Celana merah jambu

Celana merah jambu
Kemarahan Ivan


__ADS_3

"Katakan apa maksud dari semua ini!"


Alya tersentak saat dirinya keluar gerbang kost dan hendak berangkat kerja, namun Ivan menghadangnya di depan gerbang dan menarik lengannya sekuat tenaga sampai Alya meringis kesakitan.


Ivan menunjukkan foto-foto dirinya yang sedang berbicara dengan Marcel dan juga memasuki mobil Marcel saat di rumah sakit ke hadapannya.


"Tunggu dulu, bukankah aku yang harus bertanya seperti itu pada mu, apa maksud semua ini? Kau tiba-tiba datang dan memperlakukan aku seperti ini, apa maksudnya?" Semprot Alya sambil melepaskan tangannya dari cekalan kuat Ivan.


"Tidak usah berpura-pura, kau selingkuh dengan mantan bos mu itu, bukan?" Tanya Ivan dengan berapi-api, matanya bahkan sangat merah menandakan kalau dia sedang dalam keadaan sangat marah


Alya tersenyum sinis, "Apa kau sedang mabuk? Jelas-jelas yang selingkuh di sini itu kamu orangnya, kenapa tiba-tiba jadi aku yang di tuduh?"


"Tidak usah sok suci, foto-foto ini cukup menjelaskan semuanya meski kau menyangkalnya."


"Jika foto-foto itu cukup menjelaskan semuanya, lantas untuk apa kamu masih mencari kebenaran dari ku? Kau tak akan mendapat jawaban apapun dari ku, jadi sebaiknya kau percaya saja pada asumsi mu sendiri." Sinis Alya.


Bruak!

__ADS_1


Tak sanggup menahan amarahnya lagi, Ivan meninju jendela mobilnya dengan sekuat tenaga, hingga ruas-ruas jarinya mengeluarkan darah karenanya.


Ini pertama kalinya bagi Alya melihat sisi lain dari seorang Ivan, selama ini semarah-marahnya Ivan, pria itu tidak pernah sampai se begitu parahnya seperti sekarang ini, sepertinya marahnya Ivan sudah mencapai level paling tinggi.


"Aku pastikan pada mu, kalau tidak akan pernah ada yang bisa memiliki mu, karena aku tidak akan menceraikan mu sampai kapan pun!" Ancam Ivan.


Sontak saja perkataan Ivan yang lantang itu membuat Hana yang ternyata ada dan berdiam diri di dalam mobil Ivan itu merasa sangat kesal, dia pikir, dengan dia menunjukkan foto bukti Alya sedang bersama pria lain akan dapat membuat Ivan menceraikan Alya dengan segera, namun ternyata kemarahan Ivan ketika dirinya menunjukkan foto-foto itu padanya itu marah karena kecemburuan, dan kemarahan karena tak ingin Alya di miliki pria lain. Lebih parahnya lagi gara-gara hal itu, Ivan justru makin tidak mau menceraikan Alya.


"Mas, harusnya kamu mengambil tindakan yang tegas pada istri mu, dia mengata-ngatai kamu berselingkuh, tapi ternyata dia sendiri berselingkuh di belakang mu, lagi pula,,, bukankah ini seharusnya menjadi senjata untuk mu menceraikan dia dengan mudah, dan kesalahan pun berada di pihak dia, itu akan semakin menguntungkan mu." Hasut Hana, saat Ivan barub saja kembali masuk ke dalam mobilnya dengan wajah yang kusut.


"Mas, sampai kapan kita harus merahasiakan kehamilan ini? Perut ku akan semakin membesar seiring waktu, dan apa kamu tega jika anak mu ini terlahir sebagai anak di luar nikah dan menjadi ejekan karena menjadi anak haram? Istri mu harus tau, bahkan jika dia tidak ingin ada perceraian di antara kalian, seharusnya dia bisa menerima ku sebagai istri kedua mu, sehingga kita bisa menikah secara resmi karena ada persetujuan darinya." Sewot Hana, kali ini hasutannya berhasil membuat Ivan mempunyai ide bagus, dan dia tiba-tiba tersenyum penuh misteri.


"Apa kau tidak keberatan menjadi istri ke dua ku?" Tanya Ivan sambil melirik ke arah Hana, nada bicaranya kini sudah tidak tinggi dan penuh emosi lagi.


"Hemh, tentu saja. Jika memang kamu atau istri mu tidak menginginkan adanya perceraian di antara kalian, aku bisa terima walaupun hanya menjadi yang kedua, demi anak kita." Ucap Hana sok bijak.


"Oke, sepertinya kita akan segera menikah, kau akan segera menjadi istri kedua ku." Ujar Ivan dengan senyum iblisnya, entah apa yang membuatnya begitu yakin kalau dia dan Alya tidak akan bercerai, dan entah apa juga yang membuatnya yakin kalau Alya akan menerima Hana sebagai madunya, tapi sepertinya Ivan cukup percaya diri dalam hal ini.

__ADS_1


"Mas, aku merasa sangat bersalah dengan apa yang menimpa pada ibu mu, gara-gara aku mengajaknya bertemu mba Alya, mereka bertengkar dan ibu mu mejadi seperti ini, besok kalau ibu sudah pulang, izinkan aku merawat ibu di rumah mu ya, Aku juga akan resign dari pekerjaan, karena kehamilan ku ini, aku akan fokus menjaga ibu dan calon anak kita." Bujuk Hana, dia terlalu pintar mencari celah untuk keuntungan dirinya sendiri, dengan alasan seperti itu dia akan dengan sangat mudah memasuki rumah milik Ivan dan Alya, sehingga bisa dia kuasai dengan mudahnya.


Ivan menepikan kendaraannya, dia lantas meraih tangan Hana dan menggenggamnya dengan mesra, tatapannya tiba-tiba menghangat dan mengecup bibir kekasihnya itu sekilas.


"Terimakasih, aku sangat bahagia kamu mau melakukan itu semua untuk ku, bahkan kamu rela mengorbankan pekerjaan mu demi merawat ibu dan juga calon anak kita, isti seperti ini yang aku inginkan selama ini." Ujar Ivan seraya memeluk tubuh Hana dan menciumi pucuk kepalanya berulang kali,.


'Ah, andai saja yang mengatakan ini semua adalah Alya, betapa dirinya sangat bahagia, namun lagi-lagi yang memenuhi harapannya adalah Hana,' Ivan mengeluh dalam batinnya.


Meski Hana kini mengandung anaknya, anak yang selama ini dia harapkan kehadirannya, dan juga Hana bersedia resign dari pekerjaannya, tetap saja semua itu masih terasa ada yang kurang dan mengganjal di hati Ivan, betapa Ivan mengaharapkan semua itu di dapatnya dari Alya, bukan Hana ataupun wanita lainnya.


Sementara Hana tengah bersorak sorai dalam hatinya, dia merasa telah berhasil mengelabui Ivan, hanya dengan berpura-pura baik dan pasrah sepeti ini dia mendapatkan perhatian dan pujian dari Ivan, tentu saja dia bersedia untuk resign dari pekerjaannya, dia sangat tahu kalau gaji Ivan kini naik tiga kali lipat dari sebelumnya, itu akan lebih dari cukup untuk menghidupinya, lagi pula bukankah lebih enak tinggal di rumah dan ongkang-ongkang kaki tapi menjadapat jatah uang bulanan dari suami, dari pada harus bekerja setiap hari, pikirnya, terkadang dia juga aneh dengan pemikiran Alya yang keukeuh ingin bekerja meski Ivan mengatakan akan memenuhi semua kebutuhan dan keinginannya, 'Wanita bodoh!' umpatnya dalam hati mengatai Alya.


"Tentu saja,aku akan menjadi istri yang penurut, aku akan mengikuti semua keinginan mu, kamu terlalu berarti bagi hidup ku, aku tidak bisa apa-apa tanpa kamu, apapun akan aku lakukan demi kamu." Andai Alya ada di sana dan mendengar ucapan lebay Hana mungkin dia akan muntah darah saking jijiknya mendengar ucapan Hana yang terkesan berlebihan itu.


Hana terlalu ingin menunjukkan pada Ivan kalau dia bisa mewujudkan apa yang menjadi keinginan Ivan yang tidak bisa Alya berikan dan lakukan, dia ingin terlihat lebih segalanya di bandingkan dengan Alya, sehingga jika pun sekarang ini Ivan masih masih terlihat mencintai Alya dan tidak ingin berpisah dari istrinya itu, perlahan Hana akan membuat Ivan akan hanya melihat ke arahnya, dan membuat dirinya menjadi penting di kehidupannya, tentu saja dengan akhir cerita Ivan membuang Alya dari kehidupannya, sehingga Ivan menjadi miliknya seutuhnya.


"Kita akan segera menikah, sayang. Soal Alya,,, aku jamin di akan memberikan izin dan restunya untuk menjadikan mu madunya, kamu tenang saja, duduk diam jangan berulah lagi, kali ini percayakan padaku, biar aku yang menangani semuanya, jangan bertindak aneh-aneh lagi!" Ujar Ivan mengingatkan Hana.

__ADS_1


__ADS_2