Celana merah jambu

Celana merah jambu
Rencana licik


__ADS_3

Sita membolak balikan kartu nama yang akhirnya kemarin malam dia ambil dari meja setelah Ivan pergi menjauh.


Mengingat bagaimana keras kepalanya sang ayah yang keukeuh hanya akan memberinya perusahaan jika dirinya kembali bersama Marcel, membuat Sita yang sempat melepaskan Marcel secara suka rela itu terpaksa harus berusaha mencari akal untuk menariknya kembali ke dalalam kehidupannya, bahkan kalaubbisa dia ingin mengurung Marcel dalam kehidupan rumah tangga bersamanya.


"Cih, apa iya aku harus menjilat ludah ku sendiri?" Gumam Sita merasa gamang untuk menghubungi Ivan di nomor telepon yang tertulis jelas di sana, berulang kali Sita hanya mengetik nomor itu di layar ponselnya namun tidak memanggil nomor tersebut.


Tapi rasa-rasanya Sita juga sudah kehilangan cara untuk mendapatkan kembali Marcel baik itu dengan cara yang baik maupun menggunakan cara licik yang saat ini sedang di lakoninya, namun sepertinya tidak juga menunjukkan hasil.


**


Suara dering telepon terus terdengar dari ponsel Alya yang terlihat hanya memandangi nama pemanggil yang muncul di layar ponselnya, dia merasa ragu untuk menerima panggilan itu.


"Sita, ada apa dia menghubungi ku?" Gumam Alya sambil matanya terus melihat ke arah layar ponsel.

__ADS_1


Dengan perasaan yang masih terasa ragu akhirnya dia memberanikan diri untuk menerima panggilan dari Sita, setelah dia tahu kebusukan wanita itu kini dia juga ingin tahu kebohongan apa lagi yang akan Sita katakan padanya.


"Oke, baik!" Ujar Alya mengakhiri percakapannya dengan wanita yang belakangan dia tahu jika semua ucapannya dan juga kebaikan yang di tunjukkan kepadanya selama ini hanyalah palsu belaka, wanita itu tak lebih seperti ular berbisa yang kapan saja bisa menyuntikan racun pada dirinya jika dirinya lengah sedikit saja.


Rupanya Sita mengajak Alya untuk bertemu di sebuah resto, katanya ada yang ingin dia bicarakan mengenai Marcel dan Daniel, meskipun agak terdengar rancu dimana Sita ingin membicarakan masalah anak dan mantan suaminya pada dirinya, namun rasa penasaran Alya mengalahkan segalanya, akhirnya dia menyetujui untuk bertemu dengan Sita di tempat yang telah mereka sepakati sebelumnya, bahkan Alya membatalkan janji pertemuannya dengan salah seorang klien perusahaan yang ingin menggunakan jasanya demi menemui Sita siang itu.


Namun saat Alya sudah sampai di resto tempat mereka janjian, Alya justru tidak menemukan Sita di sana, padahal dia sengaja terlambat setengah jam dari waktu janjian mereka.


"Maaf, apa anda nona Alya yang membuat janji dengan nona Sita?" Tanya seorang pria yang berpakaian rapi dan bertanya dengan sangat sopan.


"Saya sopir nona Sita, beliau berpesan agar saya membawa nona ke rumah, karena tuan Daniel tiba-tiba rewel karena sedang demam , jadi jika tidak keberatan, pertemuan anda berdua di alihkan ke kediaman nona Sita. Bagaimana, jika anda berkenan, saya akan mengantarkan anda ke sana," ujar pria yang mengaku sebagai sopir pribadi Sita itu masih dengan nada sopan.


Mendengar nama Daniel di bawa-bawa, apa lagi di katakan sedang dalam keadaan rewel karena deman, Alya yang memang merasa kangen dengan bocah yang sempat beberapa hari di asuhnya itu langsung mengiyakan tanpa pikir panjang lagi, dia sangat ingin bertemu dengan Daniel, dan untungnya sekarang ada kesempatan baik itu.

__ADS_1


"Tunggu, mengapa ini seperti bukan jalan ke arah rumah Sita?" Tanya Alya yang sempat satu kali datang ke tempat kediaman Sita dan Marcel dulu, untuk bertemu Sita yang mengudangnya saat itu.


Meski baru pernah sekali ke sana, namun Alya yakin jika ini bukan rute yang benar untuk menuju ke rumah itu.


"Saya mengambil jalan alternatif lain nona, karena jalan utama macet total akibat ada perbaikan jalan, belum lagi ini jam istirahat siang, tenang saja, saya dan nona Sita biasa menggunakan jalan ini," ujar sopir yang membawanya itu.


Namun entah mengapa perasaan Alya menjadi sangat tidak enak, terlebih saat dirinya mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi Marcel untuk berjaga-jaga, tiba-tiba mobil tersentak dengan hebat akibat sang sopir mengerem secara mendadak, sehingga mengakibatkan ponsel yang tadinya berada di tangan Alya kini terjatuh ke lantai mobil.


"Maaf nona, tadi ada motor lewat tiba-tiba memotong jalur, jadi saya mengerem secara mendadak. Apa anda baik-baik saja?" Tanya sopir itu menoleh ke kursi belakang dimana Alya kini duduk sendirian.


"Ah tidak apa-apa, saya hanya kaget saja." Kata Alya menggelengkan kepalanya.


"Tapi nona, hidung anda berdarah!" Sopir itu menyodorkan beberapa lembar tisyu ke hadapan Alya.

__ADS_1


Belum saja Alya menolak uluran tangan sang sopir karena merasa hidungnya baik-baik saja, sopir itu sudah mengusapkan tisyu itu ke area hidungnya, ada bau aneh tercium dari tisyu itu, baunya sangat menyengat langsung masuk ke pangkal hidung dan kontan membuat kepala Alya terasa pusing juga berat, pandangannya pun seketika kabur di iringi dengan kelopak mata yang seakan di tarik kuat untuk menutup padahal hati dan pikiran Alya menolaknya.


Alya kemudian sadar jika dirinya kini tengah di bius, namun apa daya Alya tidak sempat melawannya, hanya beberapa detik dari itu, Alya sudah tidak sadarkan diri dan tergeletak lemah di kursi penumpang belakang.


__ADS_2