Celana merah jambu

Celana merah jambu
Diam-diam menghanyutkan?


__ADS_3

"Lepas, bapak ngapain di sini, malah nyamperin lagi, ntar jadi fitnah orang, mana pake manggil sayang segala, lagi." Protes Alya, setengah kasar menyingkirkan tangan Marcel yang sejak tadi bertengger di bahunya, membuat kinerja jantungnya kini menjadi kacau, karena berpacu sangat cepat, apalagi saat ini dirinya tidak benar-benar sendirian karena sebenarnya dia sedang menunggu Sita yang kebetulan ada janji untuk bertemu dengan nya malam ini.


Bagaimana jika sita melihat kejadian tadi, dia akan merasa sangat malu dan tidak enak di depan Sita karena selama ini dia selalu keukeuh mengingkari dan mengatakan kalau dia tidak mencintai Marcel.


Benar saja, selang beberapa menit berlalu, Sita datang menghampiri Alya yang masih berdiri bersisian dengan Marcel tak jauh dari rumah makan tadi.


"Kamu di sini juga, mas?" Kaget Sita yang tak menyangka jika Marcel berada di tempat itu juga, karena sebelumnya Sita sudah mewanti-wanti agar pertemuannya di rahasiakan, terlebih lagi dari Marcel.


"Aku hanya kebetulan lewat saja, dan bertemu Alya sedang makan di sini." Jawab Marcel jujur.


"Lalu kau? Kenapa malam-malam begini berada disini, apa kau meninggalkan Daniel lagi?" Sambung Marcel dengan nada agak marah.


"Ah, anu,,, aku tadi aku sangat lapar, dan sangat rindu masakan rumah makan ini, kebetulan ini tempat favorit ku sejak dulu." Gagap Sita mencari-cari alasan.


"Kau bisa memesannya lewat layanan pesan antar, alasan mu terlalu mengada-ada." Ketus Marcel yang seolah tau jika apa yang di katakan Sita hanya merupakan alasan wanita itu saja, terlebih kini Sita menjadi lebih sering meninggalkan Daniel sendirian di rumah, sehingga mau tidak mau Marcel lah yang mengalah untuk menunggui putra mereka itu, karena Marcel juga merasa malas untuk mempertanyakan kemana perginya Sita yang akhir-akhir ini terlihat lebih sibuk itu, dia terlalu malas jika hal itu malah bakal memicu debat panjang yang tak berkesudahan dengan Sita.


"Hmm, baiklah, kalau begitu, saya permisi pulang." Pamit Alya tidak ingin menimbulkan kecurigaan pada Marcel jika sebenarnya dirinya janjian dengan istrinya di tempat itu.


"Aku akan mengantar mu," tawar Marcel.

__ADS_1


"Tidak usah, saya sudah memesan ojek online." Tolak Alya beralasan, padahal dia hanya ingin agar Marcel segera pergi dan dirinya bisa segera menemui dan berbicara dengan Sita.


Merasa kesal dengan kehadiran Sita di sana, di tambah lagi mengetahui Daniel yang lagi-lagi di tinggal oleh Sita di rumah hanya dengan pengasuh, akhirnya Marcel memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu tanpa memaksa Alya lagi untuk di antarkan pulang olehnya.


Setelah mobil Marcel pergi menjauh, Sita memberi kode pada Alya untuk mengikutinya ke dalam mobilnya, Sita merasa di dalam mobilnya kini menjadi tempat paling aman untuk mereka berbicara.


"Kenapa ada dia bersama mu? Apa kau mengatakan padnya perihal pertemuan kita dan juga surat itu pada Marcel?" Tuduh Sita dengan wajah yang terlihat agak marah.


"Saya tidak menceritakan apapun pada suami anda tentang surat itu maupun pertemuan kita, perihal bagaimana Pak Marcel bisa bersama saya tadi, seperti apa yang di katakan suami anda, itu hanya sebuah kebetulan." Ujar Alya membenarkan apa yang di sampaikan Marcel tadi pada istrinya itu.


"Aku tidak mempermasalahkan dengan pertemuan mu atau kebersamaan mu dengan Marcel, aku hanya tidak mau kamu menghianati ku dengan mengatakan tentang surat itu pada Marcel. Mana data yang aku minta dari mu?" Sita menengadahkan tangannya.


"Kenapa tidak, aku anak dari pemilik saham terbesar di sana, bukankah aku juga berhak tau?" Kilah Sita.


"Tapi bukankah anda bisa memintanya pada akuntan perusahaan, saya kan, sudah bukan pegawai Salim grup lagi?" Kelit Alya tidak mau kalah.


"Karena aku tau kalau Marcel sebenarnya masih mempekerjakan mu secara diam-diam sebagai akuntan perusahaan, lantas jika Marcel saja tidak percaya dengan kinerja akuntan di perusahaannya sendiri, kenapa aku meminta data pada nya yang mungkin saja tidak valid." Ujar Sita yang tentu saja membuat Alya merasa sedikit terkejut karena dalam diamnya ternyata banyak hal yang Sita tau, baik itu masalah perusahaan dan lain-lain.


"Aku berhak tau tentang keuangan perusahaan, apalagi jika kelak aku dan Marcel berpisah dan perusahaan otomatis akan berada di bawah kendali tangan ku." Sambung Sita lagi mencoba menyakinkan Alya dan membuat Alya tidak punya pilihan lain selain menyerahkan data-data itu pada Sita yang memang benar, dia berhak dalam hal ini.

__ADS_1


Dengan berat hati akhirnya Alya menyerahkan sebuah flashdisk yang dia keluarkan dari pouch yang sejak tadi di genggamnya, entahlah itu keputusan benar atau salah yang ambil Alya, hanya saja saat ini dia tidak punya pilihan lain selain memberikan apa yang Sita minta darinya, apalagi saat mengetahui ternyata Sita juga tau banyak tentang perusahaan termasuk tentang dirinya yang di pekerjakan kembali oleh Marcel sebagai akuntan bayangan di Salim grup yang sejauh ini setahunya hanya menjadi rahasia antara dirinya, Marcel dan juga Darma, entahlah dari mana Sita mengetahuinya, atau siapa yang membocorkan masalah ini, Alya juga tidak bisa berpikir sejauh itu sekarang ini.


"Ini undangan perayaan ulang tahun Salim grup, aku harap kau akan hadir di sana lusa nanti." Ujar Sita.


Belum saja habis kebingungan Alya dengan Sita, kini dirinya kembali di buat bingung, karena Sita menyodorkan sebuah undangan berwarna emas dengan tulisan TAMU VIP di sampulnya. Menandakan kalau dirinya akan duduk sejajar dengan para dewan direksi jika dirinya hadir di acara ulang tahun Salim grup, tentu saja itu suatu kehormatan baginya, karena pengalamannya saat masih menjadi karyawan Salim grup, dirinya hanya mendapat undangan biasa, dimana hanya bisa duduk bersama para karyawan menengah lainnya.


"Saya tidak bisa menerima ini, saya juga mungkin tidak bisa hadir, saya bukan bagian dari Salim grup lagi." Tolak Alya mengembalikan undangan itu pada Sita.


"Aku sangat berharap kamu datang di acara itu, aku jamin kamu tak akan menyesal jika datang ke acara itu lusa. Tenang saja, walau kamu bukan lagi bagian dari Salim grup, anggap saja kamu tamu istimewa ku." Sita tersenyum misterus, senyum yang bahkan Alya tak bisa mengartikan senyuman apa.


Alya menerima undangan itu meski dengan perasaan ragu dan penuh tanda tanya yang tidak bisa dia jawab.


**


"Bagaimana, apa semuanya berjalan lancar?" Tanya Ivan di tengah cumbuan panasnya pad wanitanya.


"Tentu saja, semua berjalan sangat lancar, kamu hanya perlu menonton bagaimana Marcel akan di persalahkan oleh semua pemegang saham saat laporan tahunan yang akan di sampaikannya, dan dia juga akan di permalukan dengan video yang kau punya itu, kau hanya perlu tidur nyenyak dan buat istri bunting mu itu diam tidak berulah, sehingga kita bisa menikmati saat-saat kemenangan kita yang hanya tinggal menghitung hari itu." Jawab wanita itu membalas cumbuan Ivan dengan tak kalah panasnya.


"Kau benar-benar ponsel pintar ku, dengan bentuk yang elegan mewah, tidak memalukan saat aku bawa kemanapun, sehingga ku selalu ingin mengelus mu, dan yang paling penting kau paling tau aku dan selalu berhasil memuaskan ku." Ujar Ivan.

__ADS_1


"Hahaha,,, tentu saja aku akan selalu menjadi ponsel pintar mu dan tidak akan mau untuk menjadi televisi yang hanya menjadi hiasan di rumah mu!" Ujar wanita itu tergelak.


__ADS_2