
Alya berjalan dengan langkah penuh percaya diri menuju halaman rumahnya yang kini di hiasi dengan tarup berwarna putih dan bunga segar yang di tempatkan di sepanjang jalan menuju pelaminan yang bertempat tepat di depan pintu utama rumah yang dulu pernah menjadi tempat pulang Alya saat dirinya lelah, pernah menjadi tempat ternyaman saat dirinya bermalas-malasan.
Kini tempat yang hampir dua bulan di tinggalkannya itu menjadi tempat resepsi penikahan Ivan yang masih berstatus suaminya itu dengan wanita selingkuhannya.
Berat memang rasanya harus kembali ke rumah itu, karena itu sama saja dia di paksa untuk mengingat kembali setiap sudut ruangan yang menyimpan banyak cerita tentang dirinya dan Ivan.
Rumah yang di beli dari hasil keringat dirinya dan Ivan dan dia harapkan menjadi tempat bernaung mereka hingga menua di temani anak-anak mereka kini sudah menjadi rumah yang di invasi oleh orang-orang asing dan memaksanya untuk terusir dari rumahnya sendiri.
Hampir semua mata memandang ke arah Alya yang tetap mengangkat dagunya dengan tegap dan melemparkan senyum pada siapapun yang dia kenal di sepanjang langkahnya menuju pelaminan tempat Ivan dan Hana berdiri saat ini.
Beberapa tamu undangan saling menatap dan wajah mereka terlihat tegang karena takut terjadi huru hara di sana, sementara sebagian orang hanya terus menyaksikan adegan demi adegan yang akan tejadi berikutnya, bahkan beberapa ada juga tamu undangan yang terang-terangan berbisik-bisik sambil menatap sinis ke arah Alya yang sama sekali tak ingin memperdulikan apapun yang membuat dirinya terlihat menyedihkan.
Mengenakan balutan gaun merah selutut dengan bagian punggung yang terekspose, membuat kulit putihnya terlihat lebih bersinar, sementara rambut panjangnya sengaja dia gulung asal ke atas memperlihatkan leher mulusnya dan memberi kesan anggun juga elegan, riasan tipis dan tidak berlebihan membuat wajah Alya terlihat fresh dan natural, bahkan Hana yang usianya beberapa tahun lebih muda di banding Alya tampilannya kalah muda oleh Alya.
Hana terlihat cemberut saat mata para tamu pria memandang penuh kagum pada Alya, dan dia juga sampai beberapa kali mencubit lengan Ivan, karena pria yang baru beberapa menit yang lalu melakukan janji perkawinan dan sah menjadi suaminya itu terlihat tak berkedip memandang ke arah Alya.
"Berani juga kau datang kesini, apa kau tidak malu menjadi tontonan orang?" Cibir Yuni sambil melebarkan matanya ke arah Alya, dia tidak suka jika Alya menjadi pusat perhatian dan mengalahkan pamor menantu barunya.
"Aku di undang, ibu. Makanya aku hadir di sini, mana mungkin aku hadir jika aku tidak di undang, bukankah begitu, Van?" Alya melemparkan pandangannya ke arah Ivan yang berdiri berjejeran dengan ibunya di atas pelaminan.
"Ini semua karena kamu yang sombong dan keras kepala, tidak mau patuh dengan keinginan suami, sehingga akhirnya suami mu berpaling," Cibir Yuni lagi seakan tidak puas mengata-ngatai mantan menantu kesayangannya itu.
"Bu, apapun alasannya, sebuah hubungan yang berakhir, itu semua karena di antara keduanya tidak cukup memiliki cinta, sehingga begitu mudah terkoyak." Jawab Alya dengan tenang, tanpa emosi sedikit pun.
__ADS_1
"Tentu saja, karena mas Ivan hanya mencintai ku, jika dia mencintai mu, tidak mungkin dia berpaling dari mu, dan sekarang lebih memilih ku." Sambar Hana yang sepertinya mulutnya sejak tadi sudah gatal ingin menyerang Alya.
"Mungkin apa yang di katakan oleh mu itu memang benar, jujur,,, saat aku tau Ivan mencintai orang lain, aku sempat merasa sedih dan sakit hati," Alya menjeda ucapannya, untuk membiarkan Han tertawa puas dengan pengakuannya ini.
"Namun, ketika aku tau kau orangnya, aku mulai paham, aku rasa kalian serasi. Karena orang seperti kalian hanya butuh napsu dan kepuasan, bukan cinta!" Sambung Alya yang sontak saja membuat Hana yang tadi tertawa dengan puas dan mengejeknya kini berubah menjadi kesal dan marah, dia juga harus menahan rasa malu karena para undangan yang hadir mulai berkasak-kusuk membicarakan dirinya, bahkan sebagian orang terang-terangan menertawakannya dengan sinis.
"Pergi, kau merusak hari bahagia ku, enyah dari hadapan ku!" Usir Hana, dia lupa kalau rumah tempat dia melaksanakan resepsi pernikahan, adalah rumah milik Alya juga, karena Alya ikut andil dalam membayar cicilan rumah dan membayar uang muka saat akad kredit, sementara dirinya tidak punya andil apapun, namun sok menguasai.
"Sepertinya kau sangat bahagia karena keinginan mu untuk memilikinya dan menyingkirkan ku terwujudkan, tapi ingat, bahagia saat ini saja tidak cukup, karena sisanya akan kau pakai untuk menuai karma atas segala perbuatan jahat mu," ujar Alya seraya melemparkan senyum termanisnya.
"Selamat menempuh hidup baru, semoga kau tak akan pernah berada di posisi ku saat ini, memberikan selamat atas pernikahan suami kita dengan selingkuhannya,"
Setelah mengatakan semua itu Alya lantas pergi meninggalkan pelaminan, meninggalkan Hana dengan rasa marah yang tidak dapat dia keuarkan semuanya, meninggalkan Yuni yang terus menatapnya dengan tatapan kebencian, dan meninggalkan Ivan yang bahkan sejak tadi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun saat kedua istrinya saling beradu argumen dan sling menjatuhkan di hadapannya.
Hana yang kini mengandung buah hatinya, dan Alya yang sampai saat ini masih menjadi pemilik hatinya, keduanya mempunyai arti tersendiri bagi Ivan.
Sampai di firma, dia langsung menuju rooftop, dia ingin menumpahkan segala marah, kesal dan sedihnya, bohong jika dirinya tidak sakit hati saat melihat suaminya bersanding di pelaminan bersama wanita lain, bahkan dia harus mengucapkan selamat padanya.
Ternyata perjuanganterbesar dalam suatu hubungan bukanlah mempertahankan hubungan itu sendiri, namun rela melepaskan saat hubungan sudah tidak bisa di lanjutkan kembali.
"Aaaarrrggggghhhh!" Teriak Alya sekencang mungkin, di tempat iu dia bebas berteriak karena tidak akan ada orang yang mendengar jeritannya, dia hanya ingin melepas beban yang sejak tadi terasa berat di pikulnya.
"Apa itu membuat mu lebih ringan?"
__ADS_1
Sebuah suara mengagetkan Alya yang tak menyadari kalau ada orang lain di tempat itu.
"Pak Marcel!" Gagap Alya, sedikit malu karena dia tadi berteriak seperti orang gila.
"Tuhan berhak memberi kita ujian, dan kita tak perlu sibuk untu meresponnya dengan banyak rasa tidak terima atas keadaan ini, saat kita di uji, berarti ada kepantasan kita untuk menerima ujian tersebut. Jalani, hadapi, karena semakin di lawan, maka akan semakin berat ujian ini untuk di pikul." Ujar Marcel sambil berjalan mendekati Alya, lantas dia berdiri tepat di samping Alya seraya menyodorkan sebotol air mineral padanya.
"Tapi ini menyakitkan!" Lirih Alya yang akhirnya menyerah dan mengatakan apa yang kini di rasakannya tanpa di tutup-tuupi seperti bisanya.
"Saya pasti terlihat sangat menyedihkan sekarang ini," sambung Alya pasrah, dia tidak peduli lagi apa yang akan di pikirkan Marcel tentang dirinya, looser, atau bahkan cengeng, apapun itu dia hanya ingin tidak berpura-pura, setidaknya untuk saat ini saja.
"Tidak. Kau masih tetap menjadi orang yang beruntung dalam hal ini, kau hanya kehilangan orang yang tidak mencintai mu, sementara suami mu kehilangan orang yang mencintainya."
Ucapan Marcel lagi-lagi membuat Alya merasa tenang, dia sampai tak habis pikir, mengapa pria yang terlarang untuk bersamanya itu selalu mampu membuatnya merasa nyaman dan melupakan kesedihannya.
Tanpa di sadarinya Alya mentap wajah tampan Marcel dengan sangat dalam, ini pertama kalinya dia menatap pria itu dari jarak yang lumayan cukup dekat, wajah pria itu terlihat tampan, teduh dan berhasil membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Oh, mengapa Tuhan selalu mengirim pria ini untuk meredakan kesedihannya, dia tidak ingin perasaan nyaman ini berangsur menjadi perasaan yang tak pantas dia rasakan pada pria milik wanita lain, dia tidak boleh menjadi seperti Hana, dan istri Marcel juga tidak boleh merasakan sakit seperti yang dia rasakan saat ini, begitulah pergulatan batin yang terjadi pada diri Alya.
Lamunan Alya seketika buyar saat Marcel tiba-tiba panik setelah menerima panggilan telepon.
"Aku harus segera ke rumah sakit!" Pamit Marcel setengah berlari menuju tangga dan menghilang di sana dalam sekejap mata, bahkan Alya tidak sempat bertanya apa yang terjadi, serta siapa yang di berada di rumah sakit.
Tapi, bukankah itu bukan ranahnya untuk tau? Tidak ikut campur telalu jauh dalam kehidupan Marcel sepertinya akan menjadi pilihan yang tepat untuk Alya, cukuplah berhubungan masalah pekerjaan saja, tidak untuk yang lainnya.
__ADS_1