Celana merah jambu

Celana merah jambu
Penangkapan


__ADS_3

Hari ke tiga Alya bekerja di ruangan Marcel, kecanggungan sudah mulai terkikis, rasa kaku di antara mereka juga sudah semakin mencair.


"Saya sudah menyelesaikan semuanya pak, keuntungan yang akan Salim grup terima dari proyek kerja sama ini memang besar, hanya saja---saya merasa janggal karena keuntungan yang di tawarkan terlalu besar." Ujar Alya memberikan laporan dan masukannya.


"Saya pun merasa demikian, bos. Rasa-rasanya ada yang aneh dalam penawaran ini." Timpal Darma yang juga berada di ruangan yang sma dengan Marcel dan Alya.


"Kita tidak akan tau jika kita tidak mencobanya." Marcel terlihat cukup serius dalam mempertimbangkan keputusan yang akan di ambilnya.


"Resiko yang akan di hadapi juga tidak kalah besar dari iming-iming keuntungan yang di tawarkan, ini akan sangat berbahaya dan sangat berpengaruh terhadap Salim grup jika proyek ini gagal." Alya merasa kurang setuju karena sepertinya Marcel terlihat tertarik dengan kerja sama yang di nilainya terlalu janggal itu.


"Aku akan mengambil kerja sama ini, atas nama pribadi, dan tidak melibatkan Salim grup. Jika mereka setuju maka akan lanjut, dan jika tidak, maka lewatkan saja," putus Marcel.


"Tapi bos," sanggah Darma.


"Tenang saja, aku juga merasakan hal ganjil seperti yang kalian rasakan dan pikirkan, namun dalam hal ini aku menjadi sangat penasaran, apa maksud mereka, siapa yang sebenarnya mereka bidik, aku atau Salim grup, dengan mengambil kerja samanya, aku akan tau maksud mereka, dan jika pun merek memang jujur dan benar-benar ingin bekerja sama, bukankah keuntungan nya bisa untuk membesarkan firma, aku juga tetap menguntungkan Salim grup karena semua kebutuhan nanti tetap aku beli dari sini dengan harga yang normal, win-win solution, bukan?" Terang Marcel mengungkapkan rencananya.


Alya dan Darma hanya saling melempar pandangan bingung, mereka tak mengerti jalan pikiran Marcel yang bukannya menjauhi bahaya, justru malah memeluk dan mendekati bahaya dengan sengaja.


Karena merasa pekerjaannya sudah selesai, Alya berpamitan untuk pulang cepat siang itu, karena ada beberapa kebutuhan bulanan juga yang harus dia beli, jadi dia harus mampir ke mini market untuk membelinya.

__ADS_1


**


Sore hari menjelang malam saat Alya akan memasuki gerbang kost nya, sosok manusia yang tak ingin di lihatnya dalam seumur hidupnya itu malah dengan sengaja berdiri menghalangi laju kendaraannya, membuat mau tidak mau Alya turun dari mobilnya.


"Apa kau sudah bosan hidup? Minggir dari sana!" Bentak Alya, dengan tatapan menyalang pada wanita yang perutnya mulai membuncit serta wajahnya yang songong dan menyebalkan sengaja menghalangi jalan Alya.


Ya, tak lain dan tak bukan wanita itu adalah Hana, entah apa lagi yang di inginkan wanita itu setelah dia mendapatkan Ivan menjadi miliknya utuh.


"Bunuh diri? Tentu saja aku tak akan menyerah semudah itu, aku masih ingin mempersulit hidup mu yang bahkan kini sudah sangat sulit sepertinya, aku sangat suka melihat kau menderita, semakin kau menderita, maka semakin bahagia aku di buatnya!" Ujar Hana dengan tawa menjijikannya.


"Aku sudah memberikan semua yang kau inginkan, suami, harta, lantas apa lagi yang kau mau dari ku?" Tantang Alya, karena dia pikir dengan memberikan semua itu akan membuatnya tidak lagi berurusan dengan manusia-manusia jahat itu, namun nyatanya wanita itu masih saja mengusik hidupnya.


"Belum semua, masih ada sesuatu yang harus aku ambil, karena itu seharusnya menjadi milik ku."


"Apa maksudnya ini semua, pak? Saya tidak pernah menggelapkan mobil siapa pun, ini fitnah!" Sangkal Alya.


"Ibu Hana telah melaporkan kalau mobil yang anda pakai ini adalah milik suaminya yang bernama bapak Ivan Kusuma yang sudah anda gelapkan." Terang petugas itu.


"tunggu pak, ini mobil saya, saya yang membayar cicilannya setiap bulan." Sangkal Alya.

__ADS_1


"Bohong, itu mobil suami saya, jelas-jelas mobil itu atas nama suami saya, dan surat-surat kendaraannya pun ada di tangan saya, dia mencurinya, dia di ceraikan oleh suami saya karena berselingkuh, dan dia tidak terima dengan putusan pengadilan yang tidak memberinya harta gono gini, jadi dia mencuri mobil ini." Tuduh Hana sambil menunjukkan surat-surat mobil yang sialnya lupa tidak Alya ambil saat dia meninggalkan rumah itu.


Mobil yang di pakai Alya memang hadiah pernikahan dari Ivan, dua tahun lalu, namun demikian, Ivan hanya membayar uang mukanya saja, sementara cicilannya selama dua tahun Alya yang membayarnya penuh, dan bahkan sudah lunas bulan kemarin, namun memang surat-surat mobil itu atas nama Ivan, dan Alya tidak pernah keberatan, toh dulu dia tidak pernah berpikir akanterjadi hal-hal seperti ini, makanya baik rumah maupun kendaraan, Alya tidak mempermasalahkan semua atas nama Ivan, baginya atas nama dirinya atau Ivan sama saja, itu mungkin salah satu kebodohannya karena terlalu naif dan percaya pada Ivan yang di rasanya tidak mungkin akan berhianat apalagi balik menyerangnya seperti sekarang ini.


Mungkin Alya terlalu percaya akan kebahagiaan semu yang setiap saat Ivan berikan padanya, sehingga tanpa Alya sadari kini dia tersakiti oleh harapan dan rasa percayanya sendiri, namun bagaimana pun ini semua sudah terjadi, tidak ada pilihan lain selain hadapi.


"Lebih baik pembicaraan ini kita lanjutkan di kantor saja, silahkan ikut kami, bu!" Ajak petugas itu pada Alya dengan sopan, karena Alya juga bersikap kooperatif.


Dalam hal ini juga Alya tidak bisa mengelak, semua bukti memang menunjukkan apa yang di ucapkan oleh Hana benar adanya dan itu membuat pernyataannya lemah karena tidak mempunyai saksi maupun bukti yang menunjukkan kalau apa yang di katakan dirinya adalah suatu kebenaran.


Tentu saja hal itu membuat Hana merasa di atas angin, ini semua buntut dari rasa kesalnya pada Ivan yang tak kunjung membelikanya mobil baru, suaminya itu hanya terus saja memberi janji dan harapan palsu padanya, sampai tanpa sengaja, saat dia membongkar laci lemari, dia menemukan surat-surat kepemilikan mobil milik Alya dengan nama kepemilikan suaminya, dari sana lah ide melaporkan Alya dengan tuduhan penggelapan mobil berasal.


Selain dia bisa mengambil mobil milik Alya untuk menjadi miliknya, dia juga bisa mempermalukan dan sekaligus membuat Alya terjerat kasus hukum dengan tuduhan yang lumayan seius, bagaimana pun Hana masih merasa kesal dengan hinaan-hinaan yang Alya lontarkan padanya, terlebih hinaan yang di ucapkan Alya saat di acara pernikahannya, membuat dia harus menanggung malu di depan para undangan, bahkan sampai sekarang, para tetangga banyak yang membicarakannya baik itu secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan , membuat dia hampir tak pernah keluar rumah apalagi bergaul dengan tetangga sekitar, rasanya dia sudah kehilangan muka akibat itu, dan membuat dia menyimpan dendam yang sangat besar pada Alya.


Tindakannya ini emang tanpa sepengetahuan suaminya, biarlah, dengan begitu dia bisa menilai pada siapa Ivan berpihak.


"Terima saja nasib mu, setelah mobil mu menjadi milik ku juga, kau akan semakin miskin, tidak punya harta apapun lagi, kau lagi-lagi kalah dari ku, semua milik mu, berpindah menjadi milik ku," bisik Hana saat Alya di gelandang ke mobil petugas untuk di bawa ke kantor polisi.


"Orang yang kau sebut miskin seperti ku belum tentu kekurangan, sementara kau yang merasa paling kaya dengan hasil jarahan juga belum tentu berkecukupan, karena orang seperti mu tak pernah tau pentingnya bersyukur dalam hidup!" Tegas Alya.

__ADS_1


"Cih, sudah mau menjadi tahanan polisi masih saja sombong, dasar kriminal, ku harap kau membusuk di penjara!" Umpat Hana kesal.


Alya hanya menjawab umpatan Hana itu dengan senyuman, dimana sebenarnya dia sedang tersenyum dalam sebuah ketidak adilan yang menyakitkan, setelah semua miliknya hancur dan di rampas paksa, mengapa orang-orang yang bahkan Alya tidak pernah mengusiknya selalu menginginkan kehancuran dan keterpurukannya, namun Alya akan tetap berusaha untuk ikhlas dalam menjalani semua yang Tuhan takdirkan untuknya, Alya percaya, akan ada pelangi setelah hujan, meskipun itu entah kapan.


__ADS_2