
"Al, apa kamu serius dengan apa yang kamu katakan barusan? Kamu ingin kita berbaikan?" Tanya Ivan setelah Hana meninggalkan ruangan dan di sana hanya tersisa dirinya dan Alya.
"Tentu saja, aku rasa tidak ada salahnya jika aku memberi mu kesempatan." Kata Alya.
Sontak saja mendengar hal itu Ivan langsung memeluk erat tubuh istrinya itu, dia tidak menyanmgka jika Alya akan luluh dan masih memberinya kesempatan, namun tiba-tiba,
Prang!
Bertepatan dengan Ivan yang memeluk tubuh Alya, suara benda pecah terdengar dari arah luar ruangan, tepatnya dari meja tempat hana kini berada.
Secara refleks, Ivan mengurai pelukannya dan bergegas keluar untuk mencari tahu apa yang terjadi.
Rupanya cangkir yang biasa Hana pakai untuk dirinya minum sudah berserakan di lantai, pecah berkeping-keping seperti hatinya yang juga sepertinya hancur melihat Ivan dan Alya seperti akan berbaikan.
Saat Ivan akan mendekati Hana dan menanyakan keadaannya, Alya tiba-tiba muncul dan terlebih dahulu mendekat ke arah Hana.
"Apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" Tanya Alya sok perhatian.
"Saya baik-baik saja, tadi saat saya hendak minum, teh-nya terkena tangan, karena panas, akhirnya terjatuh." Urai Hana sambil mengelap sisa teh di tangannya dengan tisyu.
__ADS_1
"Hati-hati dengan cangkir panas, aku sarankan besok-besok jangan ceroboh dalam meminum teh panas, karena pilihannya hanya dua, mulut mu yang terbakar, atau kaki mu yang terkena pecahan kaca saat cangkir itu jatuh dari pegangann mu." Alya menunjuk ke arah mata kaki Hana yang sdikit berdarah, sepertinya terkena serpihan kaca yang menggores di sana.
"Kaki mu berdarah, cepat obati, pecahan kacanya nanti ob yang membersihkan!" Titah Ivan, sebenarnya dia sangat ingin membantu Hana mengobati lukanya, namun itu tidak mungkin, karena Alya berada di sisinya, apalagi Alya baru saja menawarkan perdamaian untuknya, dia tidak ingin Alya curiga dan membatalkan perdamaian mereka.
"Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu, sepertinya kamu sibuk, kita bahas lagi tentang perdamaian kita lain waktu." Alya sengaja menggantung pembicaraan mereka sebelumnya, dia ingin Ivan semakin penasaran dengan obrolan mereka.
"Al, tunggu!" Panggil Ivan saat melihat Alya membalikan badannya dan melangkah hendak meninggalkan dirinya, membuat Hana semakin merasa sedih dan marah karena Ivan lebih memilih mengejar istrinya di banding mengurus dirinya yang jelas-jelas terluka.
Hana pergi membawa perih di hati dan juga perih di kakinya berlawanan arah dengan Ivan yang mengejar Alya, saat ini Hana mungkin terkesan mengalah, namun nyatanya dia tidak akan pernah mengalah sedikit pun pada Alya, hatinya sudah terlanjur jatuh cinta dan tertambat pada seorang Ivan Kusuma yang di matanya sangat sempurna dan tidak dia dapati dari pria manapun, meskipun status Ivan adalah suami orang.
"Dimana kamu tinggal? Apa boleh aku mengunjungi mu sore ini sepulang kerja?" Tanya Ivan, benar saja, dia terlihat sangat penasaran dan sangat antusias dengan ajakan rekonsiliasi dar Alya.
"Boleh, tentu saja boleh. Nanti aku kirim alamat ku." Jawab Alya meski dia sebenarnya agak bingung harus memberi alamat rumah mana, karena jika dia memberi tahu tempat tinggal nya yang sekarang, itu sama saja dia memberi tahu Ivan tentang firma akuntansi yang kini sedang di rintisnya, padahal Alya ingin merahasiakan tentang kantornya itu dari Ivan, walaupun kedepannya Ivan pasti akan tau juga mengenai hal itu, namun setidak nya dalam waktu dekat ini dia ingin merahasiakannya.
Setengah berlari Ivan kembali ke kantornya setelah dia mengantarkan Alya sampai parkiran, dia harus segera menemui Hana, kalau tidak, kekasihnya itu akan sangat murka padanya, kabar bahagianya kali ini sepertinya harus terusik, dan masalahnya tidak selesai sampai di situ saja, karena dia harus segera menghadapi amukan Hana, juga berusaha membuat tenang kekasihnya yang dari kejauhan saja sudah terlihat kalau kini kekasihnya itu sudah mengeluarkan tanduknya.
Sungguh mendua itu tidak semanis yang di bayangkan banyak orang, buktinya Ivan yang harus pontang-panting membagi perhatian dan menebar kebohongan setiap harinya pada dua wanita yang kini ada dalamhidupnya itu.
Sementara di tempat lain, Alya terlihat kebingungan dan banyak melamun saat mengadakan pertemuan dengan Darma untuk membahas rencana mereka, kali ini Marcel tidak ikut dalam peremuan karena ada tugas lain yang mendesak dan membutuhkan kehadirannya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau menyewa kamar kost di tempat saya saja, kebetulan belakang rumah saya, di jadikan tempat kost, dan ada satu kamar yang kosong." Usul Darma setelah Alya menceritakan masalahnya perihal Ivan yang ingin menemuinya, namun Alya tidak ingin Ivan tahu tempat tinggalnya yang di lantai 3 gedung kantornya itu.
"Benarkah? Saya setuju, hari ini juga saya langsung tempati ya, mungkin akan jarang di tempati karena itu hanya untuk kamuflase dalam mengecoh Ivan saja," kata Alya akhirnya mendapatkan solusi dari kebingungannya itu.
"Tenang saja, beres pokonya, hanya saja--- ya itu, tempatnya biasa saja, jauh dari kata mewah, maklum lah kos-kosan buat para pekerja berpenghasilan menengah ke bawah, tapi tempatnya nyaman dan aman kok." Terang Darma.
Beruntungnya itu semua tidak menjadi masalah bagi Alya, karena itu hanya di jadikan tempat tinggal bayangannya saja, agar Ivan tidak tahu tempat tinggal diriya yang sebenarnya.
Benar saja, menjelang malam, setelah Alya mengirimkan alamat kost nya yang baru yaitu persis di belakang rumah Darma, tak lama kemudian Ivan datang, berkunjung.
Ivan memutar pandangannya ke kamar kost yang bentuknya hampir-hampir mirip dengan apartemen tipe studio, hanya saja ini dalam versi mini dan alakadarnya, hanya ada satu sofa untuk menerima tamu dengan tempat tidur yang di sekat menggunakan triplek yang di cat sehingga menyerupai dinding tembok dan kamar mandi mini, sangat sederhana namun bersih dan nyaman.
Barang-barang yang di sediakan sebagai fasilitas pun tidak banyak, hanya kasur ukuran sedang, dan lemari dua pintu, juga sebuah sofa ruang tamu beserta mejanya.
"Kamu tinggal di sini? Kenapa tidak kembali ke rumah saja, bukankah kita akan mencoba untuk memperbaiki keadaan rumah tangga kita?" Tanya Ivan memandangi Alya dengan perasaan miris.
"Belum saatnya Van, untuk sementara biar seperti ini saja dahulu, lagi pula dalam perdamaian ini aku akan mengajukan beberapa syarat, kalau kamu setuju dengan persyaratan ku, maka perdamaian ini di lanjutkan, tapi kalau tidak, perceraian kita yang di lanjtkan." Ujar Alya serius.
"Syarat?" Ulang Ivan, dia tidak tahu syarat apa yang ingi di ajukan Alya padanya, tapi Ivan yakin ini tidak akan mudah, Ivan memang sangat inginrumah tangganya tetap utuh, meskipun diam-diam dia masih bermain belakang dengan Hana, hanya saja--- bagaimana jika syarat yang di ajukan Alya untuknya sangat berat atau bahkan tidak mampu dia berikan, apa itu berarti dia harus rela kehilangan Alya begitu saja?
__ADS_1
Mengingat ini kesempatan langka dan mungkin tak akan terjadi di lain hari, terlebih ini semua dia lakukan demi keutuhan rumah tangganya, tanpa pikir panjang lagi, Ivan langsung menyetujui nya.
"Oke, aku setuju, apapun itu asal kamu membatalkan perceraian dan kita bisa kembali seperti sedia kala, aku akan setuju." Ujar Ivan mantap dengan perkataannya, membuat lagi\=lagi Alya tertawa girang di dalam hatinya.