
Ivan sudah di perbolehkan keluar dari rumah sakit, selama seminggu penuh Alya merawat dan menunggui Ivan di sana, selama itu pula Marcel seolah.menjauh dan mengilang darinya, beberapa kali Alya memghubungi Marcel, namun Marcel tak pernah mau menerima panggilannya, bahkan puluhan pesan yang Alya kirim pun tak satu pun di balasnya.
Jujur hati Alya gundah mikirkan Marcel yang tiba-tiba menjauh darinya itu, seperti ada yang hilang dari hidup nya ketika seminggu dia bisa tidak berjumpa Marcel.
"Apa kamu merindukannya? Kamu terlihat gelisah setiap hari, apa dia benar-benar sangat berarti bagi mu?" Tanya Ivan di sela mereka membereskan baju dan barang-barang yang akan di pulang Ivan dari rumah sakit.
Alya menghela nafas berat dan sangat panjang, dia tidak yakin apa kah dia akan terkesan kejam jika berkata jujur tentang perasaannya, terlebih setelah apa yang di lakukan Ivan padanya, meskipun Alya tidak berniat untuk kembali bersama dengan Ivan, namun setidaknya dia tidak mau menyakiti hatinya dengan kejujuram dirinya yang memang mencintai Marcel saat ini.
"Hahaha,,, sepertinya aku sudah tau jawabannya meski tanpa kamu jawab." Ivan tertawa getir saat mengatakan hal itu pada Alya.
__ADS_1
Terlihat bagaimana sesah payahnya dia berusaha pura-pura tersenyum dengan hati yang tercabik karena mengetahui kebenaran jika mantan istri yang dia sia-siakan kini telah mendapatkan sandaran hatinya, dia sudah melabuhkan cintanya pada seseorang yang dengan berat hati untuk Ivan akui jika Marcel adalah pria baik dan layak untuk mendapatkan cinta Alya di banding dirinya.
"Maaf, tapi memang benar aku mencintainya." Lirih Alya.
"Tak.perlu minta maaf, aku sadar dengan apa yang telah aku perbuat pada mu, dengan kesalahan-kesalahan ku pada mu yang pasti sulit untuk termaafkan, kamu layak mendapatka pria yang beribu kali lebih baik dari ku, yang mampu membahagiakan mu, dan aku rasa Marcel mampu mewujudkan itu semua untuk mu." Ujar Ivan yang sejak di rumah penyekapan saat itu sudah mulai menyadari jika perasaan Alya untuk Marcel angatlah dalam, begitu pula sebaliknya, sebenarnya sejak itu dia sudah memutuskan untuk berhenti mengejar Alya dan merelakan Alya untuk bahagia bersama pria yang lebih mampu membahagiakannya di bandingkan dengan dirinya yang terus berulang kali menyakitinya, hanya saja saat itu dia terlanjur bekerja sama dengan Sita untuk melakukan kejahatan itu, meski pada ujungnya dia pun menyesali karena tidak menyangka jika ternyata Sita malah mencelakai Alya.
"Aku sudah memaafkan mu, terlebih kamu juga sudah berkorban se-jauh ini untuk ku, tapi maaf, aku tidak bisa untuk kembali bersama mu." Lirih Alya dengan nada yang menyesal.
Mata Alya berkaca-kaca, ternyata di balik semua musibah dan rentetan kejadian yang menurutnya sangat menguras tenaga dan juga emosinya kini membuahkan hasil manis, di mana Ivan dengan besar hati melepaskan Alya dan merelakan Alya mencari kebahagiaannya sendiri.
__ADS_1
"Terimakasih Van," lirih Alya terharu.
"Hanya ini yang bisa aku berikan, kejarlah kebahagiaan mu, aku tak akan mengganggu hidup mu, aku hanya akan melihat mu dari kejauhan, dan ikut bahagia saat kau merasa bahagia." Ivan merentangkan tangan kanannya karena tangan kirinya masih terluka, Alya tau maksudnya mereka kini berpelukan, saling melepas semua permasalahan dan sisa-sisa kemarahan dan ganjalan yang sebelumnya masih terendap di dada masing-masing, kini mereka memulai hubungan mereka yang baru sebagai teman yang hanya akan saling mensupport dalam kebaikan satu sama lainnya.
"Hari ini aku harus memenuhi panggilan polisi sebagai saksi, dan meluruskan kejadian yang sebenarnya kalau dalam kejadian itu aku tidak hanya sebagai saksi, namun juga ikut dalam perencanaan kejahatan, aku akan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan, sekaligus memberikan kejelasan pada pihak berwajib jika Sita pelaku penembakan ku, bukan ayahnya." Tutur Ivan.
"Baiklah, kita akan pergi ke sana bersama, karena aku pun mendapat panggilan yang sama dari pihek kepolisian." Kata Alya yang tiba-tiba merasa bersemangat untuk mendatangi kantor polisi hari ini karena dia yakin, jika dirinya dan juga Ivan mendapat pangilan sebagai saksi hari ini, maka tidak menutup kemungkinan jika Marcel pun akan mendapat panggilan yang sama hari ini, dan ini kesempatan baginya untuk bertemu dengan Marcel yang sudah beberapa hari ini tidak bisa dia temui bahkan tiak bisa dia hubungi.
"Mas," lirih Alya memanggil Marcel ternyata sesuai perkiraannya, dia benar-benar berada di kantor polisi saat ini, rupanya dia mendapatkan panggilan yang sama juga dengan dirinya.
__ADS_1
Namun Alya yang hendak menghampiri Marcel menghentikan langkahnya saat dia menyadari jika Marcel sedang menggenggam erat tangan Sita yang kini tengah duduk tepat di sebelahnya.
Jantung Alya terasa seperti berhenti berdetak sepersekian detik melihat pemandangan itu, sungguh apa yang di lihatnya di luar dugaan, entah apa maksud dari tautan genggaman tangan mereka, terlebih Marcel juga terlihat seperti acuh tak acuh saat melihat Alya ada di sana, di ruangan yang sama dengan mereka, melihat semuanya, bahkan Marcel seperti tak berminat untuk membalas sapaan Alya, dia malah membuang pandangannya jauh-jauh saat melihat Alya yang datang bersama Ivan ke tempat itu.