Celana merah jambu

Celana merah jambu
Tak perlu bersimpati


__ADS_3

Marcel ternyata diam-diam mrncuri dengar dari balik pintu ruangan di mana Alya, Sita dan Utari berada. Tadi Marcel sempat curiga saat Darma tiba-tiba mendekati Alya dan membisikkan sesuatu pada wanita itu, jadilah Marcel mengikuti kemana langkah Alya pergi, jujur saja setelah kejadian yang menghebohkan tadi, dirinya menjadi was-was dan lebih menghawatirkan Alya, dia pun tidak sepenuhnya percaya pada Sita, jika Sita bisa berbuat sejauh itu pada Utari dan Ivan dengan alih-alih untuk melindunginya, bukankah itu berarti Sita juga bisa melakukan hal yang sama atau bahkan lebih dengan alasan yang sama pada Alya?


Marcel mengurungkan niatnya untuk ikut masuk ke dalam ruangan itu, mendengar obrolan dari balik ppintu sudah cukup baginya untuk menentukan langkah apa yang selanjutnya akan di ambilnya, baginya memastikan Alya aman dan baik-baik saja itu sudah cukup baginya, sedangkan untuk urusan Sita biarlah dia yang akan membicarakannya secara langsung dengan Sita, toh mereka masih akan bertemu selama proses perceraian.


Lagi pula dia juga tidak ingin berada di antara para wanita yang sedang bertikai dengan emosi yang sepertinya tidak terkendali, salah-salah dirinya bisa-bisa akan menjadi bulan-bulanan atau malah sasaran amarah dari para wanita yang kepalanya sedang panas itu.


Sementara di tempat lain, Ivan sibuk mondar-mandir di depan ruang operasi, akibat pendarahan yang di alami Hana, dokter memutuskan untuk segera melahirkan bayi dalam kandungan Hana dengan jalan operasi caesar, tindakan itu terpaksa di ambil dan menjadi pilihan terakhir karena untuk menyelamatkan bayi dan juga ibunya, dan menghindari hal-hal yang tidak di inginkan terjadi.


Pikiran Ivan terus terbagi antara anak istrinya di dalam ruangan, juga memikirkan bagaimana nasib Utari yang masih berada di acara itu, belum lagi dia juga memikirkan nasib dirinya yang bingung harus menentukan pilihan.


"Ivan, apa yang terjadi?" Tanya Yuni sang ibu yang datang ke rumah sakit menemuinya di temani Hendri dan juga Wina.


Ivan memang tadi sempat menelpon Hendri untuk mengabari kondisi Hana, meskipun dia tidak menjabarkan secara terperinci apa yang tengah terjadi pada dirinya sebenarnya, yang jelas dia hanya meminta adik dan juga ibunya untuk datang menemuinya di rumah sakit tempat dirinya dan Hana kini berada.


"Bu, aku titip istri dan juga anak ku, tolong jaga mereka, untuk biaya rumah sakit sudah aku lunasi semuanya, aku harus segera pergi, dan tolong jangan hubungi aku dulu, karena ponsel ku akan aku matikan, nanti kalau keadaan sudah memungkinkan aku akan segera menghubungi ibu, dan satu lagi, jika ada yang menanyakan keberadaan ku, tolong jawab saja tidak tau, pada siapapun, termasuk Hana sekali pun," Ujar Ivan dengan wajah yang tegang dan kusut.


"T-tapi kamu mau kemana, Nak? Ada masalah apa sebenarnya? Tolong ceritakan saja pada ibu, barangkali ibu dan adik mu bisa membantu mu, dan kamu tidak harus pergi." Yuni menahan lengan putranya yang mulai berbalik dan melangkah meninggalkan Yuni yang terisak karena tak ingin putranya pergi.

__ADS_1


Bagaimana pun, Ivan merupakan tulang punggung bagi dirinya dan juga keluarga adiknya, jika Ivan memutuskan untuk pergi, lantas bagaimana nasib kehidupan mereka kelak?


"Bu, aku harus pergi, keadaan tidak memungkinkan untuk aku tetapmberada di sini, ada banyak hal yang harus aku urus dan selesaikan, tolong mengerti dan bantu aku sekali ini saja!" Mohon Ivan mengiba pada ibunya.


Mendengar permohonan putra sulungnya yang begitu mengiba, Yuni mulai memahami situasi yang di hadapi Ivan, meski dia tidak tau detai masalah apa yang di hadapainya, yang jelas, masalah yang di hadapi Ivan pasti sangat rumit dan sangat besar, dia tidak akan mungkin melewatkan moment kelahiran anak pertama yang di tunggu-tunggunya jika ini bukan sesuatu yang krusial.


Saat ini Yuni hanya mampu terdiam sambil merelakan Ivan pergi tanpa pertanyaan yang lebih jauh lagi untuknya, Yuni hanya menatap nanar punggung putra sulungnya yang semakin menjauh dengan perasaan yang hancur lebur, seraya berdoa semoga seberat apapun masalah yang di hadapi putranya dapat di selesaikan dengan baik.


"Bu, kenapa ibu biarkan bang Ivan pergi? Bagaimana dengan hidup kita nantinya, bagaimana dengan cicilan mobil ku? Belum lagi Mba Hana dan anak nya, siapa yang akan menanggung kehidupan mereka nantinya?" Protes Hendri pada ibunya yang melepaskan begitu saja tambang uangnya.


"Hendri! Selama ini kakak mu selalu membantu mu dalam segala hal, apa salahnya kau menggantikan tugas dan tanggung jawabnya untuk sementara, lagi pula mau sampai kapan hidup mu bergantung pada kakak mu?" Bentar Yuni yang merasa kesal dengan perkataan Hendri yang terdengar sangat egois, bisa-bisanya dia masih memikirkan cicilan mobilnya yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya, dan mempertanyakan siapa nanti yang akan membiayayai Hana beserta anaknya, sementara selama ini Ivan tidak pernah hitung-hitungan dalam membantu adik satu-satunya itu.


"Seharusnya ibu tahan kepergiannya, ibu kan tau sendiri, kalau aku saja saja masih bergantung pada dia, bagaimana bisa aku menggantikan tanggung jawabnya yang entah sampai kapan." Gerutu Hendri masih tidak terima dengan keputusan Ivan yang justru malah pergi meninggalkan istri dan anaknya dalam kondisi seperti ini, terlebih Ivan juga tidak memberi tahukan masalah apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.


"Jalani saja hari ini dengan baik, jangan takut dengan hari esok yang belum terjadi, karena Tuhan pasti akan memberi jalan yang terbaik."


YUni, Hendri dan Wina serempak menoleh ke arah sumber suara, rupanya tanpa di sadari Alya sudah berada di antara mereka dan mungkin mendengar semua pembicaraan mereka, sehingga dia berkata seperti itu.

__ADS_1


"Alya--"


"Mbak Alya__"


Ujar mereka bertiga serempak menyebut nama Alya .


"Apa ini semua ada hubungannya dengan mu? Apa kau yang menyebabkan cucu ku harus di lahirkan secara paksa dan menyebabkan Ivan pergi tanpa melihat anak nya lahir ke duania? Apa kau penyebab semua ini, huh?" Tiba-tiba saja Yuni meronta dan mengangkat tangannya hendak menyerang mantan menantu kesayangannya itu.


Jujur saja Alya tadinya sempat merasa khawatir, sehingga setelah selesai berbicara bersama Sita dan Utari dia berpamitan untuk pulang, namun alih-alih pulang, dia malah mencari keberadaan Ivan dan Hana, tidak sulit untuk mencari keberaadan mereka, di dekat perusahaan ada rumah sakit bersalin lumayan besar, dan Alya yakin kalau Ivan membawa Hana ke tempat itu untuk efektivitas dalam penanganan Hana yang saat itu sangat membutuhkan pertolongan cepat, dan tebakannya terbukti benar, meski dia sudah tidak melihat Ivan berada di sana, namun dia melihat mantan mertua dan mantan adik-adik iparnya berada di sana.


Salahkan saja Alya yang terlalu menuruti sisi kemanusiaannya, yang masih punya rasa iba dan khawatir dengan apa yang di alami Hana tadi, sebetulnya niatnya hanya ingin memastikan kalau tidak ada hal serius yang terjadi pada diri Hana dan juga anaknya, sebatas itu saja, namun secara tidak sengaja malah mendengar percakapan antara Hendri dan ibunya, membuat nilai Ivan di matanya semakin minus, bisa-bisanya dia meninggalkan istri dan anaknya yang berjuang di meja operasi demi menyelamatkan dirinya sendiri.


Tangan Yuni yang sudah mengambang di udara dan bersiap mendarat di pipi mulus Alya tiba-tiba di tahan oleh tangan Marcel yang ternyata meninggalkan acara dan mengikuti kemana Alya pergi tadi.


"Kenapa harus melimpahkan kesalahan pada orang lain? Tentu saja semua ini bukan salah Alya, namun salah putra mu yang egois dan terlalu pengecut, alih-alih menghadapi masalahnya dengan berani, dia malah kabur meninggalkan anak istri yang sedang dalam keadaan kritis. Apa anda masih mau menyalahkan orang lain?" Sembur Ivan, dengan gestur yang langsung waspada dan melindungi Alya dari serangan Yuni atau bahkan Hendri yang mungkin saja akan kembali menyakiti Alya tanpa ampun.


"Rupanya kalian, dasar pasangan selingkuh tak tau diri, kehadiran kalian tidak di harapkan di sini, enyah dari pandangan kami segera, menjijikan!" Umpat Hendri yang masih ingat dengan wajah pria yang ada di video yang Wina ambil saat itu.

__ADS_1


"Ayo pergi, untuk apa bersimpati pada keluarga yang selalu menganggap diri mereka selalu benar dan selalu mencari cari kesalahan orang lain tanpa mau mengintrospeksi diri mereka sendiri, biarlkan mereka memanen buah dari apa yang mereka tanam selama ini, kau tak perlu menaruh simpati pada orang-orang seperti ini, karena mereka tidak layak mendapatkannya!" Ujar Marcel sambil menarik paksa tangan Alya untuk pergi dari tempat itu, jujur saja hati Marcel juga merasa sedikit kesal karena merasa kalau Alya masih saja menaruh perhatian pada keluarga mantan suaminya itu.


__ADS_2