaran dengan apa yang terjadi pada mantan istrinya.
"Sebaiknya tunggu dia memberi tahu mu secara langsung, aku tidak punya hak untuk memberi tahu tentang penyakit nya, meski pun dia sudah aku anggap sebagai anak ku sendiri, karena aku terikat kode etik kedokteran." Elak dokter Bela keukeuh tidak mau memberi tahu perihal penyakit yang kini di derita Sita.
"Kamu masih di sini, mas?" Tanya Sita yang baru saja bangun dari tidurnya seharian setelah melewati proses panjang pemeriksaan dan tindakan yang dokter danbidan lakukan pada dirinya.
"Hmm, apa kau butuh sesuatu? Aku akan di sini menjaga mu untuk sementara sampai kamu agak pulih, lagi pula kasihan Daniel tidak ada yang mengurusnya." Marcel beringsut dari tempat duduknya semula dan mendekat ke arah samping ranjang tempat Sita kini terbaring lemah.
"Terimakasih," lirih Sita. "Mengenai permintaan ku, apa kamu sudah memikirkannya?" Sambung Sita.
"Katakan, apa permintaan mu, namun aku tidak janji untuk menyetujuinya." Ujar Marcel yang kini lebih santai dan sedikit lebih peduli pada Sita setelah mendengar bagaimana kisah hidup mantan istrinya itu dari dokter Bela.
"Aku ingin kamu merawat dan membesarkan Daniel, juga membantu menjalankan perusahaan ayah ku, untuk bekal nanti saat Daniel dewasa, aku juga akan meminta setengah saham perusahaan untuk di kembalikan pada ayah mu lagi, sementara setengahnya biar kamu yang mengelolanya, ayah ku sudah tua, aku hanya ingin menitipkan Daniel dan ayah ku pada mu, aku akan segera menyerahkan diri setelah kondisi ku agak membaik." Urai Sita.
"Kenapa Sit? Kenapa kau tega membunuh bayi dalam kandungan mu? Dia tidak bersalah apa-apa, dia tidak berdosa."
Sita terdiam sejenak menerima pertanyaan itu dari Marcel, sungguh ini hal terburuk yang paling baik yang dia lakukan untuk bayi dalam kandungannya itu.
__ADS_1
"Aku punya alasan kuat untuk melekukannya, justru karena aku tahu bayi itu tidak salah apa-apa dan tidak berdosa, makanya aku memutuskan untuk tidak melahirkannya dan ikut menanggung dosa ku, apalagi dia akan di lahirkan di dalam penjara nantinya jika aku mempertahankan kehadirannya." Ujar Sita beralasan.
"Apa maksud mu? Mengapa dia harus ikut menanggung dosa mu?" Marcel tidak mengerti dengan arah pembicaraan Sita yang sepertinya terlalu berteka-teki dan terlalu banyak hal yang belum dia ceritakan dengan gamblang padanya tentang apa yang terjadi.
"Aku akan menceritakannya, namun berjanjilah kau akan memenuhi permintaan ku!" Kata Sita setengah memaksa.
Flashback off
**
Sebulan berlalu dari pertemuan terakhir Alya dan Marcel saat di kantor polisi, sampai detik ini Alya tidak pernah beremu dengannya lagi, bahkan Marcel juga sudah tidak pernah lagi menampakan diri di firma tempat mereka bekerja sama sebelumnya.
Sepertinya Marcel benar-benar sudah enggan betemu dengannya.
"Baik, katakan padanya kalau aku juga memutuskan kerja sama firma ini dengan nya, aku keluar dari sini dan semua aku serahkan padanya kembali, untuk surat menyurat dan segala kepengurusan nya silahkan kalian atur saja!" Ujar Alya yang ikut terpancing emosi dengan sikap Marcel yang di nilainya sungguh pengecut karena tidak berani menemuinya.
"Saya tidak berada di pihak manapun, sebagai teman dari kalian berdua, aku sarankan untuk kalian bertemu dan saling berbicara, karena jujur aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian berdua," Kata Darma yang terlihat serba salah dan hanya berusaha bersikap netral.
__ADS_1
"Aku tau, tapi aku rasa percuma mengajak bicara dengan orang yang sudah tidak ingin berbicara dengan ku, aku tidak terbiasa mengemis hanya untuk sebuah percakapan."Alya yang juga keras kepala dan mempunya ego dan gengsi yang tinggi tak ingin mengalah begitu saja, sehingga hubungan di antara keduany6a mengalami kebuntuan.
Keduanya hanya percaya dan meyakini akan apa yang apa dalam pikiran mereka sendiri saja tanpa mau saling bertanya apa yang sebenarnya terjadi, membuat Darma pun akhrnya hanya bisa mengendikkan bahu dan menyerah akan ke-keras kepalaan mereka berdua.
Sebenarnya bukan tanpa perhitungan atau sebuah keputusan yang tiba-tiba Alya memutuskan untuk hengkang dari firma yang di bangun secara bersama-sama dengan Marcel itu, berat rasanya meninggalkan firma mengingat bagaimana jatuh bangun perjuangannya mendirikan usaha itu sampai di kenal seperti sekarang ini, kini banyak perusahaan yang memakai jasa firma nya, namun di saat semua sudah mulai terbangun dengan baik, justru masalah di antara dirinya dan Marcel justru tidak menemukan titik temu, atau lebih tepatnya kesalh pahaman yang tidak menemukan titik temu karena ego masing-masing.
Seminggu yang lalu, dirinya mendapat pekerjaan untuk mengaudit salah satu perusahaan baru di bidang kontruksi, setelah beremu dengan pemimpin perusahaannya secara langsung, ternyata perusahaan itu milik salah satu seniornya saat masa kuliah dulu, setelah asik mengobrol ngalor ngidul, seniornya itu menawari Alya pekerjaan sebagai kepala akuntan di perusahaannya karena dia sangat puas dengan kinerja Alya, terlebih Alya juga bercerita dia pernah berpengalaman selama beberapa tahun bekerja di perusahaan sebesar Salim grup, sehingga Seniornya yang bernama Rudy memintanya secara langsung pada Alya untuk bergabung dengan perusahaan yang baru di rintisnya.
"Ayolah Al, itung-itung membantu teman, aku aka membayar gaji sesuai dengan gaji mu saat di Salim grup dulu, bagaimana?" Rayu Rudy saat itu.
Namun Alya saat itu masih menolak tawaran Rudy dengan alasan sudah nyaman dengan Firma tempatnya bekerja sekarang, namun setelah tahu Marcel kembali ke Salim grup dan memutuskan kerja sama dengannya, tekad Alya kini sudah benar-benar aulat untuk menerima tawaran kakak angkatannya di kampus dulu.
"Benarkah? Kamu menerima tawaran ku?" Suara bahagia terdengar di ujung saluran telepon sana saat Alya mengabari Rudy jika dia menerima tawaran Rudy dan siap untuk memulai pekerjaan kapan pun.
Hal lain yang harus Alya lakukan adalah pindah rumah, dari hasil tabungannya selama ini dia berhasil membali rumah sederhana di pinggiran kota, da itu tidak masalah baginya karena rumahnya kini justru dekat dengan perusahaan Rudy yang juga berada jauh dari pusat kota, sehingga itu memberi keuntungan bagi Alya yang belum bisa membeli kendaraan karena semua tabungannya habis untuk membeli eumah mungilnya.
"Selamat datang dan selamat bergabung dengan perusahaan ku, semoga kamu betah di tempat baru ini." Sambut Rudy di hari pertama Alya masuk kerja dan menjadi karyawannya.
__ADS_1
"Terimakasih," Ujar Alya, dia siap menjalani hidup barunya, di tempat baru, rumah baru, kantor baru dengan orang-orang yang juga baru dan dia siap untuk meninggalkan hal-hal lama yang membuat hidupnya di rundung banyak masalah.
"Selamat tinggal masa lalu!" Ucap Alya dalam batinnya.