
"Hubungan saya dengan pak Marcel hanya sebatas rekan kerja saja, setelah saya keluar dari Salim grup, kebetulan saya di minta beliau untuk menjadi akuntan ekternal di perusahaannya, hanya sebatas itu." Terang Alya yang sontak saja membuat Marcel langsung menoleh tak percaya padanya, sungguh Marcel tidak menyangka jika Alya akan memberi jawaban seperti itu, entah apa yang terjadi pada Alya sehingga tiba-tiba saja dia tidak mengakui hubungan yang terjalin di antara mereka.
"Apa maksud mu, Al? Kenapa kamu mengatakan kalau tidak ada hubungan apa-apa di antara kita?" Geram Marcel dengan rahang yang mulai mengeras.
Namun Alya tidak memperdulikan pertanyaan Marcel, dia hanya terdiam setelah memberikan penjelasan pada para wartawan itu.
Begitu pun dengan Sita, dia tidak menyangka jika Alya akan memberikan jawaban seperti itu, sehingga dia langsung menimpali, saat para wartawan merasa tidak puas dengan jawaban yang di berikan Alya pada mereka.
"Tidak, tidak. Maksud Alya mungkin saat ini mereka hanya dekat, dan kedepannya kita tidak tau, karena takdir itu merupakan rahasia Tuhan." Sambar Sita menjawab pertanyaan Wartawan.
"Saya sendiri pun sebagai mantan istri Marcel tidak keberatan dan sangat setuju jika mereka suatu saat bisa bersama, karena Alya wanita yang baik dan sangat sayang pada putra saya." Sambung Sita.
"Apa yang terjadi, apa seseorang telah menekan mu? Kenapa tiba-tiba kamu mengatakan kalau di antara kita tidak ada hubungan apa-apa, apa maksud dari semua ini?" Tanya Marcel saat dirinya dan Alya sudah berada di dalam mobil.
Bahkan sebrlumnya Alya sempat menolak untuk oulang satu mobil dengan Marcel tanpa alasan yang jelas.
__ADS_1
Perubahan sikap Alya yang terkesan tiba-tiba itu tentu saja membuat Marcel bertanya-tanya, karena beberapa saat sebelumnya mereka tidak ada masalah apapun, bahkan semalam mereka tidur di kasur yang sama bertiga dengan Daniel, karena bayi itu rewel semalaman, Marcel yang ikut menenangkan putranya itu tidak sengaja tertidur di kasur yang sama dengan Alya dan Daniel, namun mengapa tiba-tiba saja sekarang sikap Alya berubah drastis?
"Tidak ada yang menekan ku, mas." Jawab Alya datar.
"Atau aku melakukan kesalahan pada mu?" tanya Marcel lagi, yang langsung di jawab dengan gelengan kepala oleh Alya, pertanda kalau dirinya tidak melakukan kesalahan yang membuat Alya bersikap seperti utu.
"Lalu kenapa?" Tanya Marcel lagi penasaran.
"Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan hubungan kita." Ujar Alya.
"Apa maksud mu Al?" Spontan Marcel menginjak pedal rem sekuatnya hingga membuat tubuh Alya terhentak ke depan, beruntung Marcel sigap menahan agar kepala kekasihnya itu tidak mengenai dashbosrd mobilnya.
"Aku akan sangat merasa bersalah jika kita tetap melanjutkan hubungan kita, mbak Sita sangat baik pada kita, aku juga kasihan dengan Daniel dan kamu yang harus terpisah karena perceraian." Ujar Alya.
"Apa hubungannya kebaikan Sita dengan perpisahan kita? Aku dan Sita berpisah karena kesepakatan kami berdua, bukan karena kamu, bukankah aku sudah mengatakan pada mu kalau pernikahan kami memang tanpa cinta dan penuh keterpaksaan sedari awal," urai Marcel.
__ADS_1
"Tapi Daniel? Bagaimana dengan buah hati kalian, dia tidak bersalah dalam hal ini, belum lagi kedua kakeknya yang terlihat sangat menyayangi Daniel tadi." Kata Alya, membuat Marcel mengerutkan keningnya saat mendengar kata-kata Alya barusan.
"Alya, apa aku tidak pernah bercerita pada mu kalau Daniel bukan lah darah daging ku? Aku menikahi Sita dalam keadaan dia hamil dan itu karena paksaan ayah ku dan juga ayahnya Sita atas dasar demi kepentingan bisnis dan juga agar harga diri keluarga Haryanto terselamatkan, aku di jual ayah ku untuk menikah dengan Sita demi perusahaan!" Beber Marcel yang rasa-rasanya dia pernah menceritakan hal itu pada Alya, namun mungkin Alya lupa atau tidak memperhatikan saat itu, sehingga dia mengira kalau Daniel adalah putra kandungnya.
"Lantas ayah ku dan ayahnya Sita kamu bilang sangat menyayangi Daniel? Lelucon macam apa itu? Sejak Daniel lahir ke dunia ini bahkan tidak satu pun di anatara mereka yang pernah mengunjungi Daniel sekali pun." Marcel tersenyum kecut, dia masih ingat saat ayah mertuanya mengatakan kalau Daniel merupakan aib bagi keluarganya dan dia enggan untuk mengakui bayi yang tidak jelas asal usul ayahnya itu, sementara Salim sang ayah juga tidak jauh beda, dia selalu menolak saat ada orang lain yang menyelamatinya karena telah mempunyai cucu, dia bersikeras tidak mengakui Daniel sebagai cucunya karena tidak ada pertalian darah dengannya sama sekali.
"Ja-jadi, Daniel bukan anak kandung mas?" Tanya Alya, seperti terkaget, dia tidak ingat jika Marcel pernah menceritakan hal itu pada nya sebelumnya.
"Hmm, Beruntung Daniel pernah merasakan tangan lembut mu, selama ini sebagian besar waktunya hanya di habiskan dengan pengasuh, dan aku saja." Ujar Marcel.
"Lalu mba Sita? Bukankah dia juga terlihat sangat menyayangi Daniel?" Dahi Alya mengerut.
"Sita hanya mendekat pada Daniel saat aku ada di rumah, selebihnya dia terlihat tidak peduli pada anaknya itu, aku tahu karena cctv rumah diam-diam aku sambungkan ke ponsel ku, hanya saja aku tidak terlalu memperdulikannya selama dia tidak membahayakan Daniel." Keluh Marcel.
Alya terdiam sejenak, ada sorot kemarahan di matanya, "Ayo kita pura-pura puttus, Mas!" Ujar Alya semakin membuat Marcel bingung, bahkan setelah di jelaskan kini Alya malah meminta untuk berpura-pura putus.
__ADS_1