
"Karena kau seperti Daniel, bukan siapa-siapa ku, namun aku menyanyanginya, ingin melindunginya, dan selalu menjadi tempat ternyaman untuk ku bercerita." Ujar Marcel dengan lugas.
Blush!
Mendengar itu entah mengapa wajah Alya tiba-tiba merona, sungguh dia ingin menyembunyikan hal itu dari Marcel karena tak ingin di anggap terlalu baperan, namun nyatanya mendengar dengan jelas kalau Marcel menyayanginya, ingin melindunginya dan mengatakan kalau dirinya tempat ternyamannya untuk bercerita, membuat Alya merasa terbang.
'Haish,,,tenang,,,tenang,,,, tolong tetap tenang hati!' bisik Alya pada dirinya sendiri.
"Maaf pak, tapi rasanya tidak pantas bapak berbicara seperti itu, bagaimana pun bapak seorang suami, ada hati yang harus bapak jaga." Kata Alya setelah dia mulai berpikiran jernih kembali.
"Aku hanya ingin mencoba jujur dengan apa yang aku rasakan, karena selama ini suara hati ku selalu di bungkam, aku di paksa untuk membuang mimpi ku hanya untuk mewujudkan mimpi tamak ayah ku, aku di paksa untuk hidup dengan orang yang tidak aku cintai sama sekali, di tekan dalam urusan perusahaan, aku lelah. Jika aku di tuntut untuk terus menjaga perasaan mereka, lantas bagaimana dengan persaan ku? Aku hanya lelah berpura-pura, apa aku tidak pantas untuk merasakan bahagia?" Urai Marcel yang sepertinya ingin meluapkan semua isi hatinya yang selama ini terpendam jauh di dasar hatinya, tentang kekecewaanya, tentang kemarahannya, tentang kepedihan dan kesakitannya, yang tidak bisa dia ceritakan pada siapapun dan hanya bisa dia genggam sendirian.
Alya melihat jika Marcel saat ini ibarat sedang menggenggam duri, semakin kuat dia menggenggam, maka semakin sakit dan terluka lah tangannya, mungkin dia hanya butuh orang untuk membantunya melepaskan genggaman duri itu, dan sepertinya dia orang yang di pilih Marcel untuk membantunya.
"Semua orang berhak bahagia dengan segala keputusannya, lakukan apa yang menurut bapak akan membuat bahagia, anda tidak harus menyiksa diri sendiri demi kebahagiaan orang lain."
Grep!
Tanpa aba-aba Marcel tiba-tiba nekat memeluk tubuh Alya yang kini kaku dan mematung, dia bahkan tidak tau apa yang harus dia perbuat.
"Aku hanya butuh pelukan, tidak akan meminta lebih, tolong biarkan aku seperti ini sebentar saja, aku mohon." Bisik Marcel dari balik punggung Alya, membuat Alya meremang seketika, karena bisikan Marcel terdengar sangat dekat di telinganya, sehingga hembusan nafas pria itu terasa hangat di kulitnya, namun sialnya dia tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dan membiarkan Marcel melepaskan segala kegalauan hatinya dalam pelukannya.
__ADS_1
'Ah shiiiiiit, apa adegan ini bisa membuat ku di kategorikan sebagai pelakor?' Runtuk Alya dalam batinnya.
"Maaf, mungkin aku hanya terbawa emosi." Marcel mengurai pelukannya saat menyadari kalau Alya kini hanya diam mematung dan terlihat sangat tidak nyaman berada dalam pelukannya.
"It's okay." Gagap Alya seraya memalingkan tatapannya ke arah berlawanan dengan Marcel, sungguh dia tak mampu menjaga debaran di dadanya saat matanya tak sengaja beradu pandang dengan tatapan mata Marcel.
Entah mengapa tiba-tiba dia merasa iba dengan apa yang di alami Marcel, melihat pria itu yang sepertinya hatinya terluka parah, membuat dia tergerak, paling tidak untuk membantu mebuatnya tetap kuat dan tidak mennyerah dalam menghadapi semua permasalahannya, selayaknya dia yang sering kali memberi support padanya kala dia sedang merasa terpuruk dengan semua permasalahan, kini Alya pikir giliran dirinya untuk melakukan hal yang sama di saat Marcel sedang berada di titik rapuh seperti sekarang ini.
"Terimakasih sudah mau mendengarkan ku, selama ini aku hanya tak tau harus bercerita pada siapa selain Daniel, aku lelah berpura-pura seolah aku baik-baik saja." Marcel kembali mengambil jarak selepas mengurai pelukannya, dia tidak ingin membuat Alya ketakutan dengan sikapnya yang tiba-tiba agak agresif tadi.
"Jangan di paksa untuk sembuh, terkadang sesekali luka juga perlu di perlakukan layaknya air hujan, meskipun turun dengan derasnya, biarkan saja,,, karena dia akanmengering dengan sendirinya. Setidaknya itu yang pernah saya alami." Alya menceritakan pengalamannya.
"Sebaiknya kita pulang, sebelum malam semakin larut, saya akan mengmudi, dan bapak bisa beristirahat." Ajak Alya. Sungguh dia merasa tidak enak hati harus berada satu atap dan melewatkan malam dengan suami orang.
"Baiklah, untuk kali ini saja." Alya mengalah.
**
Di tempat lain.
"Mas, kenapa kamu akhir-akhir ini sering pulang larut malam, kemana saja kamu, sih?" Protes Hana, merajuk.
__ADS_1
Bagaimana Hana tidak kesal, jika setiap hari Ivan selalu pulang lewat tengah malam, seperti kali ini, jam setengah dua dini hari Ivan baru sampai di rumahnya, membuat Hana yang tidak bisa tidur karena menunggui suaminya pulang itulangsung murka saat Ivan baru saja melangkahkan kakinya melewati pintu utama rumahnya.
"Kenapa setiap hari sambutan mu pada ku selalu begini? Tidak bisa kah kau menyambut ku paling tidak dengan senyuman, bukan omelan yang tak enak di dengar!" Kesal Ivan, karena merasa Hana kini telah berubah tidak seperti saat wnita itu masih menjadi selingkuhannya, wanita itu selalu menerima apapun perlakuannya, bahkan meskipun Hana hanya mendapat sisa- sisa waktu Ivan bersama Alya pun, Hana tetap melayaninya dengan senyuman dan penuh cinta, namun kini setiap hari Hana selalu menceramahinya dengan omelan panjang lebar, bahkan meski Ivan hanya telat pulang seteng jam saja.
"Bagaimana aku bisa tersenyum menyambut mu sementara kamu pulang dini hari seperti ini, istri mana yang tidak kesal jika suaminya selalu pulang hampir pagi seperti ini," Sanggah Hana.
"Alya bahkan masih membuatkan ku kopi dengan senyuman saat aku harus meninggalkannya tugas keluar kota selama dua atau tigahari lamanya." Dengan entengnya Ivan justru malah membanding-bandingkan Hana dengan Alya, dan dalam hal ini Ivan juga terkesan memojokan Hana dengan secara tidak langsung mengatakan kalau sikap Hana dalam memperlakukannya tidak lebih baik dari Alya.
"Apa maksud mu membawa dia dalam perbincangan kita, dan apa juga maksud mu membanding-bandingkan aku dengan dia mas?" Sewot Hana tidak terima.
"Harusnya kau sudah bisa menyimpulkan maksud ku, aku bekerja dari pagi sampai hampir pagi lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup kita, memenuhi gaya hidup mu yang tinggi selangit, aku harus berjuang sendirian memenuhi semua itu, apa aku berlebihan jika aku minta di sambut dengan senyuman istri saat aku pulang? Bukan di sambut dengan omelan dan kecurigaan." Balas Ivan tidak ingin kalah dengan istrinya.
Jika sebelumnya dia pikir akan sangat mampu memenuhi semua kebutuhan rumah tangga dengan gajinya sendiri, namun ternyata, meski sudah di bantu dengan bonus dan juga uang lain-lain yang dia dapatkan, semua itu masih saja selalu kurang untuk menutupi biaya hidup.
Terkadang ada rasa penyesalan dalam hatinya, mengapa dia harus bercerai dengan Alya, sehingga dia tak perlu banting tulang mati-matian seperti ini dan bahkan dia tidak bisa menikmati hidupnya, namun penyesalan tinggalah penyesalan,karena waktu tidak akan pernah kembali lagi.
"Apa kamu mau bilang kalau kamu menyesal sudah berpisah dengan Alya dan menikah dengan ku? Apa diam-diam kamu masih menharapkan mantan istri mu kembali pada mu?" Cecar Hana dengan mata yang membelalak.
"Andai itu mungkin!" Cetus Ivan dengan santainya.
"Mas! Kamu tega sekali mengatakan itu pada ku, bahkan di depan anak mu, dia bisa saja mendengar apa yang kamu katakan. Aku rasa lebih baik anak ini tidak usah lahir ke dunia ini saja dari pada saat dia lahir nanti mengetahui kalau ayahnya masih mengharapkan wanita lain selain ibunya, biar dia mati saja!" Hana mulai menggila dengan memukul-mukul perutnya yang kini sudah semakin membesar sambil menangis tersedu.
__ADS_1
"Hana, hentikan,! Jangan gila kamu, itu akan membahayakan anak kita, Hentikan!" Marcel yang tadi bersikap acuh dan dingin pada Hana, kini berubah menjadi sangat panik melihat apa yang di lakukan Hana pada anak mereka yang masih di dalam kandungan, tentu saja Ivan tidak ingin terjadi apa-apa dengan anak yang ada dalam kandungan Hana, bagaimana pun, itu adalah darah dagingnya, dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan calon keturunan yang sangat di nantikannya itu.
Namun sialnya tiba-tiba Hana kehilangan kesadaran di tengah keributan mereka, sehingga membuat Ivan semakin di landa kepanikan yang teramat sangat.