
"Maaf pak, apa saya membuat kesalahan?" Tanya Alya pada Marcel yang seharian hanya berbicara seperlunya saja, itu pun hanya sepatah dua patah kata sja, selebihnya dia lebih banyak terdiam, setelah obrolan mereka tadi pagi.
"Tidak! Bukankah kau ingin hubungan kita profesional hanya sebatas pekerjaan saja? Kau mungkin lebih tau kalau aku selalu begini jika sedang bekerja, tidak banyak membicarakan hal yang tidak penting!" Ujar Marcel dingin.
'Ishh, nih orang bentar baik, bentar jutek, benar panas, bentar adem, maunya apa, sih?' gerutu Alya yang hanya berani dia katakan dalam hatinya saja.
"Oh, baiklah, kalau begitu saya permisi pulang duluan!" Pamit Alya tidak ingin memperpanjang pembicaraan dengan Marcel, lagi pula ini sudah waktunya pulang. Yang penting Marcel sudah mengatakan jika dirinya tidak melakukan kesalahan apapun hari itu, positif thinking saja, mungkin Marcel sedang benar-benar ingin fokus dan serius dalam pekerjaannya, sehingga dia lebih banyak mencurahkan perhatiannya pada pekerjaan, atau mungkin dirinya saja yang terlalu over thinking.
Namun tiba-tiba Rudy menelpon Alya dan meminta dirinya untuk meminta salinan dokumen pengerjaan proyek yang akan tengah mereka lakukan dan meminta Alya untuk melaporkan progresnya sampai di mana, Rudy meminta laporan itu di kirim padanya paling lambat malam ini karena akan di jadikan bahan pembahasan rapat besok pagi oleh Rudy.
Alya yang sudah berpamitan untuk pulang itu pun akhirnya kembali ke meja kerjanya, dan menyalin semua laporan yang Rudy minta, sialnya laporan dan dokumen yang di minta Rudy itu sangat banyak, belum lagi Alya harus menulis laporan progres pengerjaan proyek sendirian , karena kedua rekan tim nya sudah pulang terlebih dahulu tadi, sementara tugas dari Rudy ini sangat mendadak.
Sudah hampir pukul tujuh malam dan pekerjaan Alya belum selesai, sebenarnya bisa saja Alya mengerjakan laporan itu di rumah, namun mengingat Rudy meminta laporan paling lambat di setor malam itu juga, Alya merasa tidak akan cukup waktunya jika dia harus mengerjakan laporan itu di rumah, sehingga dia lebih memilih untuk mengerjakan laporannya di kantor Salim grup.
Marcel menghentikan langkahnya saat melewati ruang kerja yang biasa di tempati Alya lampunya masih menyala, padahal biasanya dia paling terakhir pulang karena harus mengecek ulang semua laporan yang masuk seharian.
Karena merasa penasaran, Marcel akhirnya mendekati ruangan itu, benar saja, Alya yang tadi sore sudah berpamitan padanya untuk pulang terlihat masih sibuk dengan layar laptopnya.
Awalnya Marcel ingin mengabaikan dan tidak mau peduali lagi dengan Alya yang mungkin kini sudah merasa bahagia dengan pria pilihannya, namun baru beberapa langkah kakinya menjauh dari ruangan itu, dia malah berbalik arah dan menghampiri Alya yang terlihat sangat sibuk dan kerepotan dengan pekerjaannya.
"Apa yang kau kerjakan? Bukankah kau sudah pamit sejak tadi sore?"
Pertanyaan Marcel tidak langsung Alya jawab, sejenak dia terhenyak karena terkejut dengan teguran Marcel di ruangan yang sudah terasa sepi sejak beberapa jam yang lalu itu.
"Ah, ini--- Rudy meminta saya untuk mengirim progres pengerjaan proyek, katanya akan di jadikan bahan rapat untuk besok pagi, sehingga saya harus mengirimkannya malam ini juga padanya." terang Alya sambil menunjukkan laporan yang sedang di buatnya yang sedikit lagi sudah siap di kirim ke email Rudy.
__ADS_1
"Hmm, kekasih perhatian mu itu keterlaluan, bagaimana bisa dia membiarkan kekasihnya sendiri lembur sampai malam begini," gerutu Marcel sambil mengambil alih laptop Alya berniat untuk ikut membantu menyelesaikan tugas Alya agar cepat selesai.
"Tidak usah, ini sudah hampir selesai kok, hanya tinggal beberapa lembar lagi, anda pulang saja, kasihan anak dan istri anda menunggu di rumah." Sindir Alya.
"Mereka cukup pengertian, dan tidak akan marah hanya karena aku meluangkan waktu untuk membantu kamu menyelesaikan tugas." Jawab Marcel seakan membenarkan apa yang ada di pikiran Alya saat ini.
Alya hanya ber 'O' ria, tentu saja ucapan Alya tadi sebenarnya hanya memancing tanggapan Marcel mengenai hubungannya dengan Sita saat ini.
"Syukurlah, by the way,,, bagaimana kabar Daniel?" Tanya Alya mencairkan suasana, karena sepertinya Marcel tidak akan perg sebelum dirinya menyelesaikan tugas yang di berikan Rudy padanya, itu berarti Marcel akan berada di dekatnmya sekitar lima belas atau dua puluh menit ke depan, mengingat masih ada beberapa halaman yang harus Alya kerjakan sekarang ini, akan sangat canggung jika mereka saling terdiam, jadi Alya memutuskan untuk membuka pembicaraan yang kira-kira netral dan tidak akan merusak suasana.
"Daniel--- baik, dia tumbuh dengan cepat, dia sehat dan ceria." Jawab Marcel, dia mengatakan hal-hal baik tentang Daniel, namun raut wajahnya tidak menampakkan kebahagiaan atas apa yang sedang di ceritakannya, seperti ada sesuatu yang mengganjal dan mengganggu hatinya saat dia menceritakan tentag anak angkatnya itu.
"Ah, begitu rupanya, saya turut bahagia mendengarnya, jujur saya sangat merindukan nya" ungkap Alya.
"Hah, maksudnya?" Tanya Alya, bukankah selama ini Marcel tinggal bersama Daniel dan Sita, mengapa dia merindukan Daniel yang setiap hari dapat dia temui kapan pun?
"Oh, maksudnya aku juga merindukannya karena seharian ini belum bertemu dengannya, ah sudahlah lupakan saja, kita bahas yang lainnya saja!" Marcel mengibaskan sebelah tangannya seperti sedang menampar udara di depan wajahnya, sebagai tanda dia tidak nyaman membahas atau membicarakan topik yang saat ini sedang mereka bahas.
"Selesai!" Cicit Alya, setelah dua puluh menit berlalu, waktu hampir menunjukkan pukul delapan malam saat Alya sudah berhasil mengirimkan semua laporan yang di minta pada Rudy.
"Terimakasih sudah menemani saya lembur pak," Alya membungkukan sedikit badannya ke depan tanda hormat dan sebagai ucapan terimakasih dengan tulus.
"Aku tidak butuh ucapan terima kasih mu, kini saatnya gantian kau yang menemani ku," ujar Marcel menolak ucapan terimakasih Alya.
Rupanya di balik kebaikannya itu dia menyimpan maksud lain.
__ADS_1
"Tapi---" Alya sangat ingin menolak, apalagi mengingat saat ini sudah malam, dan mungkin dia akan sampai ke rumah larut malam.
"Tidak usah menolak, jadilah manusia yang pintar membalas budi." Ujar Marcel dingin.
"Padahal aku tidak meminta untuk di temani, pantas saja perasaan ku tidak enak sejak tadi." Gumam Alya lirih.
"Jangan banyak menggerutu, aku mendengar mu!" ujar Marcel, membuat Alya akhirnya menutup rapat bibirnya.
"Kemana kita, bukankah ini arah ke rumah saya? Anda tidak usah repot-repot mengantar saya pulang." Tolak Alya yang sangat tahu jika jalan yang kini di laluinya adalah jalan menuju rumahnya.
"Kau terlalu percaya diri, aku tiba-tiba ingin makan pecel lele yang ada di dekat kawasan rumah mu," Ujar Marcel beralasan.
Alya terdiam sejenak, memang benar ada sebuah warung tenda yang menjual pecel lele di dekat kawasan rumahnya, tapi apa benar Marcel rela melakukan perjalanan sejauh itu hanya untuk pecel lele yang di pusat kota saja banyak di jumpai, atau itu hanya alasannya saja karena ingin mengantarnya pulang?
Alya merasa lega saat ternyata Marcel memesan makanan itu untuk di bungkus, itu berarti dia tidak harus menemaninya makan di sana, namun ternyata dugaannya meleset, karena sat mereka tiba di rumah Alya karena Marcel keukeuh ingin mengantar Alya pulang dengan alasan tanggung sudah hampir sampai, Marcel malah ikut turun dan membuntutinya ke depan pintu rumahnya.
""Anda tidak jadi pulang?" Tanya Alya kebingungan.
"Aku berubah pikiran, sepertinya perut kusangat lapar, punya riwayat penyakit maag, jadi tidak boleh telat makan." Ujar Marcel yang langsung ikut masuk ke dalam rumah Alya meski tanpa Alya persilahkanterlebih dahulu.
"Duduk di sini dan makanlah bersama ku, dokter bilang kau tidak boleh telat makan, dan aku tidak melihat mu makan apa-apa sejak siang tadi," kata Marcel menyodorkan sebungkus nasi dan pecel lele yang tadi sengaja dia pesan dua porsi.
Alya tidak menyangka jika di balik sikap dingi dan ketusnya Marcel juga masih memperhatikan dirinya, bahkan dia tahu jika siang tadi dia men-skip makan siangnya karena pekerjaan yang sangat banyak.
'Oh no,,,no,,,no,,, sadarlah Alya, percaya diri itu baik, tapi sadar diri itu lebih baik, dia sudah menjadi milik orang lain, stop baper!' ujar Alya pada hatinya sendiri yang mulai berbunga-bunga dan menghangat karena tak menyangka akan mendapat perhatian seperti itu dari Marcel.
__ADS_1