
Setengah berlari Marcel bergegas menyusul Alya, setelah sebelumnya dia menyerahkan Daniel ke Sita untuk di bawanya pulang.
"Alya tunggu!" Panggil Marcel di pelataran parkir perusahaan, dimana Alya sedang menunggu ojol pesanannya untuk membawanya segera pergi dari tempat itu.
"Ada apa lagi pak? Banyak orang melihat kita di sini, anda tidak sedang sengaja ingin mempermalukan saya, bukan? Anda tidak sedang ingin orang-orang mengira saya sedang merayu anda, bukan?" Ujar Alya dengan kesal.
"Al, tidak seperti itu. Aku hanya---"
"Pak, tolong mengerti dan hormati keputusan saya.Tolong jangan buat semua orang memandang rendah saya karena di cintai pria beristri, hidup saya sudah penuh masalah, jangan tambah masalah lagi dalam kehidupan saya, saya mohon." Alya mengiba, memohon pada Marcel untuk tida mengganggunya lagi, kejadian tadi di dalam ruangan Marcel cukup membuat dirinya tertekan oleh pertanyaan-pertanyaan Sita, dan sukses membuat dirinya merasa menjadi pelakor kejam, padahal mereka tidak mempunyai hubungan apapun.
"Aku akan mengantar mu pulang." Lirih Marcel.
"Pak. Tolong biarkan saya sendiri." Kali ini Alya mengatakan nya sambil berlalu menaiki ojek online pesanannya yang kini sudah datang dan menunggu dirinya.
Marcel hanya bisa pasrah dan membiarkan Alya pergi, dia tau kalau Alya sepertinya butuh waktu sendiri, ada banyak hal yang membutuhkan perenungan, ada beberapa hal yang hanya bisa di atasi dengan cara menyendiri dan memikirkannya dalam beberapa waktu.
Sore hari saat Alya sedang menutup firma yang sudah di tinggalkan oleh para karyawan karena jam kerja sudah selesai, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan pintu masuk firma, Alya menghela nafas kasar saat mengetahui siapa yang datang, seorang wanita dengan baju bermerek dan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya berusaha menerobos masuk ke dalam pintu yang hendak Alya tutup itu.
"Ada apa lagi bu Sita, bukankah pembicaraan kita sudah selesai dan sudah clear, tadi?" Kali ini Alya tidak gugup seperti sebelumnya saat berbertemu dan berbicara dengan Sita.
Setelah kejadian tadi pagi di Salim grup, Alya merasa saat ini dirinya tidak harus takut atau merasa tidak enak hati lagi pada Sita, karena dia sudah menjelaskan segamblang-gamblangnya, dan menurutnya seharusnya Sita pun tidak mengganggunya lagi.
"Tentu saja belum." Ujar Sita menahan pintu kaca itu agar Alya tidak menutupnya.
"Belum clear, atau belum mendapat jawaban puas seperti yang anda inginkan?" Sinis Alya.
"Hahaha,,, aku rasa pembicaraan kita kali ini akan seru, karena tadi pagi aku rasa bukan obrolan, melainkan hanya sesi tanya jawab, dan kamu juga terlihat tidak nyaman tadi, itu terasa tidak adil." Sita menyeringai.
__ADS_1
"Aku punya penawaran menarik untuk mu," lanjut Sita.
"Saya tidak tertarik!" Tolak Alya dengan tegas.
"Kalau begitu, aku ingin meminta pertolongan pada mu," kata Sita mengganti kalimatnya.
"Maaf, hidup saya sudah banyak sekali masalah, untuk menolong diri sendiri agar keluar dari masalah saja rasanya sulit, sepertinya saya tidak bisa membantu anda." Tolak Alya lagi, dia betul-betul tidak ingin terlibat apapun lagi dengan hal-hal yang menyangkut rumah tangga Marcel.
"Ah, baiklah. Bagaimana kalau aku hanya meminta mu untuk mendengarkan ku, ada yang perlu aku sampaikan pada mu, dan ini penting." Sita masih berusaha membujuk Alya.
Tak ingin berdebat lebih lama lagi, akhirnya Alya mengalah dan mempersilahkan Sita untuk masuk .
"Aku tak menyangka jika Marcel ternyata se-cinta itu pada mu." Sita tersenyum sumir, sambil menatap menelisik setiap penjuru ruangan firma.
"Apa maksud anda?" Alya menatap tajam dengan penuh tanda tanya.
"Ah, bukan apa-apa. lupakan saja!" Sita mengibaskan tangannya di udara.
"Aku dan Marcel sepakat untuk berpisah bulan depan, setelah ulang tahun Salim grup, apa kamu akan menerima atau setidaknya mempertimbangkan untuk menerima cintanya?" Ungkap Sita.
"Kenapa anda sangat ingin tahu? Apa yang terjadi pada kehidupan kita satu jam kedepan saja saya tidak tahu, bagaimana saya harus menjawab hal yang belum terjadi, saya bukan Tuhan." Elak Alya.
Tentu saja dia tidak bisa berani menjawab iya atau tidak, karena dia tidak ingin termakan oleh ucapannya sendiri jika ternyata suatu saat Tuhan menakdirkan dirinya berjodoh dengan Marcel sekuat apapun dia menolak.
"Ada yang harus aku pastikan sebelum aku benar-benar berpisah dengan Marcel, salah satunya dengan wanita seperti apa dia akan bersama, nanti." Ujar Sita terkesan misterius.
"Jika anda cukup khawatir tentang siapa wanita yang nanti akan mendampingi suami anda, kenapa anda tidak pertahankan saja rumah tangga anda dan pak Marcel, bukankah itu akan membuat hati anda lebih tenang?"
__ADS_1
"Dia tidak mencintai ku!"
"Kenapa anda tidak berusaha untuk agar dia mencintai anda, dari pada harus repot menyortir wanita yang akan menggantikan posisi anda kelak?" Tanya Alya lagi.
"Karena aku juga tidak mencintainya, dan tidak mungkin untuk tetap bersamanya." Seloroh Sita yang tentu saja membuat Alya semakin kebingungan.
Sita sadar kalau Marcel tidak mencintainya, dan dia juga menyatakan kalau tidak mencintainya, lantas untuk apa dia repot-repot memastikan kalau wanita yang bersama Marcel kelak harus sesuai dengan kriterianya, apa hubungannya, toh setelah mereka berpisah kehidupan yang mereka jalani akan masing-masing dan tidak saling berhubungan lagi.
"Saya tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin anda sampaikan pada saya, semuanya tidak bisa saya cerna di pikiran saya."Jujur Alya mengemukakan apa yang kini tengah di alaminya.
"Bisakah kamu menerima cinta Marcel? Aku rasa kamu wanita paling cocok untuk menggantikan posisiku sebagai istrinya."
Entah pertimbangan dan pemikiran apa yang tiba-tiba membuat Sita mengatakan hal seperti itu pada Alya, sehingga membuat Alya sangat kaget mendengar permintaan Sita yang terdengar konyol itu. Permainan apa yang sedang Sita mainkan sekarang ini sebenarnya? Pikir Alya bingung.
"Apa maksud dari semua ini, bu Sita?" Ketus Alya karena merasa Sita sudah terlewat ngawur dalam obrolannya kali ini.
Sita mengeluarkan sebuah amplop panjang dari tas jinjingnya, dan memberikannya pada Alya.
"Bacalah, aku rasa setelah kamu membacanya, kamu akan mengerti kenapa aku mengatakan semua ini," kata Sita mempersilahkan Alya untuk membaca isi surat dalam amplop bertuliskan rahasia di depan amplopnya itu.
Alya menerima dan lantas membuka amplop berwarna putih panjang itu dengan hati-hati dan mulai membacanya dengan sangat teliti, bahkan Alya sampai dua kali mengulang membaca isi surat yang terdiri dari dua lembar itu, seolah ingin memastikan kalau apa yang sedang di bacanya itu benar dan dia tidak salah lihat atau salah menyimpulkan.
"Ya, benar. Itu yang terjadi, kamu tidak salah. Aku harap kamu mempertimbangkan permintaan ku. Aku tau kalian saling mencintai." Ujar Sita yang seolah paham kalau saat ini Alya sedang menyangsikan isi surat yang sedang di bacanya saat ini, sehingga Alya terlihat kebingungan.
"Aku mohon!" Pinta Sita memelas, membuat Alya semakin serba salah di buatnya, dia juga tidak bisa menolak atau menyetujui permintaan Sita yang di nilainya terbilang berat baginya, dan dia tidak yakin jika dirinya sanggup melakukan apa yang di harapkan oleh Sita dari dirinya.
**
__ADS_1
Mampir dan dukung cerita baru othor yuk, judulnya CINTA DIANTARA BENCI.