Celana merah jambu

Celana merah jambu
Tertangkap basah


__ADS_3

"Apa anda serius, Pak?" Alya terbelalak saat Marcel menceritakan bahwa sesungguhnya kasus bocornya hasil audit itu adalah kasus rekayasan yang memang sengaja di buat oleh pihak JT grup itu sendiri, dengan tujuan mereka mencari keuntungan, agar seolah-olah perusahaan Marcel melanggar perjanjian dan mengganti rugi atas kehilangan proyek dan klien-klien mereka, padahal semua itu hanya proyek bodong dan klien palsu yang sengaja di ajak kerja sama oleh pihak mereka dan mendapat keuntungan dari hasil memeras perusahaan Marcel.


"Tentu saja, kasus seperti ini pernah terjadi juga pada perusahaan teman ku yang juga kena tipu JT beberapa tahun yang lalu, sayangnya mereka tidak bisa menuntut penipuan ini karena Anwar cukup licik dan ini merupakan kejahatan terorganisir, sehingga tidak mudah untuk menjerat mereka, karena mereka akan saling melindungi satu sama lainnya." Beber Marcel menceritakan informasi yang baru saja dirinya dan Darma dapatkan.


"Apa itu berarti Ivan termasuk salah satu pelaku penipuan dalam kasus ini?" Tanya Alya lagi.


Alya jadi ingat tentang Ivan yang tiba-tiba membelikan ibunya perhiasan dan juga membayarkan adiknya dp mobil, setelah kejadian kasus ini mengemuka.


Bukannya mau berburuk sangka, hanya saja itu terlalu kebetulan dan tidak masuk akal karena keuangan Ivan mendadak naik drastis, dan itu bertepatanm dengan kejadian ini.


"Aku tidak bisa memastikan, karena aku tidak mau menuduh tanpa bukti." Jawab Marcel dengan jawaban mengambang, entah dia benar-benar tidak tahu atau merasa tidak enak hati jika mengatakan hal yang sebenarnya pada Alya.


"Apa langkah selanjutnya yang akan bapak ambil, setelah mengetahui semua ini?"


"Aku tak akan membiarkan Jt grup menindas dan mencurangi ku, agar kedepannya tidak ada perusahaan lain yang bernasib sama seperti yang aku alami saat ini." Wajah Marcel terlihat mengeras, tampak dengan jelas kemarahan di sana.


"Apa ada yang bisa saya lakukan untuk membantu anda?" Alya menawarkan bantuannya barangkali Marcel membutuhkan.

__ADS_1


"Untuk sementara tidak, biar Darma saja. Lagi pula dalam keadaan kamu dan suami mu yang seperti ini sepertinya tidak memungkinkan untuk mu berhubungan dengannya." Tolak Marcel.


Namun rasanya Alya tidak ingin berdiam diri dan berpangku tangan saja, sementara Marcel dan Darma harus membongkar kasus ini tanpa dirinya hanya karena rasa tidak enak hati atas hubungan antara dirinya dan Ivan yang masih terikat ikatan pernikahan.


"Pak, kita bertiga ini adalah satu team, jadi saya minta Bapak dan juga Pak Darma tidak usah sungkan untuk melibatkan saya juga dalam masalah ini, bagaimana pun akan lebih gampang menggali keterangan dan mencari bukti dari Ivan jika saya yang melakukannya secara langsung, karena saya lebih mengenal dia, tolong izinkan saya untuk dilibatkan dalam hal ini." Pinta Alya.


Marcel dan Darma saling berpandangan sejenak dan akhirnya Marcel menyetujui permintaan Alya itu, meskipun sebenarnya dia agak khawatir karena ini bukan masalah yang sederhana, dan mungkin bisa membahayakan keselamatan Alya.


Marcel tau sat ini Alya sedang banyak masalah dalam kehidupan pribadinya, dan dia tidak mau menambah masalah baru lagi dan lebih memperumit hidupnya yang sudah cukup rumit itu.


Alya memutar otaknya memikirkan bagaimana cara dia bisa mendapatkan pengakuan Ivan atas penipuan yang di rencanakan olehnya dan juga Anwar sebagai pimpinan perusahaannya, sekaligus dia juga ingin membongkar keterlibatan Utari dalam masalah ini, Alya yakin seratus persen jika Utari juga berperan penting dalam bocornya informasi itu.


Malam ini entah mengapa kata hatinya terus saja mengajaknya untuk mendatangi rumah Utari, seperti ada sinyal dan magnet yang kuat untuk membawa dirinya ke rumah itu, beberapa kali Alya abaikan perasaan itu, namun hatinya malah semakin yakin dan semakin kuat, kalau Tuhan tengah menuntunnya untuk menemukan kebenaran dalam semua permasalahkannya.


Tidak ingin membuang waktu lagi, Alya segera memutar arah dan menuju kawasan perumahan sektor 3 dimana Utari tinggal, dia harus berbicara dengan temannya itu mengenai semuanya, mengenai kecurigaan Alya kalau Utari lah yang membocorkan informasi itu, tentang keterlibatan Utari dalam persekongkolan nya dengan Jt grup untuk mencurangi perusahaan Salim grup, dimana Marcel sebagai pemimpinnya dan tempat Utari mencari nafkah .


Dan yang paling penting dari semua itu, Alya ingin menanyakan perihal hubungan gelap Utari dan suaminya, Alya merasa kalau dia sudah tidak bisa lagi berpura-pura kalau dia tidak tahu-menahu tentang perselingkuhan mereka.

__ADS_1


Alya turun dari mobilnya dengan langkah yang penuh percaya diri, dia sudah mengumpulkan kekuatannya tentang kebenaran apapun yang akan dia terima malam ini, dia sudah sangat siap.


Alya mengetuk pintu rumah Utari dan berdiri di depan pintu yang masih tertutup dengan harap-harap cemas, belum ada sahutan dari si penghuni rumah, memang ini bukan jam berkunjung yang sewajarnya, waktu sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam, bisa di katakan tidak sopan bertamu di jam istirahat tuan rumah, namun Alya tidak ingin menunda dan mengulur waktu lagi, dia ingin semuanya cepat terbuka dengan jelas, sehingga dia bisa mengambil keputusan yang tepat untuk semua permasalahan.


Kreekk!


Suara seseorang memutar anak kunci dari dalam, namun saat pintu terbuka dari dalam, Alya terkejut bukan main saat mengetahui sosok pria yang membukakan pintu untuknya itu, bahkan untuk beberapa saat mereka hanya saling berpandangan tanpa bisa berkata-kata, dan hanya mematung di ambang pintu, sungguh keduanya tidak menyangka jika akan bertemu di sana, apalagi keadaan sang pria hanya mengenakan boxer tanpa memakai atasan, sudah jelas jika dia tidak sedang bertamu di rumah Utari, tapi menginap di sana.


Pemikiran Alya tentang itu di perkuat lagi dengan kehadiran Utari yang tiba-tiba menghampiri mereka menuju ke pintu utama dengan pakaian tidur yang minim dan wajah khas bangun tidur atau bahkan mungkin selesai bergulat panas olah raga malam.


"Siapa yang datang, Mas?" Tanya Utari yang kini ikut-ikutan mematung setelah melihat kalau yang datang adalah Alya, wajahnya menjadi sangat pucat seperti tidak di aliri darah, bahkan seluruh tubuhnya kini terlihat bergetar ketakutan, seperti melihat hantu.


"A-Alya---" Cicitnya lemah, dia tidak menyangka jika temannya itu akan datang malam-malam seperti ini dan sialnya harus memergoki dirinya dengan seorang pria yang seharusnya tidak Alya atau siapapun ketahui perihal hubungannya dengan pria itu.


Kini Utari merasa sangat terjepit dan tak bisa mengelak lagi, Alya sudah melihat semuanya dan tidak mungkin jika dirinya menyangkal hubungannya dengan pria yang jelas-jelas dalam hal ini mereka tertangkap basah dan dalam situasi yang sama sekali tidak ada sedikitpun celah untuk mereka mengelak, dan pilihan satu-satunya dalam hal ini adalah jujur, sepahit apapun itu, dan seburuk apapun Alya akan memandang dirinya setelah ini, lagi pula cepat atau lambat, yang namanya menyembunyikan bangkai, tetap akan tercium juga baunya.


Utari hanya bisa berharap kalau ini semua jalan Tuhan terbaik untuk membongkar semua permasalahan yang terjadi, meskipun dia tau kalau apa yang di lakukannya adalah sebuah kesalahan besar, namun dia punya alasan, yang tetap harus dia katakan pada Alya walaupun mungkin Alya akan mengira kalau alasannya itu hanya sebuah pembenaran Utari demi untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari semua dosa yang telah di lakukannya itu.

__ADS_1


__ADS_2