Celana merah jambu

Celana merah jambu
Ngelunjak


__ADS_3

Hari terakhir Alya bertugas di JT grup, dia menolak ajakan Ivan untuk bberangkat bersama ke kantor, Alya beralasan kalau hari ini pekerjaannya di JT hanya tinggal sebentar lagi, mungkin hanya sampai siang, dan dia harus kembali ke perusahaannya lagi, sehingga Alya memilih untuk mengendarai mobilnya sedndiri, lagi pula ada beberapa dokumen yang harus dia ambil di kantornya dan meminta tanda tangan atasannya untuk beberapa dokumen yang sudah di garapnya selama dua hari belakangan ini.


"Ayo Din, berangkat sekarang!" Ajak Alya pada Dinda untuk segera menemaninya ke JT grup.


"Saya bagian jaga kantor bu, soalnya kata mba Utari ibu minta dia buat nemenin ke JT hari ini." Ujar Dinda.


Kening Alya mengernyit, apa benar dia pernah meminta hal itu pada Utari, seingat dirinya, dia tiak pernah mengatakan hal itu pada Utari, tapi ya sudahlah, mungkin Utari ingin membantunya juga karena dia merasa tidak enak hati selama dua hari ini Dinda terus yang menemaninya di sana, lagi pula baik Dinda maupun Utari sama-sama asistennya, meskipun sepertinya Dinda lebih jago di bidang ini, anggap saja sekalian Utari belajar juga.


"Oke deh, kamu siapin laporan-laporan buat nanti sore aku bawa ke si bos saja ya, hasil audit hari ini nanti langsung aku email, jadi laporannya bisa langsung jadi sat aku sampai sini, bisa kan?" Tanya Alya, yang lantas di angguki Dinda.


***


"Kok lama amat sampenya?" Tanya Utari saat Alya baru saja menginjakkan kakinya di loby JT, Utari langsung menghampirinya.


"Aku udah bilang sama Dinda kemaren kalau hari ini ke kantor dulu ngambil tanda tangan si bos," Terang Alya.


"Tapi kan, kamu gak bilang aku?" Cebik Utari.


"Mana ku tau kalau kamu yang nemenin aku, bukannya kamu biasanya gak bisa?"


"Aku penasaran dengan cerita selingkuh suami mu dengan Kartika, rasanya aku gatel pengen mergoki mereka dan unyel-unyel wanita itu." Wajah Utari terlihat memerah karena menahan gemas dan marah secara bersamaan saat menyampaikan hal itu pada Alya, membuat Alya


Menjadinmerasa geli sendiri dengan sikap Utari yang di anggapnya terlalu lebay itu.

__ADS_1


"Tar, aku yang di selingkuhin aja santey wae kok, malah kamu yang kelihatan kebakaran jenggot," cengir Alya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabat baiknya yang sebegitunya membela dirinya.


"Gemes aku Al, pengen aku jambak kalo ketemu orangnya, hanya saja dari tadi di tungguin di lobby, baik suami mu atau wanita itu tidak terlihat batang hidungnya, padahal mobil suami mu ada di parkiran!" Kesal Utari.


"Ishhh, sampai segitunya, hafal pula mobil suami ku, awas naksir, mau di kemanain mas Adi mu tersayang itu?" Ejek Alya menyebut nama pria yang belakangan sering menjadi objek curhatan janda anak satu itu padanya.


"Ishhh ngawur, mana ada aku naksir suami mu, cinta ku hanya untuk mas Adi ku seorang." Wajah Utari tiba-tiba langsung berubah menjadi merona bahagia saat nama pacar barunya di sebut.


"Iya deh yang lagi jatuh cinta, kapan-kapan aku di kenalin sama mas Adi mu itu ya, penasaran seganteng apa, sampai tiap hari di bahas mulu di kantor sampe budek nih telinga denger cerita mas Adi," Kata Alya, sambil sedikit melambatkan langkahnya saat melewati ruang Manajer pengadaan barang JT grup, dimana itu di yakini Alya merupakan ruang kerja Ivan di kantor itu.


"Uh sial,,, berengsek, ada cewek pake rok mini ketat banget di ruangan suami mu!" Pekik Utari dengan wajahnya yang menempel pada kaca jendela ruang kerja Ivan mengintip ke dalam ruangan itu dari celah kaca jendela yang gordennya tidak tertutup dengan sempurna itu.


"Ayo samperin, labrak mereka, aku bagian jambak," Sambung Utari, yang wajahnya kini terlihat bagai ikan sapu-sapu yang menempel di kaca akuarium.


Meski awalnya Alya merasa kesulitan saat hendak membawa Utari menjauh dari sana, namun akhirnya dia berhasil juga membawanya ke ruang kerja mereka yang seharusnya, dimana Utari baru pernah menemaninya bekerja di ruangan itu.


Sepanjang mengerjakan tugas Utari hanya menggerutu kesal, dia terus mengata-ngatai Alya yang tidak mengambil tindakan apa-apa saat Utari melihat jelas dengan mata kepalanya sendiri kalau di ruangan Ivan ada seorang wanita berpakaian minim, alih-alih melabrak mereka, Alya justru malah mementingkan pekerjaan yang di rugaskan bosnya, menurut Utari, masalah itu lebih penting dari pada sekedar tugas audit, sehingga keberadaan Utari di hari terakhir mereka menjalankan tugas membuat Alya harus kerepotan menangani pekerjaan sendirian, karena Utari hanya terus menggerutu, dan hanya sedikit membantu pekerjaan Alya, sehingga sempat terbersit di pikirannya kalau dia sangat menyesalkan kalau yang datang hari ini adalah Utari dan bukan Dinda.


Bukannya Alya tidak berani atau tidak merasa marah saat mendengar Ivan tengah bersuaan dengan wanita di ruang kerjanya, hanya saja, Alya tak ingin melakukan hal-hal konyol yang disarankan Utari, melabrak suaminya itu merupakan hal yang sangat mudah dan sepele baginya, hanya saja dia tidak ingin melakukan hal itu, dia akan merasa tidk keren dan merasa menjatuhkan harga dirinya sendiri jika berbuat hal rendahan seperti itu, bagi Alya, banyak cara elegan untuk membongkar perselingkuhan Ivan, namun biar saja hanya dia sendiri yang tahu bagaimana caranya, dia hanya akan menyelesaikan masalah rumah tangganya dengan caranya sendiri, dan tak akan mengikuti saran orang lain, karena baik buruknya, sedih bahagianya kehidupan rumah tangga mereka hanya dia dan Ivan sendiri yang bisa merasakan, Alya tidak mau orang lain yang yang berperan sebagai penonton dalam kehidupan rumah tanggannya itu mengatur bagaimana dia melangkah apalagi menyelesaikan masalahnya, hanya di yang tahu sebesar apa masalahnya dan hanya dia yang berhak menyelesaikan masalahnya, orang lain harus tetap menjadi penonton dan tidak di perkenankan untuk ikut campur.


"Berhenti mengomel seperti nenek-nenek, jika kamu tidak berniat membantu ku bekerja, setidaknya jangan menambah masalah, jika kira-kira kamu akan tetap mengomel seperti ini, lebih baik kamu kembali ke kantor duluan dan biarkan aku mengerjakan tugas ini sendirian!" Tegas Alya, telinga sudah hampir tuli karena kebisingan omelan Utari membuatnya tidak bisa berkonsentrasi dalam melaksanakan tugas yang tinggal sedikitv lagi itu, padahal dalam pelaksanaaan audit itu, Alya memerlukan konsentrasi penuh, sehingga tidak terjadi kesalahan dalam penelitian yang mengakibatkan salah informasi yang akan di berikan pad bosnya.


Tentu saja itu semua membuat kepala Alya seperti berasap[ dan sangat wajar jika Alya bersikap tegas pada Utari yang seharusnya memperingan pekerjaannya seperti yang Dinda lakuakan selama dua hari ini, namun Utari malah semakin memperumit pekerjaannya.

__ADS_1


"Sorry Al, aku memang agak parno sama masalah perselingkuhan, itu sangat sensitif buat ku, mungkin dampak dari perceraian ku dengan suami ku terdahulu, sehingga kalau mendengar kata perselingkuhan aku jadi se heboh ini." Menyadari Alya sangat terganggu dengan kehebohannya, Utari meminta maaf pada Alya, bagaimana pun, Alya adalah atasannya.


Alya hanya memutar matanya dengan kesal, rasa-rasanya dia sudah tak sanggup menjawab saking kesalnya.


"Oke Al, dari pada aku mengganggu pengerjaan tugas kita, sepertinya aku lebih baik untuk kembali ke kantor terlebih dahulu, dan kamu bisa menjalankan tugas dengan tenang tanpa gangguan dari ku." Pamit Utari.


Sungguh Alya ingin mengamuk pada asistennya yang di rasa Alya sudah semakin tak tau malu dan ngelunjak itu, namun kembali lagi Alya berpikir mungkin itu ada andil salahnya juga yang terlalu dekat dan mengikis jarak antara dirinya dan Utari yang ntabene adlah bawahannya.


Bawahan seperti apa yang meminta izin untuk pulang lebih dahulu dan meninggalkan atasannya mengerjakan tugas sendirian, namun kali ini Alya malas untuk berdebat, dia hanya mengangguk dan mengizinkan Utari untuk pergi, dari pada kehadirannya di sana hanya akan membuat dirinya semakin emosi, lagi pula keberadaannya di tempat itu juga tidak begitu membantu Alya dalam pengerjaan tugas mereka.


"Ya sudah, kembali ke kantor, dan bantu Dinda menyiapkan laporan untuk aku bawa ke bos sore ini, kasian Dinda pasti kerepotan menyiapkan file sebanyak itu." Titah Alya pada akhirnya, secepat kilat, setelah mendapat izin dari Alya, janda beranak satu itu langsung pergi jauh seperti kuda yang terlepas dari ikatannya.


Kekesalan Alya pada Utari tak hanya sampai di sana, saat dirinya kembali ke kantor, dia melihat Dinda masih kerepotan menyusun laporannya yang sangat banyak itu, yang akan dia bawa untuk di laporkan pada atasannya.


"Belum selesai, Din?" Tegur Alya.


"Belum bu, sedikit lagi ini." Jawab Dinda dengan matanya yang masih tidak terlepas pada monitor di hadannya, bukan karena dia tidak menyimpan rasa hormat pada atasannya itu, hanya saja dia ingin menyelesaikan tugasnya dengan segera.


"Dinda gak bantuin kamu nyusun laporan, apa?" Alya penasaran, karena jika pekerjaan itu di dikerjakan oleh dua orang, seharusnya sudah siap saat dirinya sampai ke kantor.


"Bu Alya ini suka bercanda, bagaimana bisa mba Utari bantu saya, sementara dia ikut ibu ke JT, apa ya lupa?" Seloroh Dinda.


"Dia tidak kembali ke sini, siang tadi?" Tanya Alya, nada suaranya meninggi meski tidak bermaksud memarahi Dinda, namun dirinya sangat kesal dengan tindakan Utari yang di nilainya sangat keterlauan dan tidak bertanggung jawab dalam pekerjaannya itu, setelah mendapat jawaban gelengan kepala dari Dinda.

__ADS_1


Memang benar sepertinya Alya terlalu memberikan kelonggaran pada Utari sehingga dia berani bersikap seenaknya dan tidak menghargai dirinya sebagai atasan.


__ADS_2