
Marcel melanjutkan langkahnya setelah tadi dia diam dan hanya berdiri beberapa menit di depan pintu bekas ruang kerjanya untuk mendengarkan pembicaraan Sita dengan ayahnya setelah mereka menganggap dirinya tidak ada di sekitar sana lagi.
"Cih, ternyata ujung-ujungnya uang!" Decih Marcel yang mulai mengerti alur yang di mainkan Sita dari permainan ini, yang Sita butuhkan hanya uang, perusahaan dan kekuasaan.
Haryanto orang yang cukup berhati-hati dalam hal uang dan perusahaannya, jika itu di anggap tidak menguntungkan dan malah akan merugikannya dia tidak akan memberikan perusahaannya meski itu pada Sita, anak semata wayangnya sekali pun.
Sementara haryanto bisa menilai jika Marcel bisa di andalkan dan sangat mampu mengelola perusahaan, sehingga dia mengatakan pada Sita untuk memberikan perusahaan itu pada mereka dengan syarat Sita harus mengandung anak hasil dari pernikahannya dengan Marcel.
Sita yang tadinya ingin mempertahankan rumah tangganya dengan Marcel karena alasan itu rupanya harus gigit jari dan menyerah karena dirinya tidak pernah mampu menaklukan hati Marcel yang memang tidak pernah menyimpan perasaan sedikit pun padanya, namun di balik menyerahnya Sita rupanya dia juga sudah memperhitungkan semuanya, tidak mungkin dia melepaskan Marcel begitu saja tanpa perhitungan untung rugi untuk dirinya, makanya dia sengaja membuat dirinya hamil dengan sembarang pria yang di temuinya demi untuk membuktikan pada ayahnya jika dirinya hamil anak Marcel dan dia tidak kehilangan warisan kekayaan ayahnya itu.
__ADS_1
Namun lagi-lagi rencananya tidak berjalan semulus yang dia kira, karena ternyata Haryanto tetap meminta dirinya kembali dengan Marcel jika menginginkan semua warisannya.
**
"Sial, tua bangka bau tanah itu selalu saja menyepelekan ku, menghina dan memandang seolah aku tidak pernah berharga di matanya, aku harus bergerak cepat sebelum si tua itu menyumbangkan harta kekayaannya pada yayasan amal." Gerutu Sita yang setengah teler di sebuah klub malam, saat itu.
Setelah dirinya bercerai dengan Marcel, kini Sita mulai kembali ke gaya hidupnya seperti yang sebelumnya, selama ini dia menahan diri seolah menjadi istri yang baik dan patuh pada Marcel demi untuk menarik simpati dan mengambil hati Marcel padanya, namun ternyata apa yang di lakukannya itu hanya sia-sia, karena Marcel bahkan tidak perduli akan apa yang di lakukannya, mau itu baik, agak baik, atau sangat baik sekali pun, di mata Marcel dia tidak pernah terlihat sedikit pun.
"Anda masih kenal dengan saya, nyonya Marcel? Upss,,, maaf saya lupa jika kalian sudah bercerai, apa saya harus memanggil anda dengan sebutan nona, atau---" Ivan tersenyum penuh percaya diri, dia merasa ada manusia lain yang juga punya permasalahan dan tujuan yang sama dengannya dan bisa dia jadikan partner untuk bekerja sama untuk mewujudkan keinginan mereka masing-masing.
__ADS_1
"Kau! Apa yang kau inginkan?" Tanya Sita dengan mata yang memicing penuh curiga.
"Hahaha,,, yang aku inginkan hanya Alya, dan aku yakin yang anda inginkan Marcel, jadi,,, bukankah ini suatu kebetulan untuk kita bertemu di sini? Mungkin Tuhan menginginkan kita untuk bekerja sama dan saling membantu untuk mendapatkan keinginan kita masing-masing." Ivan menyeringai, seraya mengangkat gelasnya yang berisi minuman keras mengajak Sita untuk bersulang sebagai tanda wanita itu setuju dengan ajakan dan usulannya.
"Aku tidak butuh bantuan siapa pun, apalagi itu kau! Lagi pula Marcel dan Alya sudah berpisah, aku bisa membuat Marcel kembali ke pelukan ku tanpa bantuan siapa pun, kau pikir aku se-pecundahng dan se-payah itu sampai tak mampu mendapatkan kembali suami ku?" Tolak Sita, harga dirinya terlalu tinggi untuk menerima ajakan kerja sama Ivan yang di nilainya terlalu merendahkan dirinya karena dirinya di anggap tidak mampu melakukannya dengan tangannya sendiri, walaupun kenyataannya apa yang di ucapkan Ivan itu seribu persen adalah kebenarannya, selama ini dirinya memang tidak mampu menaklukan Marcel.
"Hahaha,,, apa anda yakin jika hubungan mantan suami anda dan mantan istri ku benar-benar berakhir? Anda bisa hubungi aku jika berubah pikiran, aku yakin anda tidak akan rugi jika bekerja sama dengan ku, ingat, kita punya tujuan yang sama, mengambil kembali milik kita." Ivan memberikan selembar kartu namanya ke hadapan Sita yang acuh tak acuh bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah kartu nama berwarna silver yang sengaja Ivan taruh di sebelah tas tangan Sita.
Ivan lantas pergi meninggalkan Sita, dia sangat yakin jika cepat atau lambat Sita pasti akan menghubunginya, dirinya kini sudah tidak punya kekuatan apapun, pekerjaan tidak punya, uang semakin menipis, dan hanya dengan bekerja sama dengan Sita dirinya bisa merebut kembali Alya dalam kehidupannya, dia sungguh ingin memperbaiki kehidupannya, setelah Hana pergi dan Utari di penjara, kini harapan satu-satunya hanyalah kembali menata rumah tangga bersama Alya, dia juga yakin jika Alya akan menerima putri hasil hubungannya dengan Hana untuk mereka besarkan bersama.
__ADS_1
Impian dan hayalan Ivan sungguh manis tentang membangun kembali rumah tangga bersama Alya dan putrinya, hanya saja dia lupa satu hal, itu impiannya, dan bukan impian Alya.
Ivan tidak berhak memaksakan impiannya pada mantan istri yang telah di sakitinya sedemikian rupa, bagaimana bisa dia menjadi pria se-tidak tahu malu ini?