Celana merah jambu

Celana merah jambu
Ungkapan hati


__ADS_3

Marcel tidak sanggup menjawab perkataan Sita, dia merasa tidak yakin dengan tawaran Sita yang tiba-tiba itu, dia justru khawatir jika ini semua hanya sebuah jebakan atau bahkan rencana busuk ayahnya yang bekerja sama dengan Sita.


Ya, Marcel akui kalau Alya adalah seseorang yang bukan miliknya, namun selalu tinggal di hatinya dan melekat di pikirannya, hanya saja, Marcel tidak tau apa yang Alya rasakan padanya, Marcel lebih senang mengatakan kalau ini hanya cinta sepihaknya saja pada Alya, lagi pula dia tidak ingin melabeli Alya menjadi wanita perebut suami orang, setelah dia menjadi korban pelakor, apa kata orang-orang jika korban pelakor justru menjadi seorang pelakor.


Biarlah dia pendam sendiri perasaan nya, dia cukup tau diri dengan status yang kini di sandangnya, dia tak ingin terlalu ngoyo untuk mengejarnya, jika memang Tuhan berkehendak, takdir akan mencari jalannya sendiri untuk mempertemukan perasaan mereka.


Bukankah justru tau diri yang seperti ini, yang rasa perihnya luar biasa dahsyat?


"Jangan ikut campur urusan pribadi ku, tetap berada di batas mu!" Ujar Marcel akhirnya, sambil melengos dan melangkah menuju kamar Danil, melihat bocah bayi yang tertidur dengan tenang, membuat seketika pikirannya yang kacau menguap seketika.


Hanya dengan menatapnya sudah bisa menjadi obat luka batinnya, dengan memeluknya membuat perih hatinya menghilang, melihat senyumnya membuat sedihnya berganti bahagia, dan tatapan mata beningnya selalu berhasil membuat jiwa lelahnya bersemangat kembali.


"Anak ku," lirihnya sambil mengusap lembut pipi gembil bayi yang tetap terlelap dan tidak terganggu dengan sentuhannya.


**


Hari ini Marcel, Darma dan pengacaranya, juga Alya berada di kantor polisi, terkait pelaporan kasus penipuan yang di lakukan JT. Pihak dari terlapor yang di wakili oleh Ivan seorang diri pun sudah berada di sana untuk di mintai keterangan oleh petugas.


Semua bukti sudah terkumpul lengkap yang menunjukkan bahwa Jt grup sengaja membocorkan rahasia demi meraup keuntungan dan memeras Salim grup, beberapa perusahaan yang pernah menjadi korbanmereka pun telah bersaksi sebelumnya, bahkan Utari pun sudah memberikan kesaksian pada petugas di hari sebelumnya, dia mengaku kalau dia terpaksa ikut rencana skema kecurangan JT karena dirinya di ancam.


Namun anehnya, meski semua bukti dan saksi sudah dengan jelas menyatakan JT grup bersalah, tidak ada raut ketakutan atau kepanikan sedikitpun yang Ivan tunjukkan, bahkan dengan percaya dirinya dia datang sendirian tanpa di dampingi pengacara atau siapapun, seolah dirinya sangat yakin kalau kemenangan berada di tangannya meski dia berada di tepi jurang saat ini.


Pengacara Salim grup yang tadi tiba-tiba di panggil ke dalam ruangan bersama bersama Ivan keluar dengan wajah lesu dan kacaunya, sebaliknya justru Ivan keluar ruangan itu dengan senyum lebar dan penuh kemenangan.


"Ada apa?" Tanya Marcel yang sejak tadi menunggu di luar ruangan bersama Alya dan Darma, dia sungguh penasaran dengan apa yang terjadi di dalam ruangan, terlebih dirinya tadi tidak di perkenankan untuk ikut masuk ke dalam ruangan sana.


"Laporan kita di batalkan," ujar pengacara itu lemas.


"Kenapa bisa? Semua persyaratan bukti dan saksi kita lengkap, apa yang terjadi?" Sewot Marcel tidak terima.

__ADS_1


"Karena keberuntungan selalu berpihak pada ku!" Sambar Ivan dengan senyuman mengejek.


"Tutup mulut mu bajingan!" Marcel sudah mengangkat kepalan tangannya ke udara bersiap untuk melayangkannya ke wajah Ivan yang terlihat sangat menyebalkan itu, namun Alya dan Darma menahannya, karena tidak ingin Marcel terlibat masalah lebih banyak lagi, apalagi itu di kantor polisi, Ivan bisa dengan mudah mempidanakannya.


"Kenapa? Kau tidak terima? Aku memang beruntung, sudah terbebas dari masalah, dapat uang ganti rugi yang kami minta, lagi. Dengan begitu secara tidak langsung kalian mengaku salah. Bukankah itu sangat menyenangkan?" Ejek Ivan.


"Apa maksudnya?" Marcel semakin tidak mengerti arah pembicaraan Ivan, namun setelah mengatakan semua itu Ivan langsung pergi sehingga tidak bisa di tanyai lagi.


"Semua kerugian yang JT minta sudah di bayarkan, sehingga gugatan tidak bisa di lanjutkan, karena dengan begitu pihak Salim grup mengakui keteledorannya dengan membayar denda." Terang pengacara itu.


"Tapi, siapa yang membayarnya?" Tanya Marcel lagi kebingungan.


"Aku!" Suara pria paruh baya menyela di antara perbincangan panas Marcel dengan pengacaranya.


"A-ayah!" Cicit Marcel.


"Maaf pak Marcel, saya pengacara Salim grup, dan saya hanya mengikuti apa yang di inginkan perusahaan, bukan perseorangan." Kata pengacara itu seraya menunduk karena merasa bersalah dan tidak enak hati dengan Marcel yang dia tau betapa kerasnya dia berjuang untuk mengumpulkan bukti dan mengungkap kebenaran, namun ternyata semua harus di patahkan oleh ayahnya sendiri.


"Jangan libatkan dia, ayah. Aku yang bertanggung jawab dalam hal ini!" Marcel mencoba untuk melindungi Alya, karena batinnya mengatakan ada hal yang tidak beres dan dia sangat mengenal watak ayahnya, dia tidak ingin jika ayahnya sampai menyalahkan atau bahkan menyakiti Alya.


"Aku bilang dia, ya berarti dia!" Sentak Salim sambil menunjuk ke arah Alya sekali lagi.


"Tapi---"


"Saya bersedia untuk ikut dengan anda." Ujar Alya, dia tidak ingin Marcel dan ayahnya ribut lebih jauh lagi.


Tentu saja hal itu membuat Marcel lagi-lagi hanya bisa menghela nafas kesal bercampur pasrah, setelah kecewa dengan laporannya yang harus gagal, dan kini ayahnya meminta untuk membawa Alya entah untuk apa.


Tak masalah jika itu hanya dirinya, namun ayahnya justru meminta Alya, dan yang membuatnya semakin putus asa karena dia tak tau apa yang akan ayahnya lakukan pada dirinya dan Alya.

__ADS_1


"Jika ayah membawanya pergi, maka aku juga akan ikut bersama kalian, aku tidak bisa membiarkan ayah membawanya seorang diri." Ujar Marcel, karena tidak ada jawaban apapun dari ayahnya, Marcel mengikuti mobil ayahnya yang membawa Alya di dalamnya.


Ternyata Salim membawa Alya ke rumah kediamannya, rumah yang sejak kematian ibunya, setahun yang lalu, tak pernah Marcel menginjak nya lagi.


Salim sepertinya tau di mana tempat yang akan membuat Marcel tidak berdaya, rumah itu selalu mengingatkan dirinya pada almarhum ibunya, dan hal itu selalu membuat dirinya menjadi lemah tidak berdaya, apa lagi saat mengingat apa yang membuat ibunya meninggalkan dunia ini, hatinya terasa sangat perih.


Ini kali pertama Marcel memasuki rumah itu lagi, setelah satu tahun, kakinya terasa bergetar dan lemas saat kaki kananya mulai melangkah memasuki pekarangan rumah yang luas nan mewah itu, matanya berkaca-kaca kala di setiap sudut ruangan rumah itu Marcel melihat bayangan ibunya yang menyambut kepulangannya.


"Cih, sebegitu berartinya kah wanita ini, sampai kau bahkan melanggar janji mu sendiri untuk tidak akan lagi menginjakkan kaki mu di rumah ini lagi?" Ujar Salim sinis. Sementara Alya hanya bisa terdiam kebingungan karena tidak tahua pa yang ayah dan anak itu sedang bicarakan.


"Katakan, apa maksud Ayah membawanya kesini, dan kenapa ayah membayar denda itu pada JT grup? Kita tidak bersalah, kenapa harus mengalah?" Marcel mengalihkan topik pembicaraan yang sengaja ayahnya buka tadi.


"Aku tau, perusahaan kita memang tidak bersalah, namun aku lebih rela kehilangan uang segitu dari pada kehilangan semua perusahaan dan nama baik, gara-gara wanita sial dan licik ini!" Tunjuk Salim pada Alya.


"Aku tegas kan pada mu untuk jauh-jauh dari putra ku mulai sekarang, kau sudah mendapatkan apa yang kau mau, jadi pergllah sejauh mungkin, karena jika tidak aku tidak akan membiarkan mu selamat!" Ancam pria tua itu berapi-api.


"Ayah hentikan, jangan sembarangan memfitnah!" Sanggah Marcel tidak terima.


"Ah, mata mu sungguh buta, dia wanita licik, dia berkomplot dengan Jt dan juga suaminya untuk memeras kita, dia seolah berada di pihak mu dan mendekati mu, setelah itu suaminya mengancam ku menggunakan video ini, jika tidak membyar denda, dia akan memberikan ini pada keluarga Sita, dan kau tau itu artinya apa, kita hancur." Ujar Salim seraya memperlihatkan video yag di ambil Wina malam itu di kost, dari sudut pengambilan video itu memang terlihat seakan-akan Marcel dan Alya hendak berciuman, padahal kenyataannya mereka hanya sedang mengobrol biasa.


Rupanya video itu yang di jadikan senjata oleh Ivan untuk melawan tuntutan Marcel cs.


"Itu tidak benar. Alya bukan wanita seperti itu, aku sangat tau dan sangat yakin jika ini hanyalah fitnah yang sengaja ingin menjatuhkan Alya dan aku, harusnya ayah membicarakan hal ini dulu dengan ku, bukan mengambil keputusan dengan terburu-buru dan menyimpulkan hal yang belum pasti kebenarannya."


"Kau masih membelanya?"


"Tentu saja, tidak ada alasan untuk aku tidak membelanya, karena dia sama sekali tidak bersalah."


"Kau membelanya? Membela wanita licik ini? pintar sekali kau merayu putra ku, wanita murahan!" maki Salim pada Alya.

__ADS_1


"Hentikan ayah, jangan pernah menyebut dia murahan, dia tidak pernah sekali pun merayu ku, sebaliknya, aku yang jatuh cinta padanya, aku yang tergila-gila padanya, aku yang murahan karena mencintainya, padahal dia tidak pernah menganggapku lebih dari sekedar atasan. Kau puas ayah? Anak mu yang sebenarnya murahan dan tidak tau malu, karena bertepuk sebelah tangan padanya, sejauh apapun ayah memisahkan dia dari ku, aku akan tetap mencari dan mencintainya!" Entah secara sadar atau tidak, namun Marcel sudah mengungkapkan isi hati yang sejujurnya, membuat ayahnya dan juga Alya hanya bisa ternganga mendengar ungkapan hati Marcel yang menggebu-gebu.


__ADS_2