Celana merah jambu

Celana merah jambu
Roda ke tiga


__ADS_3

Hal itu sungguh sangat mengganggu pikirannya, bahkan dia merasa jika sebenarnya Alya dan Ivan masih saling mencintai selama ini, terbukti dari pengorbanan Ivan yang sebegitu besarnya untuk Alya, dan tangis kesedihan yang di tunjukkan Alya atas keselamatan Ivan, sehingga saat ini Marcel merasa mejnjadi satu-satunya orang asing di antara keluarga yang seharusnya tidak terpisah.


**


Tidak terasa hampir dua jam berlalu, akhirnya dokter keluar dari ruang operasi, Alya dan Yuni bergegas mendekat ke arah dokter yang baru saja selesai menangani Ivan di dalam sana.


"Bagaimana keadaan anak saya, dok?" Tanya Yuni dengan wajah yang terlihat sangat cemas.


"Operasi berjalan baik, peluru sudah berhasil di keluarkan dan keadaannya kini stabil, hanya menunggu pasien siuman saja." Jawab dokter itu memberikan jawaban yang lumayan membuat hati Yuni dan Alya merasa lega setelah sejak dua jam lalu di liputi rasa kecemasan.


Alya mengedarkan pandangannya, dia baru tersadar jika Marcel yang sejak tadi berada di sisinya kini tidak dia temukan di sekitar sana, enatah sejak kapan pria itu menghilang, mungkin saking sibuknya Alya menghawatirkan keadaan Ivan, sehingga dirinya lupa dengan keberadaan Marcel.


Sementara di tempat yang berbeda Sita sedang bersembunyi ketakutan di rumah Haryanto yang berada di pinggiran kota dimana tidak ada seorang pun yang tahu keberadaan mereka.


"Kamu tinggal lah di sini untuk sementara, dan untuk masalah Daniel, nanti ayah akan menyuruh seseorang untuk mengantarkannya ke sini." Ujar Haryanto seraya menutup semua gorden dan memeriksa semua jendela juga pintu memastikan semuanya tertutup dan terkunci rapat.

__ADS_1


"Lantas ayah mau kemana? Jangan tinggalkan aku, aku takut!" Mohon Sita memegangi tangan ayahnya yang bersiap untuk pergi meninggalkan rumah itu agar tidak pergi meninggalkannya.


"Ayah harus pergi," ujar Haryanto seraya melepas pegangan Sita di pergelangan tangannya.


"Tapi mengapa senjata itu ayah bawa juga?" Tanya Sita yang merasa agak heran dengan gelagat dan prilaku ayahnya yang terlihat tidak seperti biasanya itu.


"Sita, ayah sudah tua, kau seperti ini mungkin sedikit banyak adalah kesalahan ayah juga dalam


Mendidik mu selama ini yang hanya membesarkan mu dengan uang dan kemewahan, sehingga kau menjadi pribadi yang takut jika kekukarangan dan serakah atas harta lalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan itu semua, maafkan ayah yang tidak pernah memberi mu perhatian dan pengajaran yang benar untuk mu selama ini, ayah akui ayah abai. Ayah serahkan semua perusahaan dan kekayaan ayah untuk mu, kelola dengan baik dan berubahlah, hiduplah dengan benar." Urai Haryanto dengan suara terbata dan mata berkaca-kaca.


"Ayah akan menyerahkan diri pada pihak yang berwajib dan mengakui semua kesalahan mu, biar ayah saja yang menggantikan hukuman mu, ada Daniel dan juga dalam perut mu yang masih harus kau jaga, sementara aku sudah tua dan tidak punya tanggungan apa-apa lagi, karena kau sudah dewasa kini."


"Tidak, ayah tidak boleh melakukannya, ayo kita pergi ke luar negeri bersama, kita tinggal di tempat dimana tak ada seorang pun yang dapat menemukan kita, jangan lakukan itu ayah!" Larang Sita seraya berdiri di ambang pintu untuk menghalangi ayahnya agar tidak melangkahkan kakinya ke luar dari sana.


"Percayalah pada ayah, sudah waktunya kamu berubah, nanti malam akan ada orang kepercayaan ayah yang membawa mu dan Daniel untuk pergi ke luar negeri, masalah di sini, biar ayah yang menyelesaikannya." Haryanto menyingkirkan tubuh Sita dari ambang pintu dan bergegas keluar dari rumah itu, dia bahkan tidak memperdulikan dan tidak menoleh sedikit pun pada Sita yang terus menangis memanggil-manggil namanya bak bocah yang di tinggal kerja ayahnya.

__ADS_1


**


"Apa? Haryanto menyerahkan diri? Tapi bagaimana bisa, dia tidak bersalah apa-apa dalam hal ini, jangan bilang kalau dia melakukan ini semua karena ingin melindungi putrinya." Kesal Alya yang baru saja mendapat kabar dari pihak kepolisian jika pelaku penembakan sudah menyerahkan diri.


"Tidak bisa, aku harus ke kantor polisi sekarang juga, aku dan Marcel bisa bersaksi kalau Sita lah yang melakukan ini semua, bukan ayahnya!" Kesal Alya.


"Alya sudahlah, jangan berurusan lagi dengan mereka, aku juga tidak akan mengizinkan mu untuk pergi ke kantor polisi sendirian, apalagi Sita masih berkeliaran, dia bisa saja masih penasaran dan mengintai mu." Tahan Ivan yang kini sudah siuman dan sudah berada di ruang rawat, beruntung peluru tidak mengenai bagian tubuhnya yang vital sehingga dokter mengatakan tidak akan berefek apapun, hanya pemulihan luka bekas opersi saja.


"Tapi ini tidak benar, aku tidak bisa membiarkan ini semua!" Keueuh Alya.


"Al, tolong. Aku sendirian, seperti yang kamu lihat, ibu ku harus pulang karena harus mengurus putri ku, tidak bisa kah kamu tinggal menemani ku selama di sini untuk merawat ku? Lupakan dulu masalah Sita dan yang lainnya, aku tidak ingin kamu celaka, setidaknya jika kamu berada di sini aku merasa tenang." Pinta Ivan memohon dengan sangat.


Melihat Ivan yang sangat mengiba, terlebih lukanya yang di dapat sekarang ini karena menyelamatkan dirinya, Alya menjadi tidak bisa berkutik dan tidak mampu untuk menolaknya sehingga dia tanpa sadar mengangguk tanda setuju dengan permintaan mantan suaminya itu.


Tanpa Alya sadari pula jika di balik pintu kamar rawat Ivan berdiri Marcel yang menelan rasa kecewa yang teramat dalam melihat semuanya itu, tadinya Marcel berniat untuk mengunjungi Ivan yang sudah siuman, namun saat melihat dan mendengar pembicaraan Alya dan Ivan dari balik pintu yang tidak tertutup rapat itu, seketika dia mengurungkan niatnya dan hatinya semakin yakin jika dirinya hanyalah roda ke-tiga di antara hubungan Alya dan Ivan.

__ADS_1


__ADS_2