Celana merah jambu

Celana merah jambu
Aku bukan bapak mu!


__ADS_3

"Oke, aku setuju, apapun itu asal kamu membatalkan perceraian dan kita bisa kembali seperti sedia kala, aku akan setuju." Ujar Ivan mantap dengan perkataannya, membuat lagi-lagi Alya tertawa girang di dalam hatinya, akhirnya Ivan bisa dengan mudah masuk dalam jerat rencananya.


"Hanya dua syarat saja yang ingin aku ajukan, dan seharusnya itu tidak terlalu memberatkan mu." Ujar Alya seraya menatap intens wajah Ivan yang juga sedang menatapnya penuh rindu.


"Aku akan berusaha, katakan!" Kata Ivan terdengar tidak sabar.


"Yang pertama, dalam masa perdamaian ini aku tidak mau kembali ke rumah," Urai Alya sengaja menjeda kalimatnya hanya sampai syarat yang pertama terlebih dahulu, untuk melihat reaksi Ivan akan seperti apa.


"Kenapa? Bukankah kita seharusnya berada dalam satu rumah lagi, agar kita lebih gampang dalam memperbaiki hubungan kita ini? Lantas apa gunanya kita berbaikan kalau kita masih berpisah seperti ini?" Protes Ivan.


"Tunggu dulu, maksud ku, aku ingin kita seperti masa pacaran lagi, dengan begitu rasa cinta yang mulai terkikis di antara kita akan kembali hadir seperti masa-masa awal pacaran kita, aku rasa kita mungkin kita perlu suasana itu, kita masih bisa tetap bertemu setiap hari, hanya kita tidur di tempat yang terpisah, aku ingin kamu mengejar ku seperti dulu saat aku belum menerima cinta mu, mungkin itu akan membuat ku kembali merasakan cinta yang utuh pada mu dan rumah tangga kita bisa terselamatkan." Terang Alya.


Ivan terdiam, dia merasa usul dari Alya itu tidak ada salahnya untuk di coba, lagi pula dengan begitu, dia masih bisa membagi waktu dengan Hana, sifat serakahnya memang sepertinya sudah mendarah daging, dia ingin kembali pada Alya, namun dia juga tidak ingin kehilangan Hana.


"Oke, aku mengerti, dan aku setuju, tapi kapan kamu akan kembali ke rumah, bagaimana pun, suami istri itu idealnya tinggal satu atap."


"Tentu saja, aku pasti akan kembali ke rumah ketika kamu berhasil membuat ku kembali luluh dan jatuh cinta lagi pada mu."


"Tapi kapan itu?" Sepertinya Ivan tidak ingin perasaannya di gantung terlalu lama oleh Alya.

__ADS_1


"Ya tergantung usaha mu, kalau kamu bisa lebih cepat meluluhkan hati ku, kita akan lebih cepat tinggal bersama lagi." Alya mengangkat kedua bahunya.


"Syarat yang kedua?" Sepertinya Ivan semakin tidak sabar dengan syarta apa lagi yang akan di ajukan istrinya itu.


"Syarat yang ke dua, jangan larang aku bekerja."


"Kamu kembali bekerja lagi di Salim grup?" Tanya Ivan, yang pernah melihat Alya masuk ke kantor itu beberapa hari yang lalu, sehingga dia menyimpulkan kalau Alya kembali bekerja di sana.


"Tidak, aku melamar di Firma akuntan baru, aku akan memulainya dari awal lagi, seperti hal nya hubungan kita yang di mulai dari awal lagi, meski hanya sebagai staf biasa di kantor yang baru dan belum terkenal, tapi ini dunia ku, aku tidak bisa jika harus berdiam diri di rumah, tapi--- jika kamu keberatan dengan syarat ku yang kedua ini, kamu bisa lupakan perdamaian kita." Ujar Alya cuek, karena dia yakin kali ini Ivan pasti akan mengizinkannya bekerja jika memang dia serius ingin kembali bersamanya.


Alya terpakasa memberitahu tentang Firma nya itu, karena dalam beberapa hari ini kantornya itu akan segera di buka, dan dia mungkintidak bisa menutupinya dari Ivan, yang penting Ivan tiodak tahu kalau Firma itu milik dirinya yang bekerja sama dengan Marcel, lagi pula, pemilik Firma itu sengaja di atas namakan Darma dari awal, karna untuk memudahkan kepengurusan surat-surat dinama yang mengurus semuanya adalah Darma, sementara baik Alya maupun Marcel sama-sama hanya ingin namanya berada di belakang layar saja.


"Aku bisa mencukupi mu tanpa kamu harus bekerja," lirih Ivan, dirinya tidak habis pikir dengan Alya yang tetap memilih mempertahankan keinginannya untuk bekerja, padahal jelas-jelas dirinya tidak suka, dan bisa membiayainya.


"Baiklah, aku setuju dengan kedua syarat mu, berarti kamu juga tidak akan melanjutkan gugatan perceraian kita, kan?" Putus Ivan akhirnya walau dengan berat hati.


Alya hanya mengangguk, dia setuju untuk tidak melanjutkan gugatan perceraiannya, karena baginya, tidak melanjutkan bukan berati batal mengajukan, ini hanya soal waktu, dimana dia terpaksa harus menundanya beberapa saat demi tujuan tertentu.


"Maaf, jam berkunjung untuk tamu sudah habis, batas berkunjung bagi penghuni kost adalah pukul sepuluh malam, dan ini sudah lewat setengah jam." Tanpa di duga Darma tiba--tiba muncul dari balik pintu yang setengah terbuka itu, berperan layaknya bapak kost yang galak dengan wajah yang di buat se sangar mungkin, membuat Ivan yang untungnya tidak pernah mengenal Darma itu menoleh dengan marah.

__ADS_1


"Anda siapa? Berani-beraninya mengatur kami, kami ini suami istri yang sah!" Sewot Ivan, dengan raut wajah tidak kalah sangarnya dari Darma.


"Tapi ini kost-kost an khusus wanita single, dan saya selaku pemilik kost tidak mau kalau terjadi apa-apa pada para penghuni kost saya, tamu pria hanya di perkenankan sampai pukul 10 malam saja, itu aturannya. Mohon untuk kerja samanya." Darma berdiri di depan pintu seraya menunggu Ivan pergi dari kamar kost Alya, sehingga membuat Ivan tidak nyaman karena Darma terus memperhatikan setiap gerak gerik Ivan.


"Huh, ini tempat kost atau asrama militer, sih? Aturannya gak masuk akal, lagian bisa-bisanya sih milih kost di tempat begini, mana bapak kost nya kaku gitu, menyebalkan! Besok kamu pindah saja, aku akan menyewa apartemen untuk mu!" Gerutu Ivan, tak peduli jika Darma di sana mendengar ocehannya sambil berlalu dari sana di ikuti oleh Alya di belakangnya.


"Aku nyaman dan betah di sini, lagian bukannya bagus tempat yang ketak seperti ini, jadi kamu tidak perlu hawatir ada tamu pria yang menemui ku," goda Alya.


Dengan wajah cemberut akhirnya Ivan pergi meninggalkan Alya, meski dirinya masih merasa rindu pada istrinya itu, namun apa daya, aturan kost kejam itu memaksanya untuk segera pulang, sepertinya dia harus pulang ke kontrakan Hana, karena niat hati ingin melepaskan rindu dengan Alya harus batal, dan kini napsunya harus segera di salurkan dan di tuntaskan dengan segera.


"Maaf pak, apa memang ada aturan seperti tadi yang bapak katakan itu?" Tanya Alya pada Darma penasaran, tempat kost di kota besar dengan mayoritas penghuninya rata-rata orang dewasa, baik itu mahasiswi maupun pekerja, tapi aturannya sangat ketat, seperti asrama putri.


"Ada," jawab Darma singkat, namun baru saja dia selesai berbicara, bahkan mulutnya saja baru terkatup, seorang penghuni kost yang tinggal persis di sebelah kamar Alya baru saja pulang di temani seorang pria, bahkan setelah menyapa Darma sekedarnya mereka langsung masuk ke kamar dan menutup rapat pintunya, membuat Darma menjadi serba salah dan kebingungan di hadapan Alya.


"Itu!" Tunjuk Alya ke arah pintu kamr sebelah kamarnya yang kini tertutup rapat itu.


"Aturannya baru di buat dan di berlakukan hari ini, kenapa, ada masalah?"


Alya spontan menoleh ke arah sumber suara, entah sejak kapan ternyata Marcel berdiri di belakang mereka.

__ADS_1


"Bapak?" Cicit Alya gugup, dia tidak menyangka jika Marcel tiba-tiba ada di sana, dia belum memberitahukan perihal rencananya untuk mendekati Ivan guna mencari informasi mengenai kelicikan JT.


"Aku bukan bapak mu!" ujar Marcel dengan ketus dan dingin.


__ADS_2