
Ivan kembali menghilang lagi selama tiga hari ini, semenjak terakhir kali Alya melihat dia mendatangi rumah Utari tempo hari, Ivan sudah tak pernah lagi pulang ke rumah, sementara Alya juga sedikit pun tak pernah ingin bertanya apalagi mencari tahu keberadaan suaminya yang tak pulang-pulang itu, dia lebih memilih fokus untuk mempersiapkan kantornya yang sebentar lagi sudah siap beroperasi.
Saat Alya pulang dari mempersiapkan kantornya, karena ada perbaikan jalan malam itu yang menyebabkan macet parah, mau tidak mau Alya harus melewati komplek perumakan sektor 3, tempat keramat yang sangat Alya hindari untuk di lewati, namun kali ini, dari pada dia harus terjebak macet, akhirnya dia melewati jalan itu.
Mata dan kepala Alya tidak dapat di ajak kompromi saat melewati rumah kontrakan Utari yang berada di pinghir jalan dan terlewarinya itu, padahal sejak jauh-jauh tadi dia sudah mewanti-wanti dirinya sendiri untuk jangan peduli, jangan menoleh dan jangan kepo pada rumah itu, namun tetap saja kepalanya menoleh ke arah kiri saat dia melewati rumah Utari, mana kakinya tiba-tiba menginjak pedal rem, lagi.
Tidak ada mobil Ivan terparkir di sana, tapi bisa saja kan, mobilnya di parkir di tempat lain? Pikir Alya. Tiba-tiba dia merasa penasaran bagaimana jika dirinya turun dan mampir ke rumah teman palsunya itu, sukur-sukur bisa mergoki Ivan di sana.
"Eh, hai Al, kok bisa sampe sini, tau dari mana rumah baru ku?" Gugup Utari saat membuka pintu dan mengetahui kalau yang datang adalah mantan atasannya sekali gus sahabatnya juga.
"Ah, jalan ke rumah ku sedang perbaikan, macet parah, jadi lewat sini, dan sekalian mampir, boleh, kan? Atau aku ganggu?" Kata Alya, seraya matanya mencuri pandang ke dalam rumah menyelidik.
"Emh,,, ah tidak, hanya saja--- ada pacar ku di rumah." Gagap Utari.
"Owh, kebetulan dong, aku penasaran sama mas Adi mu itu, kenalin dong!" Pinta Alya sengaja.
"Ah--emh--- itu,,, kayaknya jangan sekarang dh Al, besok-besok aku kenalin, dia lagi tidur, soalnya." Ujar Utari terlihat agak malu-malu mengatakan hal itu, ya gak tau juga sih, antara malu atau gugup mungkin?
__ADS_1
"Wah, udah tidur bareng aja nih, cepetan di sah-in lah, udang kepengen banget kondangan, nih!" Goda Alya.
"Ish, dia tidur sama Lea, kok. Iya Al, aku juga pengennya cepet-cepet jadi istri sahnya, cuma--- masih ada kendala, gak tau deh, bingung." Utari tak mengajak Alya untuk masuk ke dalam rumahnya, dia justru mengajak Alya duduk di kursi teras rumahnya, sepertinya dia memang tidak ingin Alya masuk ke dalam rumahnya dan melihat sesuatu yang tidak seharusnya Alya lihat, dan Alya juga tak ingin memaksakan masuk untuk mencari tau apa yang menjadi ganjalan di hatinya, mungkin ini bukan saat yang tepat, pikirnya simpel.
"Kendala? Jangan bilang, kalau dia suami orang!" Sekilas itu seperti sebuah candaan, namun kata-kata yang Alya kemukakan memang mewakili apa yang sangat ingin di sampaikannya pada Utari.
Mendengar candaan Alya yang harusnya terdengar biasa bagi percakapan antar teman dekat itu, justru malah membuat sikap Utari menjadi tidak biasa, raut wajahnya terlihat seperti tidak senang saat Alya berkelakar seperti itu.
"Semua hubungan pasti punya kendala, seperti halnya hubungan mu dengan Ivan, pasti tidak mulus-mulus saja, kan? Dan mengenai status pacar ku, dia memang masih punya istri, tapi kami saling mencintai, menurut mu, apa aku salah?" Nada bicara Utari berubah menjadi serius, sepertinya dia merasa candaan Alya tadi sudah menyinggungnya.
"Jatuh cinta atau saling mencintai itu tidak salah, tapi mencintai sesuatu milik orang lain akan membangkitkan sisi iblis dalam diri kita, akan ada keserakahan timbul kala ingin memiliki dia seutuhnya, akan ada kejahatan tercipta saat berusaha merebut dia dari pemilik aslinya." Jika boleh jujur, saat ini Alya mengatakan semua itu sambil menahan sekujur tubuhnya yang bergetar, betapa tak tau diri dan tak tahu malunya Utari mengatakan tentang cinta di depan wajahnya.
"Dari sudut yang berbeda, semua objek termasuk cinta dan perjuangan itu bisa berganti arti, tergantung dari bagaimana cara, melihat dan memikirkannya, karena semua itu kembali pada pikiran dan pribadi masing-masing." Ujar Alya yang bisa menangkap kalau dalam hal ini Utari bersikeras merasa di pihak yang tidak ingin di salahkan dengan mengatas namakan saling mencintai, dan itu sangat terlihat jelas dari caranya bertahan dengan argumennya.
"Oh iya, Tar, aku tak pernah tau apa alasan kamu dulu berpisah dengan ayahnya Lea, tapi menurut ku, jika kamu pernah merasakan pahitnya perpisahan, kenapa justru kamu menciptakan kepahitan bagi wanita lain?"
"Aku dan mantan suami ku dulu di jodohkan, kami tidak saling mencintai sejak awal, meskipun akhirnya di karuniai Lea di antara kami, itu tetap tidak bisa membuat kami saling jatuh cinta, dan perpisahan menjadi jalan satu-satunya untuk kami saling mencari kebahagiaan kami masing-masing." Utari beralibi demi pembenaran atas apa yang di lakukannya.
__ADS_1
"Tar,,, suatu pernikahan yang terjadi baik itu di dasari cinta atau pun tidak, mereka di sebut SUAMI ISTRI, dan hubungan di luar itu, meskipun dengan dalih saling cinta, namanya tetap saja PERSELINGKUHAN!" Alya sengaja menakankan kata demi kata dalam menyampaikan kalimatnya, darahnya semakin mendidih karena Utari tetap dalam mode seolah dirinya tidak bersalah dalam hal ini.
Tak ingin kebablasan dalam mengutarakan kemarahannya, Alya akhirnya berpamitan untuk pulang, terlalu gampang dan terlalu dini untuk membongkar perselingkuhan Utari, lagi pula dirinya sudah punya kesepakatan tersendiri dengan Marcel untuk menyelesaikan kasus perselisihan perusahaannya dengan JT grup yang masih harus melibatkan Utari dan juga Ivan di dalamnya, semua ada waktunya, biar semua di selesaikan berdasarkan urutan paling mendesak, dalam hal ini Alya juga tidak ingin egois, kasus tentang JT grup juga dirinya berandil besar dan harus ikut membantu Marcel menyelesaikannya, apalagi Marcel juga banyak membantu dirinya dalam mendirikan firma akuntansinya.
Terkadang, Alya tidak habis pikir, mengapa ada wanita yang tega menyakiti wanita lainnya hanya demi kebahagiaannya sendiri, apalagi ini Utari, orang yang selama ini bisa di bilang sangat dekat dengannya, beberapa kali Alya bertanya pada dirinya, apakah dirinya pernah menyakiti atau menyinggung perasaan Utari, sampai dia tega berbuat seperti itu terhadapnya, tapi Alya tidak pernah menemukan jawaban dari semua pertanyaannya itu, lagi pula jika pun memang dirinya pernah menyinggung perasaan Utari, apa pantas dia melakukan semua ini padanya? Alya orang yang terbuka dan bukan atasan yang anti kritik, selama ini.
**
Hampir satu bulan berlalu, Ivan tidak pernah lagi pulang ke rumah, namun malam ini, saat Alya pulang dari kantornya yang baru yang masih dalam tahap persiapan sehingga Alya sering pulang larut malam karena harus lembur untuk memperhatikan para tukang dalam pengerjaan interior kantornya, Ivan sudah menghadangnya di depan pintu utama.
"Begini rupanya kelakuan mu tiap hari? Keluyuran berangkat pagi pulang larut malam begini, pantas saja kau tak pernah peduli lagi dengan ku, kau bahkan tidak pernah bertanya atau mencari keberadaan ku yang tak pernah pulang, aku pikir dengan aku tinggalkan kau akan berpikir, tapi rupanya makin menjadi!" Umpat Ivan.
"Untuk apa aku bertanya dan mencari keberadaan mu? Jelas-jelas jika bahagia mu bukan bersama ku, makanya kamu pergi mencari kebahagiaan mu sendiri di luar sana." Jawab Alya dingin.
Alya mendorong Ivan agar menyingkir dan tidak menghalangi jalannya untuk masuk, dia sedang tak ingin berdebat dengan nya malam ini, dia terlalub lelah.
Namun baru beberapa langkah Alya masuk ke dalam rumahnya, dia harus di hadapkan dengan pemandangan tidak biasa di rumahnya, Hendri, Yuni sedang rebahan sambil nonton tv di ruang tengah, sementara Wina terlihat sedang membereskan meja makan bersama Fitri.
__ADS_1
"Mulai sekarang, mereka akan tinggal di sini. Mereka akan mengawasi mu agar tidak keluyuran seenak jidat mu, Ibu ku akan mengajari mu menjadi ibu rumah tangga yang baik dan benar, bukan menjadi isteri yang tak becus mengurus rumah dan suami seperti mu!" Tegas Ivan dengan lantangnya, sambil menatap tajam wajah Alya yang sangat marah dan tidak terima dengan keputusan sepihak Ivan malam ini.