Celana merah jambu

Celana merah jambu
Ayo berpisah!


__ADS_3

Ivan menatap lekat wajah Alya, wanita yang menjadi partner hidupnya selama hampir dua tahun dalam ikatan pernikahan itu nampak tidak ada cacat sama sekali, dia cantik, pintar, baik, mandiri, nyaris tak ada kekurangan seharusnya, sehingga sifat mandiri Alya di jadikan satu-satu nya kekurangan bagi Ivan, dan seolah itu sangat fatal.


"Al, apa lagi yang ingin kamu sombongkan sekarang ini, kamu seorang pengangguran, berdamailah dengan ku, mari kita mulai semuanya dari awal, aku yang bekerja dan kamu menjadi ibu rumah tangga, mengurus rumah dan anak-anak kita kelak, tolong patuhlah. Apapun yang kamu inginkan akan aku berikan, asal kamu mau mengikuti mau ku." Ivan mencoba meraih kedua tangan Alya, namun Alya berhasil menepisnya.


"Aku hanya ingin kita berpisah, tak ada lagi keinginan lain!" Tegas Alya.


Mendengar pernyataan Alya yang terdengar penuh keyakinan itu membuat Ivan yang sedang berdiri tiba-tiba limbung dan tubuhnya terhuyung ke belakang saking kagetnya.


"Apa maksud mu? Pisah? Tidak. Aku tidak akan pernah setuju dengan keingnan gila mu itu." Kata Ivan.


"Aku akan semakin gila jika tetap terus melanjutkan rumah tangga bersama mu." Balas Alya.


"Al, pertengkaran dalam rumah tangga itu hal biasa, jangan pernah mengikuti bisikan setan yang menginginkan kita untuk berpisah." Ivan kembali mendekat ke arah Alya yang terus mundur karena tidak ingin berdekatan apalagi di sentuh oleh Ivan.


"Stop! Berhenti mendekat ke arah ku, satu-nya setan yang menginginkan kita untuk berpisah adalah diri mu sendiri, kamu yang membuat ku bulat untuk mengakhiri rumah tangga kita, apa kamu tak merasa bersalah sedikit pun?" Alya merentangkan tangannya ke depan menahan tubuh Ivan agar tak mendekat ke arahnya.


"Apa maksud mu? Apa karena masalah audit itu? Aku memang sengaja melakukan itu semua, mengatakan kalau kamu yang membocorkannya, karena hanya dengan cara itu aku yakin kamu bisa di berhentikan dari pekerjaan, dan itu ternyata berhasil, tapi bukankah niat ku baik, aku hanya ingin membahagiakanmu, memanjakan mu dengan membuat mu tidak kelelahan setiap harinya." Kelit Ivan.


"Van, kamu sangat tahu kalau aku mencintai dunia pekerjaan ku, aku tidak bisa menjadi wanita yang hanya berdiam diri tanpa melakukan aktifitas apapun, padahal aku masih sangat mampu melakukan itu, dan kamu menyetujuinya dari saat kita sebelum menikah, kamu bilang tidak akan membatasi gerak ku, dan akan mengijinkan aku bekerja sampai aku yang menginginkan untuk berhenti, apa kamu lupa? Atau kamu takut dengan aku bekerja aku akan mengetahui hal-hal bejat yang kamu lakukan di luaran tanpa sepengetahuan ku?" Mata Alya memicing.


"Hal bejat apa yang kamu maksud? Aku tak pernah melakukan hal-hal aneh di belakang mu, kamu makin tidak masuk akal!" Tepis Ivan.

__ADS_1


"Apa masuk akal jika celana da_llam wanita bekas pakai dan bungkus kon-dom ada di bawah jok mobil mu?" Alya melemparkan celana dal_am merah jambu dan bekas bungkus alat kontrasepsi yang di simpannya di bawah ranjang dalam plastik itu ke wajah Ivan.


"I-Ini--- ini fitnah, bisa saja ada yang ingin menjatuhkan ku dengan menyimpan barang-barang seperti ini di bawah jok mobil ku agar kita bertengkar dan salah paham lalu kita berpisah?" Gagap Ivan sambil melihat isi dari kantong plastik berwarna putih itu, dia bahan terlihat sedikit terkejut, dia bahkan tidak tau entah sejak kapan Alya menemukan barang-barang seperti itu di mobilnya, karena seingatnya sudah lama Alya tidak pernah meminjam mobilnya sendirian, kecuali pergi bersama dirinya, itu pun sudah sangat lama.


"Van, tidak semua orang pintar membuat fitnah keji seperti kamu, jadi jangan buat diri mu sebagai tolak ukur kelakuan orang lain, tidak semua orang, jahat seperti mu." Sinis Alya.


"A-aku tidak tau itu punya siapa, aku berani bersumpah!" Ujar Ivan.


"Berapa banyak wanita yang sering kau kencani, sampai kamu tidak tau, wanita mana pemilik celana itu?" Alya tersenyum sinis dan setengah mengejek.


"Al, kamu keterlaluan, kamu menuduh ku melakukan hal yang tidak aku lakukan, aku tidak terima!" Kelit Ivan, dengan nada marah.


"Bukankah itu juga yang kamu lakukan pada ku, tapi sayangnya kali ini aku tida memfitnah, karena aku yakin, jauh di lubuk hati mu kamu mengakui kalau apa yang aku tuduhkan pada mu itu sebuah kebenaran." Ujar Alya santai dengan kedua tangan yang kini bersilang di dadanya, tak lupa dia juga memberi Ivan senyuman sinisnya, hatinya sungguh puas saat ini.


**


Pagi buta di rumah Alya sudah terdengar keributan, membuat Alya yang rasanya baru saja memejamkan matanya beberapa jam saja itu terpaksa harus bangkit dari tempat tidurnya dan mendatangi sumber keributan di rumahnya itu dengan malas.


Dengan mata yang masih terasa lengket karena Alya baru bisa tertidur saat dini hari tadi, Alya menuruni tangga.


Di ruang tengah rumahnya, terlihat ibu mertua dan Hendri, adik iparnya sedang menonton televisi dengan volume suara yang sangat keras, pantas saja suaranya sampai terdengar ke kamarnya.

__ADS_1


Alya menghela nafas dalam, dia harus tetap tenang, tidak boleh terpancing emosi, bagaimana pun yang di hadapinya kali ini ibu mertua yang sudah di anggapnya sebagai ibunya sendiri, meskipun dirinya bermasalah dengan Ivan, dia tidak ingin melibatkan orang-orang yang tidak ingin dia benci, walaupun dia tahu ibu mertua dan adik iparnya berada di pihak Ivan, bahkan tidak menutup kemungkinan kalau mereka juga tahu dan menutupi tentang perselingkuhan Ivan.


"Pagi bu!" Sapa Alya hendak mencium punggung tangan ibu mertuanya seperti biasanya, namun Yuni mengibaskan tangannya dan menolak untuk bersalaman dengan menantunya itu seolah Alya adalah bakteri yang sangat berbahaya dan menjijikan, namun Alya tak mengambil hati akan hal itu meskipun jujur dia agak kecewa dengan sikap Yuni yang tiba-tiba memperlakukannya bak musuh, padahal sebelumnya dirinya adalah menantu yang paling di sayangnya.


"Apa kau meminta berpisah dari Ivan?" Tanya Yuni, to the point.


"Apa Ivan mengadu pada ibu?" Ujar Alya santai.


"Bukan mengadu, tapi lebih tepatnya dia bercerita, karena tak pernah ada sedikit pun yang dia sembunyikan dari ibu," Jawab Yuni.


"Oke, apa Ivan juga bercerita kenapa Alya ingin bercerai darinya?"


"Karena kamu tidak mau di atur, dan tidak mau menjadi ibu rumah tangga yang selayaknya." Ketus Yuni.


"Ivan berselingkuh bu, itu alasannya, seharusnya ibu tahu, karena bukankah Ivan tidak pernah menyembunyikan apapun dari ibu?" Pernyataan Alya itu tak ayal membuat Yuni sedikit gelagapan.


"Cuma main-main sama wanita lain itu wajar mbak, yang penting kan gak di nikahi, sekedar untuk hiburan, aku pikir hampir semua pria melakukan itu, yang penting kan, keluarga di rumah tidak di abaikan dan tetap terpenuhi baik kebutuhan lahir maupun batin nya." Sambar Hendri enteng.


"Cuma? Hey Hen, kamu pikir yang butuh hiburan hanya pria? Wanita juga sama, dan apa hiburan itu harus selalu melulu tentang birahi? Kalau begitu, kenapa kalian para pria tak mencari hiburan di taman safari saja, melihat hewan kawin, biar tersalurkan birahi sesat kalian!" Sejak tadi di tahan, akhirnya pertahanan kesabaran Alya jebol juga gara-gara ucapan Hendri yang seolah menormalkan pria yang berselingkuh.


"Alya, kata-kata mu tidak sopan!" Bentak Yuni tidak terima Hendri di kata-katai seperti itu oleh Alya.

__ADS_1


"Maaf bu, anak bungsu ibu yang memancing Alya untuk berkata seperti itu, jika kedatangan ibu dan Hendri ke sini hanya untuk mempertanyakan tentang masalah rumah tangga kami, Alya tegaskan sekali lagi, Alya tetap mantap untuk bercerai, dan Alya minta baik ibu atau siapapun tidak ikut campur dalam masalah rumah tangga kami, biar Alya dan Ivan yang menyelesaikan masalah kami sendiri, maaf jika tidak sopan, tapi Alya ngatuk dan kurang enak badan, Alya permisi, jika ada butuh apa-apa silahkan minta sama Fitri." Pungkas Alya yang akhirnya memilih untuk pergi kembali ke kamarnya dan tidak meladeni ibu mertua dn adik iparnya, dari pada dirinya semakin terpancing emosi dan mengeluarkan kata-kata yag tidak pantas untuk mereka, bagaimana pun Yuni orang tua, dia tidak ingin bersikap kurang ajar padanya.


__ADS_2