Celana merah jambu

Celana merah jambu
Rekonsiliasi


__ADS_3

Tergopoh-gopoh Ivan datang ke tempat dimana Alya mengirimkan titik lokasinya saat itu, namun pada saat Ivan samoai di tempat itu, dia tidak menemukan Alya di sana, bahkan ponsel Alya sudah tidak bisa di hubunginya lagi.


Ivan kebingungan, bahkan dia baru sadar kalau dia ternyata selama ini tidak tau dimana Alya tinggal, karena dia begitu sibuk dengan Hana, sehingga tak pernah merasa hal itu penting baginya, lagi pula, Ivan yakin kalau Alya tidak akan bertahan lama di luaran tanpa uang, pekerjaan dan tempat tinggal, Ivan yakin kalau Alya akan kembali ke rumah mereka.


Sekitar tiga puluh menit-an Ivan mencari-cari keberadaan Alya di sekitar sana, sementara Alya yang di carinya kini sudah berada di kantor yang merangkap menjadi tempat tinggalnya juga sekarang ini, dia sengaja melakukan itu semua karena ingin mengerjai Ivan dan Hana juga tentu saja, dia ingin mengganggu ketenangan pasangan selingkuh itu, toh dia masih berstatus istrinya, tentu saja dia masih sangat berhak atas Ivan sepenuhnya, bukan?


Lama mencari Alya tidak juga ketemu dan tidak bisa di hubungi, akhirnya Ivan memilih untuk pulang ke rumahnya dan tidak kembali ke kontrakan Hana, karena jarak dari tempatnya kini lebih dekat ke rumahnya dari pada kontrakan Hana.


Keputusan Ivan untuk tidak kembali ke kontrakan Hana ternyata berbuntut panjang, pagi ini Hana uring-uringan dan mengabaikan Ivan, saat atasan sekaligus kekasihnya itu sampai di kantor.


"Apa kamu tidur dengan istri mu semalam? Kamu bahkan tidak menelpon ku dan tidak mengangkat panggilan ku," Ketus Hana saat dia memberikan berkas-berkas untuk di tanda tangani Ivan, bahkan dia setengah melempar kertas-kertas itu dengan kasar ke atas meja Ivan.


"Aku tidak bersamanya, kami bahkan tidak bertemu, karena Alya sudah tidak ada di sana saat aku datang." Jujur Ivan, namun memnag kesalahannya semalam dia langsung tertidur tanpa mengabari Hana kalau dia akan kembali ke rumahnya sendiri.


"Bohong, di hati mu memang selalu ad dia, dan tidak pernah memperdulikan aku," rajuk Hana.


"Sayang, demi Tuhan aku tidak bertemu dengan nya, apalagi melakukan apa yang kamu tuduhkan, percayalah, jangan marah terus, dong!" Bujuk Ivan yang lantas berdiri dari kursi kerjanya lalu memeluk kekasihnya itu agar tidak melanjutkan kemarahannya, namun baru saja dia hendak mencium bibir kekasihnya yang kini sudah dapat dia tenangkan itu, ketukan pintu ruang kerjanya membuat pelukan mereka terurai dan ciuman panas si pagi hari itu batal terlaksana.


Hana segera mendekati pintu dan membukakan pintu untuk tamu yang akan datang menemui bosnya itu.


Seketika Hana seperti menahan nafasnya dan matanya membulat saat melihat yang datang pagi itu adalah Alya, istri dari bos sekaligus kekasihnya itu tampak sangat cantik dan elegan dengan gaun panjang se-betis warna putih berhias bunga-bunga yang membuat aura kecantikan Alya keluar dengan jelas.

__ADS_1


Alya bahkan tak harus memakai pakaian yang serba minim seperti dirinya untuk menonjolkan kesan seksi dan menarik di mata pria, membuat Hana yang baru saja 'sembuh' dari rasa cemburu dan curiganya pada istri sah kekasihnya itu, kini semakin terbakar cemburu dan marah.


Alya melemparkan senyum manisnya pada Hana, seolah dia tidak tau apa yang terjadi antara suami nya dan sekretarisnya itu.


"Hai Van, apa aku ganggu, datang ke sini pagi-pagi?" Alya yang semenjak rumah tangganya di rundung masalah itu hanya bicara sepertlunya dan bersikap dingin pada Ivan, kini tiba-tiba menjadi sangat hangat.


Alya bahkan langsung mendekat ke arah Ivan yang sedang berdiri di depan meja kerjanya sambil melemparkan senyuman termanisnya juga, membuat Ivan kini merasa sangat canggung dan gugup, apalagi baru saja dirinya bermesraan dengan Hana, sungguh dia berharap kalau Alya tidak melihat semuanya itu.


Namun harapan Ivan hanyalah tinggal harapan, karena Alya sudah melihat semuanya tadi dari balik jendela melalui celah tirai yang tidak tertutup sempurna, namun Alya hanya akan berpura-pura tidak melihatnya.


Dalam hidup, terkadang ada sesuatu yang harus kita telan meski pahit, ada sesuatu yang harus kita tahan meski perih, demi mencapai sebuah keinginan, dan keinginan Alya dalam hal ini adalah keadilan, dia tidak ingin mengambil alih tugas Tuhan untuk menghukum mereka atas segala kesalahannya, Alya hanya tidak ingin harga dirinya di injak dan di sepelekan oleh suami dan selingkuhannya itu, dia tak pernah takut untuk kehilangan suaminya, hanya saja dia juga tidak akan memberikan hal itu dengan mudah, ada harga yang harus mereka bayar dari sebuah penghianatan.


"Ah, emh, tidak. Tidak sama sekali!" Jawab Ivan sambil sesekali ujung matanya melirik ke arah Hana yang masih berdiri di ambang pintu menatapnya dengan pandangan penuh marah.


"Tidak, sama sekali tidak mengganggu ku, itu sudah menjadi tugas ku, bukankah aku masih suami mu?"


Mendengar perkataan Ivan, Hana langsung berdeham an pura-pura batuk, karena tersedak rasa marahnya.


"Ah,,, kamu masih di sini, kamu sekretarisnya suami ku kan?" Alya pura-pura tidak menyadari kalau Hana masih berada di amabang pintu, padahal sejak tadi dia melihat kemana arah pandangan Ivan dan sungguh jelas terlihat kalau Ivan seperti terlihat serba salah di depan dirinya dan juga kekasih gelapnya itu.


"I-iya bu, ada yang perlu saya bantu?" Hana langsung merubah rona wajahnya menjadi mode ramah ala-ala sekretaris pada umumnya.

__ADS_1


"Tolong bikinkan saya kopi, bisa? Saya terburu-buru ke sini samapai lupa ngopi tadi," pinta Alya.


"Kopi?" Beo Hana, seolah enggan membuatkan madunya itu kopi, 'yang benar saja!' Batinnya.


"Tapi kalau kamu sibuk gak usah ga apa-apa,"


Ucapan Alya membuat hati Hana sedikit lega karena dia tidak harus membuatkan kopi untuk saingannya itu.


"Aku bisa mengajak suami saya untuk ngopi di coffe shop depan, kamu gak lagi sibuk, kan?" Sambung Alya melirik ke arah Ivan.


"S-saya bikinkan saja bu, kebetulan saya juga mau bikinkan kopi untuk pak Ivan." Potong Hana, sungguh dia lebih tidak rela jika Ivan harus pergi berdua dengan istrinya untuk berbinbincang di kedai kopi, bisa saja hal itu akan kembali membuat hubungan suami istri yang kini tengah merenggang itu menjadi erat kembali, tentu saja Hana lebih memilih membuatkan kopi untuk bos dan istrinya itu, dengan begitu dia masih bisa memantau apa saja yang mereka lakukan dan bicarakan.


"Ah terimakasih, maaf merepotkan, kopi saya tidak usah pakai gula dan creamer." Sambung Alya lagi dengan wajah polos tanpa dosa, padahal jauh di dalam hatinya dia sedang menertawakan Hana yang pergi dengan wajah masam menahan kesal, bahkan Alya sempat melihat Hana menghentakan kakinya sambil melotot ke arah Ivan saat dia hendak meninggalkan ruangan itu.


"Angin apa yang tiba-tiba membawa mu datang ke sini?" tanya Ivan dengan penasaran.


"Untuk menawarkan rekonsiliasi pada mu," kata Alya dengan santainya.


"Benarkah? Apa kamu tidak sedang mengigau? Bercanda? Atau bahkan kamu sedang sakit?" Ivan menempelkan punggung tangannya di kening Alya untuk memastikan kalau istrinya itu dalam keadaan baik-baik saja.


Alya yang di kenalnya sangat teguh pada pendirian dan tidak mudah goyah itu tiba-tiba menawarkan perdamaian padanya, tentu saja itu hal yang sangat aneh, apaplagi di perbincangan mereka terakhir, dia mantap untuk bercerai dan tidak akan mencabut gugatannya di pengadilan agama.

__ADS_1


namun sialnya, saat Ivan sedang menempelkan punggung tangannya di kening Alya itu, justru bertepatan dengan Hana yang masuk ruangan untuk mengantarkan kopi, sontak saja wajahnya langsung memerah.


"Ishh, Van, apa-apaan sih, kan malu ada sekretaris mu, kamu itu kebiasaan deh, kalo ketemu aku tangannya gak bisa diem, maaf ya mba Hana, suami saya emang gitu, selalu romantis di manapun, namun kadang tidak tau tempat, kayak sekarang ini, untung mbak dateng, kalau nggak, bisa lebih jauh lagi tangannya berkelana, nih!" Ujar Alya sok-sok tertawa malu, padahal dia sedang tertawa puas dalam hatinya menertawakan wajah marah Hana dan juga wajah pucat Ivan yang sepertinya akan mendapatkan amukan besar dari kekasihnya itu.


__ADS_2