Celana merah jambu

Celana merah jambu
Baji-ngan yang beruntung


__ADS_3

"Si Alya gak curiga kan, sama akting mu?" Tanya wanita yang berada di mobil yang tak bukan adalah Hana, sementara pria yang berada di balik kemudi ternyata adalah Hendri, mereka bertiga berkomplot untuk menyerang Alya dengan misi dan keinginannya masing-masing namun tujuan yang sama, yaitu 'EGO'


Padangan suami istri itu di peralat oleh Hana untuk membantunya mendapatkan apa yang menjadi obsesinya, setelah keinginannya untuk menikahi Ivan tercapai, maka sekarang giliran berusaha untuk menyingkirkan Alya dari kartu keluarga Ivan, dan mengganti dengan namanya sebagai satu-satunya nyonya di rumah itu.


Tidak susah untuk memperalat pasangan suami istri itu, Hendri yang mata duitan pasti akan bersedia melakukan apapun demi uang, sementara Wina yang sejak dulu selalu merasa iri karena selalu menjadi kesayangan ibu mertuanya itu mempunyai dendam tersendiri pada Alya, padahal Alya tidak pernah sekalipun menjahatinya justru Alya selalu mengingatkan Yuni untuk tidak terlalu kasar dan tidak menghina Wina, namun lagi-lagi isi hati manusia tidak ada yang tau bagaimana pun kita berbuat baik padanya jika hati orang itu di selimuti benci, maka sebaik apapun yang kita lakukan akan tetap menjadi sebuah kesalahan di matanya.


"Tenang saja, dia terlalu naif untuk menyadari kalau tidak semua orang itu baik padanya," Wina tersenyum meremehkan dengan mimik wajah yang nampak jelas kalau dia menyimpan banyak kebencian untuk istri kakak iparnya itu.


"Bagus, untuk saat ini kau benar-benar berguna sebagai istri." Timpal Hendri seraya mengacungkan ibu jarinya.


**


Bruak!


Gebrakan meja yang cukup kencang mengangetkan Alya yang sedang membahas masalah mengenai rencana penyerangan balik terhadap JT grup bersama Marcel di firma sore itu, dimana seperti biasa Marcel datang saat para karyawan sudah pulang karena tak ingin keterlibatannya di firma banyak di ketahui oleh orang.


"Ini rupanya yang membuat mu enggan untuk berhenti bekerjaselama ini? Jangan-jangan kau memang sudah mempunyai affair dengan mantan bos mu ini sejak dulu, tanpa sepengetahuan ku?" Bentak Ivan berdiri di denagn berkacak pinggang di depan Alya dan Marcel yang tampak kebingungan namun tetap menunjukkan wajah tenangnya.


"Apa maksud mu Van? Kenapa kau datang marah-marah dan mengganggu kami yang sedang bekerja?" Tanya Alya santai.


"Cih, bekerja? Kau pikir aku bodoh, ha? Dia sudah bukan bos mu lagi, pekerjaan apa yang sedang kalian lakukan, apa itu pekerjaan syah-wat?" Cibir Ivan.

__ADS_1


"Tutup mulut mu! Pikiran dan ucapan mu sama busuknya, aku sudah bilang pada mu, kalau tidak semua orang berkelakuan bejat seperti mu!" Hampir saja Alya berdiri dan menampar mulut Ivan jika saja Marcel tak menahan tangannya untuk tetap duduk dan tenang.


"Apa yang kau inginkan, bung?"


Merasa dirinya di libatkan dalam tuduhan Ivan, akhirnya Marcel berinisiatif untuk ikut angkat bicara.


"Aku datang ke sini untuk mengabulkan keinginan kalian berdua." Ivan melemparkan sebuah dokumen ke hadapan Alya dan Marcel.


"Apa maksud semua ini?" Alya mengangkat wajahnya dengan geram setelah membaca beberapa lembar surat yang salah satunya berisi tentang persetujuan Alya untuk bercerai dengan Ivan tanpa meminta atau menuntut hak apapun atas harta bersama seperti rumah dan lain sebagainya.


Sebenarnya yang membuat Alya geram bukanlah tentang dia yang tidak akan mendapat bagian apapun dari harta bersama selama pernikahannya dengan Ivan, toh KPR rumah itu sendiri pun masih menyisakan 8 tahun lagi untuk lunas, meskipun dia ikut membayar cicilan dan uang muka rumah itu, dia denganikhlas merelakan itu semua asalkan Ivan mau dan bersedia bercerai dengannya.


Namun, yang menjadi masalah dalam hal ini adalah alasan Ivan menceraikan dirinya, tertulis jelas di sana hal itu di sebabkan karena dirinya yang berselingkuh dengan Marcel, jelas tertulis nama Marcelino Salim di sana, membuat Alya merasa sangat Marah dan tidak terima dengan itu.


"Tunggu! Karena nama ku tercantum di sini, aku rasa, aku berhak untuk tau apa yang terjadi," Ucap Marcel setelah dengan tidak sengaja dia membaca lembar surat yang mencantumkan mananya secara jelas di sana.


"Tapi Pak," protes Alya.


"Kenapa? Kau berubah pikiran untuk enggan bercerai dengan ku? Lantas ancaman gugatan cerai mu hanya gertakan saja, agar aku memohon-mohon dan semakin merasa bersalah pada mu, padahal kau yang bersalah, untunglah aku segera tau dan sadar, bagaimana wajah asli mu yang sebenarnya, kau memang tidak pantas untuk di pertahankan, aku sudah mempunayi istri yang patuh pada suami dan bahkan akan memberikan aku keturunan, jadi untuk apa aku mempertahankan istri tukang selingkuh seperti mu? Dan istri tak setia seperti mu harus pergi tanpa membawa apapun dari pernikahan kita." Caci Ivan panjang lebar.


"Kau terlalalu percaya diri, tentu saja aku sangat senang pada akhirnya kau bersedia bercerai dari ku, dan aku juga sedikit pun tidak pernah takut kehilangan harta, apa yang kita punya selama menikah? Rumah yang masih cicilan? Ambil lah, meski ada hasil keringat ku di sana, aku akan menganggap itu sebagai rasa terimakasih dan ajang buang sial bagi ku," cibir Alya.

__ADS_1


"Hahaha,,, kau pasti berkata seperti itu karena merasa yakin dan percaya diri jika selingkuhan mu akan memberi uang dan kemewahan pada mu, tapi kau juga mungkin tidak tau jika perusahaan yang dia pimpin sekarang ini, sebagian besar sahamnya adalah milik istrinya, Tuan Salim hanya memiliki sebagian kecil saham di sana, adapun namanya masih di pakai sebagai nama perusahaan, itu karena kemurahan keluarga menantunya, ketika perselingkuhan kalian terbuka, maka dia akan menjadi gembel karena di usir dari perusahaan dan tidak memiliki apapun lagi, mungkin ayahnya pun akan mencoret namanya dari daftar hak warisnya!" Kalimat Ivan di akhiri dengan tawa mengejeknya dengan mata yang memandang ke arah Alya dan Marcel secara bergantian.


"Akan ku tanda tangani semuanya, dengan satu syarat, hapus nama pak Marcel dari surat gugatan mu!" Tegas Alya.


"Apa kau sangat mencintainya, sehingga kau mati-matian melindunginya? Lagi-lagi kau berkorban untuknya? Kau lebih memilih dia yang baru kau kenal di banding aku yang sudah lama hidup dengan mu?" Ivan merasa sangat marah karena merasa Alya berulang kali mengalah padanya, dan itu semua di lakukan demi melindungi Marcel.


"Van, dalam beberapa hal, waktu tidak menjamin untuk menjadikan seseorang untuk layak di pilih dan di percaya, buktinya selama bertahun-tahun aku memilih mu dan percaya pada mu, tapi nyatanya kau menghianati ku."


"Apa kau ingin mengatakan jika dia lebih layak di pilih oleh mu di banding aku, bahkan kau rela menukar tubuh mu pada ku demi nama baik dia?" Bentak Ivan dengan mata memerah.


Mendengar itu semua Marcel yang sejak tadi hanya diam dan berperan sebagai penonton dan pendengar yang baik, seraya berjaga-jaga jika Ivan melakukan kekerasan pada Alya, langsung terlonjak dari tempat duduknya dan mendekat pada Ivan dengan sorot mata tajam.


"Apa maksud perkataan mu itu?" Ivan merasa perlu tahu dengan apa yang di ucapkan Ivan terakhir tadi tentang Alya yang berkorban untuk nya, pengorbanan untuk apa? Pikirnya.


"Ya, dia selalu berkorban untuk mu yang bahkan aku yakin hanya mempermainkan dia dan tak akan menikahinya karena kau dan keluarga mu tidak akan mungkin melepas istri mu yang merupakan tambang uang kalian, padahal Alya bahkan rela memberikan tubuhnya pada ku hanya demi foto-foto kalian tidak tersebar dan tidak sampai ke istri mu, lantas sekarang Alya rela kehilangan harta bersama kami asalkan aku tidak membawa-bawa nama mu dalam gugatan, kau baji-ngan yang beruntung!"


Bugh!


Sebuah kepalan tinju yang cukup keras mendarat tepat di rahang kiri Ivan, sehingga membuat pria yang sejak tadi tertawa dengan arogannya itu tersungkur.


"Kau memang suami bejat yang tidak pantas memiliki istri sebaik dia, lanjutkan gugatan mu, silahkan pakai nama ku sebagai alasan mu, dan sebarkan foto-foto itu pada istri ku bahkan pada seluruh dunia sekali pun, iblis seperti mu tak berhak bersanding dengan malaikat seperti dia, pergi dan lanjutkan gugatan mu, semakin cepat kau enyah dari kehidupannya, semakin baik!" Marcel hampir tidak bisa menahan dirinya untuk menghajar Ivan jika saja Alya tidak menghalanginya dan menahan lengannya untuk tidak menghajar Ivan yang sudut bibirnya kini terlihat mengeluarkan darah akibat tinjuan Marcel yang membuat bibirnya sedikit robek.

__ADS_1


"Oke, aku terima tantangan mu, akan ku buat kalian hancur. Tunggu saja!" Ujar Ivan seraya meninggalkan tempat itu dengan kemarahan yang mengubun-ubun.


__ADS_2