Celana merah jambu

Celana merah jambu
Rindu?


__ADS_3

"Din, Tar, ntar makan siang bareng buat yang terakhir yuk, sebagai salam perpisahan!" Ajak Alya siang itu, selesai berbincang dengan Marcel tentang semua rencana yang akan mereka jalankan, dia menyempatkan diri mampir ke ruangan yang sudah sekitar lebih dari dua tahunan di tempatinya itu.


"Perpisahan, maksud ibu?" Tanya Dinda kebingungan, sementara Utari hanya diam namun tetap menyimak obrolan yang di lakukan Alya dengan Dinda di ruangan yang sama dengannya itu.


"Aku di pecat bos besar, kamu gak usah panggil ibu lagi, panggil aja Alya atau ,mbak, juga boleh, atasan kamu sekarang kan, Utari," Alya melirik ke arah Utari yang terlihat serba salah.


"Maaf Al, aku hanya mejalankan tugas, aku juga gak tau kalau ternyata aku yang akan mengganti kan posisi mu." Ujar Utari dengan wajah 'rikuh' nya.


"Santai aja kali Tar, itu rezeki mu, by the way selamat ya! Aku sampai lupa belum memberi mu selamat atas promosi mu ini, semoga makin sukses ya!" Mual rasanya harus bersikap seolah-olah biasa saja dan tidak tahu apa-apa mengenai apa yang di lakukan Utari di belakangnya, sungguh berpura-pura seperti ini lebih berat dari pada melakukan audit tiga hari tiga malam bagi Alya.


"Al, aku harap kamu nggak benci aku karena hal ini ya? Kita tetap berteman, kan?"Utari menghampiri Alya, saat Utari hendak meraih bahu Alya untuk di peluknya, Alya berpura-pura menjatuhkan kunci mobilnya, sehingga Utari tak jadi memeluknya karena Alya yang membungkuk mengambil kuncinya di lantai.


Jijik rasanya harus berpelukan dengan penghianat yang munafik seperti dia.


"Al, apa rencana mu setelah ini?" Tanya Utari di sela makan siang mereka bertiga di kantin kantor.


Jujur saja, berat rasanya bagi Alya harus meninggalkan tempatnya mengais rezeki dari semenjak dia belum menikah, karirnya yang dulu hanya di mulai dari seorang staff biasa saja, berkat kerja keras dan kejujuran juga kedisiplinannya dalam bekerja dia bisa mencapai posisi kepala akuntan, namun hanya dalam sekejap mata semuanya itu harus di lepaskan walaupun dengan berat hati, Alya percaya, Tuhan punya rencana indah untuknya di balik semua kepahitan dan kesakitan yang kini tengah di alaminya itu, akan selalu ada bahagia bagi mereka yang bersabar dan terus berusaha.

__ADS_1


"Aku tak punya rencana apapun, aku hanya akan tidur dan bermalas-malasan sepanjang hari." Jawab Alya sekenanya, Alya dan Marcel memang sengaja merahasiakan rencana tentang dirinya yang akan membuka kantor akuntan sendiri, biarlah orang lain mengira dirinya pengangguran setelah di pecat atau apapun yang mereka pikirkan terserahlah, Alya sudah tidak peduli lagi.


Setelah semua kehancuran yang meluluh lantahkan kehidupan dan harapannya, yang tersisa pada diri Alya sekarang ini hanya semangat untuk memperjuangkan kebahagiaannya sendiri, karena dia sudah tidak bisa bergantung dan mengandalkan orang lain yang ujung-ujungnya malah menghianati.


Berharap hatinya cukup tegar untuk menghadapi semua sakitnya sendirian, jika di hari kemarin dia masih berselimut harap suaminya akan kembali dan menyadari kesalahannya, namun kali ini, dia tak akan membiarkan angan dan harap menyakitinya lagi.


Kini saatnya menghadapi kenyataan dengan penuh berani dan kuat, seraya meyakinkan hatinya kalau semua akan baik-baik saja.


"Al, kalau butuh bantuan apapun, bilang aja ya, kita pasti bantu kok, iya kan, Din?" Utari meminta persetujuan atas pernyataannya dari Dinda yang sejak tadi lebih banyak terdiam.


"Terimakasih, tapi aku akan berusaha sendiri sebisa ku, tak ingin mengandalkan orang lain." Alya menyunggingkan senyumnya yang terpaksa.


'Cih, membantu apa, membantu membuat hancur kehidupan ku? Atau membantu mengambil alih jabatan dan suami ku?' decih Alya dalam hatinya.


Sungguh manusia adalah mahluk yang paling pandai memanipulasi, di depan muka menunjukkan cinta namun di belakang punggung menikam dengan membabi buta, entahlah, lagi pula siapa yang bisa mengukur dan menebak isi hati orang lain, waspada pada setiap orang sepertinya akan lebih baik bagi Alya untuk saat-saat seperti sekarang ini.


"Aku tau, kamu memang teman yang baik dan bahkan sangat baik bagi ku!" Kata Alya mengatakannya dengan penuh penekanan, membuat wajah Utari terlihat seperti canggung saat dia tersenyum menanggapi pujian dari Alya, entahlah, mungkindia merasa kalau pujian yang di berikan Alya itu tidak sesuai dan bertolak belakang dengan apa yang telah di lakukannya pada Alya, tak ada yang tahu!

__ADS_1


**


Malam ini saat Alya baru akan bersiap untuk tidur, pintu kamarnya tiba-tiba di buka dari luar, saat Alya menoleh, wajah suaminya yang beberapa hari ini tak dia jumpai itu muncul dari balik pintu.


Alya langsung terduduk di tepi ranjangnya yang kini hanya di tiduri olehnya sendirian selama beberapa hari ini, saat Ivan mendekat ke arahnya yang baru saja membaringkan tubuhnya di atas ranjang tadi, entah mengapa dia jadi merasa kalau Ivan adalah orang asing, dan dia sangat tidak nyaman berada di dalam kamar berduaan dengannya, apalagi ketika mengingat foto-foto Ivan bersama Utari, bahkan ada foto mereka di depan loby sebuah hotel, hubungan perselingkuhan orang dewasa di hotel tentu saja mereka tidak hanya untuk bergandengan tangan dan saling tatap-tatapan saja di sana, bukan?


Membayangkan apa saja yang telah di lakukan Ivan dengan wanita lain di luaran sana membuat Alya merinding dan tak sudi lagi walau hanya berdekatan dengan suaminya itu.


"Ada apa lagi, bukankah semua pakaian mu sudah di bawa ibu dan Hendri tempo hari? Barang-barang mu yang lain yang kamu minta juga sudah mereka bawa, bukan?" Ketus Alya.


"Kenapa Al? Apa ku tidak boleh pulang? Apa aku tidak boleh merindukan istri ku? Apa kamu tak merindukan ku?" Dengan percaya diri yang tinggi Ivan bahkan berharap Alya merindukannya.


"Rindu? Ya, aku rindu, tapi bukan rindu pada mu, melainkan rindu pada diri ku yang dulu, yang baik-baik saja meski tanpa mu."


"Apa itu berarti kamu ingin mengatakan kalau kamu tidak baik-baik saja tanpa aku? Sudah ku duga, kamu terlalu angkuh seolah bisa tanpa aku, nyatanya kamu tidak bisa, kan? Ayolah, jangan keras kepala, kamu sudah tidak punya pekerjaan sekarang ini, jadilah istri yang baik dan patuh pada suami, aku akan memberi mu apapun yang kamu mau, aku bisa menghidupi mu." Kata Ivan dengan sombongnya.


"Wah,,, berita pemecatan ku begitu cepat sampai ke telinga mu, ya. Padahal hanya kedua mantan asisten ku yang tau tentang itu selain bos besar ku, tentu saja, atau jangan-jangan kamu sebenarnya diam-diam adalah seorang cenayang?" Sinis Alya.

__ADS_1


Perkataan Ivan tentang dirinya di berhentikan dari pekerjaan, membuatnya semakin yakin kalau Utari lah penghianat itu, Alya hanya mengatakan tentang pemberhentian kerjanya hanya pada Dinda dan Utari siang tadi, dan malam ini berita itu sudah menjadi topik pembahasan Ivan padanya, bisakah Alya tidak mencurigai sahabatnya itu?


__ADS_2