
"Permintaan ku pada mu." Ucap Sita dengan tenang.
Perasaan Marcel mulai tidak enak enak hati, jangan-jangan permintaan Sita pemintaan yang aneh-aneh lagi seperti sebelumnya, haruskah dia berkorban demi Sita mengakui kejahatannya di depan polisi, dan agar Sita mau mempertanggungjawabkan semua kejahatannya?
"Tolong jangan persulit hidup ku, apa lagi yang kau inginkan dari ku?" pasrah Marcel.
"Jangan selalu berburuk sangka pada ku, aku benar-benar ingin berubah, hanya saja aku masih punya ganjalan yang harus aku selesaikan terlebih dahulu."
"Jika memang niat berubah, ya berubahlah. Kenapa mesti membawa-bawa aku dan bergantung dengan keputusan ku segala?" Kesal Marcel.
"Aku hanya ingin menitipkan Daniel, tolong jaga dan urus dia, karena aku tidak percaya pada orang lain, aku pasti akan lama berada di balik jeruji besi, aku mohon, rawatlah dia, aku tidak punya orang lain lagi selain kamu." Pinta Sita.
"Aku tidak mau terjebak lagi dalam rencana busuk mu, bisa saja kan ini adalah rencana mu untuk menjerat ku seperti sebelumnya?" Tolak Marcel.
"Tidak, auwh,,, per-percaya--lah pada ku, ka-kali ini aku benar-benar minta tolong, pada mu," Ucap Sita, perkataannya terdengar terbata-bata seperti sedang menahan kesakitan.
Namun Marcel merasa kalau itu merupakan akal-akalan Sita agar dirinya merasa kasihan dan mau mengikuti semua permintaannya, sebenarnya bukan Marcel tidak mau atau sudah tidak sayang lagi dengan Daniel, hanya saja dia tidak mau tekait lagi masalah apapun dengan Sita, setelah apa yang mantan istrinya itu lakukan terakhir kali padanya dan juga pada Alya.
__ADS_1
"Sita, tolong jangan bercanda, apa yang terjadi? Jangan main-main dengan ku!" Marcel menoleh ke arah Sita yang suaranya sudah tidak terdengar lagi.
Wajah wanita itu terlihat pias seperti tidak di aliri darah, Marcel buru-buru menaruh Dariel di kereta dorongnya, tubuh Sita terasa sangat dingin saat Marcel menggoyang-goyangkan tubuhnya yang nyaris kehilangan kesadaran.
"Sita, jangan berakting di hadapan ku, ini tidak lucu, apa yang terjadi?" Tanya Marcel lagi yang baru menyadari jika Sita tidak sedang bermain-main atau pun sedang menipu dirinya saat melihat darah mengalir dari sela-sela paha dalam Sita yang saat itu mengenakan dres selutut yang harusnya berwarna biru muda kini menjadi merah darah.
Melihat itu semua, Marcel langsung di landa kepanikan yang teramat sangat, dia tidak tahu apa yang terjadi pada diri Sita sebenarnya, dengan sekuat tenaga dia mencoba mengangkat tubuh Sita untuk dia bawa ke mobil dan selajutnya di bawa ke rumah sakit, namun di tengah ketidak berdyaannya, Sita justru menolaknya.
"Tolong jangan bawa aku ke rumah sakit, panggilkan saja Dokter Bela, ke sini." Mohon Sita.
Tak banyak yang dapat Marcel lakukan di tengah menunggu kedatangan dokter Bela, sungguh dia tidak tahu apa yang harus dia perbuat, ini pertama kalinya dia melihat kejadian seperti ini.
Tiga puluh menit kemudian, dokter Bela datang, dia sudah membawa persiapan alat dan juga seorang perawat yang akan membantunya dalam menangani Sita setelah mendengar keluhan dan gejala yang di sampaikan Marcel padanya lewat saluran telepon, tadi.
Hampir sekitar satu jam lamanya Sita di tangani dokter Bela di dalam kamar, entah apa yang terjadi di dalam sana, Marcel hanya bertugas menenangkan Daniel yang sejak tadi terus menangis seakan tahu jika ibunya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Hmmm,,, beruntung kamu menghubungi ku tepat waktu, dia sudah kehilangan banyak darah, dan itu akan sangat berbahaya," wajah lelah dokter Bela terlihat lega setelah dia keluar dari kamar tempat tadi Sita di tangani olehnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Bagaimana keadaannya sekarang? Kenapa kita tidak membawanya ke rumah sakit saja?" Pertanyaan beruntun keluar dari mulut Marcel yang sejak tadi sangat merasa cemas dan penasaran dengan apa yang terjadi, meskipun rasa benci juga masih menyelimutinya untuk Sita atas perbuatan jahat yang pernah di lakukannya, namun bagaimana pun Sita pernah menjadi istrinya meskipun hanya sebatas status saja, di samping itu ada Daniel yang masih membutuhkan ibunya kelak.
"Pertanyaan mu banyak sekali, (Dokter Bela terkekeh geli) Sita mengkonsumsi obat penggugur kandungan yang entah dari mana dia dapat, bayinya tidak dapat di selamatkan, beruntung nyawa dia masih dapat tertolong, sekarang bidan yang aku bawa sedang merawatnya." Terang dokter yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi itu.
"S-Sita menggugurkan bayinya?" Beo Marcel merasa kaget sekali gus syok dengan apa yang di dengarnya, dia tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Sita sampai dia melakukan hal se keji itu, kehamilannya yang merupakan buah dari dosa terlarangnya entah bersama siapa kini di akhiri dengan cara yang tak kalah berdosa juga, Marcel sampai merinding, apa wanita yang pernah dia nikahi itu benar-benar pantas di sebut manusia?
Dokter Bela mengangguk pelan, "Sita sudah aku anggap seperti anak ku sendiri, apa yang kamu rasakan saat ini sama seperti yang aku rasakan juga, syok, kaget, marah, namun balik lagi, dia pasti punya alasan. Apa dia pernah menceritakan penyakitnya pada mu?"
"Tidak," Marcel menggeleng.
"Aku tidak membenarkan apa yang di lakukan Sita, namun sebagai orang medis, aku dapat memahami apa yang menjadi ke khawatiran Sita, aku minta tolong, jaga Sita, sungguh keadaann lah yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini, dia hanya butuh seseorang yang mencintai dan menyanyangi dirinya, karena dia tidak pernah mendapatkan itu dari ibunya yang telah lama pergi, dan ayahnya yang selalu di sibukkan dengan pekerjaan, dia menjadi pribadi yang haus akan cinta kasih dan perhatian sehingga selalu mencari-cari itu meski dengan caranya sendiri yang bisa di bilang salah jalan." Urai dokter Bela yang ikut menyaksikan tumbuh kembang Sita dari jaman dia sekolah menengah pertama dulu.
Marcel hanya bisa terdiam mendengar cerita dokter Bela tentang kisah mantan istrinya yang jujur saja dia sendiri pun tidak pernah tahu, karena memang sedari awal tidak pernah ingin ikut campur dan tidak pernah ingin tahu tentang kisah ataupun latar belakang mantan istrinya itu.
"Aku mohon, aku titip di padamu, jaga dan rawat dia, jika pun dia akhirnya memutuskan untuk menyerahkan diri pada polisi, tolong untuk sering-seringlah mengunjunginya, beri dia semangat dan kekuatan, dia hanya butuh itu sekarang ini." Sambung dokter Bela lagi yang ternyata mengetahui masalah Sita yang kini harus berurusan dengan hukum, mungkin Sita pernah menceritakanmasalahnya pada dokter wanita yang keibuan itu, tak heran jika Sita menceritakan masalahnya pada dokter itu, karena Dokter Bela terasa nyaman untuk di ajak bercerita, mungkin juga Sita sudah meganggap dokter Bela sebagai pengganti ibunya yang sudah tiada.
"Dia sakit apa, Dok?" Tanya Marcel penasaran dengan apa yang terjadi pada mantan istrinya.
__ADS_1