
Deg!
Jantung Alya kini seperti baru saja berlari maraton, berdetak sangat kencang, dia menebak-nebak perihal apa yang ingin di bicarakan Sita dengannya saat ini.
"Anda ingin berbicara dengan s-saya bu?" Gagap Alya, matanya sesekali mengarah pada Marcel, berharap pria itu membantunya.
"Sita, panggil saja Sita." Ujar wanita itu tampak tenang, dan justru ketenangannya itu membuat Alya sedikit ketar ketir, dia takut jika ternyata Sita melihat adegan tadi dan menjadi salah paham dengan dirinya dan Marcel.
"Apa maumu? Jangan buat keributan di sini!" Melihat Alya yang seperti terintimidasi dengan sorot mata yang seolah meminta perlindungan darinya membuat Marcel akhirnya angkat bicara.
"Aku hanya ingin mengajaknya berbicara saja," lirih Sita yang kini giliran dirinya terlihat ketakutan akibat sorot tajam mata Marcel yang mendominasi atas dirinya.
"Kau bisa membicarakannya dengan ku!" Tegas Marcel.
"Selain dengan mu, aku juga butuh dia untuk ikut bicara dengan kita." Bantah Sita, memberanikan diri untuk melawan.
Tak ingin melihat pertengkaran Marcel dan istrinya semakin jauh dan membuat dirinya menjadi semakin merasa bersalah akan hal itu, akhirnya Alya memberanikan diri untuk angkat bicara, "Saya bersedia, mari kita bicara." Ujar Alya akhirnya, lagi pula, dia juga tidak ingin ada kesalah pahaman terjadi antara pasangan suami istri itu yang melibatkan dirinya.
Atmosfir ruang kerja Marcel terasa menjadi sangat tegang untuk Alya, sungguh dia pasrah jika pun Sita akan memaki atau mensumpah serapahi dirinya, dia bisa mengerti perrasaan Sita sebagai istri, karena dia pun pernah ada di posisi seperti itu, meskipun dalam hal ini kasusnya sangatlah berbeda, karena anatara dirinya dan Marcel sama sekali tidak ada hubungan apa-apa meskipun Marcel dengan terang-teranmgan telah menyatakan perasaannya, toh Alya tidak menanggapinya, meski jujur dia juga ada sedikit ketertarikan pada Marcel, namun untungnya logikanya masih bisa berjalan sejauh ini, dia tidak mau menjadi orang ke tiga dalam rumah tangga Marcel, dan itu sudah dia kemukakan dengan jelas pada pria itu, untungnya Marcel juga mau menghormati keputusannya meski dia tetap mengatakan tidak akan menyerah untuk mendapatkannya.
__ADS_1
"Aku tau kalau suami ku mencintai mu, dan tidak pernah mencintai ku sedari awal, aku tak perlu menceritakan lagi kenapa kami menikah bukan?Karena aku yakin Marcel sudah pernah menceritakan bagaimana kisah kami sampai bisa kami menikah, yang perlu aku tau di sini apa kamu juga mencintai Marcel?" Tanya Sita membuka pembicaraan di antara mereka bertiga, karena Daniel orang ke empat yang ada di sana tak perduli dengan urusan orang dewasa, dia memilih untuk berkelana di alam mimpinya.
Mendapat pertanyaan tidak terduga seperti itu, sontak saja membuat Alya gelagapan, tak terbayangkan olehnya jika dia akan berada di posisi seperti ini, "S-saya---saya---"
"Tidak perlu takut, aku fair orangnya, aku hanya ingin mendengar sendiri apa kamu mencintai suami ku?" Ulang Sita.
"Sita, cukup! Kau keterlaluan.Tidak seharusnya kau mempertanyakan hal seperti itu padanya, itu sama saja kau merendahkannya!" Bentak Marcel tak terima, meski suara bentakannya tertahan karena takut membangunkan Daniel yang sedang terlelap, jika saja tidak ada Daniel di situ, sudah pasti suara Marcel akan menggelegar mengisi seluruh ruangan.
"Tenang mas, bukankah aku hanya membantu mu untuk mendapatkan kepastian jawaban dari orang yang kamu cintai ini, akan sangat konyol jika kita berpisah, lantas kamu kehilangan segalanya, namun ternyata wanita yang kamu cintai ini, tidak mencintai mu, ini harus jelas." Kilah Sita.
"Dengar baik-baik, aku tidak pernah takut kehilangan segalanya, dan terlepas dari dia mencintai ku atau tidak, aku tetap ingn berpisah dengan mu, satu lagi, kau tidak perlu repot-repot membantu urusan cinta dan perasaan ku, karena aku mampu untuk mengatasinya sendiri. Kau hanya perlu penuhi kesepakatan kita tempo hari, kita berpisah setelah ulang tahun perusahaan, jangan mencoba untuk berulah macam-macam, karena aku tidak akan membiarkan kau atau siapapun mengacak-acak kehidupan pribadi ku lagi!" Geram Marcel dengan matanya yang memerah, terlihat jelas jika pria itu kini sedang mati-matian menahan emosinya.
Berbeda dengan Alya yang baru pernah melihat Marcel semarah itu, tubuhnya gemetar, sungguh dia sangt takut jika sampai Marcel melakukan hal-hal di luar dugaan pada istrinya, apalagi pembicaraan ini melibatkan dirinya di dalamnya.
"Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan pak Marcel, hubungan kami hanya sebatas pekerjaan, tidak lebih." Suara Alya terdengar lebih lugas dari sebelumnya yang selalu terbata karena gugup, dia harus meluruskan masalah ini.
"Tapi kamu tau kalau suami ku mencintai mu?" Tanya Sita lagi, mengabaikan Marcel yang melotot padanya.
"Emhhh, ya. Saya tau. Saya tidak bisa mengatur perasaan orang lain, jika Pak Marcel menyukai saya, bukankah itu hak nya, saya juga tidak bisa melarangnya, dalam hal ini karena saya tahu pak Marcel sudah beristri, saya cukup dengan tidak menanggapinya," jawab Alya sedikit diplomatis.
__ADS_1
"Tidak menanggapinya bukan berarti kamu tidak mencintainya kan? Apa kah itu bisa di artikan kamu juga mencintainya tapi tidak ingin menanggapinya?" Desak Sita.
"Bu, saya sudah pernah menjadi korban pelakor, dan saya tidak akan berperan menjadi pelakor." Tegas Alya.
"Itu bukan konteks yang saya tanyakan, saya hanya bertanya, apa kamu mencintai suami saya?" Merasa tidak mendapatkan jawaban yang di inginkan , Sita terus mendesak agar Alya mengatakan tentang perasaannya pda Marcel.
"Sita hentikan!" Teriak Marcel yang akhirnya tidak bisa menahan diri lagi untuk mengeluarkan suara tingginya agar istrinya itu tidak terus mengintimidasi Alya.
Suara kencang dari Marcel rupanya mengganggu tidur Daniel, sehingga bayi iu menangis karena merasa kaget dengan suara kencang Marcel, membuat Marcel menjadi panik sendiri karena telah membuat putranya ketakutan. Dia berusaha mendekati stroller dan mengangkat putranya dengan penuh sayang, wajah garangnya seketika berubah menjadi hangat dan penuh cinta saat bertatapan dengan putra kecilnya itu.
Melihat pemandangan itu, rasa dingin dan nyeri menyeruak di hati Alya, dia akan menjadi orang yang sangat merasa bersalah jika bayi kecil lucu tak berdosa itu terpisah dari Marcel yang juga terlihat sangat mencintai dan menyayangi putranya itu, meskipun puluhan kali Marcel mengatakan kalau perpisahan yang akan terjadi antara dirinya dan Sita tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya, bahkan Sita sendiri tadi mengakui kalau pernikahan mereka tidak berdasarkan cinta, itu artinya memang tidak ada kebohongan dari apa yang di ceritakan Marcel pada dirinya, namun tetap saja, itu sebuah ikatan perkawinan, pantang bagi Alya untuk masuk ke dalamnya, meski dia punya rasa ketertarikan juga pada Marcel.
"Maaf, sepertinya saya harus pergi, saya masih banyak pekerjan. Mengenai perasaan saya pada Marcel yang ibu tanyakan, saya akan menjawabnya, saya tidak punya perasaan apa-apa terhadap suami anda, semoga jawaban saya bisa memuaskan anda dan tidak menjadi salah paham lagi di antara kita semua, terimakasih, saya permisi." Pamit Alya, bergegas pergi setelah mengatakan itu semua pada Sita dan Marcel yang wajahnya langsung terlihat muram saat mendengar pernyataan Alya barusan.
Alya terpaksa harus mengatakan semua itu karena dia tidak ingin terlibat lagi dalam kisruh rumah tangga Marcel dan Sita, dia juga sudah memutuskan untuk menjauh dari Marcel demi menghindari konflik yang bisa saja semakin melebar nantinya.
"Kamu dengar, dia tidak mencintai mu, bukankah itu sudah cukup jelas?" Sita menoleh pada Marcel yang kini sedang serius menimang Daniel agar kembali tertidur, meski perasaannya kacau balau akibat pernyataan Alya.
"Aku tidak tuli, aku bisa mendengar semuanya, tapi aku akan menjadi orang tuli dan berpura-pura tidak pernah mendengarnya, karena aku akan tetap mengejar dan berusaha mendapatkan cintanya." Jawab Marcel, yang yakin jika perkataannya itu tidak hanya di dengar jelas oleh Sita, namun juga masih bisa di dengar oleh Alya yang baru saja melangkahan kakinya keluar dari ruangan itu.
__ADS_1