
"Aku tidak ingin bertele-tele, aku hanya ingin memastikan, apa benar bayi yang ada di dalam perut putri ku kali ini adalah darah daging mu?" Tanya Haryanto yang tidak ingin membuang waktu dengan berbasa basi dalam pertemuan nya kali ini dengan Marcel dan Sita.
Mendapat todongan pertenyaan seperti itu, tentu saja membuat Marcel kelabakan dan kebingungan harus menjawab apa, dia juga tidak tahu apa alasan dan tujuan Sita mengatakan hal itu pada ayahnya.
Marcel menoleh ke arah Sita seraya meminta penjelasan lewat tatapan matanya mengapa mantan istrinya itu tiba-tba memberi tahu perihal itu pada ayahnya tanpa berdiskusi atau memberi tahunya terlebih dahulu, kalau begini,,, Marcel jadi merasa maju kena mundur kena karena takut salah menjawab.
Sementara Sita yang di harapkan Marcel bisa membantunya menjawab pertanyaan Haryanto malah pura-pura tidak melihat ke arahnya, dia malah lebih memilih untuk membuang pandangannya jauh-jauh demi menghindari tatapan mata Marcel yang meminta nya untuk ikut menjawab pertanyaan ayahnya.
"Kau tidak menjawabnya, berarti itu---" Ujar Haryanto penuh kecurigaan, karena Marcel seperti ragu dan bahkan tidak dapat menjawab pertanyaannya.
"I-Ini benar-benar anak kami, buah hati aku dan Marcel, ayah. Aku tidak tahu kalau aku sedang mengandung saat kami memutuskan untuk bercerai." Sambar Sita.
"Lantas apa rencana kalian setelah tahu kalau ternyata kalian akan mempunyai anak seperti ini, bukankah akan lebih baik jika kalian rujuk kembali?" Tanya Haryanto.
__ADS_1
"Maaf. Saya tidak bisa." Tolak Marcel dengan tegas, sebenarnya dia sudah bisa menebak jika Haryanto akan menyuruhnya rujuk saat dia menanyakan masalah kehamilan Sita.
"Kenapa? Apa karena wanita itu? Kekasih mu itu?" Cibir Haryanto, yang Marcel mengerti jika wanita yang di maksud adalah Alya.
"Bukan karena Alya atau karena siapapun, saya tidak mau kembali rujuk karena memang saya sendiri tidak menghendakinya, jadi tolong jangan menyalahkan siapapun atas keputusan saya ini, pak." Ucap Marcel lugas, tentu saja dia tidak akan pernah terima jika Alya selalu saja menjadi orang yang di tuduh dan di persalahkan atas apa yang terjadi pada rumah tangga dan kehidupan nya.
Apalagi jika saja Haryanto tau kalau putrinya itu kembali melakukan kesalahan yang sama, yaitu mengandung bayi dari pria yang tak jelas asal usulnya dan yang paling penting, lagi-lagi pria itu tidak mau bertanggung jawab. Marcel yakin jika pria paruh baya mantan mertuanya itu tidak akan pernah berani untuk mengatakan hal-hal seperti tadi padanya.
"Ayah, untuk masalah anak ini, kami sudah sepakat untuk merawatnya, tapi kami juga sepakat untuk tidak kembali rujuk, tolong hargai kesepakatan kami." Kali ini Sita ikut angkat bicara.
"Marcel, aku akan memberikan separuh saham ku pada mu jika kau mau kembali rujuk dengan putri ku, aku tidak mau cucu ku terlahir dari orang tua yang berpisah." Pinta Haryanto dengan iming-iming yang harusnya menggiurkan.
Jika saja saat ini Salim, ayahnya Marcel ada di ruangan itu, sudah pasti ayahnya itu akan menyetujuinya dan memaksa Marcel untuk menerima penawaran Haryanto.
__ADS_1
"Maaf pak, saya tetap tidak bisa. Jika pemanggilan saya ke sini hanya untuk tawar menawar dan jual beli harga diri saya, mohon maaf saya permisi pulang, karena banyak hal positif lain yang harus saya kerjakan, terimakasih, saya permisi!" Pamit Marcel melengos tanpa ingin menoleh lagi ke belakang, harga dirinya cukup terluka karena lagi-lagi Haryanto ingin membeli dirinya dengan uang, beruntung kali ini Marcel punya kesempatan untuk menolaknya.
"Dasar sombong, tidak tahu diri! Lihat saja, apa yang bisa kau lakukan tanpa Salim grup? Kau akan menjadi gembel, gelandangandangan yang tidak punya pekerjaan, dan ingat, suatu hari nanti kau pasti akan memohon untuk menjadi menantu ku kembali, cam kan itu!" Maki Haryanto yang juga merasa tersinggung karena Marcel tidak menerima penawarannya itu, padahal dia sudah yakin jika iming-iming separuh saham miliknya yang di tawarkan pada Marcel itu akan membuat mantan menantunya itu tertarik dan kembali menjadi suami dari putrinya dan selain itu perusahaan pun akan kembali di pegang oleh Marcel dimana kepemimpinannya jujur saja sangat memuaskan bagi Haryanto karena berkat Marcel perusahaannya semakin melejit dan keuntungan naik beberapa persen.
"Cih, memohon? Tidak akan pernah!" Decih Marcel sambil berlalu.
"Ayah, aku sudah membuktikan kalau anak ini adalah benar anak Marcel, ayah harus memenuhi janji ayah untuk memeberikan perusahaan pada ku, bukankah ayah berjanji jika aku hamil anak Marcel, maka semua perusahaan ayah akan di berikan pada ku dan juga anak ku ini!" Ujar Sita sesaat setelah Marcel keluar dari ruangan itu.
"Tidak! Aku tidak akan memberikannya, kecuali kau mampu membuat Marcel menjadi suami mu lagi, maka saat acara pernikahan itu lah akan sekalian di adakan acara penyerahan semua perusahaan ku untuk mu dan anak kalian!" Tolak Haryanto.
"Ayah, kenapa jadi seperti ini, bukannya sejak awal syaratnya hanya aku mengandung anak Marcel, itu saja!" Protes Sita.
"Karena aku tidak percaya dengan kemampuan mu, jika aku percaya dengan kemampuan mu, maka sudah sejak lama aku mempercayakan perusahaan-perusahaan ku untuk kau kelola."
__ADS_1
"Ayah tidak pernah memberi ku kesempatan, bagaimana mungkin ayah mengatakan aku tidak mampu?" Sita berapi-api.
"Menjaga kehormatan mu saja kau tidak mampu, sampai terjadi hamil di luar nikah, lantas aku selamatkan dengan cara menikahkan mu dengan pria baik, berkompeten dan dapat di andalkan dalam sehgala hal, namun kau juga tidak dapat menjaga pernikahan mu. Bagai mana aku bisa percaya padamu? Entah dosa apa aku sebelumnya sehingga mempunyai anak sebodoh kau ini!" Haryanto tak kalah berapi-api, dia mengatakan apa saja yang ingin dia katakan saat ini karena saking kecewa dan marahnya, tak peduli jika perkataannya itu akan memenyakiti hati putrinya, dia terlanjur keccewa dengan Sita, anak satu-satunya yang menurut Haryanto tidak dapat di andalkan itu.