
Alya terdiam menyimak kata demi kata yang di sampaikan Utari sebagai penjelasannya, intinya mereka sama-sama saling menutupi aib dan kebobrokan mereka masing-masing.
Utari sampai bersumpah atas nama putrinya kalau dia tidak mempunyai hubungan apapun dengan Ivan, sehingga mau tidak mau Alya harus mencoba untuk percaya dengan ucapannya, meskipun dalam hal ini, Utari tetap menjadi ikut dalam pihak yang patut di persalahkan di mata Alya, karena turut andil dalam perselingkuhan Ivan dan adik sepupunya itu, apapun alasannya.
"Lantas mengapa kau membocorkan informasi hasil audit itu pada mereka?" Tanya Alya lagi.
Kali ini pertanyaan Alya bergeser pada masalah info yang bocor yang dia yakin itu berasal dari Utari.
"Utari, apa kamu yang melakukannya?" Joko justru lagi-lagi terlihat kaget dengan pertanyaan Alya, dia sepertinya benar-benar tidak mengetahui jika yang membocorkan info itu adlah kekasihnya sendiri.
"Maafkan aku mas, maafkan aku Al, tapi ini semua aku lakukan karena terpaksa. Hana mendesak dan mengancam ku akan melaporkan perselingkuhan aku dan Mas Adi pada Istrinya, dan juga akan melaporkan ini pada bos besar, aku tidak mau kalau mas Adi mendapat masalah. Jadi aku terpaksa memberikan info itu pada Hana." Sesal Utari.
"Jadi kau memilih lebih baik aku yang mendapat masalah? Kau picik, egois!" Kesal Alya.
"Aku minta maaf, aku tau aku salah, tapi aku tidak ada pilihan lain, aku mencintai Mas Adi, dan aku juga tidak mau dia mendapat masalah, aku akui kalau aku memang egois dan jahat pada mu, maafkan aku." Kepala Utari semakin menunduk dengan cucuran air mata yang semakin deraas mengalir di pipinya.
"Hana selalu menggunakan kelemahan ku tentang hubungan terlarang aku dan Mas Adi untuk menekan ku, termasuk menanyakan informasi tentang hubungan kamu dan suami mu, aku bersalah Al, aku minta maaf!" Kata Utari dalam isak tangisnya.
"Jika kamu benar-benar menyesal, tentunya kamu tak akan keberatan jika harus membantu ku, meluruskan permasalahan ini, membantu membersihkan nama ku yang kali ini di jadikan kambing hitam dalam kisruh JT dan Salim grup." Todong Alya, dia punya rencana sendiri untuk menggunakan Utari sebagai alat bantunya, namun dia tetap merahasiakan apa yang kini sedang di lakukannya bersama Marcel dan Darma dalam menuntaskan masalah ini.
__ADS_1
"Aku bersedia, aku akan menanggung semuanya, pinta ku hanya satu, jangan libatkan Mas Adi dalam masalah ini, dia tidak tau apa-apa tentang ini semua." Angguk Utari.
"Cih, sebegitunya belain suami orang!" Sinis Alya.
"Oh iya, aku harap kamu juga tidak menceritakan apapun pada Ivan maupun sepupu mu itu tentang apa yang terjadi malam ini, karena kalau itu terjadi, bukan sepupu mu yang akan membongkar hubungan mu dengan Mas Adi mu itu, namun aku lah orangnya." Ancam Alya.
Ibarat kata posisi Utari kini terjepit di antara dua jurang yang terjal, sekali salah melangkah, maka nyawanya lah yang akan menjadi taruhannya, tidak ada jalan lain selain pasrah dan menyetujui apa yang di minta Alya untuknya saat ini.
**
Alya meninggalkan rumah Utari setelah mendapat banyak info tentang bagaimana kepribadian Hana dari Utari, ternyata Hana adalah orang yang pantang menyerah dan kukuh terhadap keinginannya, dia akan melakukan cara apapun untuk mendapatkan apa yang di inginkannya, termasuk dengan obsesinya untuk memiliki Ivan, bahkan menurut Utari, sepupunya itu tergolong nekat dalam memperjuangkan keinginannya, sejak awal Utari tau hubungan Hana dengan Ivan, dirinya sudah menasehatinya untuk tidak mengikuti jejaknya menjalin hubungan dengan pria beristri, namun apa mau di kata, Utari sendiri pun melakukan hal yang sama, alih-alih nasehatnya di dengar oleh Hana, justru hubungan terlarang yang di jalani Utari justru malah di jadikan Hana sebagai senjata untuk menyumpal mulut Utari agar tidak bersuara pada siapapun.
Alya tersenyum smirk saat dirinya menemukan sebuah ide konyol malam itu, saat dia iseng melewati rumah tempat tinggalnya yang sudah sebulan ini dia tinggalkan, dan tidak melihat mobil Ivan terparkir di sana, Alya bisa menyimpulkan kalau saat ini mungkin Ivan sedang menginap di rumah gundiknya itu.
Segera dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Ivan. Setelah panggilan ke tiga Ivan baru mengangkat teleponnya, saat ini waktu menunjukkan pukul 2 dini hari, Ivan pasti sudah terlelap atau bahkan sedang asik bergumul dengan wanita itu, tapi untungnya, Ivan mau menerima panggilan teleponnya.
"Van, kamu bisa bantuin aku gak, mobil ku mogok di area sektor 3, aku takut nih, kamu kesini bisa? Kamu di rumah, kan?" Ujar Alya, suaranya sengaja di buat seolah-olah sedang ketakutan, dia ingin tau apa Ivan masih sangat memperdulikannya seperti dulu atau malah akan mengabaikannya karena merasa kebersamaannya dengan wanitanya terganggu.
Di ujung telepon sana, tanpa basa basi lagi Ivan langsung bangkit dari tempat tidurnya dan mengatakan kalau dia akan segera menemui Alya, meskipun jarak antara kontrakan Hana ke sektor 3 lumayan jauh dan membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit kalau jalanan lengang seperti sekarang ini.
__ADS_1
"Mas, mau kemana?" Hana yang merasa tidurnya terganggu karena Ivan yang terbangun tiba-tiba dan langsung memakai pakaian seperti hendak bersiap pergi, merasa penasaran, kemana kekasihnya akan pergi dini hari begini.
"Alya menelpon dan meminta bantuan ku karena mobilnya mogok." Jawab Ivan terburu-buru.
"Alya? Apa dia gila, malam-malam gini menelpon mu hanya untuk meminta bantuan karena mobilnya yang mogok?" Hana terbelalak.
"Hana, yang kau sebut gila itu masih istri ku, sebagai suami, sudah sepantas nya kalau aku menolongnya." Ivan terlihat tidak suka dengan makina Hana untuk Alya, saat ini dia sedang merasa senang karena untuk pertama kalinya sejak pisah rumah, Alya menghubunginya, terlebih panggilan itu karena Alya ingin meminta bantuannya, hal yang sangat jarang Alya lakukan padanya.
"ini sudah malam, kamu bisa panggilkan montir dari bengkel 24 jam," Hana coba mencegah kepergian Ivan untuk menemui istrinya, dia tidak mau jika Ivan kembali bersatu dengan Alya.
"Justru karena ini sudah malam, aku tidak bisa membiarkannya sendirian di jalan malam-malam begini."
"Lantas aku? Kamu akan membiarkan aku sendirian malam-malam begni?" Rajuk Hana sambil memeluk tubuh Ivan dari belakang, bahkan tangannya bergerayang di dada bidang Ivan, berharap pria itu mengurungkan niatnya untuk pergi dan tetap bersamanya.
"Hana, tolong mengertilah, kamu di rumah dan tidak akan terjadi apa-apa, sementara Alya di jalanan, banyak orang jahat berkeliaran di luar, aku harus segera ke sana, lepaskan!" Ivan mengurai pelukan Hana dan melepaskan diri dari pelukan erat kekasih gelapnya itu.
Tentu saja itu membuat Hana kesal, marah sekali gus cemburu setengah mati, bagaimana bisa Ivan terlihat sangat mencemaskan Alya, sementara dirinya di tinggalkan begitu saja, bahkan rayuannya tidak mempan sama sekali pada Ivan.
"Ish,,, Alya sialan, awas saja, aku akan membuat Ivan sama sekali tidak ingin lagi bertemu dengan mu bahkan akan ku buat dia tidak ingat lagi pada mu, lihat saja!" Gumam Hana dengan kesal dan marahnya saat Ivan pergi begitu saja, bahkan tanpa berpamitan apalagi sekedar memberinya ciuman, seperti biasanya dia lakukan saat akan pergi meninggalkan dirinya, Alya sudah membuat Ivan mengabaikan dirinya, dan Hana tidak terima dengan semua itu, dia bersumpah akan membalas apa yang di alaminya sekarang ini beratus-ratus kali lipat pada Alya setelah ini.
__ADS_1