
"Aku tidak percaya jika perjalanan cinta kita begitu berliku dan melewati berbagai masalah pelik yang sungguh menguras tenanga dan pikiran, namun aku akhirnya harus bersyukur karena akhirnya hanya tinggal selangkah lagi kita akan menikah dan hidup bahagia."Ujar Marcel menggenggam jemari Alya.
Mereka berdua kini sedang berada di atas pesawat, sesuai janji Marcel yang akan menemui Sita di suatu tempat.
Alya masih belum mau menerima lamaran Marcel yang ingin segera menikah dengannya sebelum dia bertemu secara langsung dengan Sita dan mendengar dengan telinganya sendiri jika antara Marcel dan mantan istrinya itu benar-benar sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi.
"Mungkin itu semua sebagai pengingat nanti nya jia kita menghadapi masalah untuk tidak gampang menyerah dan memutuskan untuk berpisah, karena sulitnya perjalanan yang kita lalui sebelumnya." Kata Alya.
Setelah menyelesaikan berbagai masalah termasuk masalahnya terakhirnya dengan Codet, mereka berdua kini bisa bernafas dengan lega, terlebih saat tahu jika Hana berhasil di selamatkan, mereka jadi tidak harus menanggung hutang budi seumur hidup pada Hana, atsa bantuan nenek tua yang ternyata merupakan ibu dari Codet itu pun Marcel dan Alya di jembatani untuk berbicara dengan Codet membicarakan masalah yang terjadi, Codet menydari kekeliruanya jika dia sudah terhasut oleh iming-iming Rudy, sehingga harus melibatkan Alya dan Marcel, mereka sepakat untuk mengakhiri permasalahan yang seharusnya dari awal memang tidak pernah ada itu.
Sementara untuk Rudy, meskipun saat ini pria itu melarikan diri entah kemana, namun kini dia menjadi buruan Codet beseta para anak buahnya, dan percayalah dia akan mengalami nasib yang sangat tragis jika sampai tertangkap oleh Codet.
Mereka tiba di sebuah panti rehabilitasi yang berada jauh dari pemukiman, tempat yang berada di hamparan hijau itu seperti menjadi satu-satunya bangunan yang berdiri di sana.
"Tempat apa ini? Kenapa kamu mengajak ku ke sini?" Alya kebingungan.
"Kita akan bertemu Sita." Jawab Marcel seraya menganggukkan kepala dan melempar senyuman pada para perawat yang sesekali dia temui, sepertinya Marcel sudah lumayan di kenali di tempat itu.
Di sebuah taman yang luas dan tumbuh berbagai jenis bunga bermekaran, seorang wanita bertubuh kurus sedang duduk di atas kursi roda, sesekali dia tersenyum melihat anak laki-laki yang sedang bermain bersama seorang pria di hadapannya.
"I-itu---" tunjuk Alya.
"Ya, itu Sita, Daniel, dan ayahnya." Jawab Marcel sambil melambaikan tangan pada Daniel yang sepertinya menyadari keberadaan Marcel dari kejauhan, bocah yang sudah mulai belajar berjalan itu tampak tersenyum riang sambil berusaha menghampiri Marcel.
Pria iyang tadi di sebuat Marcel sebagai ayah Daniel itu menggendong bocah laki-laki yang pernah di urus Alya itu, lantas mendorong kursi roda Sita untuk mendekat ke arah Marcel dan Alya, mereka tampak seperti keluarga bahagia.
Namun entah mengapa, melihat semua itu Alya justru tak kuasa meneteskan air matanya, apalagi saat melihat keaaan Sita yang dulu selalu tampil modis dengan sapuan make up yang semakin membuatnya tampil paripurna itu kini hanya bak seonggok tulang berbalut kulit, tubuhnya seperti tak berdaging sama sekali, wajahnya yang cekung, dan rambutnya yang dulu hitam tergerai kini sudah semakin menipis, membuat dia terlihat tak ubahnya seperti tengkorak hidup.
__ADS_1
"Sita!" Cicit Alya, sungguh dia tidak kuat melihat pemandangan itu.
"Hai Alya, bagaimana kabar mu? Sayang, ini Alya kekasih Marcel yang sering dia ceritakan itu!" Ujar Sita berbicara pada pria yang mendorong kursi rodanya.
Pria itu mengangguk sebagai tanda hormat padanya, sementara Daniel, sepertinya sudah tidak kenal dengan Alya, terbukti saat Alya merentangkan kedua tangannya untuk menggendongnya, bocah laki-laki itu menggeleng dan menolaknya, dia malah memilih untuk di gendong Marcel yang dia panggil dengan sebutan Ayah itu.
"Aku akan meminjam kekasih mu untuk berbincang sebentar, para pria silahkan menikmati kopi di sana!" Ujar Sita menunjuk sebuah meja di taman itu.
Tidak ada yang memulai obrolan di antara Sita dan Alya, keduanya seperti tenggelam dalam kebingungan dan kecanggungan.
"Emhhh Sita---" Gugup Alya membuka pembicaraan setelah beberapa saat hanya hening di antara keduanya.
"Tidak usah menanyakan kabar ku, seperti yang kau lihat, kondisi ku seperti ini, mungkin karma atas kejahatan ku pada mu, orang bilang ucapan aalah doa, aku pernah membohongi mu jika aku mempunyai penyakit parah, ternyata Tuhan malah menjadikan itu nyata, aku mengidap HIV karena pergaulan bebas ku, tidak ada obat untuk penyakit ku selain pasrah dan menungu kematian datang menjemput." Ungkap Sita.
"Sita, aku turut prihatin. Aku sudah melupakan dan memaafkan semua kesalahan mu, aku ikhlas, " cicit Alya.
"Sita, kamu mencintainya?" tanya alya lagi.
"Munafik kalau aku bilang aku tidak mencintainya, aku sempat mencintai nya, namun melihat betapa tulus dan baiknya dia aku merasa kalau aku tidak berhak dan tidak pantas untuk memilikinya, aku terlalu buruk untuk nya, terlalu kotor. Menjadi teman baiknya ternyata lebih menyenangkan dan lebih pantas untuk ku. Lihatlah entah dari apa hatinya di buat, dia bahkan sangat akrab dengan ayah kandung Daniel, dan dengan ikhlas menyerahkan Daniel padanya." Sita menunjuk Marcel yang sedang bermain-main dengan Daniel.
"Marcel menyerahkan Daniel pada ayah kandungnya?" Beo Alya setengah tidak percaya, padahal dia sangat tahu bagaimana sayangnya Marcel pada Daniel.
"Hemh,,, Salim grup kini milik Marcel dan Daniel, namun Marcel mengelolanya sendirian sampai kelak Daniel dewasa dan bisa mengelola perusahaan itu bersama nya, aku sudah tidak butuh materi sekarang ini, aku hanya butuh ketenangan, berada di sini dan dekat dengan putra ku dan ayahnya yang bisa mengunjungi ku setiap saat membuat ku bahagia, aku senang beada di sini, tempat ini tenang, dan akan menjadi tempat di hari-hari terakhir ku menghabiskan waktu di dunia ini." Kata Sita.
"Jangan berbicara seperti itu, kau harus bertahan, kau harus melihat betapa gagah dan cantiknya saat aku dan Alya menjadi pengantin!" Timpal Marcel yang tiba-tiba sudah ergabung di antara dua wanita itu.
"Kalian akan menikah?" Tanya Sita.
__ADS_1
"Ya, mungkin bulan depan, nanti kita video call saat aku melangsungkan upaca pernikahan, kali ini aku akan menikah sebenarnya, bukan nikah pura-pura sepeti saat bersama mu!" Ledek Marcel.
"Aku turut bahagia untuk kalian, semoga kalian berbahagia sampai maut memisahkan," ucap Sita tulus.
"Bagaimana, kamu sudah bertemu dan berbicara dengan Sita, kali ini kamu bersedia untuk menikah dengan ku bulan depan, kan? Atau minggu depan? Atau besok?" Goda Marcel, yang lantas di sambut tawa oleh semua orang yang ada di sana, sementara Alya hanya bisa tersipu dengan pipi yang merona.
"Apa kamu bersedia menjadi istri ku?" Marcel tiba-tiba berlutut dan mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin permata, dia melamar Alya di depan semua orang saat itu.
"Ya,aku bersedia!" jawab Alya seraya mengangguk.
"Ayah,,,," celoteh Daniel meminta di pangku oleh Marcel.
"Ya Tuhan kita bahkan belum menikah tapi anak kita sudah sebesar ini," ujar Marcel seraya menggendong Daniel yang sudah dia anggap sebagai putranya sendiri.
"Daniel, panggil dia ibu, ayo i-bu!" ujar Sita.
"I-bu." Beo Daniel yang langsung mendapat tepuk tangan seru dari semuanya dan tangis haru dari Alya.
Ada berbagai cara Tuhan memberi kita kebahagiaan, ada yang di dapatnya dengan mudah, ada juga yang kebahagiaan itu harus di gapai dengan penuh perjuangan panjang dan melelahkan seperti yang Alya dapatkan saat ini, namun jangan pernah sekalipun berprasangka buruk pada Tuhan,karena Tuhan tau apa yang terbaik pada hambanya.
Satu lagi, mungkin Alya harus berterima kasih pada celana merah jambu yang saat itu dia temukan, karena ldengan menemukan itu dia terbebas dari kemunafikan Ivan yang memberinya penghianatan namun di kemas dengan cinta yang membuat Alya terbuay dan tidak menyadari kebusukan suaminya, karena celana merah jambu itu akhirnya kini Alya mendapatan suami yang sangat mencintainya dan menyayanginya, dia juga mendapat keluarga baru, termasuk Daniel, bocah laki-laki yang sempat Sita titipkan padanya juga.
Percayalah,, semua akan indah pada waktunya.
**TAMAT**
Terimakasih sudah mengikuti cerita ini sampai selesai,,, sampai jumpa di cerita Othor yang lainnya, jangan lupa mampir di cerita BELENGGU DENDAM ya, kakak-kakak semuanya.
__ADS_1
Semoga kakak semua sehat dan bahagia selalu,,,,,❤️❤️❤️