
Sidang perceraian antara Alya dan Ivan berlangsung lancar, tanpa hambatan yang berarti, selain kedua belah pihak yang sama-sama sepakat untuk berpisah, di tambah belum ada anak di antara mereka yang harus di tentukan siapa pemegang hak asuhnya, belum lagi tidak ada tuntutan harta gono gini dari Alya yang memang sudah mengiklaskan semuanya untuk Ivan sesuai perjanjian, sehingga tidak ada hal-hal yang membuat sidang perceraian itu menjadi sulit.
Sementara itu Ivan juga memenuhi janjinya untuk tidak membawa-bawa nama Marcel dalam gugatan perceraiannya, dan itu bukan berarti Ivan tidak lagi ingin membalas dendam pada Marcel, namun sejatinya dia punya rencana lain yang lebih besar untuk menyerang Marcel, daripada hanya menjadikan dia sebagai penyebab perceraiannya, Ivan memilih rencana lain yang akan lebih menguntungkan untuk dirinya dalam menangani Marcel, dan akan lebih membuat Marcel terpuruk dan hancur tentu saja.
"Apa kau senang sekarang? Kau sudah mendapatkan kebebasan mu, hanya saja jangan terlalu bermimpi kekasih mu akan menikahi mu, karena dia tidak akan mungkin meninggalkan istrinya, kau hanya akan menjadi wanita simpanan yang menyedihkan selamanya!" Ejek Ivan.
"Tentu saja aku senang, karena aku bisa mengatakan hal ini pada mu, jangan ikut campur urusan ku lagi, karena kini kau bukan siapa-siapa ku lagi, PAHAM!" Sinis Alya seraya menunjukkan akta cerainya seolah ingin mengingatkan kalau di antara mereka berdua sudah putus hubungan dan kini mereka menjadi orang asing lagi, dan apapun jalan kehidupan yang Alya lakoni, Ivan sudah tidak berhak sama sekali atas dirinya.
"Hahaha,,, nikmatilah kesenangan mu ini, karena sebentar lagi tangisan darah akan mewarnai hari-hari di kehidupan mu dan juga di kehidupan kekasih sialan mu itu!" Ancam Ivan dengan tawa mengejeknya.
"Aku peringatkan pada mu untuk yang terakhir kalinya, jangan membawa-bawa nama dia dalam masalah kita, karena mungkin aku tidak akan mengalah lagi pada mu seperti sebelumnya jika kau tetap mengait-ngaitkan dia dalam masalah kita!" Ancam Alya, kali ini dia tidak ingin lagi mengalah dan tertindas, jika Ivan mengusik dirinya atau bahkan masih mengait-ngaitkan Marcel dalam masalah mereka yang seharusnya sudah usai itu, Alya bertekad akan bertindak dengan tegas.
Ivan melengos dan tidak meladeni ucapan Alya karena Hana menghampiri mereka, namun wajah kemarahan dan kecemburuan tergambar jelas di wajahnya, betapa dia masih merasa darahnya sangat mendidih ketikan Alya selalu saja seolah membela Marcel, bahkan sekarang itu di lakukan Alya secara terang-terangan di hadapannya.
"Apa lagi yang kalian bicarakan sayang, bukankah semuanya sudah selesai? Mbak, aku harap mbak Alya bisa menjaga jarak dari suami ku mulai sekarang, karena kalian sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, sebagai istri aku berhak, bukan mengatakan hal ini? Jauhi suami ku!" Ujar Hana yang kini semakin bertingkah karena dia merasa telah berhasil menjadi istri satu-satunya Ivan, dan menyingkirkan alya dengan sukses.
"Cih, suami curian kok bangga! Tenang saja, aku yakinkan pada mu bahwa antara aku dan suami curian mu itu benar-benar telah usai, dan aku tidak menginginkannya lagi walau sedikit pun!" Tegas Alya.
__ADS_1
Sontak saja hal itu membuat wajah Hana menjadi merah karena geram bercampur malu, karena Alya mengatakan semua itu di depan orang banyak yang sedang berlalu lalang di depan pengadilan, sehingga beberapa di antara mereka menoleh dan melemparkan pandangan aneh pada Hana, secara stigma pelakor dalam kehidupan masyarakat khususnya para kaum hawa itu menjadi pembicaraan yang sagat sensitif dan pasti cepat mengundang reaksi dari sekitar.
Menyadari akan hal itu, Ivan segera menarik istrinya untuk segera meninggalkan tempat itu agar Hana tidak meneruskan perdebatannya dengan Alya yang dia sangat tau pasti kalau hal itu tentunya tidak hanya akan membuat Hana sendiri yang merasa malu, namun dirinya juga akan terbawa malu.
"Harusnya kamu biarkan aku menjambak rambutnya dan mencakar wajahnya, mas. Mantan istri mu itu masih saja sangat sombong, sudah di ceraikan, gak punya rumah, sekarang jadi karyawan rendahan, masih aja kepalanya mendongak di hadapan kita!" Ceroscos Hana.
"Kenapa kamu itu terus saja mencari masalah dengan Alya, padahal sejak awal dia tidak pernah mengusik mu meski kamu terus mengusiknya?" Kesal Ivan.
"Mas, kenapa kamu malah jadi membela dia? Aku istri mu, dia hanya mantan istri mu, aku ibu dari calon anak mu, dia bukan siapa-siapa mu sekarang?"
"Hana, aku tidak pernah membela dia baik itu saat dia menjadi istri ku, ataupun sekarang saat kami sudah bercerai, aku hanya tidak mau kamu di permalukan olehnya, dia bukan lawan mu!" Terang Ivan.
"Ah, terserahlah, apapun yang aku katakan pada mu selalu saja salah, aku ada urusan, kamu pulang naik taksi atau minta di jemput Hendri saja!" Ivan meninggalkan Hana yang kini seolah tidak percaya karena tega meninggalkannya di pengadilan sendirian, padahal kedatangannya ke tempat itu adalah untuk memberikan support pada Ivan, namun apa balasannya, Ivan malah pergi begitu saja, hanya karena cekcok mulut dengan dirinya.
"Apa kau perlu tumpangan?" Ledek Alya sambil berjalan melewati Hana yang semakin gondok karena Alya sepertinya sangat puas melihat dirinya di tinggalkan Ivan begitu saja.
**
__ADS_1
"Wah, tumben sekali kau datang ke sini, aku pikir, setelah mempunyai dua istri kau tidak memerlukan ku lagi," ujar seorang wanita yang membukakan pintu untuk Ivan yang bertamu ke tempatnya sore ini.
"Aku sudah bercerai dengan Alya hari ini, namun aku merasa hati ku kosong, aku butuh teman bicara, sekaligus membicarakan mengenai rencana menjatuhkan Marcelino Salim." Kata Ivan saat dirinya melangkah masuk ke dalam rumah itu.
"Hanya butuh teman bicara? Bukan teman ber-cinta?" Ledek wanita itu dengan seringai menggodanya.
"Tentu saja itu juga termasuk di dalamnya, kau satu-satunya teman ber-cinta ku yang selalu membuat ku gerah, dan tidak cukup hanya sekedar bicara jika dengan mu." Ivan mencium sekilas bibir wanita itu.
"Sial, kenapa Alya selalu mendapat keberuntungan dalam hidupnya, dulu dia mendapatkan kamu sebagai suami yang tampan, romantis dan perkasa, sekarang dia malah berhasil menaklukan bos dingin dan arogan sekelas Marcelino Salim. Ckk, wanita itu terlalu beruntung, membuat ku semakin membencinya." Decak wanita itu dengan tatapan tidak sukanya.
"Sudahlah, jangan bahas masalah yang membuat kepala ku bertambah pening, lebih baik kita sama-sama saling memberi kesenangan, aku butuh teman untuk bercerita dan bersenang-senang." Ivan memeluk wanita itu dari belakang dan menciumi lehernya.
"Kenapa kau tidak bersenang-senang dengan istri mu? Bukankah dia cukup cantik dan menggai-rahkan?" Wanita itu mengurai pelukan Ivan dan memba;likkan tubuhnya dan kini saling berhadapan.
"Selingkuhan jika sudah di peristri sensasi rasanya lain, rasanya akan menjadi biasa saja tidak ada tantangannya," cengir Ivan dengan tanpa tau malunya.
"Hahaha,,, berarti keputusan ku untuk tetap menjadi selingkuhan tepat ya, tidak perlu ada ikatan yang membuat rumit suatu hubungan." Gelak wanita itu.
__ADS_1
"Kau memang teman paling mengerti, dan paling tau apa yang aku butuhkan sejak dulu, andai saja dulu kita,,," ucapan Ivan terhenti karena wanita itu membungkam mulut Ivan dengan bibirnya, sehingga pria itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya danhanya bisa menikmati suguhan pembuka dari tuan rumah yang di kunjunginya itu.
"Jangan bahas masa lalu," ujar wanita itu setelah pag-gutan mereka terlepas.