Celana merah jambu

Celana merah jambu
Kunjungan ipar dan mertua


__ADS_3

Kering sudah rasanya airmata Alya, mendapat perlakuan dan kata-kata kasar dari suaminya itu bahkan tak mampu lagi membuatnya menangis meski hanya setetes pun. Terlalu dalam luka yang Ivan torehkan di hati nya, terlebih airmata Alya juga sudah di peras habis semalaman, bahkan Ivan seolah tak peduli dengan matanya yang jelas terlihat membengkak akibat tangis bodohnya semalaman, ya tangis bodoh, tangisan terbodoh yang pernah di lakukannya untuk orang tak punya hati seperti Ivan.Dari mulut suaminya itu bahkan tak ada kata maaf terucap sekalipun, selain kata maaf saat di kantornya kemarin.


Ini hari kedua Alya menjalani skorsingnya, dia hanya menghabiskan waktunya dengan berada di rumah tanpa kemana pun, ini hari kedua juga Ivan tidak pulang ke rumah, tanpa kabar sedikitpun.


Jika kemarin Alya masih sempat merasa khawatir dan berusaha untuk mencarinya sampai ke rumah mertuanya, kali ini dia tak ingin mengulangi sikap bodohnya itu, terserahlah,,, maunpulang ya pulang, tidak pulang pun tak mengapa, Alya hanya butuh menenagkan diri, mungkin ketidak kehadiran Ivan di rumah justru menjadi lebih baik untuknya, karena dia tak harus menguras emosi seperti hari sebelumnya saat mereka terakhir kali beradu argumen kemarin.


"Bu, ada mas Hendi di bawah mencari ibu." Lapor Fitri pada Alya.


"Hendri?" Ulang Alya seraya mengerutkan kening, ada apa adik iparnya itu mencarinya, ucapnya dalam batin.


"Ada apa Hen?" Tanya Alya begitu turun dan menemui adik iparnya yang sedang duduk di meja makan, sambil menikmati makanan sisa sarapan tadi pagi yang tidak di sentuh sama sekali oleh Alya karena kehilangan nafsu makannya sejak kemarin.


"Aku mau ngambil baju kerja Mas Ivan, sama barang-barang yang ada si catatan ini." Hendri menyodorkan selembar kertas berisikan tulisan panjang daftar barang-barang pribadi Ivan yang di minta untuk di bawakan pada Hendri.


'Ya Tuhan, apalagi maksud pria berengsek itu? Ada saja ulah gila yang di lakukannya,' batin Alya.

__ADS_1


Alya menghela nafas panjang dan dalam, dia harus tetap menjaga kewarasannya dalam menghadapi ulah suami gila macam Ivan ini.


"Aku akan mengemas semua barang-barang kakak mu, katakan pada ku kemana aku harus mengirim barang-barangnya nanti aku sewakan mobil pick up untuk mengangkutnya!" Sarkas Alya.


"Biar aku saja yang bawa mbak, aku juga bawa mobil kok, Mas Ivan memberi ku uang untuk dp beli mobil baru, dan untuk cicilannya aku mau menjadi sopir taksi online," Kata Hendri secara tidak langsung memamerkan kalau dirinya baru saja di belikan mobil oleh kakaknya meski tanpa sepengetahuan Alya.


"Mobil baru?" Tanya Alya penasaran.


"Iya, katanya buat sekalian kalo darurat anter-anter ibu, jadi kan, gak harus mengandalkan mobil Mas Ivan saja, kata Mas Ivan itu uang pribadi Mas Ivan sendiri, jadi gak ganggu uang dapur Mbak Alya. Lagian cuma ngasih buat dpnya aja kok, 70 juta. " Jawab Hendri.


"Lama banget sih, Hen!" Tiba-tiba suara ibu mertuanya menyela di antara percakapan Alya dan adik iparnya itu.


"Bu? Ibu di sini? Alya gak tau kalau ibu ikut juga ternyata, Alya bikinin teh, ya!" Meski sempat kesal dengan ibu mertuanya yang membohongi dirinya perihal Ivan yang tak pulang beberapa waktu lalu, Alya masih menunjukkan rasa hormatnya dengan berusaha bersikap ramah dan menyalami ibu mertuanya itu seperti biasanya, meski tanggapan Yuni, sang ibu mertua kini di rasa berbeda menjadi lebih dingin dan acuh tak acuh padanya.


"Tidak usah, tadinya ibu juga hanya akan menunggu di mobil, tapi Hendri lama sekali mengambil barang-barang Ivan, cepat kemasi barang-barang yang di minta Ivan!" Titah Yuni dengan ketus.

__ADS_1


Sikap Yuni yang biasanya selalu memperlakukan Alya dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang itu seolah tak ada bekasnya sama sekali, kini berganti ibu mertua yang dingin dan judes.


"Bu, ada apa? Apa Alya berbuat salah pada ibu?" Tanya Alya lembut seperti biasanya, di matanya, Yuni masih dia anggap sebagai ibu yang di sayangi dan di hormatinya seperti sebelumnya.


"Ibu tak suka dengan Istri yang tak nurut dengan suami, Ivan hanya meminta kamu resign kerja dan mengurus rumah tangga selayaknya seorang istri, mau di bahagiain kok malah milih jalan menyusahkan diri sendiri, keblinger kamu!" Omel Yuni.


"Bu, Alya mencintai pekerjaan Alya, dari semenjak belum menikah pun Alya sudah bekerja dan hidup mandiri, rasa-rasanya selama ini juga Alya tidak pernah berbuat macam-macam selama bekerja, karena niat Alya bekerja untuk membantu menutupi kebutuhan rumah tangga dan juga kebutuhan Alya sendiri." Terang Alya yang memang tidak pernah meminta apapun untuk kebutuhan pribadinya pada Ivan, karena uang yang Ivan kasih untuk biaya dapur dan kebutuhan lainnya saja bahkan tidak mencukupi, namun Alya tidak pernah protes akan hal itu.


"Uang Ivan sekarang sudah lebih dari cukup kalau hanya untuk menutupi kebutuhan rumah tangga kalian, tanpa harus kamu bekerja sekalipun, gaji Ivan sudah naik berkali lipat, bonus dari perusahaannya juga bisa membelikan Hendri mobil baru dan lihat ini, perhiasan yang ibu pakai ini semua di belikan Ivan." Yuni menunjukkan gelang, cincin dan kalung yang di pakainya pada Alya yang hanya tersenyum simpul.


"Alya ikut senang, perekonomian Ivan semakin baik, tapi maaf bu, Alya tetap pada pendirian awal, Alya akan tetap bekerja." Alya menanggapi ucapan mertuanya itu dengan lugas.


Demi Tuhan, tak ada rasa iri sedikit pun di hati Alya saat mengetahui Ivan memberikan barang-barang mewah dan mahal pada Adik dan ibunya, justru hal itu semakin menguatkan tekadnya untuk tetap bekerja dan menghidupi dirinya sendiri, apapun yang terjadi, meskipun keputusannya ini mungkin akan membuat hubungannya dengan Ivan semakin memburuk atau bahkan hancur sekalipun.


Tak ada niat diri ingin menunjukkan diri kalau dirinya bisa mandiri dan hebat meski tanpa suami, hanya saja, untuk saat ini dia tak punya alasan untuk melanjutkan rumah tangganya bersama Ivan, Alya tak punya alasan apapun untuk mempertahankan rumah tangganya, Alya menyerah pada badai rumah tangganya yang bahkan usianya belum genap sampai dua tahun, tapi bukankah itu lebih baik dari pada terus bertahan dan memendam masalah yang lama kelamaan akan semakin membesar dan menjadi snow ball effect bagi kehidupan rumah tangganya kelak, dan itu justru akan lebih membayakan bagi keduanya.

__ADS_1


__ADS_2