
Ternyata Marcel membawa Alya dan Daniel ke rumah peninggalan ibunya yang tempo hari pernah Alya singgahi bersamanya, Marcel rasa hanya tempat ini yang paling aman dan nyaman untuk sejenak menenangkan diri dari ramainya pemberitaan tentang mereka, dan juga menghindari para wartawan yang seolah ingin terus mengganggu mereka.
Bukan berniat melarikan diri, namun ada kalanya di tengah badai seperti ini otak kita juga perlu kewarasan, apalagi ada bayi yang harus mereka urus dan perhatikan juga.
"Untuk sementara waktu kita di sini dulu, baju dan kebutuhan Daniel juga kamu akan di antar Damar nanti," kata Marcel.
"Lalu bagaimana dengan perusahaan mu? Lantas firma?" Alih-alih menghawatirkan dirinya sendiri, Alya justru malah menghawatirkan pekerjaan dirinya dan Marcel.
"Damar akan mengurusnya untyuk sementara waktu sampai keadaan mereda, baru aku akan kembali ke kantor untuk menyelesaikan semuanya." Jawab Marcel.
"Menyelesaikan semuanya? Maksud Mas?" Alya mengernyit.
"Ya, aku harus segera menyelesaikan semuanya, aku harus segera bertemu dengan atah ku dan juga mantan mertua ku, sepertinya aku tidak bisa menunggu kedatangan Sita untuk menjelaskan pada mereka kalau antara aku dan Sita sudah bercerai." Terang Marcel.
"Apa itu berarti mas juga akan menyerahkan perusahaan?" Tanya Alya lagi.
"Kenapa? Kamu tidak keberatan kan, jika nantinya menikah dengan pria yang tidak punya pekerjaan seperti ku? Tenang saja, aku pasti bertenggung jawab pada keluarga ku!" Ujar Marcel serata tersenyum simpul.
"Bukan itu yang aku hawatirkan mas, masalah materi kita bisa mencarinya bersama-sama, aku tidak pernah keberatan jika kamu menyerahkan perusahaan, yang menjadi beban pikiran ku saat ini dan menjadi ketakutan ku adalah jika kita harus menyerahkan kembali Daniel pada mba Sita, aku tau ibunya lebih berhak akan Daniel, tapi aku terlanjur jatuh cinta padanya, mas." Tatapan Alya terkunci pada bocah bayi yang kini sedang anteng bermain dalam gendongan Marcel.
Marcel menghela nafas berat dan panjang, karena apa yang kini di rasakan Alya, seratus persen sama seperti apa yang sedang di rasakan Marcel saat ini, ketakutan jika harus berpisah dengan putranya, namun dia bisa apa, karena Sita memang lebih berhak atas Daniel dari pada dirinya yang tidak mempunyai ikatan darah apapun dengan bayi yang sudah di anggap sebagai anaknya sendiri itu.
__ADS_1
"Aku tau, aku juga mengerti, tapi kita juga tidak boleh egois, sebagai ibu mungkin Sita juga tidak mau berpisah dari buah hatinya, begitu pun dengan Daniel yang mungkin ingi tinggal bersama ibu nya meskipun kita menyayanginya seperti anak kita sendiri, namun ikatan darah biasanya lebih lekat." Marcel hanya mampu memberikan penghiburan yang sebenarnya dia juga mengucapkan semua itu untuk dirinya sendiri.
"Jangan sedih, saat kita sudah menikah nanti kita bisa membuat bayi-bayi lucu sebagai gantinya, sehingga kita tidak kesepian lagi." Sambung Marcel seraya melemparkan senyum menggodanya pada Alya yang langsung merasa panas dingin saat mendengarnya.
**
Tiga hari sudah Marcel, Alya dan Daniel berada di rumah 'pengasingan' itu, jauh dari pemberitaan dan hingar bingar keramaian kota membuat hidup mereka terasa nyaman bak keluarga kecil yang harmonis, di mana Marcel dengan sigap menjaga Daniel saat Alya memasak dan membersihkan rumah, terkadang mereka juga melakukan pekerjaan itu bersama-sama jika Daniel tertidur lelap, tidak ada tumpukan dokumen, tidak ada rapat dan pertemuan dengan klien, sungguh semuanya terasa seperti benar-benar keluarga sederhana yang damai, tentram dan bahagia bak film keluarga cemara.
Suara ketukan pintu ruang tamu membuat Alya dan Daniel saling melempar tatap, selama mereka berada di rumah itu tak pernah ada yang datang ke sana, bahkan tukang yang biasa bersih-bersih di rumah itu pun sengaja Marcel liburkan agar tidak mengganggu mereka.
"Aku akan melihatnya, kamu tunggu di sini." Marcel beranjak dari sofa ruang tengah rumah itu, meninggalkan Alya dan Daniel yang sedang bermain.
"Maaf bos, ada berita penting yang harus saya sampaikan segera, sehingga terpaksa saya datang ke sini karena ponsel bos dan juga nona Alya tidak bisa di hubungi."
"Ah iya, aku memang sengaja mematikan ponsel ku dan juga ponsel Alya, ada apa?" Tanya Marcel seraya mempersilahkan asistennya itu untuk masuk dan dduduk di kursi ruang tamu.
Wajah Darma terlihat sangat cemas dan kebingungan, sepertinya sesuatu yang besar telah terjadi, sehingga membuat Darma sampai menemuinya di tempat itu.
"Maaf bos, ayah dan juga mertua anda melaporkan nona Alya ke polisi atas tuduhan penculikan tuan Daniel, mereka bahkan mengumumkan di media bagi siapa saja yang menemukan nona Alya dan tuan Daniel akan di beri hadiah besar, saya khawatir dengan keselamatan nona Alya, masyarakat pasti akan ikut antusias untuk mencari dan melaporkan mengingat hadiah yang di tawarkan tuan Salim dan juga mertua anda sangat besar." Terang Darma terbata-bata dengan wajah yang pucat, sepertinya dia terburu-buru datang ke tempat ini karena tidak ingin terjadi sesuatu pada Marcel dan Alya.
"Sial,,, kenapa mereka justru menyerang Alya!" Geram Marcel menahan marah nya, dia tidak ingin Alya mendengar percakapannya dengan Darma, dan membuat kekasihnya itu menjadi ketakutan.
__ADS_1
Marcel yakin jika apa yang di lakukan ayah dan juga mertuanya itu hanya untuk memancing agar dirinya keluar dari persembunyian, sementara mereka tau jika Alya adalah kelemahan dirinya saat ini, maka mereka menggunakan Alya untuk menekannya.
"Satu lagi bos, besok perusahaan akan mengadakan rapat besar yang akan di hadiri seluruh pemegang saham, karena saham perusahaan kini semakin turun akibat berita anda, ayah anda mengatakan pada saya, jika anda tidak hadir dalam rapat tersebut maka anda akan menjadi satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas anjloknya harga saham perusahaan dan anda mungkin akan bekerja di Salim grup seumur hidup tanpa bayaran untuk mengganti kerugian perusahaan." Darma menyampaikan pesan yang di berikan Salim untu putranya.
Tentu saja Salim yakin kalau hal itu pasti akan sampai ke telinga putranya, karena Darma pasti masih berhubungan dan tau dimana keberadaan putranya saat ini.
"Ayo pulang dan hadapi semuanya, Mas." tiba-tiba Alya muncul dari ruang tengah dan menghampiri Marcel yang terlihat sangat kebingungan.
Sungguh Marcel tak akan se-bingung itu jika hal ini hanya menyangkut tentang dirinya, dia sudah terbiasa enghadapi amarah ayahnya, namun saat ini keselamatan Alya dan juga Daniel menjadi pertimbangan terbesarnya.
"Tapi---" ujar Marcel ragu-ragu.
"Tidak ada tapi-tapian mas, lagi pula mau sampai kapan kita bersembunyi di sini, sudah saatnya kita menghadapi masalah bukan terus berlari dari masalah, karena selama kita hidup, masalah pasti akan selalu ada." Kata Alya meyakinkan Marcel kalau dirinya tidak takut dan sangat siap untuk menghadapi semua permasalahan yang ada, bahkan jika pun dirinya harus berurusan dengan pihak yang berwajib sekali pun atas tuduhan dan tuntutan yang di layangkan ayah dan mertua kekasihnya itu.
"Mereka tidak akan melepaskan mu begitu saja, aku tau bagaimana sifat ayah ku, dan juga mertua ku, mereka egois dan hanya memikirkan kepentingan dan keuntungan mereka saja." Sungguh Marcel tidak bisa membiarkan Alya masuk dalam pusaran bahaya besar begitu saja.
"Bos, saya sudah melacak jika yang pertama kali mengunggah video anda adalah sebuah akun gosip yang di bayar untuk memposting nya, dan yang membayar mereka adalah Utari, itu menurut pengakuan pemilik akun gosip itu." Terang Darma.
"Aku sudah dapat mengiranya, kalau bukan Utari yang si pria berengsek tak tau diri itu," ujar Marcel yang seperti tidak sudi untuk menyebut nama Ivan.
"Sekarang berita semakin melebar karena media semakin menggoreng gosip ini, dengan menyebut anda berdua sudah lama kumpul kebo, dan bahkan Ivan memberikan keterangan di media-media bahwa perceraian dirinya dan nona Alya karena anda sebagai orang ke tiga di rumah tangga mereka, bahkan ada yang lebih parah jika salah satu nara sumber mengatakan jika nona Alya meninggalkan putri mereka yang masih bayi bersama Ivan hanya karena nona Alya lebih memilih hidup bersama anda." Urai Darma menceritakan berbagai berita terpanas yag kini semakin menggelinding bak bola liar panas yang berlarian kesana kemari tanpa bisa di kendalikan. Darma menceritakan semua itu karena dia yakin jika Marcel dan juga Alya tidak mengetahui semua itu karena mereka tidak mengikuti beritanya, padahal di Ibu kota mereka menjadi topik panas bagi semua orang, wajah mereka pun muncul hampir setiap saat di laman berita dengan judul-judul nyeleneh, seolah portal-portal berita berlomba mencari keuntungan dari berita ini tak peduli meski berita yang mereka turunkan tak jelas kebenarannya.
__ADS_1
Tentu saja mendengar semua berita-berita ngawur dan fitnah-fitnah yang seolah semakin memojokan Alya, membuat Marcel mengeraskan rahangnya, dia yang tadinya ragu untuk kembali dalam waktu dekat kini seolah ingin segera pulang dan menghadapi mereka yang dengan seenaknya menjelek-jelekan kekasihnya.
"Kita akan pulang siang ini juga!" Kata Marcel dengan yakin.