Celana merah jambu

Celana merah jambu
Namanya juga usaha!


__ADS_3

Setelah menimbang-nimbang tawaran Hana tentang tawaran bantuan dari wanita yang jujur saja belum bisa 100 persen Maarcel percaya, namun mengingat Rudy juga belum memberinya kabar, sementara dirinya tidak bisa terus menunggu sambil berpangku tangan tidak melakukan apapun, akhirnya Marcel membulatkan tekad untuk mengikuti arahan yang Hana berikan, dia tidak akan pernah tau hasilnya jika dia tidak mencobanya, berhasil atau gagal itu urusan belakangan, namanya juga usaha!


Tiba di alamat yang Hana berikan, Marcel sempat ingin mengurungkan niatnya saat melihat kawasan ruko yang tampak sepi, seumur-umur dirinya tinggal di kota itu, dia tidak pernah tau jika ada kasino di sana, terlebih di kawasan itu tidak terlihat mobil pengunjung berderet-deret atau kendaraan lainnya, daerah itu benar-benar sepi dan tenang malah nyaris seperti kawasan pemukiman biasa.


Marcel mengetuk pintu ruko yang Hana sempat arahkan itu, benar saja, seorang nenek tua keluar dari rumah itu, dia tersenyum dan menengadahkan tangannya seperti meminta jatah preman.


Marcel mengernyit, karena tidak tahu apa maksud nenek tua itu, dan sebelumnya Hana juga tidak memberi tahu hal ini pada dirinya.


"Kau pasti pacar baru nona nakal itu ya, jadi tidak tahu peraturannya. Bayar uang lewat dan tutup mulut dulu, baru boleh lewat!" Ujar nenek tua itu berdiri di ambang pintu tidak memberi akses jalan bagi Marcel sebelum dia mendapatkan uang jatahnya.


Neenek itu mengangkat sebelah tangannya. "Lima!" katanya.


"Lima? Maksudnya?" Tanya Marcel, mampuslah dia kalau di palak nenek itu lima juta di sini, bukan karena nominalnya kebanyakan,tapi dia tidak pernah membawa uang cas sebanyak itu.


"Lima ratus ribu, untuk biaya lewat dan tutup mulut." Ujar nenek itu belum menurunkan tangannya yang terlihat terus menengadah di hadapan Marcel.


Marcel bernapas lega, jika hanya lima ratus ribu dia membawanya, setelah memberikan seluruh uang yang berada di dompetnya dan itu lebih dari yang nenek itu minta, nenek itu bergeser dari posisinya dan mempersiahkan Marcel masuk seraya melemparkan senyum memamerkan barisan giginya yang sudah tidak lengkap lagi.


Nenek tua itu mengarahkan kemana Marcel harus pergi dan naik, dia tidak mengantarnya karena sudah tidak kuat naik turun tangga.

__ADS_1


"Sial, sudah bau tanah masih saja dayan duit!" gerutu Marcel saat dia menaiki tangga ruko milik nenek tua itu.


"Aku mendengar gerutuan mu, anak muda! Percayalah harga ini murah di banding pria-pria lain sebelumnya!" Teriak nenek tua itu yang ternyata pendengarannya masih berfungsi dengan baik, sehingga gerutuan pelan Marcel masih bisa dia dengar dengan jelas.


Marcel mempercepat langkahnya, kini dia sudah berada di rooftop, tiba-tiba Hana muncul dari balik tembok, "Akhirnya kamu datang juga, aku pikir nyali mu tidak ada untuk datang ke sini." Ejek Hana, seraya menunjuk sebuah tangga untuk Marcel melewati tembok pembatas antara rumah nenek itu dan ruko yang di sebut-sebut merupakan tempat penyekapan Alya itu.


Marcel tidak banyak berbicara lagi, dia langsung menaiki tangga yang tadi di tunjuk Hana, dalam sekejap waktu saja, kini Marcel sudah berada di balik tembok, di tempat yang sama dengan dimana Hana berada.


"Dimana Alya?" Tanya Marcel tidak sabar.


"Dia masih di sekap di gudang, tunggu aba-aba dari ku, jangan gegabah. Aku mencuri dengar jika malam ini di kasino akan ada tamu vvip, jadi sepertinya penjagaan akan di alihkan ke kasino semua, itu kesempatan buat kita membebaskan Alya, pakai ini!" Hana menyodorkan sebuah jaket dan topi berwarna hitam dan berlogo kasino milik Codet, seperti yang di pakai oleh para anak buah Codet di sana.


Tidak ada yang mencurigai keberaadaan Marcel di antara mereka, selain pakaian Marcel yang sama dengan mereka, juga karena kesibukan yang terjadi di sana, sehingga Marcel bisa leluasa berjalan dii belakang Hana mengekor tanpa ragu.


"Tamu sudah datang, semua bersiap di bawah!" Teriak salah seorang pria memberi tahu semuanya.


Seketika para wanita berpakaian minim berhamburan keluar dari kamar-kamar mereka dengan tergesa-gesa, begitupun dengan para pria yang sejak tadi berlalu lalang di sana, dengan sekejap saja mereka sudah tidak terlihat lagi di area itu. Ruangan terlihat sepi saat ini, Hana memberi kode pada Marcel untuk mengikutinya.


"Di sini, dia di sekap di sini." Kata Hana.

__ADS_1


Hana membuka pintu gudang yang ternyata tidak di jaga dan tidak terkunci itu, ada terbersit perasaan ganjil dalam diri hana maupun Marcel, bagaimana bisa Codet se-ceroboh itu membiarkan tawanannya tanpa penjagaan, namun semua itu segera mereka tepis, 'Mungkin Tuhan mempermudah jalan mereka,' pikirnya.


"Tadi siang aku masih menemui dia di sini, kemana dia?" Kaget Hana yang tidak dapat menemukan Alya di ruangan gelap itu, bahkan Marcel suda menggunakan senter di ponselnya untuk menerangi ruangan itu, namun nihil, benar-benar di luar dugaan, Alya sudah tidak berada di sana lagi.


"Apa kau menipu ku?" Tanya Marcel.


"Demi Tuhan, aku berbicara dengannya tadi siang di sini, perasaan ku tidak enak, sebaiknya kau kembali dulu ke atas, aku akan mencari informasi lagi, di sini sangat berbahaya." ujar Hana yang merasa ada yang tidak beres dengan semua ini.


Hana mengantar kembali Marcel yang kesal karena semua yang di lakukannya malam ini sia-sia, namun mungkin sekali lagi dia harus mempercayai Hana, memberi nya kesempatan untuk mencari informasi lagi tentang keberadaan Alya.


"Apa wanita ini yang kalian cari?"


Hana dan Marcel terkejut saat ternyata di rooftop Codet dan beberapa anak buahnya ternyata sudah menyambut mereka berdua, dengan membawa Alya yang kedua tangannya terikat juga dengan mulut di sumpal, membuat Marcel merasa miris melihatnya.


Lagi-lagi dia harus menyaksikan Alya dalam kondisi tidak berdaya seperti saat dia di sekap Sita terakhir kali, entah dosa apa yang Alya perbuat dan entah kutukan apa yang Alya dapat sehingga dia harus berkali-kali mengalami kejadian mengerikan sepeti ini.


"Jangan pikir aku tak tau apa yang kau lakukan di belakang ku, ja-lang! Kau coba menghianati ku? Tidak semudah itu!" tatapan Codet menyalang ke arah Hana yang menggigil ketakutan.


"Dan kau! Aku sudah mengatakan pada mu untuk sabar menunggu intruksi dari ku, tapi kau terlalu tidak sabaran sampai harus datang ke sini, apa kau tau jika orang asing datang ke tempat ini tidakbisa keluar dalam keadaan hidup?" Sambung Codet yang kali ini mengarahkan senjata yang di pegangnya ke arah Marcel.

__ADS_1


__ADS_2