
"Saya sudah berusaha mencarinya dan belum bisa menemukan keberadaan nya." Lapor Darma pada Marcel.
"Sial! Siapa yang menyuruh mu mencarinya, apa kau tidak punya pekerjaan lain, huh?" Maki Marcel seraya membanting apapun yang ada di atas meja kerjanya, semenjak kepergian Alya dari firma, Marcel menjadi sering marah-marah, dia juga menjadi pribadi yang murung dan tertutup.
Darma yang melihat gelagat perubahan sikap Marcel berinisiatif untuk mencari keberadaan Alya, karena menurutnya perubahan sikap Marcel itu karena kepergian Alya.
"Maaf, saya hanya ---"
"Jangan pernah ikut campur urusan ku lagi. Dan satu lagi, jangan menyebut nama dia lagi di hadapan ku," kecam Marcel.
"Ba-baiklah, saya pikir---"
"Tak perlu berasumsi atau memikirkan masalah ku, urus saja pekerjaan sesuai dengan tugas mu!" Ketus Marcel, seraya pergi meninggalkan ruang kerjanya yang sudah berantakan bak kapal pecah.
Sangat sulit untuk mengakui, jika Marcel sangat kehilangan Alya, rasa rindunyaa sering kali tiba-tiba membuncah di dadanya, namun dia tidak dapat berbuat apapun selain pasrah dengan keadaan. (Ah Bang Marcel mageran, sepertinya anda kurang usyaha!)
Tanpa sepengetahuan siapapun, diam-diam Marcel juga mencari-cari informasi tentang keberadaan Alya yang kini hilang seperti di telan bumi.
Sementara di tempat lain Alya menjalani hidupnya dengan semangat baru, dia merasa lebih tentram dan damai jauh dari orang-orang yang berasal dari masa lalunya, Alya merasa seperti di lahirkan kembali, hidupnya terasa bahagia setelah dia mulai melepaskan perasaan nya pada Marcel, meski belum bisa sepenuhnya melupakan pria yang berpisah dengannya begitu saja tanpa status yang jelas di antara mereka.
"Hai Al, bagaimana bekerja di sini, apa kamu betah?" Tanya Rudy yang saat itu menyempatkan diri datang ke ruangan Alya.
"Hampir satu bulan aku bertahan di sini, kalau aku tidak merasa betah, aku sudah melarikan diri sejak awal," Jawab Alya sambil terkekeh.
"Sorry kalau aku ingin menanyakan sesuatu pada mu, sebenarnya aku ingin menanyakan hal ini dari lama, tapi aku selalu merasa tidak enak hati untuk menanyakan hal ini pada mu," ujar Rudy terlihat seperti kurang nyaman dan gugup saat menyampaikan hal itu pada Alya.
__ADS_1
"Apa anda lupa kalau anda bos ku di sini? Anda bisa bertanya apapun pada karyawan anda," kata Alya datar.
"Ah,,, risih sekali aku mendengar mu memanggil ku dengan sebutan anda terus menerus, panggil saja nama ku, lagi pula usia kita hanya terpaut satu tahun saja, rasanya itu terlalu berlebihan di telinga ku," protes Rudy.
"Tapi anda tetap atasan ku," kelit Alya.
"Ah sudah lah, jika kamu masih bersikap formil seperti itu pada ku lupakan saja," Rudy mengibaskan sebelah tangannya seraya memberi gesture kalau dirinya mengurungkan diri untuk betanya pada wanita di hadapannya itu.
"Ah, baiklah, apa yang ingin kamu tanyakan Rud?" Tanya Alya pada khirnya, tidak ada salahnya untuk menuruti keinginan Rudy, toh pria itu juga sudah banyak membantunya, pikirnya.
"Emhh,,, aku ingin bertanya tentang---(Rudy menjeda ucapannya, terlihat dia seperti ragu-ragu untuk menayakan hal yang menjadi rasa penasaran terbesar dalam hatinya itu) Tentang,,, ah, lupakan saja!" urung Rudy.
"Tentang apa? Tentang status pernikahan ku dengan Ivan? Aku sudah bercerai dengan Ivan lama, hubungan kami juga sudah baik-baik saja sekarang, dia juga sudah punya anak, dan minggu depan dia akan menikah dengan wanita pilihannya." Terang Alya, yang menebak jika hal yang ingin di tanyakan Rudy adalah perihal hubungannya dengan Ivan, Alya berpacaran dengan Ivan sejak dia kuliah, ivan sering datang ke kampus untuk sekedar menjemptnya, jadi teman-teman kampusnya termasuk Rudy tahu perihal hubungan mereka dan pernikahan mereka.
"Tidak apa, santai saja, semua sudah berlalu, oh ya,, apa kamu ada waktu untuk menemani ku pergi ke acara pernikahan Ivan minggu depan?" Ajak Alya.
Rudy tersenyum dengan mata yang berbinar, "Tentu saja, tapi apa kamu yakin ingin pergi dengan ku?"
"Sangat yakin, karena aku sudah mencari tahu kalau kamu belum menikah dan tidak punya kekasih, jadi tidak akan ada masalah jika aku mengajak mu ke acara pernikahan Ivan, dari pada aku harus datang sendirian dan orang akan memandang ku dengan rasa kasihan seperti sebelumnya," ucap Alya yakin.
"Seperti sebelumnya?" Beo Rudy.
"Hahaha, iya ini pernikahan ke tiga kalinya untuk Ivan," kata Alya sambil tertawa ringan.
Rudy hanya membelalak tidak percaya, tapi jauh di lubuk hatinya dia juga merasa senang mendengar ucapan Alya itu, jika di lihat dari cara Alya memceritakan masalah rumah tangganya yang kandas, sepertinya Ivan sama sekali sudah tidak berarti di hati Alya, dan itu artinya dirinya yang dulu pernah menaruh hati pada Alya mempunyai kesempatan untuk menyatakan perasaannya yang sejak dulu belum sempat dia nyatakan sampai sekarang.
__ADS_1
"Oh iya, informasi tentang kamu yang belum menikah dan masih jomblo itu akurat, kan? Jangan sampai tiba-tiba aku di labrak wanita lain karena mengajak pasangannya ke kondangan." Oceh Alya.
"Bisa di katakan begitu, benar aku masih sendiri." Jawab Rudy.
"Kenapa? Tidak mungkin tidak ada wanita yang tertarik pada mu bukan? Padahal kamu masuk ke kategori good looking dan good rekening, mustahil jika tidak ada wanita yang mau dengan mu, atau jangan-jangan kamu gak suka cewek, lagi?" Ledek Alya terkekeh.
"Sembarangan, mana ada seperti itu, aku masih sangat normal, apa perlu aku buktikan pada mu? Hanya saja belum menemukan wanita yang cocok," kilah Rudy, membuat mereka terbahak bersama.
"Jangan terlalu banyak memilih, cepat-cepat cari jodoh biar kamu tidak kesepian dan hidup mu ada yang mengurusi, tidur juga ada yang menemani." Celoteh Alya.
"Segera, karena aku sudah menemukan wanita itu, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan ku, kalau wanita itu menerima ku, aku akan langsung melamarnya dan mengajaknya menikah." Ujar Rudy dengan senyuman yang terlihat sangat bahagia saat menyampaikan semua itu pada Alya.
"Isshhh, lagi jatuh cinta rupanya kakak senior ku yang satu ini, kapan kenalin aku sama dia?" Tanya Alya tanpa ada kecurigaan sama sekali jika wanita yang di maksud Rudy adalah dirinya.
"Secepatnya." Jawab Rudy singkat.
"Lantas kamu? Apa belum menemukan pengganti Ivan? Atau malah belum bisa move on dari dia?" Korek Rudy mencoba mencari tahu.
"Cih, Ivan sudah lama hilang dari hati dan kehidupan ku, adapun hubungan kami sekarang hanya berteman biasa saja, kami sama-sama sudah saling melupakan dan menerima kandasnya hubungan kami, meskipun dia tidak rela pada awalnya." Urai Alya.
"Apa kamu tidak punya kekasih setelah berpisah dengan Ivan?" Tanya Rudy lagi semakin penasaran untuk mengorek sisi kehidupan pribadi Alya semakin dalam.
"Emhhh,,, sempat, tapi----(Tiba-tiba saja wajah Marcel kembali tampak di pelupuk matanya, membuat dia harus menjeda ucapannya beberapa saat)-- lupakan lah, sepertinya dia lebih memilih wanita lain, dan aku juga sedang mencoba melupakannya." Ujar Alya, tampak jelas dari ucapannya itu jika dia tidak mau membicarakan masalah yang satu itu.
"Hmmm,,,, rupanya kepindahan mu ke sini pelarian patah hati mu," Rudy balas mengejek Alya sehingga mereka sama-sama terbahak mentertawakan kisah hidup mereka masing-masig.
__ADS_1