Celana merah jambu

Celana merah jambu
Pamit,


__ADS_3

"Mulai sekarang, mereka akan tinggal di sini. Mereka akan mengawasi mu agar tidak keluyuran seenak jidat mu, Ibu ku akan mengajari mu menjadi ibu rumah tangga yang baik dan benar, bukan menjadi isteri yang tak becus mengurus rumah dan suami seperti mu!" Tegas Ivan dengan lantangnya, sambil menatap tajam wajah Alya yang sangat marah dan tidak terima dengan keputusan sepihak Ivan malam ini.


Kedua tangan Alya mengepal keras di kedua sisi tubuhnya, cukup, ini sangat keterlaluan, tindakan Ivan yang memutuskan mengizinkan semua anggota keluarganya untuk tinggal di rumah mereka dan tanpa meminta persetujuannya, membuat Alya merasa sangat marah.


Jika dulu Alya akan merasa sangat senang kalau Yuni menginap dan bahkan sering membujuk mertuanya untuk tinggal bersama dengannya di rumah agar dia bisa memperhatikan kesehatan ibu mertuanya itu, kali ini, setelah tau Yuni dan juga anggota keluarga Ivan yang lainnya bersekongkol menutupi kecurangan Ivan dan juga kompak untuk membohonginya, Alya sudah tak sudi melihat wajah-wajah munafik mereka lagi, entah apa jadinya jika kedepannya Alya di paksa untuk bertemu dengan wajah-wajah munafik mereka setiap harinya, sepertinya itu akan sangat menyiksa dirinya.


"Aku tidak setuju, seharusnya kau merundingkannya dengan ku terlebih dahulu, kamu tidak bisa seenaknya memboyong seluruh keluarga mu untuk tinggal di sini, aku punya hak atas rumah ini, karena aku juga ikut mencicilnya selama ini." Ujar Alya yang sampai saat ini masih ikut membayar cicilan rumah yang masih sekitar delapan tahunan lagi baru akan lunas karena cicilan baru berjalan selama dua tahunan, seusia pernikahan mereka.


"Tapi kau sekarang pengangguran, kau tidak akan mampu lagi ikut mencicil rumah ini, lagi pula, Ivan sudah mampu mencicil nya sendiri tanpa bantuan dari mu, kau tinggal enaknya saja, duduk diam di rumah, gitu aja repot, pengangguran kok sombong!" Cibir Yuni, yang ikut menyela pertengkaran anak dan menantunya.


Alih-alih mendamaikan dan menengahi pertengkaran mereka, justru Yuni malah seakan menyiram bensin di atas api.


"Maaf bu, bukankah Alya sudah bilang sebelumnya, untuk tidak ikut campur dalam masalah rumah tangga kami, biarkan kami menyelesaikan sendiri dengan cara kami sendiri." Ujar Alya sedikit ketus terhadap ibu mertuanya itu, kesabarannya sudah berada di garis batas maksimal saat ini.


"Lihat lah menantu kesayangan ibu yang katanya sekolah tinggi itu, mulutnya lancang sekali, membentak ibu mertua, masih mending istri ku tak pernah bersekolah tapi selalu santun, dia tidak pernah membangkang dan membentak mertua seperti itu," sambar Hendri ikut mengompori.


"Tolong bedakan antara santun dengan bodoh! Selama ini aku juga selalu santun pada ibu mu, bahkan aku juga selalu MENYANTUNI mu dan juga ibu mu setiap bulan, barang kali kamu lupa ingatan." Sinis Alya pada adik iparnya yang ikut-ikutan menyerang dirinya.


"Kau tak perlu lagi memikirkan biaya bulanan untuk ibu, aku akan menanganinya sendiri, lagi pula kau juga tidak akan mampu lagi, dan karena ibu tinggal di sini, maka uang belanja aku serahkan pada ibu, biar ibu yang mengaturnya, kamu tidak perlu pusing dan repot mengurus uang bulanan lagi, kalau ada keperluan lain, kamu tinggal minta aku langsung." Kata Ivan yang sejak tadi hanya membiarkan saja saat ibu dan adiknya secara kompak menyerang Alya.

__ADS_1


"Terserah kamu Van, atur saja semau mu, aku juga tidak butuh uang mu, kalau perlu, bawa sekalian selingkuhan mu untuk tinggal di sini, aku tidak peduli, besok aku akan mengurus perceraian kita!" Setengah berlari Alya menaiki tangga menuju kamarnya dan mengunci pintu karena tidak ingin Ivan masuk ke dalam kamarnya.


"Al, Alya,,, buka pintunya!" Teriak Ivan sambil menggedor-gedor pintu kamar yang tertutup rapat dan terkunci dari dalam itu. "Aku tidak akan pernah menceraikan kamu, sampai kapan pun!"


Teriakan Ivan di akhiri suara dentuman suara pintu yang di hantam, entah di tendang atau bahkan di pukul Ivan, Alya hanya bisa menutupi kedua telinganya dengan bantal sambil terisak menikmati perihnya hati seorang diri, Alya kini merasa asing dan tidak nyaman di rumahnya sendiri, namun sialnya dia tidak punya tempat lain untuk berlari dan pergi dari tempat itu.


"Alya, buka pintunya, atau aku dobrak!" Ancam Ivan dari luar kamar.


Beberapa menit kemudian akhirnya pintu kamar terbuka dari dalam, Ivan tersenyum penuh kemenangan, namun itu hanya bertahan beberapa detik saja, sebelum dia menyadari kalau Alya kini berdiri di hadapannya dengan dua buah koper besar yang dia genggam di tangan kiri dan kanannya.


"Apa yang kau lakukan, kemana kau akan pergi?" Senyum Ivan hilang seketika, saat melihat Alya membawa dua buah koper bersamanya, dia yakin kalau itu hanyalah gertak sambal yang di lakukan Alya untuk mengancamnya saja, Ivan tau pasti kalau Alya tidak punya saudara atau kerabat di sini, dia sebatang kara, rumah peninggalan orang tuanya bahkan sudah di jual untuk biaya hidup dan sekolahnya selama ini, dan sisanya untuk patungan dp rumah yang mereka tinggali sekarang ini.


"Kau tidak boleh pergi, kau masih istri ku, dan akan tetap menjadi istri ku!" Ivan menahan koper Alya dari ujung tangga, menghalangi jalan untuk Alya turun.


"Minggir, atau aku akan loncat dari sini!" Ancam Alya sambil menaiki pembatas tangga dan meyakinkan Ivan kalau dia akan nekat melompat dari lantai dua rumahnya jika suaminya itu terus menghalangi jalannya, baginya lebih baik mati dari pada harus tinggal terpenjara di rumahnya sendiri, dan kebebasannya terpasung.


Melihat Alya yang sepertinya serius dengan ancamannya, Ivan melepaskan tangannya dari koper Alya, dan menggeserkan tubuhnya ke pinggir tembok seraya memberi Alya akses jalan yang di inginkannya.


"Ivan, biarkan dia pergi, jangan jatuhkan harga diri mu untuk mengemis cinta dari wanita angkuh seperti dia, mungkin dia sudah tidak kuat ingin pergi bersama kekasihnya, dan masalah rumah tangga kalian di jadikan alibi olehnya." Ujar Yuni yang melihat pertengkaran Ivan dari bawah berteriak.

__ADS_1


"Terima kasih ibu mertua tersayang, atas dukungannya, Alya pamit!"


Ivan mengejar Alya yang kini sedang memasukan koper kopernya ke dalam mobil.


"Al, apa benar kamu akan pergi bersama kekasih mu?" Tanya Ivan berdiri di belakang Alya, suaranya sudah tak selantang tadi saat menggedor-gedor pintu kamar mereka, sepertinya dia mulai takut jika Alya benar-benar pergi bersama pria lain dan meninggalkannya.


"Aku bukan kamu, yang dengan mudahnya menghianati janji perkawinan."


"Lantas mengapa kamu tidak ingin mempertahankan pernikahan kita? Itu karena kamu sudah menemukan pria lain, kan?" Tuduh Ivan.


"Van,,, kamu melukai hati ku dengan sadar sampai sehancur-hancurnya, lantas kamu masih berharap aku bertahan? Kamu sakit jiwa!" Umpat Alya seraya masuk kedalam mobilnya dan membanting pintu mobil sekencang-kencangnya.


"Kau boleh pergi kemanapun kau suka, tapi yang harus kau ingt, aku tak akan pernah menceraikan mu sampai kapan pun, camkan itu!" Teriak Ivan yang sepertinya tidak di hiraukan sedikitpun oleh Alya, karena wanita yang masihberstatus istrinya itu melajukan mobilnya dengan kencang meninggalkan halaman rumah dimana tempat Ivan berdiri saat ini sambil menatap mobil yang di kendarai Alya yang semakin lama semakin menjauh dan hilang di telan gelapnya malam.


"Sudahlah Van, jangan kamu sesali kepergiannya, karena satu-satunya orang yang akan menyesal atas semua ini adalah dia, istri mu itu pasti akan kembali dan memohon untuk bersama mu kembali, dia tidak punya tempat tinggal danjuga tidak punya pekerjaan, berapa lama dia akan bertahan di luaran tanpa uang?" Yuni menepuk-nepuk bahu anak sulungnya yang terlihat sangat terpukul dengan kepergian Alya, seolah-olah dalam hal ini dirinya adalah satu-satunya korban.


"Tapi Ivan tidak mau kehilangan dia, Ivan mencintainya, Ivan tidak mau berpisah dengan Alya, bu!" Adu Ivan pada ibunya dengan suara bergetar.


"Mas, jangan cengeng! Seolah-olah di dunia ini wanita hanya mbak Alya saja, bukankah mas Ivan masih punya cadangan?" Seloroh Hendri yang sealu saja menimbrung dalam suasana dan obrolan apapun.

__ADS_1


"Berapapun banyaknya cadangan wanita yang aku punya, aku tidak akan pernah melepaskan istri ku, dia harus tetap menjadi milik ku, sampai kapan pun." Ujar Ivan dengan mata menerawang melihat langit yang kini berwarna hitam, segelap hatinya yang seolah kehilangan arah karena baru sja di tinggal Alya.


__ADS_2