Celana merah jambu

Celana merah jambu
Menangislah!


__ADS_3

"Sebaiknya kamu tanyakan pada ibu dari calon anak mu ini, dalam rangka apa dia membawa ibu mu ke tempat kost ku?" Jari telunjuk Alya mengarah ke Hana yang kini gelagapan dan terlihat menjadi serba salah, terlebih saat melihat cara Ivan menatap Alya dengan begitu dalam dan penuh rasa bersalah, Hana menjadi sangat cemburu di buatnya, karena seingatnya, Ivan tidak pernah menatapnya dengan tatapan seperti itu selama mereka menjalin hubungan, membuatny merasa tidak suka dan lebih ingin memisahkan pasangan suami istri itu dan memiliki Ivan sendirian, utuh hanya untuknya.


Ivan terlihat kaget dengan apa yang di katakan Alya padanya, bagaimana istrinya bisa tau tentang kehamilan Hana, dan untuk apa ibunya beserta kekasihnya itu datang ke tempat Alya, namun saat Ivan hendak bertanya tentang itu pada Hana, tiba-tiba seorang dokter memanggilnya untuk membicarakan tentang kondisi sang ibu lebih lanjut di ruangannya, sehingga dengan terepaksa dia urung menanyakan hal itu pada Hana, dia juga tampak kecewa karena belum bisa menjelaskan lebih lanjut pada Alya, sungguh semua ini di luar prediksinya, karena tanpa dia duga, Alya akan mengetahui tentang kehamilan Hana begitu cepat, ini berarti akan membuat perdamaian dirinya dengan Alya terancam akan gagal.


Kepergian Ivan ke ruang dokter yang merawat ibunya, tentu saja menjadi kesempatan bagi Hana untuk bicara dengan Alya, setelah apa yang terjadi, sepertinya dia tak perlu lagi berpura-pura di depan Alya, dia tak ragu untuk menunjukkan wajah aslinya, apalagi dirinya merasa di atas angin dengan dukungan mertua dan juga anak yang ada di perutnya yang tentu saja akan lebih menguntungkan posisi dirinya, dan kesempatan untuk mendapatkan Ivan seutuhnya seperti sudah jelas berada di depan matanya.


"Mbak Alya, tunggu!"


Lagi-lagi Alya harus menghentikan langkahnya, jika tadi Ivan yang memanggilnya, kali ini Hana yang mengejarnya dan membuatnya terpakas membalikan badan kembali.


"Apa yang kau inginkan?" Ketus Alya dingin.


"Semua sudah terbuka sekarang, tidak ada yang perlu di rahasiakan lagi, aku harap mbak Alya lebih bijaksana dalam menyikapi semua masalah ini." Ujar Hana.


"Bijaksana? Apa lagi yang harus aku sikapi dengan bijaksana? Kuranmg bijaksana apa aku selama ini membiarkan kau dan suami ku berm,ain gila di belakang ku, apa aku pernah mengusik kalian?"Alya menggelengkan kepalanya , seraya tersenyum nyinyir.


"Mba, aku mengandung anak mas Ivan sekarang, anak ini perlu orang tua yang utuh!" Pekik Hana.


"Lantas kau berharap aku bagaimana? Itu anak kalian, tidak ada hubungannya sama sekali dengan ku, kalian membuatnya tanpa melibatkan aku sama sekali, kenapa sekarang saat sudah menjadi seperti ini kau memaksa ku untuk terlibat dalam masalah kalian?"


"Mbak, lepaskan Ivan," ucap Hana tanpa rasa malu sedkitpun.

__ADS_1


"Aku tak pernah menahannya!" Jawab Alya lugas.


"Ivan hanya merasa kasihan dengan mu makanya masih mempertahankan pernikahan kalian, dia hanya terpaksa, biarkan dia berbahagia dengan keluarga kecilnya, dia sangat menginginkan keturunan, ini kebahagiaannya." Ujar Hana seolah tak menyadari jika kata-katanya itu sangat menyakiti lawan bicaranya.


"Kenapa aku harus ikut bertanggung jawab atas kebahagiaan kalian, sementara kalian merenggut kebahagiaan ku tanpa rasa bersalah sedikitpun?" Tatapan tajam Alya seperti menembus jantung Hana yang merasa tidak kuasa melawan tatapan buas Alya yang seakan bersiap menerkamnya tanpa ampun.


Melihat lawan bicaranya tak mampu lagi berkata-kata, akhirnya Alya memutuskan untuk pergimeninggalkan kekasih gelap suaminya itu, lagi pula dia merasa sudah lumayan puas mengungkapkan apa yang ingin dia katakan, meski itu tidak semuanya.


"Apa kamu baik-baik saja?"


Pertanyaan sederhana yang menjadi berjuta makna saat diri sedang merasa tidak baik-baik saja, saat seisi dunia seakan memusuhinya, di saat seluruh hidupnya hanya berisi masalah, pertanyaan se-sederhana itu yang justru membuat diri menjadi kuat.


Alya mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk menahan perih, setelah beberapa saat yang lalu berperan menjadi macan betina yang menakutkan, saat tidak ada siapapun dirinya menjadi seekor kucing lemah yang tetap merasakan sakit di hatinya, matanya menangkap sosok Marcel berdiri di depan loby rumah sakit, berharap pertanyaan itu berasal dari Ivan, sang suami yang selalu menggembar gemborkan kalau dia masih sangat menyayanginya dan tidak ingin kehilangannya, rupanya pertanyaan itu terlontar dari mulut Marcel, pria ketus, jutek dan tidak di harapkan kehadirannya sekarang ini.


Merasakan bagaimana sakitnya di hianati suami, Alya tidak ingin wanita lain merasakan hal yang sama, apalagi dia yang harus menjadi penyebabnya, rasanya itu tak akan pernah terjadi dalam kamus hidup Alya.


"Pak Marcel?" Cicit Alya.


"Damar mengabari ku tentang kejadian di kost tadi pagi, dan aku langsung menyusul ke sini, aku takut terjadi apa-apa dengan mu." Terang Marcel yang membuat Alya mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Marcel.


"Ah, maksudnya aku khawatir jika terjadi apa-apa dengan mu, sehingga firma kita yang baru berjalan juga rencana kita membongkar kelicikan JT jadi terhambat, begitu maksud ku," ralat Marcel, mengulangi ucapannya agar tak terdengar menjadi ambigu.

__ADS_1


"Saya baik-baik saja, dan masalah pribadi saya tidak akan berpengaruh apapun pada pekerjaan, Bapak tenang saja." Kata Alya, hampir saja dirinya merasa ke-geeran karena merasa Marcel sedang menghawatirkan diorinya, namun rupanya, pria itu hanya menghawatirkan masalah pekerjaan dan juga masalah perusahaannya saja, tentu saja hal itu membuat Alya tersenyum getir dalam hati dan kembali meyakini kalau tidak ada yang benar-benar peduli pada dirinya.


"Ayo pulang!" Ajak Marcel.


"Tapi saya bawa kendaraan, pak. Terimakasih." tolak Alya.


"Mobil mu sudah di bawa Damar tadi, aku yang menyuruhnya untuk membawa mobil mu pulang, lagi pula,,, tidak baik berkendara saat keadaan hati sedang tidak baik-baik saja sepeti mu itu." Ujar Marcel santai.


"Eh? Saya baik-baik saja kok, pak." Tepis Alya menolak tuduhan Marcel yang menyebut hatinya sedang tidak baik-baik saja, padahal memang begitu kenyataannya.


"Sudahlah di sini tidak ada kekasih suami mu, tidak perlu berpura-pura lagi." Oceh Marcel seraya membukakan pintu mobilnya mempersilahkan Alya untuk segera naik dan pergi bersamanya.


Tanpa mereka sadari kalau diam-diam hana ternyata melihat mereka berbicara berdua dan kemuadian pergi meninggalkan pelataran parkir rumah sakit dalam mobil yang sama, senyum jahatnya terkembang saat dia berhasil mengabadikan beberapa foto kebersamaan Alya dan Marcel, dia yakin kalau itu akan membuat dirinya semakin mudah menghasut Ivan untuk bercerai dengan istrinya yang seolah juga selingkuh di belakangnya.


Sepanjang perjalanan Alya hanya terdiam, dia tidak ingin membuat celah di hatinya untuk berpikiran yang tidak-tidak tentang sikap Marcel yang terkadang membuatnya berpikiran kalau Marcel terlalu memberi perhatian lebih padanya, dan dia tahu kalau ini salah, sehingga dia tidak ingin ini semakin berkembang dan lebih jauh lagi.


Belum lagi dia juga masih memikirkan tentang perkataan Hana yang menyebutkan kalau Ivan sangat bahagia dengan kehadiran buah hati di antara mereka, tentu saja Alya tahu, karena selama ini Ivan juga selalu mengatakan kalau dia sudah sangat ingin menimang buah hati bersamanya, namun apa daya Tuhan belum memberi kepercayaan padanya, justru ironisnya Ivan memndapatkan keinginan terbesarnya itu dari orang lain.


Mungkin benar apa yang di katakan ibu mertuanya pada dirinya, kalau dia kini telah kalah, karena tidak mampu memberikan apa yang Hana berikan pada Ivan, dia di pecundangi oleh gundik suaminya, sungguh itu membuatnya terlihat menyedihkan sekarang ini.


Banyak realita yang tak ingin dia ceritakan, menutupi semua sakit dan luka dengan berbagai kiasan, seakan kokoh berdiri tegak tanpa cobaan, namun sejatinya, jauh di lubuk hatinya teriris menahan tangis, namun Alya selalu merasa sendiri, sehingga hanya bisa menelan semua kepahitannya sendirian.

__ADS_1


"Apa salahnya memberi reward pada diri sendiri dengan cara menumpah ruahkan jiwa yang sebenarnya sudah teramat lelah dengan cara menangis, apa kau tidak lelah selalu ingin terlihat baik-baik saja dan sok kuat di depan semua orang? Semua punya titik lelahnya masing-masing, begitupun dengan kesedihan dan kebahagiaan, semua punya takarannya masing-masing, menangislah bukankah kau masih manusia? Bersedihlah, bukankah kau masih punya hati? Lakukan semua sewajarnya dan tidak berlarut-larut." Ujar Marcel yang seakan tahu gejolak yang tengah di rasakan Alya dalam batinnya, sehingga membuat Alya yang tadinya hanya bisa berkaca-kaca menahan tangis, kini menghancurkan bendungan di matanya dan membiarkan buliran bening itu jatuh dan meleleh di ppinya tanpa suara, meski hatinya terasa ingin menjerit.


__ADS_2