Celana merah jambu

Celana merah jambu
Panggung sandiwara


__ADS_3

"Aku bukan bapak mu!" ujar Marcel dengan ketus dan dingin.


Alya segera memahami situasi, rupanya tindakan Darma tadi merupakan titah dari bosnya, yang tidak ingin dirinya berinteraksi terlalu jauh dengan Ivan, mungkin Marcel takut kalau dirinya tak sengaja membocorkan rencana mereka pada Ivan, pikir Alya.


"Maaf pak, jika bapak takut saya akan membocorkan rencana kita bertiga pada Ivan, bapak tenang saja, karena itu tidak akan pernah terjadi, kedekatan saya dengan Ivan kali ini karena saya punya misi pribadi dengannya selain itu saya juga berencana ingin mengorek tentang JT darinya." Urai Alya menjelaskan, entah mengapa juga seolah ada keharusan bagi dirinya untuk menerangkan perihal kedekatannya dengan Ivan kini, padahal sejatinya dia tidak harus menerangkan itu semua.


"Entahlah, tak ada yang bisa menebak isi hati orang lain, kau bisa berkata apapun pada ku, tapi kenyataannya, siapa yang tau?" Sinis Marcel.


"Saya bisa menjaminnya pak, itu tak akan pernah terjadi." Merasa terus di tuduh dan di intimidasi oleh Marcel, Alya merasa tersinggung dan sedikit kesal juga.


"Just see and wait!" Ujar Marcel sambil melengos pergi.


"Maafkan saya bu Alya," Darma terlihat serba salah, tidak bisa memihak pada keduanya, karena dalam hal ini dia merasa baik Alya maupun Marcel punya alibi pembenarannya sendiri-sendiri.


"Tak perlu minta maaf, saya bukan ibu anda!" Ketus Alya yang akhirnya melampiaskan kemarahan dan kekesalannya pada Darma, lantas bergegas masuk ke kamar kostnya.


**


"Dari mana, Mas?" Tanya Hana saat membukakan pintu untuk Ivan yang malam itu datang ke kontrakannya.


"Emh,, dari rumah. Nengokin ibu sebentar, tadi Hendrik nelpon, ibu kurang sehat katanya." Bohong Ivan, tak mungkin juga dia mengatakan kalau dia baru saja bertemu Alya dan dalam proses berbaikan dengan istrinya itu, bisa-bisa Hana mengamuk dan dia tidak akan mendapat jatah dari manapun.


"Oh,,," ucap Hana singkat.

__ADS_1


Sungguh Hana sebenarnya ingin merteriak dan memaki Ivan karena telah berani membohonginya saat ini, namun dia harus berpura-pura percaya dengan apa yang di katakan Ivan padanya, padahal Hana sempat mengikuti kemana mobil Ivan pergi saat pulang kantor, dan dengan mata kepalanya sendiri dia mel;ihat kalau Ivan menemui Alya di sebuah kost-kost an.


Namun dalam hal ini Hana tidak ingin gegabah dalam bertindak, dia harus tetap bersikap tenang dan seolah tak tau apa-apa di depan Ivan, karena jika sedikit saja dirinya salah dalam bertindak, bukan tidak mungkin dengan posisi Ivan yang kini kembali dekat dengan Alya, dirinya akan dengan gampangnya di buang begitu saja oleh Ivan.


Hana harus merubah strateginya, kini dia harus terlihat manis dan menyenangkan di mata Ivan agar pria idamannya itu tetap mempertahankan posisinya, kalau perlu, dia juga harus terlihat sebagai kekasih yang tak berdaya di mata Ivan, lantas setelah itu dia pastikan agar Ivan menjadikan dirinya sebagai istri satu-satunya, menggeser posisi Alya yang akan segera dia hempaskan dari sisi Ivan dengan caranya.


"Bagaimana kaki mu, apa masih sakit?" Tanya ivan sambil mengelus kaki mulus kekasihnya yang kini berhias perban kecil di mata kakinya.


"Tidak apa, hanya luka kecil saja, ini pasti tak seberapa jika di bandingkan luka hati istri mu, setelah aku melihat kebersamaan kamu dan istri mu tadi, aku menjadi sangat merasa bersalah, aku masuk dalam kehidupan rumah tangga kalian, maafkan aku." Hana mulai memainkan aktingnya di depan Ivan untuk mempermainkan emosi Ivan dan mengambil simpati pria yang di gilainya itu.


"Hey, kenapa tiba-tiba kamu berkata seperti itu? Perpisahan antara aku dan Alya tidak ada hubungannya sama sekali dengan mu, kami memang sudah tidak cocok lagi." Tepis Ivan seraya memeluk Hana yang sukses memainkan peran sedihnya di hadapan Ivan yang percaya jika kekasihnya itu benar-benar sedang merasakan kesedihan.


"Aku yang salah, karena jatuh cinta pada pria beristri, aku tidak bisa menjaga perasaan ku sendiri untuk tidak jatuh cinta pada mu, aku yang salah, mas." Hana terisak pilu meski air matanya yang keluar itu hanya merupakan air mata buaya saja.


"Jika bahagia mu adalah dengan kembali pada istri mu, kembalilah. Jangan pikirkan perasaan ku, aku akan ikut bahagia saat kamu bahagia, aku bersedia mundur dan menyimpan sendiri perasaan cinta ku pada mu, karena ini hal yang tidak mungkin bagi kita untuk bersatu."


"Tidak Hana, jangan berbicara seperti itu, aku mencintai mu juga, ita saling mencintai, dan tidak ada hal yang bisa membuat kita berpisah." Tolak Ivan.


"Lantas apa kamu bersedia berserai dengan istri mu, lantas menikah dengan ku?" Tantang Hana, seakan dia mendapatkan celah untuk menjebak Ivan lewat pertanyaannya yang penuh dengan jebakan maut.


Mendengar pertanyaan seperti itu, Ivan hanya bisa terdiam, dia memang mencintai Hana, namun satu hal yang tidak bisa dia janjikan pada Hana adalah ikatan pernikahan, karena bagaimana pun, dia menginginkan Alya untuk tetap menjadi istrinya, (oh,,, betapa kemaruknya anda pak!)


Lama di tunggu, tak juga keluar sepatah kata dari bibir Ivan, membuat Hana menjadi sangat marah, namun alih-alih mengamuk, dia lebih memilih melanjutkan akting menyedihkannya itu, karena dia yakin seribu persen, dengan begitu Ivan akan lebih mudah untuk di taklukannya.

__ADS_1


"Sudahlah mas, tidak usah terlalu di ambil hati kata-kata ku barusan, aku sudah tau jawabannya dari diam mu ini, mungkin kita memang sebaiknya berpisah, karena terkadang, hal yang indah itu tidak di takdirkan untuk di miliki, hanya mengagumi mu dari jauh saja aku akan sangat bahagia, layaknya aku melihat bintang di langit, kita sudahi saja hubungan kita sampai di sini." Tantang Hana.


"Tidak. Itu tidak akan pernah terjadi, aku tak bisa jauh dari mu, tolong jangan katakan semua itu, aku butuh kamu." bujuk Ivan.


"Kamu akan tidak membutuhkan ku lagi saat istri mu kembali ke pelukan mu, toh kamu tak pernah menginginkan ku untuk menjadi istri mu."


"Bukannya tidak mau, aku hanya minta kamu untuk bersabar, semua butuh proses, kenapa kamu tidak percaya pada ku, aku mencintai mu dan aku serius dalam hubungan ini, tolong beri aku waktu." Lanjut Ivan yang kini mulai terdesak, jika dia tidak meyakinkan Hana bahwa dia akan memperistrinya, wanita itu pasti akan memilih untuk pergi meninggalkannya, sementara hubungannya dengan Alya juga masih dalam proses perdamaian, tidak menjamin juga kalau hubungan mereka akan baik-baik saja seperti


Semula jika mereka benar-benar kembali lagi.


Yang harus Ivan lakukan saat ini adalah berusaha untuk mempertahankan keduanya, paling tidak, apes-apesnya salah satu di antara mereka harus ada yang masih tetap menjadi pendampingnya dan tidak berakhir dengan kedua wanitanya pergi meninggalkan dirinya.


"Waktu?Sampai kapan, Mas?"


"Itupun jika kamu percaya pada ku, jika tidak, ya sudahlah. Aku sudah berusaha dan mencoba untuk meyakinkan mu, jika kamu memang benar-benar ingin pergi, aku bisa apa? Mungkin aku tidak cukup layak untuk mendapat kepercayaan dan cinta dari mu." Kali ini Ivan memainkan gaya tarik ulurnya, jika tadi dia bersikeras mempertahankan Hana untuk tidak pergi meninggalkannya, saat ini Ivan membiarkannya untuk pergi.


Ivan sangat paham betul kalau Hana tergila-gila padanya dan tidak mungkin bisa jauh darinya.


Satu,,, dua,,, tiga,,,


Belum sampai angka lima saat Ivan menghitung dalam hati, jurus yang di gunakannya memang benar-benar ampuh, hana yang tadinya bersikeras akan pergi dan mengakhiri hubungan mereka, kini balik memeluk erat tubuh Ivan, seakan dia tidak ingin Ivan menyerah begitu saja dan membiarkan dirinya pergi.


"Kamu jahat, harusnya kamu tahan aku untuk pergi, bukan malah membiarkan aku pergi, aku hanya menguji mu, aku juga tidak mau berpisah dari mu, aku hanya ingin kepastian tentang hubungan kita, itu saja." Raung Hana di pelukan Ivan, dia menyerah dan mengaku kalah, rasa cintanya yang sangat besar untuk Ivan membuatnya dengan mudah terkecoh hanya dengan sedikit gertakan dari Ivan dan lagi mengalah atas nama cinta buta, cinta yang membutakan mata dan pikirannya, sehingga dia menghalalkan segala cara demi untuk mendapatkan pria yang di gilainya itu.

__ADS_1


__ADS_2