Celana merah jambu

Celana merah jambu
TV vs Hp


__ADS_3

"Mas, setelah di pikir-pikir, sepertinya pengeluaran kita ini membengkk karena semua keluarga mu yang menumpang di sini semua, belum lagi kamu masih harus membayar cicilan mobil adik mu, dia sudah bekerja, cukuplah kamu kasih uang muka mobil sebagai modal untuk dia, jangan terus memanjakannya, dia sudah memutuskan berani berumah tangga berarti seharusnya sudah siap secara mental dan finansial, ini malah semua bergantung ke kita." Oceh Hana malam itu karena keinginannya untuk membeli tas edisi terbaru tidak di penuhi oleh Ivan, dengan alasan banyak kebutuhan lain yang belum terpenuhi.


"Ini sudah berjalan sejak dulu, dan selama ini tak pernah ada masalah, padahal dulu penghasilan ku jauh lebih kecil dari sekarang." Ujar Ivan dengan pandangannya yang terus menuju layar laptopnya.


"Jadi maksud mu, aku yang salah? Aku yang tidak bisa mengatur keuangan mu? Apa kamu mau mengatakan kalau hanya mantan istri mu itu yang bisa dan aku tidak becus, gitu?" Mendengar ucapan Ivan membuat wanita yang kini tengah hamil besar itu naik pitam seketika.


"Apa kau tidak bisa memberi ku ketenangan barang sebentar saja? Pekerjaan ku masih banyak sekali, dan setiap hari kau hanya mengeluh dan mengeluh tentang segala hal, membuat ku pusing saja!" Ivan menutup laptopnya, dan menghentikan pekerjaannya.


Bruak!


Suara pintu kamar yang di banting terdengar memekakan telinga sehingga membuat Hana yang sedang rebahan terlonjak kaget, apalagi saat tahu kalau Ivan meninggalkan dirinya begitu saja, padahal dulu, kalau dirinya merajuk sedikit saja, Ivan sudah kalang kabut menyenangkannya dengan memberinya banyak hadiah mewah, shopping semaunya, namun kini semuanya serba berbeda, Hana pikir setelah dia memiliki Ivan seutuhnya dan menjadi istri sahnya akan membuat dia lebih bahagia dari saat dirinya hanya sebagai selingkuhan, namun ternyata semua di luar espektasinya, Hana seperti mendapatkan zonk dalam hadiah permainan kuiz.


Ingin menyesal, tapi semua sudah terlanjur, apalagi kini dirinya sedang hamil besar dan hanya tinggal menunggu beberapa bulan lagi melahirkan bayi mereka, di tambah lagi dirinya juga sudah tidak bekerja, sehingga dia hanya mengandalkan uang jatah pemberian dari Ivan yang menurutnya tidak seberapa karena biaya hidup semua keluarga Ivan menjadi beban Ivan sepenuhnya dari mulai A sampai Z, membuat kadang-kadang Hana merasa kesal dan marah sendiri jika melihat mertua dan ipar-iparnya yang di matanya hanya sebagai beban yang tak berguna.


Sempat terpikir untuk kembali bekerja, sekedar untuk memenuhi kebutuhan nya sendiri, namun siapa yang mau mempekerjakan wanita dalam kondisi hamil besar seperti itu, andai saja perutnya tidak membuncit dengan badan yang sekarang melebar, dia pasti sudah mencari pria hidung belang lainnya yang lebih berduit di bandingkan Ivan, dan segera mengucapkan selamat tinggal pada Ivan yang kini di matanya sudah tak lagi bernilai, tidak lagi istimewa seperti sebelumnya saat mereka masih menjadi sepasang kekasih gelap.


Tak jauh berbeda, Ivan pun kini sedang memikirkan hal serupa dengan apa yang sedang di pikirkan oleh Hana, dia merasa jka percintaan berbau dosa lebih seru dan menantang meski semuanya penuh ke pura-puraan, jika saja Hana tidak mengandung darah dangingnya, tak aa sedikitpun niatan dalam benaknya untuk menikahi Hana, yang kini setelah pernikahan mereka malah menjadikan hidupnya seakan kacau dan tanpa tujuan yang jelas.

__ADS_1


Suara cacing di perut Ivan terus berteriak minta di isi, alih-alih di sediakan makan malam enak di rumah, dia malah di suguhi omelan dan ocehan Hana dengan permintaan yang selalu ada saja seakan tidak ada habisnya, membuat kepala Ivan terkadang pening, sementara kebutuhannya seperti hal sepele, makan saja tidak Hana perhatikan, istrinya itu hanya terus meminta haknya tanpa menjalankan kewajibannya.


Belum lagikondisi fisik Hana yang kini sudah jauh berbeda saat mereka pacaran dulu, Hana yang seksi, modis, selalu tampil rapi dan wangi kini berubah drastis, sering kali dirinya pulang kerja bahkan Hana belum mandi sama sekali, penampilannya lusuh, padahal tidak pernah mengerjakan pekerjaan apapun di rumah, karena Fitri dan Wina yang meng-handle semuanya, entahlah,,, entah apa yang di lakukannya seharian, jika di protes dia hanya akan berlindung di balik kata bawaan hamil, dan jika sudah seperti itu Ivan pun sudah malas berdebat lebih panjang lagi, untung saja untuk kebutuhan biologis dia masih punya selingkuhan yang selalu siap melayaninya kapan pun.


Ivan membelokan mobilnya ke sebuah rumah makan padang favoritnya, dia sudah tidak bisa menahan rasa lapar di perutnya.


Namun tanpa sengaja matanya menangkap seorang wanita yang sedang makan sendirian, wanita yang masih membuat jantungnya berdegup kencang saat hanya sekedar memandang wajahnya saja.


Setelah memesan makanannya, dia bergegas mendekati wanita itu, "Apa kamu sedang merindukan ku, sehingga bernostalgia makan di tempat makan favorit ku?" Ocehnya.


Alya yang tidak sadar dengan kehadiran Ivan di sana karena sedang fokus dengan makanan yang sedang di nikmatinya hanya menaikan bola matanya ke hadapannya, tanpa mengangkat wajahnya, dia juga tidak berminat untuk meladeni ocehan Ivan, lagian mana dia ingat kalau ini tempat makan favorit mantan suaminya itu, dia hanya kebetulan berada di dekat rumah makan itu, dan merasa lapar, jadi dia mampir kesana, tapi dia juga tak mersa perlu mengatakan hal itu pada Ivan, terserahlah dia mau mengatakan apa, dia hanya ingin menikmati makan nya, titik.


"Kamu tidak keberatan aku duduk di sini, bukan?" Kata Ivan saat pelayan membawakan makanan pesanannya ke meja yang sama dimana Alya duduk.


"Ini tempat umum, silahkan saja." Jawab Alya cuek, sambil terus mengunyah makanannya.


"Kemana kekasih mu, tumben dia tidak bersama mu?" Ivan memutar kepalanya menelisik seisi ruangan mencari keberadaan Marcel yang biasanya selalu bersama Alya.

__ADS_1


"Lantas kemana istri mu? Biasanya dia selalu nempel seperti lintah pada mu?" Tanya balik Alya, dan lantas dia melakukan hal yang sama, memutar kepalanya seolah sedang mencari keberadaan Hana, padahal dia hanya berniat mengejek Ivan saja.


Melihat hal itu Ivan hanya meringis karena dia menyadari jika Alya sedang meledeknya.


"Aku hanya heran saja, bisanya kalau selingkuhan itu biasanya selalu di istimewakan, selalu di perhatikan , dan selalu di nomor satukan meski posisinya bukan yang pertama, apa kalian putus? Atau ketahuan istrinya?" Nyinyir Ivan, mirip emak-emak tukang gosip di perumahan.


"Apa sudah selesai, sayang?" Tanya Marcel yang suaranya tiba-tiba terdengar dari balik punggung Ivan, membuat pria itu tersedak dengan makanannya karena Marcel memanggil Alya dengan dengan sebuatan 'sayang'.


Itu menyakitkan, dan hatinya masih belum bisa menerima jika ada pria lain dekat dengan mantan istrinya, membuat lapar di perutnya hilang seketika an berubah menjadi rasa marah yang sekuat tenaga coba dia tahan.


"Ah, sudah mulai go publik rupanya? Hati hati istri anda sampai tahu, anda bisa kehilangan semua nya dalam sekejap, memang duania perselingkuhan itu indah, ibarat kata istri kita itu televisi, dan selingkuhan adalah hp, jika di rumah nonton tv, jalan-jalan bawa hape," Oceh Ivan yang justru diabaikan oleh Marcel yang malah mendekati Alya dan meraih bahu Alya, membuat Ivan semakin pans di buatnya.


"Iya, seperti itu. Tv di rumah jarang di sentuh, karena cukup pake remot sesekali jika perlu, sementara hape di pegang, di sentuh, dan di sayang-sayang setiap saat." Sindir Ivan lagi dengan mata yang terfokus pada tangan Marcel yang bertengger di bahu Alya.


"Apa kamu tau, ibarat apa kamu di mata ku Van?" Tanya Alya yang mulai risih dengan ocehan Ivan pada dirinya dan Marcel.


"Kau itu ibarat telepon rumah, dulu istrimewa dan penting, namun sekarang sudah tidak berguna dan mulai terlupakan!" Ujar Alya seraya berdiri dan meninggalkan Ivan dengan rasa kesal dan marahnya sendirian.

__ADS_1


__ADS_2