Celana merah jambu

Celana merah jambu
Dari perut turun ke hati.


__ADS_3

"Eh, Alya,, tumben datang ke sini gak bilang-bilang, apa ada hal penting yang perlu di diskusikan dengan ku?" Tanya Rudy yang sedikit terkejut saat mengetahui Alya tiba-tiba datang menemuinya di kantor.


"Oh ayolah, bukankah status ku masih sebagai karyawan Persada? Sejak kapan seorang karyawan di larang datang ke perusahaannya sendiri, aku belum di pecat, kan Rud?" Seloroh Alya sore menjelang magrib saat itu.


"Ah bukan begitu, hanya saja kamu kan sekarang bertugas di Salim grup, dan sudah jarang ke sini, lagi pula,,, mana mungkin aku memecat karyawan keberentungan ku seperti kamu ini, bisa hancur perusahaan ku kalau sampai aku memecat mu." Ujar Rudy.


"Maksud mu?" Tanya Alya dengan kening berkerut.


"Mhhhmmm,,, maksud ku-- bukankah aku sudah pernah mengatakannya pada mu jika kamu adalah keberuntungan ku, jadi mana mungkin aku memecat mu, ah sudahlah, lupakan. Ada apa kamu tiba-tiba datang ke sini? Apa ada masalah di Salim?" Kelit Rudy.


"Tidak, kebetulan tadi pekerjaan sesesai dengan cepat, dan aku rasnya merindukan suasana Persada, jadi aku ke sini." Cengir Alya.


"Kamu merindukan Persada atau pemilik Persada? Karena dengar-dengar pemilik Persada pun sedang merindukan mu." Timpal Rudy sambil tergelak.


"Anda terlalu percaya diri, bapak Rudy Mahendra." Kata Alya dingin.


"Katakan pada ku, apa yang kau butuhkan dari ku?" Ujar Rudy yang sepetinya tahu jika kedatangan Alya menemuinya pasti ada hal penting yang harus di biacarakan dengannya, karena seorang Alya sangat tidak mungkin menemuinya tanpa alasan, Alya bukan wanita yang senang membuang-buang waktu hanya untuk menemui dirinya tanpa sesuatu yang penting.


"Tidak butuh apa-apa, hanya saja aku ingin mentraktir mu makan, sebagai ucapan terimakasih karena kamu sudah membetulkan rumah ku, beruntungnya aku punya teman baik seperti mu." Kata Alya.


"Wah, aku merasa sangat tersanjung, tapi itu hanya hal kecil, lagi pula mana mungkin aku rela kamu tinggal di rumah yang rusak seperti itu." Ujar Rudy.


"Terima kasih, tapi bagaimana kamu bisa tahu jika atap rumah ku bocor akibat hujan deras malam itu, sehingga pagi harinya kamu langsung mengirimkan banyak tukang ke rumah ku?" Tanya Alya lagi, menyelidik namun dengan cara yang halus sehingga Rudy tidak merasa sedang di curaigai oleh Alya.

__ADS_1


Ya, Alya tadi pagi tanpa sengaja mendengar pembicaraan Marcel dan Darma di ruangannya saat dia hendak mengantar beberapa dokumen yang harus di tanda tangani oleh Marcel, dia cukup terkejut dengan pengakuan Marcel jika dia lah yang mengirim tukang untuk memperbaiki atap rumahnya yang bocor.


Namun dia masih sangat ingat, hari itu ke esokan hari setelah hujan deras memporak porndakan atap rumahnya dia di telepon Rudy karena katanya dia berada di rumahnya dan hendak membenarkan atap rumahnya yang rusak, dia meminta izin untuk itu, dia juga bahkan mengirimkan foto dirinya bersama beberapa orang tukang yang sedang merenovasi rumahnya, sehingga Alya percaya jika itu memang Rudy yang berbaik hati padanya. Tapi mendengar obrolan Marcel dengan Darma pun dia percaya jika Marcel yang mengirim para tukang itu untuk merenovasi rumahnya, meski saat itu bertepatan dengan dia yang hendak ke luar kota, sebenarnya jika Marcel yang melakukan itu semua akan terasa lebih masuk akal, karena Marcel berada di sana saat kejadian malam itu dan tahu persis akan kerusakan rumahnya, sementara Rudytidak mengetahuinya, hanya saja dalam hal ini Alya juga merasa kesulitan untuk menentukan siapa yang jujur dan siapa yang berbohong dlam hal ini keduanya punya alibi masing-masing yang cukup kuat.


Termasuk tentang sup dan bubur yang saat itu Rudy akui hasil masakan nya, sementara tadi pagi Marcel juga mengatakan pada Darma jika dia meng-klaim masakan itu dia lah yang membuatnya, masalahnya saat itu dia tertidur dan benar-benar tidak tahu siapa yang sebenarnya memasak masakan yang di peruntukan untuknya itu, yang dia tahu, saat dirinya bangun, Rudy sudah duduk di sebelahnya di ruang tamu, di sofa tempat dirinya berbaring dan sudah berselimut, bahkan dia tidak tahu siapa yang menyelimutinya, karena saat dirinya terbanguun itu Marcel sudah tidak ada di sana lagi, Rudy menyodorkan makanan yang katanya dirinya lah yang memasaknya saat dia tertidur.


Hari ini Alya sengaja meminta ijin untuk pulang lebih cepat dari Salim grup karena ingin mencari kebenaran atas misteri ini, dan mencari siapa sebenarnya yang berbohong pada dirinya, di mulai dari menayakan kebenaran dari mulut Rudy terlebih dahulu.


"Ah,,, itu--- aku tidaksengaja lewat ke depan rumah mu pagi itu dan melihat atap rumah mu rusak, sehingga aku langsung memanggil beberapa anak buah ku untuk memperbaikinya, bukankah saat itu aku sudh menceritakannya saat aku menelpon mu untuk meminta izin dari mu saat memperbaiki atap rumah mu?" Rudy mulai merasa jika dirinya sedang di selidiki oleh Alya.


"Haha,,, sepertinya tekanan pekerjaan yang kamu berikan pad ku terlalu berat sehingga membuat aku jadi pelupa, baiklah, apa pun itu, terimakasih Rud! Ayo aku traktir, agar aku tidak terlalu banyak berhutang budi pada mu." Kata Alya terkekeh.


"Baiklah, kita makan malam bersama, tapi biarkan aku yang membayar, aku tidak terbiasa di bayari oleh perempuan, aku menjadi merasa tidak laki-laki." Rudy bangkit dari kursi kerjanya dan segera menghampiri Alya.


"Sekalian, ada hal yang perlu aku bicarakan juga pada mu." Lanjut Rudy.


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku waktu itu, aku ingin menagih jawaban dari mu," Rudy tiba-tiba terdengar sangat serius.


"Menagih jawaban? Jawaban apa?" Tanya Alya yang panadngannya masih serius dengan sup ayam yang dia pesan tadi.


"Jawaban apa kamu mau menerima ku untuk menjadi kekasih mu? Lihatlah,,, kamu tidak bisa hidup tanpa pria, apa atap yang rusak kamu bisa memperbaikinya sendiri? Aku sangat khawatir, bagaimana aku bisa tenang jika kamu memilih hidup sendirian seperti itu."


Mendengar pertanyaan seperti itu dari Rudy, mood untuk makannya hilang seketika, membuat dia meninggalkan sup yang baru di makannya beberapa sendok saja itu.

__ADS_1


"Aku belum bisa menjawabnya sekarang, ap kamu terburu-buru? Jika iya,,, sebaiknya kamu mencari perempuan lain, karena aku belum bisa memastikan kapan aku siap menjawabnya dan sampai kapan kamu harus menunggu ku, jujur saja aku tidak mau membuat orang lama menunggu, tapi aku juga belum siap." Urai Alya.


"Baiklah, tidak usah terburu-buru, maafkan jika aku terkesan memaksa mu untuk memberi jawaban pada ku, mungkin karena rasa khawatir ku pada mu sehingga aku menjadi terburu-buru ingin mendengar jawaban mu." Rudy mengalah, dia tahu kalau dirinya tidak bisa memaksakan perasaan nya pada Alya.


"Lupakan, lebih baik kamu makan kembali supnya." Rudy menunjuk ke arah sup di makkuk yang kini di abaikan pemesannya.


"Supnya tidak se-enak buatan mu, kapan-kapan, aku di di masakin sup lagi, ya Rud!" ujar Alya.


Rudy yang saat itu sedang menenggak minumannya seketika langsung tersedak mendengar permintaan Alya padanya.


"Kenpa Rud? Pelan-pelan lah,, kalau kamu gak mau masakin aku juga ga apa-apa kok, aku cuma bercanda!" oceh Alya.


"Bukan begitu, aku mau kok, mau!" Jawab Rudy sabil setengah mati menahan sakit di tenggorokan dan saluran hidungnya akibat tersedak tadi.


Sementara Alya hanya menahan tawa di dalam hatinya, sepertinya dia sudah bisa menentukan siapa yag berbohong padanya.


"Rud, besok kan libur, bagaimana jika kamu ke rumah ku untuk memasakan aku sup, sebagai ganti nya, aku akan memberikan jawaban atas pertayaan mu tadi, karena sepertinya aku jatuh cinta dengan masakan mu!" Tantang Alya pada Rudy.


"Hanya karena semangkuk sup, kamu siap untuk memberi ku jawaban?" Rudy terbelalak.


"Bukankah ada pepatah, manjakan perutnya, maka kau aka mendapatkan hatinya!" Seloroh Alya sambil tertawa terbahak.


"Istilahnya dari perut turun ke hati ya, bukan dari mata turun ke hati!" timpal Rudy menggeleng-gelengkan kepalanya sambil ikut terbahak.

__ADS_1


"Gimana, berani menerima tantangan ku?" Tanya Alya.


"Siapa takut!" Rudy menerima tantangan Alya dengan penuh percaya diri.


__ADS_2