Celana merah jambu

Celana merah jambu
Skorsing


__ADS_3

"Aku tau, Aku percaya!" Ujar Marcel pelan.


"Ba-Bapak percaya dengan apa yang saya ucapkan? Percaya pada kalimat yang mana dulu, nih?" Alya buru-buru mengusap air matanya yang terus menetes tanpa terkendali, dia mulai bertanya-tanya apa maksud dari perkataan bosnya itu.


'Aku tau, aku percaya' apa itu semua bosnya katakan hanya untuk agar dirinya berhenti menangis saja, atau untuk menyenangkan dirinya saja.


"Apa ada kalimat lain yang kau katakan sejak tadi selain kata-kata 'saya tidak bersalah, saya tidak melakukannya'?" Marcel menirukan rengekan Alya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Karena memang itu kenyataannya, saya tidak bersalah, saya sama sekali tidak membocorkannya." Ulang Alya.


"Isshhh,,,, butuh berapa ribu kali lagi kau ulang perkataan mu itu, seperti kaset rusak yang memutar bait yang sama, kau pikir aku tuli dan pikun sampai tidak bisa mendengar dan mengingat ucapan mu?" Kesal Marcel.


"Maaf, saya hanya tidak tahu harus berkata apa lagi selain itu." lirih Alya.


"Jika kau tak merasa menceritakan hal itu pada suami mu, apa kau punya orang lain yang kau curigai membocorkan itu pada suami mu?" Tanya Marcel.


"Hanya dua asisten ku dan Pak Joko yang tau masalah ini, Pak Joko sama sekali tidak mengenal Ivan, sementara kedua asisten ku, mereka kenal Ivan, tapi mereka bersumpah tidak pernah menceritakan masalah itu pada Ivan atau siapapun," urai Alya.


"Dan kau percaya?" Marcel mengangkat sebelah alisnya.


"Tentu saja aku percaya!"


"Haha, kau sangat naif, suami mu yang satu rumah dan setiap hari bersama bahkan pernah berjanji di hadapan Tuhan untuk mencintai dan menyayangi mu seumur hidupnya saja menghianati mu, dan kau masih percaya dengan orang lain?" Cibir Marcel.


"Lantas kenapa bapak mengatakan kalau anda percaya dengan saya, bukankah kita juga orang lain?" Alya balik mencibir Marcel.


"Aku hanya pusing mendengar rengekan mu, dan aku pikir jika aku mengatakan kalau aku percaya pada mu, kau akan berhenti merengek, tapi nyatanya tidak."


Alya tersenyum sumir, benar saja tebakannya, perkataan Marcel tadi hanya basa-basi agar dirinya berhenti menangis dan merengek saja, tak ada seorang pun yang percaya pada ucapannya, Alya bahkan hampir merasa putus asa dengan semua tuduhan yang mengarah padanya saat ini.


"Apa ada orang lain yang kau curigai? Seseorang yang mungkin dekat dengan suami mu?"


Alya terdiam, dia ragu untuk menjawab pertanyaan bos besarnya itu, bukankah dengan dia menjawab pertanyaan Marcel, sama saja dia membuka aib rumah tangganya sendiri, lagi pula mereka tidak sedekat itu, bertemu pun baru hari ini.


"Biasanya feeling istri itu tajam." Sambung Marcel lagi.


"Aku tidak yakin, tapi apa mungkin itu kartika?" Ucap Alya pada akhirnya.

__ADS_1


"Kartika anaknya Pak Anwar? Kenapa berpikiran itu dia, punya bukti?"


Alya menggeleng, "Hanya menebak saja." Ujarnya.


"Suami mu ada affair sama Kartika?"


Pertanyaan Marcel yang terkesan blak-blakan itu membuat Alya sedikit terperangah, dia tidak menyangka juka atasannya itu tergolong tipe orang yang suka mengatakan apa yang ada di pikirannya tanpa rasa sungkan dan terkesan tak peduli dengan perasaan lawan bicaranya, apakah tersinggung atau keberatan?


"Apa saya harus menceritakan masalah pribadi rumah tangga saya juga pada anda?" Sinis Alya, dari nada bicaranya sudah bisa menjelasakan kalau dia merasa keberatan untuk menjawab pertanyaan Marcel.


"Oke, aku pikir kamu berpikiran terbuka, kita sedang dalam konteks membahas masalah audit yang bocor lewat ocehan suami mu, jika yang membocrkan bukan suami mu, aku juga tidak akan menanyakan hal-hal yang menyangkut rumah tangga mu, kau pikir aku tak ada kerjaan dan tukang gosip seperti suami mu!" Giliran Marcel yang terlihat kesal.


"Saya mendapat informasi itu dari seseorang, katanya mereka memang dekat."Ungkap Alya pada akhirnya setelah di rasa apa yang di sampaikan Marcel padanya tadi ada benarnya, bosnya itu bukan sedang mengorek kehidupan rumah tangganya, namun ini semata karena melibatkan dirinya dan sang suami, jadi secara otomatis kehidupan rumah tangga nya juga harus sedikit di ekspose pada Marcel demi mencari kebenaran dari masalah ini, lagi pula rumah tangga mereka juga sudah di ujung tanduk sebelum masalah ini muncul pun, apalagi setelah apa yang di tuduhkan Ivan padanya tadi di JT, membuat Alya merasa tak ada yang perlu di pertahankan lagi dalam kehidupan rumah tangganya.


Hidup bersama suami yang berselingkuh di belakangnya dan menikam di depan matanya membuat Alya sudah tak punya keinginan lagi untuk melanjutkan rumah tangganya bersama Ivan.


"Ada wanita lain yang kau curigai lagi selain Kartika?"


Alya terlihat berpikir beberapa saat ,"Hana, sekretarisnya Ivan, saya pernah melihat mereka berduaan di suatu tempat."


"Ishhh, mana ada! Itu semua hanya kebetulan, saya bukan tipe istri yang posesiv seperti itu, hanya saja mungkin Tuhan sengaja memperlihatkannya pada saya." Alya tidak terima.


**


Sebuah amplop coklat di lemparkan Joko ke meja Alya begitu saja sore itu.


"Ini surat skorsing untuk mu, maaf aku tidak bisa membantu, karena surat ini perintah langsung dari bos besar, bahkan di antar langsung oleh Pak Darma, asisten pribadi bos besar."


Sontak saja perkataan Joko itu tak hanya mengagetkan Alya, namun juga mengagetkan Dinda dan Utari yang sama-sama berada di ruangan itu, mereka saling berpandangan satu sama lainnya, tak percaya dengan apa yang dikatakan pimpinan mereka.


Apalagi masih teringat jelas dalam ingatan Alya, saat perjalanan dari JT ke perusahaannya, Marcel masih sempat tertawa-tawa, tak ada sedikit pun dia menyinggung masalah skorsing, lagi pula semua pertanyaan Marcel sudah dia jawab semuanya tanpa ada yang di tutup-tutupi, namun mengapa justru dirinya berakhir dengan surat skorsing? Lagi pula, jika memang berniat akan memberinya surat skorsing, kenapa tidak langsung saja tadi? Kenapa harus lewat Joko dan di depan para asistennya, apa Marcel sengaja ingin membuat dirinya malu dan semakin merasa terpuruk setelah fitnah sang suami yang tadi dia saksikan dengan jelas, tak adakah rasa kasihan sedikitpun dari Marcel untuknya, bagaimana pun dirinya seudah mengabdi pada perusahaannya selama lebih dari 3 tahun, 'ini tidak adil!' Batinnya.


Alya meremas surat yang belum sempat dia baca itu saking kesalnya, kata-kata dari Joko sudah dapat mewakili isi dari surat itu, dia tak ingin membacanya lagi dan membuatnya semakin sakit hati.


"Bu, kenapa jadi begini?" Ujar Dinda mendekat ke arah Alya sepeninggal Joko dari ruangan itu.


"Al, kamu baik-baik aja, kan?" Timpal Utari.

__ADS_1


Namun Alya tak menjawab pertanyaan kedua asistennya itu, dia langsung bangkit dan keluar dari ruangan itu dengan wajah marah, tujuannya hanya satu, ruangan presdir.


"Saya ingin bertemu Pak Marcelino!" Ujar Alya saat langkahnya di jegal oleh asisten Marcel di depan pintu.


"Darma, biarkan dia masuk!" Suara teriakan Marcel terdengar dari dalam, membuat Asistenya itu langsung mempersilahkan Alya untuk masuk.


Alya memutarkan pandangannya di ruangan luas milik presdirnya itu.


"Apa yang kau cari?" Tanya Marcel.


"Pintu ruangan anada tertutup tapi anda bisa melihat tamu yang ada di luar ruangan anda?" Polos Alya.


"Jangankan di ldepan pintu ruangan ku, semua yang terjadi di semua ruangan gedung ini aku bisa tau." Ucap Marcel yang membuat Alya melongo.


"Apa kau tidak tau dengan yang namanya kamera pengawas?" Sambung Marcel.


"Ah, saya pikir ruangan ini terdapat dinding rahasia yang bisa melihat tembus ke luar," ujar Alya konyol, sejenak dia lupa dengan niat kedatangannya ke ruangan itu.


"Ada masalah apa? Aku bukan orang banyak waktu luang untuk mendengarkan perkataan konyol dan tidak masuk akal mu!" Kata Marcel dingin.


"Apa maksud dengan semua ini?" Alya mengacungkan amplop coklat yang kini bentuknya tidak karuan karena dia remas sejak tadi saking emosinya.


"Apa kau tidak bisa membaca dan memahami isi surat itu?" Marcel balik bertanya.


"Kenapa tidak langsung saja tadi katakan pada saya kalau anda berniat menskors atau bahkan memecat saya sekalipun?" Protes Alya.


"Aku baru kepikiran saat sampai sini, tadi di jalan belum kepikiran untuk men-skors mu!" Ujarnya santai.


"Pak, saya di fitnah, saya juga kooperatif dengan menjawab semua pertanyaan bapak, saya pikir bapak mengerti."


"Justru karena aku mengerti, aku memberi mu waktu rehat sekalian waktu untuk berbicara dengan suami mu lebih banyak, untuk masalah lainya biar aku ambil alih untuk sementara."


"Tapi---"


"Tidak ada tapi, keputusan ku tidak akan berubah, silahkan tinggalkan tempat ini, aku banyak pekerjaan lain, selamat sore!" Pungkas Marcel tidak memberi kesempatan lagi bagi Alya untuk berbicara, karena asistennya langsung membawa Alya keluar ruangan, sehingga Alya pun hanya bisa pasrah dan meninggalkan ruangan Marcel dengan langkah lunglai.


Tak ada gunanya berdebat dengan pemilik perusahaan tempatnya bekerja, bagaimana pun, dia akan tetap di posisi yang kalah.

__ADS_1


__ADS_2