
Langkah Alya terasa gamang saat dia beserta Rudy dan dua orang yang kini menjadi tim-nya dari CV Persada datang ke Salim grup, untuk memenuhi undangan dari perusahaan besar yang dulu pernah menjadi tempatnya mencari nafkah itu.
Di perusahaan besar ini juga dia pertama kali bertemu dengan Marcel, ini adalah kunjungan pertamanya setelah sekian lama, tidak banyak yang berubah dari Salim grup, beberapa karyawan bahkan masih ada yang mengenalnya, ada yang menyapa secara langsung, ada yang yang hanya melemparkan senyum, tak sedikit juga dari mereka yang hanya berbisik-bisik dengan rekannya ketika kala Alya melintas di hadapannya, namun Alya tidak peduli akan hal itu, kedatangannya kali ini adalah benar-benar untuk urusan pekerjaan, seandainya saja Rudy tidak memintanya untuk menangani proyek ini dan berharap banyak padanya, dia pun rasa-rasanya sangat malas untuk melangkahkan kakinya lagi ke perusahaan yang di pimpin oleh Marcel itu.
Alya sudah tak perlu bertanya lagi dimana letak aula Sallim grup, dia masih sangat hafal letak ruangan-ruangan kantor itu, sehingga dirinya langsung menuju aula dimana tempat itu yang akan menjadi ruang pertemuan mereka sesuai dengan yang tertera di surat undangan.
Marcel sedikit terhenyak saat Rudy mengetuk pintu yang setengah terbuka dan memasuki ruangan itu, sungguh Marcel tidak menyangka jika Rudy akan datang di dampingi oleh Alya, ini benar-benar di luar dugaannya yang tadinya mengira jika yang akan datang adalah Rudy seorang diri, atau paling tidak bersama tim-nya, dan bukan Alya, karena Marcel tau sendiri jika Alya tidak menguasai bidang proyek seperti ini.
Dari sini Marcel sudah mulai dengan kebiasaan buruknya yaitu berasumsi dengan pikirannya sendiri, kedatangan Alya kali ini dia simpulkan karena Alya ingin pamer betapa dekatnya dia dengan Rudy sampai urusan sepenting ini pun dirinya harus mendampingi. Sungguh di mata Marcel kebersamaan Alya dan Rudy ini memang sengaja ingin pamer kemesraan saja di hadapannya.
"Selamat pagi semuanya, maaf jika saya sedikit terlambat." Ujar Rudy berbasa basi, dia tahu kalau dia datang di ruangan itu se-perempat jam sebelum waktu di mulai, hanya saja mengingat dua perwakilan perusahaan lain dan juga Marcel sudah berada di ruangan itu, dia merasa tidak enak hati, dan tidak ada salahnya jika dia meminta maaf meskipun dalam hal ini dia bisa di katakan tidak bersalah.
"Anda tidak terlambat dan tidak bersalah, jadi tidak perlu meminta maaf, ini karena aku terlalu bersemangat sehingga datang lebih awal." Ujar Marcel datar sambil mempersilahkan Rudy, Alya dan timnya yang lain untuk duduk.
__ADS_1
Sialnya lagi posisi duduk Alya dan Marcel kini tepat saling berhadap-hadapan, sehingga baik Marcel maupun Alya terlihat sibuk saling menghindari tatapan satu sama lainnya di sepanjang acara.
"Terimakasih sudah memberi kesempatan pada perusahaan kecil saya ini untuk lebih lebih berkembang, dan untuk kedepannya proyek ini akan saya serahkan sepenuhnya pada Alya, dia yang akan menjadi ketua tim dalam proyek kerja sama pertama anatara Persada dan Salim grup, karena saya masih sedangmenangani proyek saya yang lin yang saat ini terlanjur sedang berjalan, bagaimana pun saya tidak bisa lepas tangan dan meninggalkanya begitu saja, lagi pula Alya sudah kenal dengan dengan anda, jika ada kurang-kurangnya dalam hal pekerjaan, dia pasti tidak akan sungkan untuk meminta bantuan dari anda, saya harap anda tidak keberatan untuk membantunya." Ujar Rudy dengan polosnya.
Marcel dan Alya langsung terbatuk seperti sama-sama tersedak oleh sesuatu, padahal mereka tidak sedang makan atau minum apapun, sepertinya mereka tersedak oleh keterkejutan mereka sendiri.
"Apa kamu baik-baik saja?" Rudy sontak menoleh ke arah Alya yang wajahnya langsung tampak memerah.
"Tidak," Alya menggelengkan kepalanya pelan sambil terus menunduk, sibuk dengan pikirannya sendiri di mana kedepannya dia pasti akan harus sering bertemu da berinteraksi dengan Marcel, sementara sekarang saja rasanya sangat canggung seperti ini.
"Saya rasa Alya wanita yang cukup cerdas, dia pandai mempelajari hal baru dengan baik, selain itu,,, terus terang bekerja sama dengan Salim grupadalah impian terbesar saya pribadi untuk Persada, jadi saya akan lebih mantap dan tenang jika orang terdekat saya sendiri lah yang menangani proyek ini, mengingat karena saya berhalangan untuk menangani proyeknya dengan
Tangan sya sendiri," Ujar Rudy memuji Alya seraya mengusap bahu alya seolah ingin menunjukkan betapa beruntungnya dia memiliki Alya di sampingnya saat ini.
__ADS_1
Hal itu tentu saja membuat Marcel sontak membuang pandangannya jauh-jauh, perlakuan manis Rudy terhadap Alya bak sayatan silet di hatinya mencabik perih perlahan namun perihnya terasa sangat dalam.
Tanpa di sadari, kedua tangannya pun mengepal di sisi tubuh kiri dan kanan nya, ingin rasanya dia meninju wajah Rudy yang terus tersenyum seolah pamer kebahagiaan sekaligus mematahkan tangannya yang dengan lancang mengusap bahu Alya di depan matanya, namun apa daya, saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa menahan marah di dadanya sekuat tenaga.
"Baik, besok kita akan memuali semuanya, jangan lupa untuk datang tepat jam 8 pagi," ucap Marcel sambil berlalu, sepertinya dia mulai mengibarkan bendera putih merasa tidak sanggup lagi untuk melihat Rudy yang di rasa terus memamerkan kemesraan di hadapannya, padahal perlakuan Rudy itu tidak mendapat respon apapun dari Alya, sejak tadi Alya hanya diam atau sesekali tersenyum canggung.
**
"Apa kau yakin tidak melewatkan apapun lagi mengenai informasi Rudy Mahendra?" Tanya Marcel pada Darma yang memberinya setumpuk kertas yang berisi segala sesuatu yang berhubungan dengan profil Rudy.
"Apa tidak sebaiknya anda tidak ikut campur lagi masalah pribadi Alya? I-ini hanya pendapat pribadi saya sebagai teman, sepertinya mereka terlihat bahagia,lagi pula bukankah anda sendiri yang memutuskan untuk menjauh dari Alya dulu?" Ujar Darma yang kini mulai mengerti mengapa bos nya itu sangat tertarik dengan CV Persada, rupanya ini ada hubungannya dengan Alya.
"Sebaiknya kau simpan saran mu, aku tau apa yang aku lakukan. Sebaiknya lakukan saja apa yang menjadi tugas mu dan apa yang aku tugaskan pada mu, dan satu lagi, tutup mulut, jangan sampai hal ini di ketahui oleh ayah ku, oleh Pak Haryanto dan juga Sita, awas saja kalau sampai hal ini bocor ke telinga mereka!" Geram Marcel setengan mengancam.
__ADS_1
"S-saya akan menutup mulut, saya tidak akan menceritakan hal ini pada siapapun," ujar Darma takut-takut.
Marcel mengibaskan tangannya seraya memberi isyarat agar Darma pergi dari ruangannya, lantas dia kembali tenggelam mempelajari dan membaca semua hal tentang Rudy, kata hatinya mengatakan jika ada hal yang ganjil dengan Rudy, namun dia belum bisa menemukan apa hal itu, atau kecurigaannya hanya berdasarkan karena ketidak sukaannya saja?